Meneropong Surabaya dari Jaman Kolonial hingga Kini di Museum Surabaya

Memasuki pintu masuk Gedung Siola yang Museum Surabaya bertempat disalah satu sudut gedungnya membuat kita langsung yakin bahwa gedung ini begitu kuno dan bersejarah. Betapa tidak, tepat didepan gedung yang dulunya digunakan kaum sosialita Eropa untuk berpesta setiap malam itu diletakkan satu mesin uap kuno dan mobil pemadam kebakaran kuno yang pernah dioperasikan pada jamannya. Kesan kuno akan terlihat…

Namun jangan sampai terkecoh, karena sejatinya pintu masuk ke area Museum, kita harus melewati pintu dan area pelayanan SAMSAT Kota surabaya, Disduk dan lain dinas pelayanan berada diarea ini, namun tidak usah canggung, anda cukup jalan kaki aja melawati selasar pengantri yang duduk manis diruang tunggu antrian, selanjutnya belok kanan dari lorong yang terdapat arah panah menunjukkan tempat Museum Surabaya berada.

Gedung yang dulunya bernama Simpang Societet ini benar-benar luas, layaknya gedung tempat kaum sosialita eropa berhura-hura tiap malamnya, dan sepertinya hampir setiap kota memiliki gedung serupa pada jamannya. Karena luasnya, gedung ini masih kokoh dan kuat menampung beberapa lokasi bisnis, masih ada pusat elektronik, pertokoan di samping kiri kanan gedung  yang menghadap ke jalan.

Berbicara mengenai Museum Surabaya, memang sedikit aneh rasanya, sebuah museum ditempatkan dilokasi yang sama dengan satu layanan publik. Namun, justru disini cerdasnya ibu Walikotanya, ning Risma. Disadari atau tidak, minat orang Indonesia untuk berkunjung ke Museum sangatlah kecil, itupun kadang yang paling banyak berkunjung adalah pelajar yang mendapat tugas sekolah.

Dengan ditempatkannya di area pelayanan publik, saya melihat sendiri, orang yang awalnya hanya ada urusan ke Samsat jadi tertarik untuk mampir disela-sela urusannya, ataupun proses pengurusannya selesai. Sehingga tercatat banyak juga pengunjung yang datang. Terlebih, penempatan Cak & Ning Surabaya sebagai pemandunya, mempunyai daya tarik tersendiri. Karena dengan keramahan dan mental duta pariwisatanya itu benar-benar memberikan rasa kenyamanan bagi pengunjung.

Memasuki area museum, kita akan disambut oleh petugas, yang merupakan Cak & Ning Surabaya disini gerbang masuk museum. Mereka akan siap membantu jika ada hal-hal yang memerlukan penjelasan. Namun jika kita ingin mengeksplorasi sendiri, juga tidak kesulitan, karena setiap koleksi museum dilengkapi dengan keterangan yang jelas.

Saat baru melewati Cak & Ning, kita akan disuguhkan dokumentasi poto Walikota Surabaya yang pertama dari Jaman Kolonial Belanda hingga yang terakhir. Untuk mengetahui profil, dan kiprah setiap periode walikotanya, kita dapat membaca buku profil walikota yang sangat lengkap.  Sejenak memori saya waktu kecil sedikit terbuka, yang saya ingat waktu sekolah, sebelum saya memutuskan merantau ke sumatera, walikota yang sangat ingat betul namanya adalah Bpk. Purnomo Kasidi, Bpk Soenarto Sumoprawiro, serta Bpk. Bambang DH.

Melanjutkan penelusuran, berjalan kekiri, searah jarum jam, area pertama kita akan disuguhi koleksi permainan anak-anak surabaya jaman dulu, ada Dakon, Bekel, Enggrang, Karet, Neker, Gasing dll. Sejenak, saya seakan kembali ke masa kecil. Saat kami belum mengenal saluran TV kecuali TVRI, itupun layarnya dua warna, Hitam dan Putih :). Disamping area koleksi permainan kuno, terdapat satu etalase berisi berbagai piagam dan piala kehormatan yang diperoleh Surabaya.

Melanjutkan penelusuran, disamping area mainan anak, kita disuguhkan alat-alat praktikum kuno, ataupun peraga kuno yang ada disekolah-sekolah kuno di Surabaya yang sampai saat ini sekolah-sekolah tersebut masih eksis. Ada alat peraga mesin uap, alat peraga bandul fisika, volt meter kuno. Dan yang paling membuat kagum, Daftar rapot dan ijazah kuno pun masih ada.

Peneropongan kota Surabaya selanjutnya adalah area koleksi Gedung Societat. Alias gedung Siola pada jamannya. Banyak furniture, alat musik yang digunakan buat pesta pora kala itu, dan sederetan peralatan dapur, makan minum yang masih tertata rapi dilemari yang juga tidak kalah kunonya. Ada dua piano besar yang berbahan jati yang masih nampak kokoh. Untuk fungsinya belum tahu apakah masih berfungsi, karena pengunjung dilarang menyentuh untuk mengetes suaranya :). Meja dan kayu pesta pun masih terlihat kokoh, karena terbuat dari bahan kayu jati pilihan, bahkan khusus furniture pun dirancang arsitek yang sama yang merancang Gedung Societat.

