Piknik, pindah makan ke Desa Gema dan Desa Teluk Jering

Akhir tahun yang lalu kami sekeluarga memutuskan menghabiskan cuti akhir tahun untuk eksplorasi wisata alam disekitar Kota Pekanbaru. Jenis pilihan wisata kami pun jatuh kepada pilihan, piknik, alias pindah makan. Dua tempat yang menjadi tujuan adalah Desa Gema dan Desa Teluk Jering, keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan satu sama lainnya.

Sungai landai di Desa Gema Camping Ground

Dengan kendaraan bermotor, jarak  Desa Gema yang 107 Km itu dapat kita tempuh sekitar 2,5- 3 jam.  Melewati wilayah Sungai Pagar membuat perjalanan yang cukup jauh tersebut jadi tidak membosankan. Dikanan kiri jalan kita akan disuguhi rindangnya perkebunan kelapa sawit dan karet. Tidak jarang juga penduduk lokal menjajakan aneka hasil kebunnya, terutama durian. Durian khas Kab. Kampar ini memiliki citarasa yang unik, dagingnya tebal, bijinya kecil, jadinya puas memakannya.

Selain itu, banyaknya masjid bak ribuan dengan tampilan yang indah, maka tak ayal lah Kampar ini juga disebut dengan Serambi Makkah nya Riau. Semoga banyak juga yang yang meramaikan masjidnya dengan sholat wajib 5 waktu.

Tidak jauh dari Tugu Katulistiwa, sebelum Jembatan Kembar, disebelah kanan, kita akan mendapati papan penunjuk arah menuju desa Gema. Agak jauh memang dari jalan lintas Kampar-Kuantan Singingi. Masuk dari simpang sekitar 25 Km. Namun tidak usah kuatir bosan, pemandangan kanan dan kirinya juga tak kalah menarik. Hamparan ladang dan sungai juga menghiasi.

Memasuki gerbang Desa Gema Camping Ground, kita langsung disuguhi lapangan rumput hijau membentang yang langsung berhadapan dengan bibir sungai, jernih dan menyegarkan. Lapangan rumput yang sangat rapi itu merupakan area kemping. Terbagi menjadi 3 area, kanan , tengah dan kiri. Setelah mengelilingi area camping ground kami memutuskan untuk menggelar karpet piknik kami diarea tengah, untuk lebih mudah menikmati seluruh pemandangannya.

Karena hari cukup terik, kami memilih menggelar makan siang kami tepat dibawah pohon, sejuk dan menyenangkan. Anak-anak tampak tidak sabar untuk segera mandi ditepian sungai, namun sekali lagi, saratnya, makan siang dahulu dan harus habis 🙂

Setelah makan siang,  kamipun bergeser ke area kanan camping ground. Area ini sangat sesuai jika kita bermain air. Landai, dan sungainya yang penuh dengan bebatuan juga sangat jernih. Bebatuan bulat dan tidak tajam membuat berendam didalam airnya jadi nyaman. Namun toh demikian, kita harus tetap waspada menjaga anak-anak. Aliran sungai Sobayang yang cukup deras bisa-bisa menyeret kita hingga tak tahu ujungnya kemana .

Waktu kami berkunjung kesana sepertinya tidak banyak orang yang juga berlibur. walhasil sepi, justru camping ground ini seperti punya pribadi. Anak-anak bebas bermain air sepuasnya.

Asyik memang, kamipun jadi pingin kesini lagi, tentunya dengan persiapan yang lebih matang, tidak hanya sekedar piknik, pindah makan, kami juga mau pindah tidur, alias bawa tenda dan kemping. InsyaAlloh.

Bermain pasir pantai di teluk Sungai Kampar

Dihari berikutnya, kami mengulang piknik pindah makan. Namun kali ini kami mencoba sesuatu yang lain. Pindah makan kali ini bukan makan siang, melainkan pindah sarapan, wal hasil kami harus berangkat pagi-pagi sekali. Berjarak sekitar 26 Km dari Pekanbaru, kami memutuskan berangkat dari rumah sekitar jam 6:00 pagi.

Tidak jauh memang, namun dengan berangkat pagi-pagi sekali kami berharap area lokasi Teluk Jering Camping Ground masih steril, sepi, jadi anak-anak bisa bermain bebas bak pantai pribadi.