Lanjut serah jarum jam, ada suguhan koleksi alat-alat transportasi yang pernah berjaya mengiringi maju pesatnya Surabaya. Yang pertama becak, kendaraan umum dengan tenaga penggerak kayuhan kaki supirnya ini sangat merajai jalanan Surabaya. Saking terkenalnya, kalau seseorang memiliki betis yang besar, selalu diidentikkan, kalau bukan tukang becak yah pemain bola :). Di pameran museum ini ditampilkan dua becak dua warna. Warna putih dikenal dengan becak malam, dan warna hitam untuk becak siang. Pewarnaan ini lebih kearah pengaturan operasional becak, karena sudah semakin ruwetnya lalulintas becak kala itu. Walaupun berdasarkan pengalaman saya semasa kecil dulu tidak ada batasan warna, ada yang merah, biru, hijau,…terserah dipemilik becak mewarnainya seperti apa. Seiring perkembangan, kendaraan ini semakin tersingkir, saat ini memang masih ada beberapa, namun sudah bukan becak tenaga betis, melainkan sudah diganti penggeraknya dengan sepeda motor yang dimodifikasi. Namun demikian, beberapa waktu masih saya jumpai becak bertenaga betis, umumnya supir becak yang sudah tua yang masih menggunakan ini. Salah satunya bisa kita jumpai di pintu air Kalimir, perbatasan antara Jagir Sidoresmo dan Jagir Sidomukti.

Kendaraan kedua yang dipamerkan adalah Bajaj, buatan India. Khusus di Surabaya kendaraan ini lebih akrab disebut Helicak, sedang orang Jakarta nyebutnya Bajai. Helicak ini sejatinya adalah pengganti becak. Namun tidak banyak yang bermigrasi ke Helicak kala itu, karena alasan penggunaan bahan bakar, ataupun izin mengemdi, yang tentunya akan menambah biaya operasional. Sistem tarifnya masih sama dengan becak, yakni sistem tawar menawar. Berbeda dengan becak, helicak mempunyai kewajiban taat lampu lalu lintas, rambu-rambu. Sedang becak, masih sah-sah saja nerobos lampu merah, menantang arus :). Mungkin ini salah satu alasan kenapa becak kala itu masih menjadi primadona, karena kepraktisan.

Jika di Jakarta, becak dibumi hanguskan menjadi terumbu karang di era modern berikutnya. Di Surabaya justru kebalikannya, becak dipertahankan, Helicak yang dilarang. Sebagai pengganti Helicak, adalah Angguna, alias Angkutan Serba Guna. Pada pameran kendaraan yang ketiga, Angguna yang benar-benar khas di Kota Surabaya masih ditampilkan dalam wujud aslinya, van tampa moncong 4 roda, type daihatsu hijet, dengan dua baris penumpang, baris ketiga disulap menjadi bak terbuka untuk mengangkut barang, dan warna kuning khasnya, serta lampu diatas atapnya yang menyerupai TAXI, namun tertulis dengan warna merah, ANGGUNA. Masih sama dengan becak dan helicak, untuk tarif, angguna masih menggunakan sistem tawar menawar. Saya masih ingat, Angguna dulu banyak ngetem di Pasar Wonokromo, menunggu para pedagang yang kulakan barang.

Satu lagi kendaraan yang ikut dipamerkan, Bemo, buatan Daihatsu. Dengan warna merah yang khas. Namun kendaraan ini kurang populer di Surabaya, sehingga masa kecil saya pun hampir tidak pernahh menjumpainya lagi.

Lanjut kesisi kanan, searah jarum jam, dipamerkan berbagai peralatan kedokteran dan kedokteran gigi yang dahulu digunakan disekolah kedokteran surabaya dan rumah sakit. Hal ini mengingat, Surabaya dengan FK Unair dan RSUD Dr. Soetomonya masih menjadi pusat ilmu medis di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara. Saya jadi paham, kenapa sepupu Istri saya yang berkewarganegaraan Malaysia itu S1 Kedokterannya di Unair.

Seiring dengan perkembangan kota yang semakin padat menuju metropolitan. Perkembangan kotanya juga dibarengi dengan perkembangan kemajuan Dinas Pemadam Kebakarannya, karena kebakaran dengan efek yang merembet dan membesar akan sangat berpotensi di kota-kota besar. Terlebih lingkungan padat penduduk. Di pameran museum, kita dapat juga menjumpai berbagai jenis pakaian tim damkar dengan berbagai peralatan yang digunakan, termasuk selang dan berbagai jenis kran. Untuk mobil damkar, bisa kita lihat langsung di area trotoar depan museum.

Dari koleksi Dinas Pemadam Kebakaran, disebelah kanannya kita akan mendapati koleksi arsip Kota Surabaya dari yang berbahasa Belanda, sampai yang berbahasa Indonesia, baik ejaaan kuno ataupun EYD. Satu yang menarik adalah mesin pencetak register nomor aset yang bentuknya sangat besar, dan itu digunakan sejak pemerintahan kolonial dulu.

Disisi kanan sebelum menuju pintu keluar, kita akan disuguhi sketsa tarian khas Jawa Timur, REMO tentunya. Tarian ini menjadi tarian khas penyambut tamu baik, di jawatimur pada umumnya ataupun di Surabaya pada khususnya. Untuk seni yang lain ditampilkan juga wayang Potehi, wayang orang, yang merupakan hiburan favorit pada jamannya.

Sebelum pintu keluar, ada maket berbagai jajanan khas Surabaya dilengkapi dengan cerita asal usulnya dan berbagai ciri khasnya. Diantaranya, ada lontong balap, pecel, tahu campur dan kawan-kawannya.

Sembari keluar, kita bisa mengisi kesan kita dibuku tamu. Menurut saya, lumayanlah, setidaknya dalam waktu singkat, setidaknya kita bisa jalan-jalan di Surabaya dari masa ke masa. Meneropong dari jaman kolonial hingga kini.

Posted in Kisah | Leave a comment

Dua Variabel Penting Saat Meneliti BEP Multi Produk

Breakeven Point atau yang sering disebut orang BEP masih menjadi topik menarik dalam pembicaraan Ekonomi Manajerial. Baik itu pembicaraan di kelas-kelas perkuliahan, riset ataupun obrolan warung kopi.

Namun tidak banyak yang menyadari kesalahan-kesalahan yang sering muncul saat menganalisisnya, walhasil akan terjadi banyak perdebatan panjang yang tiada henti akibat tidak terpenuhinya variabel-variabel penting saat menghitungnya. Terlebih kasus ini sering terjadi pada kasus BEP untuk multi produk.

Kali ini saya khusus mau berbagi tentang dua variabel penting saat BEP untuk multiple produk dianalisis. Sesuai dengan namanya, multiple produk, artinya BEP yang biasanya digunakan untuk menghitung BEP suatu produk kali ini kita gunakan untuk menghitung BEP suatu usaha yang memiliki lebih dari satu produk, minimal dua.

Kesalahan utaman dari menghitung BEP untuk multiple produk adalah justru pada titik awalnya, yakni si analis, peneliti, ataupun apapun gagal mendeteksi apakah produk yang hendak dianalisis benar-benar multiple produk. Karena konsep BEP diukur dengan jumlah unit dan satuan moneter, banyak yang beranggapan asal beda produk, sudah dianggap multiple produk. Contoh yang pernah saya temui :

Suatu perusahaan bakery di Riau memiliki produk lebih dari satu, yang katanya multiple produk. Produk itu ialah : roti isi kacang, roti isi coklat, roti isi keju, roti isi nanas, roti isi kelapa. Harga sama, dan biaya sama. Begitu data menunjukkan (sepertinya tidak ada beda, bahkan untuk isi keju atau kelapa, sama saja ? 🙂 )

Setelah lebih jauh di teliti, ternyata akibat tidak adanya perbedaan harga dan struktur biaya, walhasil, BEP untuk setiap produk, sama jumlahnya. Dengan kata lain, tidak perlu kita repot-repot menghitung BEP sebagai multiple produk, mencari WACM (Weighted Average Contribution Margin), hanya untuk menghitung BEP yang ujung-ujungnya setiap produk memiliki nilai BEP yang sama.

Untuk itu, ada dua variabel penting yang harus kita perhatikan, agar syarat “benar-benar” multiple produknya terpenuhi.

Yang pertama, Variabel Harga. Nilai harga yang sama, tidak serta merta membuat produk yang berbeda, seolah-olah dia multiple produk yang harus dihitung dengan rumus yang agak rumit tersebut. Dikatakan produk-produk itu masuk dalam kategori multiple produk jika dan hanya jika produk-produk tersebut memiliki struktur harga yang berbeda.

Yang Kedua, Variabel Biaya Variabel. Sama dengan variabel harga, Nilai biaya variabel yang sama, tidak membuat produk-produk yang berbeda tersebut langsung dikategorikan proses perhitungannya sebagai multiple produk. Produk-produk tersebut dapat dikatakan dan diproses perhitungannya sebagai multiple produk jika masing-masing produk memiliki struktur nilai biaya variabel yang berbeda.

Kedua variabel diatas harus berbeda. Jika tidak berbeda atau berbeda namun tidak cukup signifikan, dipastikan, BEP per produk akan sama. Hal ini tidak ubahnya kalo kita menghitungnya dengan rumus BEP untuk single produk bukan ? Kalau ada yang sederhana, kenapa mencari yang rumit.

Posted in Fenomena | Leave a comment

Kesamaan Mahasiswa Tugas Akhir dengan Seorang Marketing

Diakui atau tidak menjadi mahasiswa yang sedang mengerjakan Tugas Akhir memang susah-susah gampang. Banyak yang berpendapat kadang-kadang malah inti tugas akhirnya itu sebenarnya mudah, namun proses bimbingan dengan pembimbing itu yang kadang lebih ruwet ketimbang tugas akhirnya itu sendiri. Benar saja, karena dosen pembimbing itu juga manusia, mereka juga butuh dipahami :).