Setelah memasuki jalan tanah, kurang lebih 3 Km dari simpang jalan lintas Pekanbaru-Kampar, sampailah kami di Desa Teluk Jering. Penduduk yang ramah mengarahkan mobil kami parkir ditempat yang telah ditentukan. Berbeda dengan di Desa Gema  yang mobil dapat parkir langsung di area Camping, lantaran jalan yang cukup terjal dan curam, di Desa Teluk Jering ini mobil agak jauh parkirnya dari area camping ground. Selebihnya kita teruskan perjalanan dengan berjalan kaki.

Tidak banyak pembagian area kemping, sekitar dua area padang rumput yang ready sebagai tempat kemping. Namun tidak usah kuatir, setiap areanya sangat luas. Tepat didepan area kemping utama, disitulah terletak hamparan pasir, yang mirip dengan pasir pantai. Lepas sarapan, tentunya anak-anak langsung bermain pasir dan mandi dipinggiran pantainya. Benar memang, karena masih sepi, pantai tersebut bak pantai pribadi.

Bagi yang tidak membawa makanan dan minuman sepertinya tidak perlu kuatir, karena banyak sekali penjaja makanan diarea ini dari penduduk lokal. Dan yang paling mengejutkan adalah harga makanan dan minuman, yang sangat wajar, murah, seperti harga diwarung dekat rumah. Contohnya saja, harga makanan ringan, yang masih ada 500 rupiah, persis kayak diwarung.

Sampai pengunjung sudah mulai ramai berdatangan, itulah saat kami untuk beranjak pulang. Sama dengan Desa Gema, insyaAlloh dilain waktu kami mau kemping disini.

 

Advertisements
Posted in Kisah | Leave a comment

Menikmati Paket Lengkap Wisata Pantai Ocarina Park Batam

Beberapa pekan yang lalu kami sekeluarga memutuskan untuk sejenak berlibur ke Singapura. Negeri tetangga itu. Namun untuk menghemat biaya penginapan, kamipun memilih Batam sebagai tempat transit sebelum lanjut ke Singapura menggunakan kapal ferry.

Alih-alih transit, kamipun juga mencoba memanfaatkan keseruan wisata pantai kota Batam. Setelah melalui review yang sangat panjang dengan istri, karena untuk mencocokkan pantai yang tepat untuk liburan sekeluarga, akhirnya pilihan kami jatuh di Pantai Ocarina.

Pagi itu, 12 November 2017, setelah kami sarapan di apartemen yang kami sewa untuk 3 malam itu, kami pun meluncur menggunakan go-car. Sebagai catatan kami, menggunakan go-car di Batam sangat nyaman, armadana cukup walau tidak sebanyak kota-kota besar, namun tidak butuh lama kami menunggu untuk dijemput di apartemen.

Dan benar, komplek pantai ocarina memang tidak kalah dengan pantai-pantai lain di seputaran kota Batam. Untuk tiket masuk juga terhitung mura, anak-anak hanya dikenakan Rp 5.000, sedang dewasa Rp 10.000, tiket parkir mobil Rp 5.000. Karena kita menggunakan go-car, kita cukup bilang tidak parkir, hanya drop. Biasanya si driver go-car sudah dengan cekatan menunjukkan bukti order kita ke petugas parkir.

Memasuki kawasan wisata Ocarina Park, kita akan disambut dengan patung-patung yang menggambarkan Shio disepanjang kanan jalan, beserta keterangannya. Sebenarnya ada banyak wahana di Ocarina Park, ada Giant Swing, Perahu Naga, Bianglala, dan ada atraksi Mandi Busa pada jam 5 sore dan jam 7 malam dihari ahad.

Namun karena minat anak-anak akan pantai jauh lebih besar dari yang lain, maka kami memutuskan untuk bermain-main dahulu dipinggiran pantainya. Ombak pantai yang cukup tenang, membuat kita sebagai orang tua tidak perlu khawatir jika anak-anak mandi air laut di pantainya. Hanya sesekali waspada terhadap deburan ombak yang diakibatkan lewatnya kapal ferry dari atau ke Pelabuhan Batam Center.

Sembari mengamati dan mengawasi anak-anak bermain air pantai, kami pun memilih duduk-duduk santai menikmati angin pantai yang sepoi-sepoi dibawah rindangnya pohon pinus disepanjang tepian pantai. Memang sangat cocok untuk wisata keluarga gumamku.