Kalau sudah begini, bener-bener terasa istilah, Kalau kuliah itu beda dengan sekolah, kuliah itu tidak cukup hanya mengandalkan pandai, tapi lebih dari itu, kuliah itu butuh pandai-pandai. Yah macam-macam, mulai dari pandai-pandai lihat situasi, pandai-pandai lihat kesempatan, pandai-pandai lihat kondisi dosen, dannnn…pandai-pandai lainnya lah.

Kali ini saya cukup mau membahas tentang pandai-pandai saat bimbingan tugas akhir, yang katanya bener-bener momok yang sangat mengerikan bagi mahasiswa. Kalau istilah saya sih, tugas akhir itu ibarat tembok, yahh tembok yang menghalangi perjalanan kita, kita sudah 3 tahun (D3), atau 4 tahun (D4/S1) berjalan disuatu jalan, ehhh ujung-ujungnya ada tembok yang menghalangi, mau mundur, rugi banget, mau diem aja yahh gak jalan-jalan, terpaksa, kita harus menjebol tembok tersebut. Tingkat intensitasnya macem-macem, ada yang pakai palu gada, sekali gempur jebol, ada yang pakai linggis, beberapa kali congkel baru jebol, bahkannn…adapula yang pakai sendok, korek-korek, sikit-sikit, biar lama, tembok itu jebol juga. 😀

Berpengalaman mengerjakan tugas akhir 3 kali sampai saat ini membuat sayang jika pengalaman saya tidak saya bagi kesemua pembaca. Mudah-mudahan juga menjadi amalan bagi saya dan semuanya.

Sampai saat ini saya sudah melewati mengerjakan tugas akhir 3 kali, yang pertama sewaktu menyelesaikan Diploma 1 saya dibidang Teknik Informatika, yang kedua diwaktu yang hampir bersamaan saya juga menyelesaikan S1 saya dibidang Akuntansi, dan yang ketiga sewaktu menyelesaikan Master Akuntansi.

Dari kesemua pengalaman tersebut, akhirnya saya mengambil kesimpulan, tidak ada bedanya rupanya seorang mahasiswa yang sedang tugas akhir dengan seorang marketing. Terutama saat menghadapi proses bimbingan dengan dosen pembimbing. Benar-benar harus berjiwa marketing kita. Mengapa demikian ?

Kita lihat sejenak prinsip dasar marketing. Yang pertama, marketing itu harus muka tembok, atau sebagian orang bilang muka badak. Alias tidak tahu malu, senyampang tidak malu-maluin. Jangan malu salah, jangan malu mencoba. Yang kedua, tidak ada dalam kamus seorang marketing itu kata gagal. Karena seorang marketing itu selalu mencoba, resikonya cuman dua, ditolak (coba lagi lain waktu) atau diterima. 🙂

Berikut lima perilaku marketing (http://www.marketing.co.id/5-perilaku-yang-membuat-seorang-sales-sukses/) yang harus bisa kita contoh dan terapkan sebagai mahasiswa dalam bimbingan Tugas Akhir

  1. Berjiwa besar dan berani melawan kegagalan

Hati yang luas, jiwa yang besar, sifat pemaaf benar-benar harus kita miliki jika ingin tugas akhir kita sukses. Karena dosen pembimbing juga manusia yang sama dengan kita, mereka punya aktifitas, baik itu aktifitas akademik, pekerjaan, bahkan keluarga. Bahkan, mahasiswa bimbingannya pun bukan kita saja, banyak yang harus dilayani, bisa puluhan. Wajar saja jika kadang-kadang kita ditolak untuk bimbingan, maafkan, dan coba lagi. Jangan merasa penolakan yang hanya sekali atau beberapa kali itu sebuah kegagalan tugas akhir. Contoh yang pernah saya alami, saya mau bimbingan, kata dosen, saya persiapan mau berangkat haji, saat itu saya langsung mendoakan beliau, “semoga menjadi haji mabrur ya pak”. Sepulang haji, saya temui lagi, kata beliau, saya sedang flu nih pulang haji, kembali saya doakan ” semoga lekas sembuh ya pak”. Lain waktu ada juga, “maaf ini mau long weekend, saya mau liburan sama keluarga, jadi gak bisa bimbingan”, saya doakan, ” selamat liburan ya pak”. Tidak berhenti disitu, jangan merasa gagal. Walhasil, pada beberapa kesempatan percobaan yang tidak kuasa saya menghitungnya, akhirnya tugas akhir sayapun di ACC untuk sidang. Jebol dah temboknya.

2. Selalu jeli melihat pasar dan menciptakan sebuah peluang

Sama dengan marketing, mahasiswa tugas akhir harus jeli melihat pasar dan menciptakan. Pasar disini bisa kita terapkan pada, kondisi si dosen pembimbing, apakah cukup luang untuk menerima bimbingan. Ini bisa kita terapkan dengan melihat jadwal kuliah beliau dan aktifitas rutinnya. Dengan demikian kita bisa melihat waktu-waktu tambahan yang mungkin saja bisa kita manfaatkan menambah jumlah tatap muka bimbingan kita selain jadwal reguler bimbingan yang telah dijadwalkan kampus.

3. Biasakan diri Anda menjadi seorang pemenang

Kembali kerumus kedua seorang marketing, tidak mengenal kata gagal. Yang ada hanya ditolak, itupun bisa kita coba lagi lain waktu, atau diterima. Tentu resiko kedua yang mau kita dapat. Tapi jikapun kita selalu ditolak, coba terus, namanya juga manusia, ada satu titik dimana dia akan menerimanya. INGAT, jangan pernah merasa gagal tugas akhir hanya karena penolakan sekali, dua kali atau berkali-kali.

Pada prinsipnya, kegagalan kita menyelesaikan tugas akhir juga merupakan kegagalan dosen pembimbing. Tentunya dosen tersebut juga tidak ingin gagal bukan? Nahh coba terus, pasti suatu saat nanti anda akan mendapatkan perhatiannya, di ACC, dan tembok itupun jebol juga.

4. Perluas networking

Pernah dengar SKSD, aslinya sih ini istilah untuk sistem komunikasi satelit domestik, namun untuk pembahasan kali ini kita pakai SKSD untuk istilah, Sok Kenal Sok Dekat. Nahh ini perilaku marketing yang sangat layak untuk kita tiru. Mahasiswa tugas akhir itu memang harus memperluas jaringan, termasuk kalau jaringannya gak luas, coba-coba sok luas saja, yaitu, sok kenal sok dekat. Misalnya waktu bimbingan, “pak dapat salam dari bang a, kak b, katanya dia alumni sini juga”. Dijamin, suasana bimbingan juga akan lebih cair.

Syukur-syukur, kamu teman sekolah anaknya si dosen, ponakannya si dosen atau apapun lah. Bisa juga misalnya ternyata kita rekan bisnis istri si dosen tersebut, atau teman kursus anaknya. Atau aktif dikomunitas yang sama dengan sang dosen. Yang penting cari semua kemungkinan yang bisa menyambungkan pembicaraan dengan sang dosen. Berdasarkan pengalaman, pembicaraan diluar tema bimbingan tugas akhir ternyata juga membantu tugas akhir kita lebih cepat diterima, di ACC dan jebol deh temboknya.

5. Selalu melakukan evaluasi secara rutin

Evaluasi itu penting. Termasuk mengevaluasi, mengapa tidak ada perkembangan terhadap tugas akhir kita. Atau bahkan mungkin tidak ada perkembangan dalam jumlah bimbingan dengan dosen pembimbing. Evaluasi bersama teman-teman yang senasib, alias sama-sama nyangkut didosen yang sama akan jauh lebih menguatkan kita ketimbang berjalan sendiri. Evaluasi bersama paling tidak sebulan sekali untuk terus mengasah strategi yang tepat agar bisa diterima dengan baik oleh si dosen yang nyangkut tadi. Jangan pernah kehilangan MOMENTUM. Ketika teman-teman sibuk mengerjakan tugas akhir, risau dengan tugas akhirnya, kita santai. Kalau hal ini terjadi, ketika teman-teman tadi sudah mulai menemukan jalan akhir, tembok mereka mau jebol, kita baru memikirkan dan mengevaluasi perkembangan tugas akhir, ini yang bakalan membuat kita kehilangan momentum. Ketika teman pada wisuda, kita tertinggal sendiri, akhirnya malas mengerjakan sendiri, melangkahkan kaki ke kampus pun rasanya berat.

Jadi, banyak samanya kan antara mahasiswa tugas akhir dan seorang marketing, jangan mau kalah sama marketing yah… Kata orang, Tuhan bersama mahasiswa tingkat akhir. Selamat berjuang.

Posted in Fenomena | 2 Comments

Tiga Kesalahan Yang Sering Muncul dalam Penelitian Akuntansi Manajemen

Topik penelitian dibidang akuntansi memang sangat banyak, mulai dari akuntansi keuangan, dan saudara mudanya, akuntansi manajemen, perpajakan hingga auditing dan komputerisasi akuntansi. Satu topik yang cukup mencuri perhatian saya akhir-akhir ini adalah topik bidang akuntansi manajemen.

Dalam tulisan saya kali ini fokus membahas 3 kesalahan yang sering muncul baik itu dibeberapa proposal penelitian yang saya review, jurnal dan penelitian yang saya baca atau bahkan beberapa buku terbitan nasional.