Selain kami, banyak juga pengunjung yang lain yang juga memilih menikmati wahana pantai ketimbang wahana permainan yang lain. Bahkan tepat disamping kami berdudk santai, ada beberapa rombongan yang sedang Family Gathering disana. Sembari duduk kami juga bisa mengamati lalu-lalangnya kapal ferry dari dan ke Batam Center, kebanyakan menuju Singapura sih memang.

Puas bermain air laut, anak-anak pun bersiap untuk makan siang. Satu yang kurang, dan ini umum ditempat wisata di Indonesia, perawatan kamar mandi/kamar ganti. Ini juga yang kami alami saat menemani anak-anak berbilas dan berganti baju. Sambil menikmati es krim seharga Rp 5.000 (hampir sama dengan es krim diluar tempat wisata), kami pun menuju ke cafetaria. Benar-benar asyik, harga makanan juga cukup standar, hampir sama saat diluar area wisata, Rp 20.000. Setelah anak-anak kenyang kami pun sholat dhuhur untuk selanjutnya istirahat dibalai-balai yang disediakan disepanjang pantai. Untuk menikmati balai/gazebo yang disediakan pihak pengelola sepertinya tidak ada sistem pesan, sehingga bisa siapa saja yang menggunakan, asal tidak keduluan oleh yang lain, kecuali untuk acara tertentu sudah di pesan/reserved.

Disaat istirahat menunggu agak sorean dikit, rencananya kami akan bermain sepeda dahulu sambil menunggu waktu mandi busa jam 5 sore, ehhh ada pengumuman mandi busa akan dimulai, melirik jam masih jam 2 siang, loh kok udah ada event mandi busa? ternyata ada pihak yang mengadakan event di ocarina request mandi busa, oh ya,.ternyata selain jam 5 dan 7 malam, mandi busa juga ternyata bisa direquest jam berapapun oleh pengunjung, asalna bayar tentunya, berapa rupiah, saya kemarin belum sempat bertanya.

Seketika mendengar pengumuman mandi busa akan segera dimulai, Mas Farish dan Si Aa Nadif yang dari kemaren sudah sangat ingin mengikuti mandi busanya langsung berlarian menuju hall mandi busa. Bergabung dengan para pengunjung yang lain nampak dua jagoan itu menyelusup masuk keluar timbunan busa yang nampak bak salju turun tersebut. Abang Fathan yang dari tadi tampak ragupun akhirnya ikut juga mandi busa. Walhasil, ketiga bocah tersebutpun bajunya penuh dengan busa yang lengket, kemudian lepas karena tertiup angin pantai yang cukup kencang.

Tidak hanya sekali, ternyata ada dua kelompok event yang memesan mandi busa.Sehingga tanpa menunggu jam 5 sore ataupun jam 7 malam, anak-anak sudah kehabisa baju ganti untuk mandi busanya..Lumayan, kami pun tidak perlu berlama-lama nunggu.

Sore harinya, sambil menikmati angin sore pantai ocarina, kamipun memilih wahana bersepeda, setelah puas berfoto-foto di pelabuhan ocarina. Sepeda yang kami pilih adalah yang double, sehingga bisa sekali kami naikin berdua. Harga sewa Rp 30.000/jam. Satu jam kami bersepeda bergantian sampai puas. Berputar-putar seluruh area Ocarina Park. Sampai akhirnya kamipun memutuskan balik ke apartemen untuk istirahat dan persiapan esoknya menuju Singapura.

 

 

Posted in Kisah | Leave a comment

Based Practice VS Based Rule Accounting, Praktisan mana?

Sudah beberapa kali saya ditegur, dikritisi bahkan dicibir. Sudah banyak kali juga saya dianggap tidak kooperatif, ribet dan gak praktis… Itu semua saya dapat lantaran menjalankan fungsi sebagai Ketua Tim Monitoring dan Evaluasi (MONEV) salah satu program hibah pemerintah yang dimenangkan beberapa program studi di kampusku.

Itu adalah kisah diawal, yah..awal-awal program hibah dijalankan. Karena terbiasa dengan pelaksanaan sistem keuangan kampus kami yang swasta, banyak yang terkejut, dan kaget dalam menjalankan keuangan hibah. Beda..jelas beda, beda prinsip dan cara pelaksanaan. Alhamdulillah seiring berjalannya waktu, seluruh tim sudah mampu menerima kenapa kontrol yang kita lakukan benar-benar ketat. Tim sudah paham kapan harus menggunakan standar keuangan kampus kami yang swasta itu, dan kapan harus menggunakan standar keuangan pemerintah.