Akuntansi Differensial

Kesalahan yang sering saya dapati yang pertama adalah topik khusus akuntansi differensial. Akuntansi differensial memiliki konsep dasar bahwa akuntansi ini dapat diterapkan jika perusahaan atau objek akuntansi/penelitian memiliki lebih dari satu alternatif pilihan. Artinya jika perusahaan dalam pengambilan keputusannya tidak memiliki lebih dari satu alternatif penelitian, maka tidak dapat diterapkan akuntansi differensial. Beberapa mahasiswa, masih ngotot akan menerapkan akuntansi differensial pada objek penelitiannya sedangkan perusahaan sendiri tidak ada alternatif lain dalam mengambil sebuah keputusan yang dimaksud.

Salah satu contohnya ada seorang mahasiswa meneliti salah satu pabrik kopi terbesar di Pekanbaru. Beliau mencoba memasukkan alternatif untuk menambah pendapatan perusahaan dengan memproduksi sesuatu yang lain dari yang biasa diproduksi. Setelah beberapa kali saya review ternyata seluruh sumberdaya yang dimiliki perusahaan memang tidak menunjukkan adanya alternatif tersebut dapat dilakukan, sehingga hal ini bukan sebuah alternatif. Sebagai reviewer, saya menyarankan untuk menggali lebih dalam informasi mengenai alternatif yang dimaksud. Setelah sekian lama, berbulan-bulan, beliau tidak lagi konsultasi, besar kemungkinan memang tidak ada alternatif lain, artinya akuntansi diferensial tidak dapat diterapkan dalam penelitiannya.

Kesalahan kedua yang sering saya dapati masih terkait dengan akuntansi diferensial. Kali ini terkait dengan timing, dimensi waktunya.

Secara konsep mendasar, akuntansi diferensial diterapkan untuk membantu memberi kepastian secara terukur suatu pilihan alternatif terbaik yang akan dipilih perusahaan. Kenyataannya, banyak penelitian yang meneliti akuntansi diferensial pada saat perusahaan sudah mengambil suatu keputusan dari berbagai alternatif keputusan yang ada. Hal ini berarti, manfaat mendasar akuntansi diferensial sudah tidak berfungsi lagi. Dengan kata lain, timing penelitian sudah tidak tepat lagi.

Activity Based Costing

Penelitian dengan tema Activity Based Costing (ABC) adalah penelitian yang njlimet, detil dan butuh ketelitian yang tinggi. Hal ini karena peneliti dituntut untuk dengan cermat mendata setiap aktifitas dan alokasi biaya yang digunakan untuk membiayai aktifitas tersebut.

Sejatinya konsep ABC muncul seiring dengan semakin tingginya komponen biaya produksi pada bagian Biaya Overhead. Biaya produksi sendiri terdiri dari tiga komponen besar :

  1. Biaya bahan baku
  2. Biaya tenaga kerja langsung
  3. Biaya overhead

Untuk biaya yang kedua dan ketiga, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead, besar nilainya bersifat substitusi. Artinya, jika biaya tenaga kerja tinggi, biaya overhead akan turun, demikian sebaliknya.

Contohnya, misalkan sebuah peternakan sapi, yang memperkerjakan 25 orang karyawan untuk memerah susu sapi yang jumlahnya 100 ekor. Masing-masing memiliki tanggungjawab untuk memerah 4 ekor sapi dalam sehari. Dengan kondisi seperti ini, komponen biaya pemerahan susu sapi lebih akan tinggi pada komponen biaya tenaga kerja langsung, sedangkan biaya overhead akan rendah, mungkin hanya sarung tangan karet dan ember.

Bandingkan dengan peternakan yang menggunakan mesin pemerah susu yang dijalankan secara komputerisasi. 1 orang karyawan dapat menjalankan mesin pemerah yang dapat sekaligus memerah susu dari 25 ekor sehari. Sehingga hanya butuh mempekerjakan 4 orang karyawan. Sehingga biaya tenaga kerja akan turun, sebaliknya, biaya overhead akan naik.

Dapat dipastikan penelitian tentang ABC akan sukses dan tepat diterapkan pada objek penelitian yang memiliki karakteristik biaya overhead yang tinggi, ketimbang biaya tenaga kerja. Kesalahan penerapan penelitian bertema ABC yang sering saya dapati adalah peneliti tetap ngoto menerapkan ABC pada objek penelitiannya meskipun komponen biaya overhead terhitung tidak signifikan.

Semoga kesalahan-kesalahan tersebut menjadi pelajaran buat kita semua. Selamat meneliti….

Posted in Fenomena | Leave a comment

Lima Tempat Untuk Obat

Ada banyak cara yang sering dilakukan orang untuk mengobati rasa rindunya akan kampung halaman, kota kelahirannya, atau tempat dimana dia dibesarkan. Salah satunya adalah dengan mengenang cita rasa kulinernya, alias mengobati rindu melalui lidah yang mengecap. Termasuk mengenang Kota Surabaya dan Jawa Timurannya di Pekanbaru, Riau….

Dengan kultur Melayu yang kental memang susah-susah gampang mencari beragam tempat kuliner yang mampu membawa cita rasa Jawa Timur, khususnya Surabaya, yang terkenal dengan masakan yang pedas bercampur manis dengan bumbu yang tak pernah absen, Petis. Yahh pasta berwarna hitam yang terbuat dari olahan ikan, udang, ataupun kupang itu.

Sebenarnya dengan banyaknya menyebar Warung Pecel Lele di se-antero Indonesia Raya termasuk di Pekanbaru, sebenarnya sudah mewakili lidah jawa timurannya. Namun ternyata tidak semua masakan di Warung Pecel Lele itu pas dengan lidah Jawa Timuran, alias dengan rasa kenangan yang terekam dimemori indra pengecap kita. Setelah sudah belasan tahun di kota bertuah ini, berikut lima tempat yang saya yakini bisa menjadi obat rindu akan Surabaya dan Jawa Timurannya. Lima tempat ini menurut lidah pengecap saya sangat pas dengan cita rasa asli Jawa Timurannya.

Yuk kita simak satu per satu …

  1. Warung LA Boom Sea Food, Jl. Yos Sudarso, Rumbai

Dulunya warung ini berupa warung tenda dan pertama kali terletak di depan kantor/menara TELKOM di Jl. Umbansari. Tepat didepan lapangan olahraga Caltex (sekarang Taman Olah Raga Rumbai). Sebenarnya ada beberapa warung pecel lele di deretan Jl. Umbansari, namun Boom Sea Food-lah yang eksis dan selalu ramai. Karena semakin ramai dan pesat, sehingga parkirpun susah, terlebih parkir mobil. Akhirnya Boom Sea Food yang mengusung gambar Bom di Tendanya itu pindah ke tempat yang lebih representatif di Jl. Yos Sudarso, tidak jauh dari simpang empat lampu merah, kira-kira sekitar 400 meter dari simpang lampu merah ke arah Kota Pekanbaru. Boom Sea Food terletak disebelah kiri, setelah jl. Harapan, sebelum Pom Bensin.

Boom Sea Food terkenal dengan sambalnya yang muanteb, pedasnya menggoda dan cita rasa terasinya pas. Mungkin ini yang membuatnya tetap bertahan dan eksis hingga sekarang. Selain pelayanannya yang ramah yang  Lamongan  Asli  (LA) bisa kita manfaatkan untuk melatih bahasa Jawa Timuran kita yang mungkin jarang kita gunakan, Untuk masalah parkir tidak usah kuatir, motor ataupun mobil aman, tukang parkirnya juga sangat sigap mengatur parkir kita.

2. Warung Suroboyo, Jl. Pembangunan, Sukajadi

Warung ini bener-bener khas Suroboyo, sepertinya pemilik serta seluruh kru memang asli Suroboyo. Terlihat jelas dengan warna warungnya yang ijo royo-royo, seperti terinspirasi ama Bajul Ijo, PERSEBAYA, tim kebanggaan arek-arek Suroboyo. Terletak di Jl, Pembangunan di daerah Sukajadi membuat warung yang menempati deretan Ruko sebelah kiri jalan ini (jika kita masuk dari jl. Nangka/ Tuanku Tambusai) mudah dijangkau. Setiap saya dan keluarga kesini selalu ada dua kenangan, yang pertama kulinernya, yang kedua, palang depan gangnya ada tulisan SMPN 17 Pekanbaru, jadi teringat akan SMPN 17 Surabaya 🙂

Untuk mencapainya, dari Jl. Nangka/Tuanku Tambusai, kita masuk Jl. Pembangunan, Kampung Melayu, Sukajadi (didepannya ada palang penunjuk SMPN 17 Pekanbaru). Kira-kira 125 Meter, disebelah kiri kita akan menjumpai warung ruko berwarna hijau. Warung Suroboyo terletak paling sebelah kanan ruko.

Banyak aneka kuliner spesial Surabaya dengan cita rasa yang pas banget menurut saya bisa kita dapatkan disini. Mulai dari Nasi Rawonnya yang maknyusss.., Sego pecelnya yang seakan membuat kita serasa sarapan di Surabaya, terlebih saat kita menggigit peyeknya yang kiwir-kiwir kesiram sambal pecelnya :).  Dan yang paling khas diwarung ini adalah Rujak Cingurnya yang bisa kita pesan pedes maksimal…, petisnya banjir, bener-bener membuat kita tenggelam dalam cita rasa cingurnya. Selain itu, kita juga bisa melepas kangen dengan soto surabaya, yang biasa kita jumpai di Surabaya dengan gerobak keliling. Cuman untuk soto, menurut saya sedikit lari dari cita rasa Surabaya Aslinya. Untuk lontong kikil, kadang ada kadang tak masak :(.  Cuman sayangnya, untuk tahu campur belum ada disini 🙂

Sembari makan, kita juga bisa terus mengasah bahasa Suroboyoan kita agar tidak punah 🙂

Untuk masalah parkir tidak usah kuatir, meskipun dideretan ruko, selain parkir didepan ruko, ternyata pihak pengelola sudah punya parkir tambahan diseberang ruko, (menyeberangi parit besar).