Ibarat seperti anak kecil yang mendapatkan uang dari orang tuanya, tentunya si anak kecil tersebut harus mengikuti aturan dan arahan orang tuanya, si pemberi uang, terutama dalam membelanjakan uang yang telah diterima. Bukan seenaknya sendiri, apalagi sesuai dengan kebiasaan pribadi yang dianggap benar.

Hal ini tak ubahnya dengan yang dialami teman-teman tim hibah pemerintah, karena yang memberi hibah adalah pemerintah, tentunya dalam proses pelaksanaan keuangan mengikuti aturan pemerintah, yang memberi uang.

Secara istilah, inilah yang disebut perseteruan Based Practice VS Based Rule Accounting. Kesan pertama tentunya based rule itu gak praktis. Sebagaimana sebuah kasus yang saya temui, seorang yang ditugaskan dengan dana hibah, ketika kunjungan ke beberapa kota tidak diperkenankan menggunakan anggaran transportasi dengan label : sewa mobil. Berdasarkan aturan harus tetap menggunakan label : transportasi umum. Ada yang nyeletuk saat kita sampaikan hal ini, “gak praktis banget…”.

Wajar saja celetukan itu keluar, karena pemahaman yang selama ini, yang berlaku dikampus adalah standar keuangan kampus kami yang swasta memperkenankan sewa mobil, praktis memang. Based rule kesannya tidak praktis, namun dibalik itu tentunya pemerintah sudah mempertimbangkan kenapa hal itu tidak diperkenankan. Ada hal praktis kedepan yang akan lebih praktis jika menggunakan aturan pemerintah.

Contoh kedua adalah penggunaan SPPD yang digunakan sebagai dasar pembayaran transportasi dan akomodasi. Dalam praktik, tidak semua perusahaan yang menugaskan pegawainya melengkapi SPPD. Ini yang terkadang sering menimbulkan kesan tidak praktis..

Jadi, kesimpulannya, jika kita hendak melaksanakan tata kelola keuangan, pahami dulu standar yang digunakan, apakah based rule atau based practice…

Mengenai tingkat kepraktisan dan fleksibilitas pelaksanaan tergantung kita mengelolanya yah..

Semoga bermanfaat

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Utak Atik Biaya Produksi

Beberapa pekan yang lalu, salah satu kolega saya, yang juga menjabat salah satu pimpinan di kampus menanyakan suatu hal yang cukup membuatnya gusar.

“Pak Heri, berapa presentase yang wajar dari biaya gaji karyawan di suatu kampus. Soalnya kalau udah menembus angka 40% dari seluruh biaya operasional itu sudah sangat membengkak bukan..? “. Tanyanya kala itu dengan mimik yang agak serius.

Saya cukup tergelitik dengan pertanyaan yang seolah-olah angka 40% itu sudah tinggi dan kecenderungannya yang akan naik menjadi sebuah kekhawatiran tersendiri. Jawaban saya kala itu cukup akademis dan rasional, sehingga sangat sayang kalau tidak diabadikan dalam tulisan kali ini. Tentunya semoga juga bermanfaat bagi semua pembaca.

3 Komponen Biaya

Pada prinsipnya, semua jenis usaha apapun selalu memuat 3 jenis komponen biaya dalam usahanya. Apakah itu Jasa, Perdagangan, ataupun Manufaktur, ketiganya pasti ada, walaupun ada yang mencapai skala kecil dan tidak signifikan, sehingga dianggap tidak ada.

3 komponen biaya itu adalah :

  1. Biaya Bahan Baku (Direct Material Cost)
  2. Biaya Tenaga Kerja (Direct Labor Cost)
  3. Biaya Overhead Pabrik (Factory Overhead Cost)

Kita ambil contoh, usaha jasa pembuatan air mancur dari ban bekas. Secara bahan baku, bisa jadi sangat murah, karena beli dari loakan, atau jika dikasih dari bengkel-bengkel ban, tentu biaya bahan baku menjadi 0 Rupiah. Komponennya menjadi 0%. Sedangkan Biaya Tenaga Kerja tentunya akan menjadi komponen biaya yang dominan, bisa mencapai 90%. Sedang yang 10% adalah overhead, biaya ornamen dan perlengkapan pembantu.

Bandingkan dengan komponen Biaya Tenaga Kerja yang 40% dalam suatu kampus yang ditanya kolega saya tadi.

Saya cukup memahami asal usul pertanyaannya itu muncul, karena pandangan yang menyamakannya dengan industri manufaktur yang mengolah bahan. Kalau ini menjadi pembanding tentu sangat berbeda.

Misalnya kita ambil contoh perusahaan rokok, bisa jadi Biaya Tenaga Kerja menduduki proporsi yang tinggi, karena peraturan pemerintahan kita yang mengharuskan pabrik rokok tetap mempekerjakan tenaga manusia untuk melintingnya. Tak heran bukan, jika jam bubaran pabrik rokok, para pekerja itu keluar bak semut merah yang terganggu rumahnya? buanyak bangett…. Persentase biaya tenaga kerjanya bisa jadi 50% keatas.

Sifat Substitusi Biaya Tenaga Kerja vs Biaya Overhead 

Disisi lain, Biaya Tenaga Kerja memiliki sifat substitusi dengan Biaya Overhead Pabrik. Jika biaya tenaga kerja memiliki porsi yang tinggi, pada umumnya biaya overhead pabrik menjadi turun. Seperti contoh pabrik rokok tadi, biaya overheadnya kita misalkan penyusutan peralatan, sangat kecil, karena hanya alat linting rokok manual 🙂

Bandingkan dengan pabrik rokok yang menggunakan mesin-mesin canggih, alias industri modern. Biaya overhead pabrik akan tinggi, karena penyusutan peralatan canggih yang tentunya harga asetnya mahal. Sedangkan biaya tenaga kerjanya akan turun, karena hanya butuh tenaga kerja yang mengoperasikan alat-alat canggih, itupun jumlahnya sedikit sekali.

Dengan bahasa lain dapat dirumuskan seperti berikut ;

Perusahaan Tradisional->Butuh tenaga kerja banyak (padat karya)->Biaya tenaga kerja tinggi->Biaya overhead pabrik turun.

Perusahaan Modern->Butuh alat banyak (padat modal)->Biaya overhead tinggi->Biaya tenaga kerja turun.

Jika kita kembalikan dengan kondisi kampus yang ditanyakan kolega saya, jawabannya tentunya sangat relatif, tergantung kebijakan kampus dan juga sifat natural bisnisnya.

Kampus, jika kita lihat nature of business nya adalah melayani konsumen yang merupakan mahasiswa dengan layanan jasa keilmuan yang disampaikan oleh dosen, dan butuh dosen banyak, maka kemungkinan biaya tenaga kerja yang tinggi itu adalah wajar dan normal. Lantas biaya overheadnya? karena hampir minim biaya bahan baku, kemungkinan komponen biaya overhead juga tinggi, namun tidak melebihi biaya tenaga kerja. Biaya overhead meliputi penyusutan peralatan perkuliahan, praktikum, kantor dan administrasi.

Berbeda ceritanya jika kampus tidak banyak menyediakan dosen, cukup menyediakan alat-alat canggih, sistem-sistem canggih yang mampu menggantikan kebutuhan dosen yang banyak dan juga tenaga admin dapat ditekan, nahh, ini nih yang namanya padat modal, tentunya biaya tenaga kerja langsung, berupa dosen dan tenaga kependidikan lainnya, akan dapat ditekan setekan-tekannya 🙂

Jadi, jangan menjudge dulu yah, cek dulu jenis usaha anda, cek karakteristiknya, apakah model tradisional (padat karya) atau model canggih/modern (padat modal)…?

Semoga bermanfaat..

Posted in Fenomena | Leave a comment

Kapan ROP dan EOQ Baiknya Digunakan ?

Kontrol terhadap bahan baku dalam sebuah industri manufaktur merupakan satu hal yang sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi. Suatu usaha manufaktur yang gagal dalam mengendalikan bahan baku, akan tergerus dengan ketidakefisiensian bahan baku yang dikelolanya. Terlalu banyak bahan baku disimpan, biaya penyimpanan membengkak, potensi hilang dan rusak (kadaluarsa) meningkat, biaya produksi terbebani biaya bahan baku yang tidak semestestinya, secara efek domino, biaya produksi meningkat, hargapun terpaksa tinggi dan tidak seksi lagi untuk bersaing dengan yang ramping-ramping harganya.

Secara sederhana sebenarnya ada dua kategori kontrol terhadap bahan baku :

  1. Kontrol secara fisik. Ketika kita berbelanja di swalayan sering kita sampai disuatu lorong, ada pintu, namun diatasnya tertulis, DILARANG MASUK KECUALI KARYAWAN. Ini adalah salah satu contoh kontrol secara fisik, tidak sembarangan orang yang bisa mengakses bahan baku.
  2. Kontrol secara investasi. Kontrol ini meliputi segala kegiatan pengadaan bahan baku. Bagaimana perusahaan harus mencapai tingkat efisiensi tinggi.

Ringkas kata, ada tiga titik rawan dalam pengendalian bahan baku :

  1. Saat dibeli/diadakan.
  2. Saat disimpan
  3. Saat digunakan.

Khusus saat dibeli, ada dua isu besar yang sering juga menjadi bahan penelitian. Yang pertama ROP (Reorder Point), yang kedua EOQ (Economic Order Quantity). Walaupun banyak sudah referensi terkait dua hal tersebut, namun masih banyak para peneliti yang kurang menguasai konsep, sehingga arah dari tujuan penelitian terkait dengan ROP dan EOQ pun bias. Padahal, pemahaman yang sederhana terkait dua hal tersebut dapat diterapkan.

Yang pertama, ROP. Sesuai namanya ROP bertujuan menentukan suatu Point / Titik kapan kita harus mengorder kembali bahan baku kepada vendor. Dengan kata lain ROP fokus dimensinya adalaha KAPAN?. Artinya, jika bahan baku kita mencapai suatu level/batas unit tertentu, disitulah SAAT kita melakukan order bahan baku. Oleh karenanya ada 3 komponen yang harus ada dalam menentukan ROP.

  1. Kebutuhan akan bahan baku per hari, USAGE
  2. Jumlah hari yang dibutuhkan bahan baku tiba dari saat dipesan, LEAD TIME
  3. Jumlah cadangan stok bahan baku yang harus selalu ada, untuk mengantisipasi adanya keterlambatan kedatangan bahan baku atau pesanan dalam jumlah besar yang mendadak, SAFETY STOCK

Dengan ketiga komponen tersebut maka ROP dapat dihitung dengan rumus :

ROP = (USAGE x LEAD TIME) + SAFETY STOCK

Contoh kasus misalnya :

Sebuah industri Jilbab membutuhkan perhari : 50 Meter kain. Pemesanan kepada Vendor biasanya memakan waktu 3 hari hingga bahan baku yang dipesan tiba. Berdasarkan pengalaman, perusahaan menentukan safety stock sebanya 20 Meter. Kapan baiknya perusahaan memesan kembali bahan baku ?

Dari contoh kasus tersebut maka :

ROP = (50 Meter X 3 hari) + 20 Meter

= 150 + 20 = 170 Meter

Artinya, ketika stok bahan baku menunjukkan bahwa bahan baku kain yang tersisa tinggal 170 Meter, disitulah SAAT perusahaan baiknya melakukan Order kembali bahan baku.

Ringkasannya, ROP digunaan saat kita menentukan KAPAN kita memesan bahan baku.

Yang kedua EOQ. Economic Order Quantity, sesuai namanya, EOQ mengantarkan kita untuk menentukan berapa jumlah pesanan yang paling ekonomis saat kita melakukan order ulang bahan baku. Singkatnya, kalau ROP menunjukkan KAPAN kita memesan, kalau EOQ menunjukkan BERAPA kita pesannya.

Ringkasnya, EOQ digunakan saat kita menentukan BERAPA jumlah setiap kita memesan bahan baku.

catatan :

Rumus EOQ = √ 2CN/k

C = COST , biaya pemesanan setiap kali order

N = NUMBER, jumlah kebutuhan bahan baku setiap periode/tahun

k = biaya penyimpanan bahan baku/unit.

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Antara Kontrak Perkuliahan dan Jadwal Acara Televisi

Bagi sebagian pengajar ataupun mahasiswa, Kontrak Perkuliahan mungkin hanya dianggap sebagai basa-basi belaka, sebuah formalitas, ataupun sebuah pelengkap penderita dalam sebuah proses belajar mengajar (PBM). Lebih parah, kontrak perkuliahan hanya akan dibuat atau disiapkan saat ada Monev dari auditor QA atau hanya sekedar memenuhi kekurangan berkas saat Akreditasi .. miris…

Sejatinya tidak demikian, Kontrak Perkuliahan merupakan 50% kesuksesan suatu perkuliahan. Disana dimuat berbagai rencana perkuliahan selama satu semester, per pertemuan mau bahas apa, bahkan agenda penugasan apa yang harus disiapkan mahasiswa pada suatu pertemuan semua dapat diketahui diawal semester, kapan kuis, kapan ujian, termasuk presentase komponen penilaian dan aturan suasana kelas. Jadi tidak ada kucing dalam karung dalam proses penilaian. Mahasiswa dapat mengukur dan merencanakan dengan baik apa yang harus dilakukan per pekannya untuk suatu mata kuliah tertentu, mengingat, mereka juga kuliah dengan dosen lain yang gak kalah seabrek tugasnya. Singkat kata, kontrak perkuliah itu penting, tidak hanya untuk mahasiswa, melainkan juga untuk sang pengajar..

Betapa tidak, kebayang gak enak kan kalo dosen masuk, trus nanya sama kita sebagai mahasiswa, ” kita kemaren udah sampai mana ?”. Lebih parah, ” hari ini kita belajar apa yah???” lahhhh…..kalo udah kena dosen model gini, dari awal perkuliahan hingga akhir rasanya eneg… Yang paling menakutkan, ‘ Hari ini kita kuis..!! ‘ hehehehh.

Dosen yang memanfaatkan betul penggunaan kontrak belajar akan dengan mudah membuat perencanaan perkuliahannya, tanpa ada kesan mendholimi mahasiswa, jika pada pertemuan tertentu langsung memberikan kuis, karena sudah direncanakan, sudah tertuang dalam kontrak perkuliahan yang ditandatangani bersama dan diketahui ketua prodi ataupun ketua jurusan.

Saya jadi teringat, kontrak perkuliah itu tak ubahnya seperti jadwal acara televisi. Jauh hari kita sudah bisa membaca di koran, diwebsite saluran televisi tentang jadwal acara. Senang bukan hati kita, kita jadi bisa memilih jadwal acara yang hendak kita tonton, karena semua dilaksanakan sesuai jadwal. Namun betapa kecewanya kita, kalau tiba-tiba film kesukaan kita, tiba-tiba terpotong dengan acara yang tidak ada dijadwal, misalnya Liputan Khusus Kunjungan Presiden Soehart* ke Jerman… hahahah ini contoh hanya anak kecil era 90-an yang paham. Bener2 kecewa berat..

Mungkin itu yang dirasakan mahasiswa jika dosen mengajar tanpa kontrak diawal, suka ati dosen. Yang aneh, tanpa pernah melihat bentuk kontrak perkuliahan, ketika semesteran udah berakhir, dosen yang bersangkutan tiba2 menunjukkan kontrak perkuliahan dan minta tanda tangan mahasiswa, alasan mau di audit oleh tim auditor QA lah, mau ada akreditasi lah … 🙂

Jadi, yuk, kontrak perkuliahan jadikan budaya mutu, bukan kebutuhan praktis. Jangan kalah dengan jadwal acara televisi, bahkan acara televisi kabel pun sudah dibukukan dengan kemasan yang lux, dan diupdate beberapa bulan sekali.

Selamat berkarya.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Lebaran Haji di Ranah Minang, Danau Yang Bertumbuh

Jika tahun sebelumnya kami berlebaran haji di negara tetangga, Malaysia, kali ini kami berlebaran haji di provinsi tetangga, Sumatera Barat. Benar memang, Sumatera Barat merupakan provinsi tetangga dari Riau. Provinsi Sumatera Barat dengan Riau hanya terpisah dengan jalan lintas provinsi, sehingga tidak banyak kesulitan bagi setiap orang berlalu-lalang melintas antar provinsi.

Setelah melalui persiapan yang matang, kami sekeluarga pun sepakat untuk berlebaran haji ke Sumatera Barat dengan mengendarai mobil sendiri. Sampai hari itupun tiba.

Setelah lumayan capek menemani anak-anak takbiran di masjid dekat rumah, malam takbiran itupun kami mempersiapkan segala perbekalan. Termasuk beras dan magic com, maklum di Bukittinggi nantinya kami menginap di guesthouse yang tidak ada fasilitas sarapannya.

Pagi dini hari menjelang subuh, diiringi rintik hujan, kamipun mulai meluncur meninggalkan kota Pekanbaru. Alhamdulillah melewati Kabupaten Kampar, hujan deras pun mengguyur, walaupun dengan kecepatan melambat, kami terus melaju. Perlu hati-hati pada saat baru keluar gerbang kota Pekanbaru, karena ada perlintasan jalan kembar, sedangkan lampu penerangan jalan yang minim, akan sangat rawan jika kita tidak mampu melihat batas pemecahan jalan menjadi dua jalur. Setelah melaju dengan kecepatan sedang, akhirnya kami istirahat sebelum memasuki Bangkinang, Ibu Kota Kabupaten kampar, untuk sholat subuh.

Setelah sholat subuh, perjalanan pun kami lanjutkan. Mentari tampak mulai bergeliat ketika mobil yang kami tumpangi melintas disuatu bukit yang orang menyebutnya Ulu Kasok. Konon katanya pemandangan danau yang terbentuk dari bendungan Koto Panjang membentu pulau-pulau yang tak kalah indahnya dengan pemandangan gugusan pulau-pulau di Raja Ampat yang tersohor. Sejenak ketika saya tawarkan ke istri dan anak-anak, semua pada enggan.. ya sudahlah..mungkin lain kali fikirku, mobilpun ku gas lagi meninggalkan Kabupaten Kampar.

Pagi hari kamipun sudah memasuki Pangkalan, kota di provinsi Sumatera Barat yang berbatasan langsung dengan Provinsi Riau. Jalanan tampak lancar, hingga jam pun menunjukkan pukul 7, saatnya kami mulai mencari lapangan/masjid untuk sholat idul adha. Alhamdulillah kami menjumpai serombongan orang yang tampak mengenakan pakaian hari raya, kamipun mengikutinya dan sampai pada sebuah masjid. Lantaran hujan semalaman mengguyur, sholat idul adhapun dialihkan kedalam masjid oleh panitia.

Jalan Ranah yang benar-benar Tanah

Tengah hari, kamipun memasuki Kota Bukittingi. Saatnya kami mencari penginapan yang telah kami booking sebelumnya melalui travel online. Tertulis alamatnya jalan Ranah. Setelah mendapatkan jalan yang dimaksud, tampak sedikit terlintas keraguan dari istri dan anak-anak. “Kok jalannya jalan tanah yah…belum diaspal atau semen ?”. ” Yahh namanya juga jalan Ranah, kan emang jalan tanah” jawabku sekenanya waktu itu. Dan ternyata dibalik jalan tanah, hanya cukup beberapa meter kami mendapati Guest House Rumah Kayu, tempat kami menginap. Tempatnya sangat asri, dikelilingi kebun buah naga, dan ada kolam ikan nila dibawah jembatan menuju setiap kamarnya, membuat suasananya tampak menyejukkan.

Sorenya kamipun berjalan-jalan keliling Kota Bukittinggi. Salah satu yang menjadi objek wisata yang kami kunjungi adalah Gua Jepang dan Panorama Ngarai Sihanok. Selain belajar sejarah dengan memasuki gua yang dulunya menjadi tempat persembunyian Jepang, anak-anak juga tampak menikmati panorama Ngarai Sihanok yang seolah-olah membelah Pulau Sumatera menjadi utara dan selatan itu.

Danau yang bertumbuh

Melintasi 3 kabupaten/kota, mungkin itu istilah yang tepat atas perjalanan kami esok harinya. Pagi itu setelah sarapan dengan bekal ayam rendang yang kami bawa dari Pekanbaru, kami pun meluncur meninggalkan Kota Bukittinggi. Menuju Danau Singkarak dari Bukittinggi ternyata lumayan jauh, harus melewati kota Padang Panjang, Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Solok. Konon Danau Singkarak itu terus bertumbuh karena pergeseran lempeng sumatera yang terus bergerak, wal hasil panjang dan luas danau itupun terus bertumbuh, bergerak, semakin luas.

Setelah menyusuri pinggiran Danau Singkarak, kami menjumpai salah satu pantai rakyat yang terbuka untuk umum. Hanya dengan membayar uang parkir, kami dapat menikmati fasilitas pantai. Duduk-duduk sambil tiduran didipan yang diletakkan dibawah pohon terasa nikmat, sembari menikmati semilir angin yang berembus membawa uap air danau yang terasa sejuk. Segelas kopi susupun menemani saya menikmati istirahat dibawah pohon, sembari mengawasi anak-anak yang asyik mandi ditepian danau yang airnya sangat jernih itu.

Posted in Uncategorized | Leave a comment