3. Warung GOPEK.

Dari namanya sangat familiar, yahh…familiar dengan murahnya, maklum saja karena berada dikawasan kampus, tentu marketnya yah mahasiswa, gak boleh mahal-mahal 🙂 . Warung Gopek ini memiliki ke khasan cita rasa sambalnya yang pedas banget. Bahkan kita bisa menyaksikan langsung bagaimana sambal “dadakan”nya dibuat melalui cobek besar dan batu gilingnya yang khas Jawa Timuran itu.

Selain itu, es tehnya dan es jeruknya juga tersedia dengan versi jumbo, alias disajikan dengan gelas yang guede banget. Tentunya masih dengan harga mahasiswa. Karena harga yang sangat bersahabat jangan heran juga kalau ikan, atau ayamnya per porsinya juga tidak terlalu besar. Tapi untuk cita rasa puedes yang nendang banget, gak bakalan kecewa. Untuk porsi kalau kurang yahhh tinggal pesan satu porsi lagi… 🙂

Sebenarnya Warung Gopek ini sekarang sudah ada dua cabang, dan keduanya masih mengusung harga mahasiswa, jadi gak jauh-jauh dari dua kampus besar di Pekanbaru.

Yang pertama di kawasan Universitas Riau, di Jl. Balam Sakti. Dari Jl. HR. Subrantas, tepat disebelah kiri RSJ Tampan kita masuk ke Jl. Balam Sakti, kurang lebih 800 Meter masuk, sebelum simpang tiga Jl. Binakrida, tepat disebelah kanan, Warung Gopek berada. Untuk masalah parkir, tidak usah khawatir, disebelah ruko ada lahan kosong yang untuk saat ini difungsikan untuk parkir pengunjung.

Yang kedua di kawasan Universitas Islam Negeri. di Jl. Garuda Sakti. Dari simpang empat Panam, kita belok kanan ke arah Jl. Garuda Sakti, kira-kira 900 Meter, disebelah kiri jalan kita akan mendapati Musholla Alhamdulillah, nahh Warung Gopek tepat berada disebelah kanan jalannya, dideretan Ruko paling sebelah kiri. Citarasa pas, sama dengan cabang yang di Jl. Balam Sakti, dan untuk parkir juga sangat luas.

4. Pecel Lele Cak Budi

Namanya emang pecel lele namun yang menurut saya membuat obat kangen Surabaya adalah menu Tehu Tek dan Sego Goreng Jowonya. Tahu teknya benar-benar banjir petis, dengan tingkat kepedasan yang bisa kita request maksimal. Kalau menurut saya yang asli orang Surabaya, Cak Budi cukup sukses menyajikan Tahu Teknya, walaupun ada sedikit penyesuaian dengan lidah orang Pekanbaru, yakni telurnya kebanyakan dari pada tahunya 🙂

Untuk Sego Goreng Jowonya bener-bener pas cita rasa gerobak tok-tok yang sering keliling di Kota Surabaya. terlebih campuran kecambahnya yang makin membuat khas.

Untuk mencapai warung Cak Budi, dari simpang empat pasar pagi Arengka, kita memilih menuju ke selatan , arah Jl. Soekarno Hatta (Arengka 1). Kurang lebih 1 KM disebelah kiri kita akan mendapati Plang Nama Pecel Lele Cak Budi. Untuk parkir tidak usah khawatir, sangat luas. Sembari makan kita juga bisa terus melatih Boso Suroboyoane yo rek..

 

5. Warung Nganjuk

Terletak tidak tepat disebelah kiri Plaza Citra Jl. Pepaya membuat warung ini sangat mudah dijangkau. Dari Jl. Nangka/Tuanku Tambusai, kita masuk ke Jl, Pepaya, kira-kira 50 Meter sebelah kiri jalan kita akan menemukan warung Nganjuk yang bernuansa warna hijau. Memang untuk parkir mobil kita perlu sedikit jeli melihat bahun jalan yang kosong, lantaran tidak tersedia banyak lahan parkir untuk kendaraan roda empat. Sedangkan untuk kendaraan roda dua cukup aman untuk area parkirnya.

Yang paling khas dari Warung Nganjuk adalah segala pepesnya, alias Bothok’an. Berbagai macam pepesnya enak semua, mulai dari tahu, tempe, lamtoro gung, ikan asin, tongkol, jeroan, hingga telor asin.Semuanya maknyuss… Meskipun demikian, warung Nganjuk juga menjual berbagai masakan jawa timuran, kothok’an misalnya , bahkan ada juga Nasi Rawon, cuman untuk nasi rawon rasanya masih kalah dengan Warung Suroboyo.

Itulah lima tempat yang mudah-mudahan bisa menjadi obat kangen Surabaya dan Jawa Timurannya…

Selamat mencoba.

Catatan :

  1. Sengaja tidak ada gambar, karena menjaga konsep semua tulisan di blog ini no picture, biar sipembaca lebih bebas berekspresi, membayangkan apa yang dibaca. Selain biar tetap enteng kalau di akses 🙂
  2. Khusus tulisan kuliner tidak menyebutkan harga masing-masing menu, selain saya belum mencoba seluruh menu yang ada di tempat kuliner yang bersangkutan, juga menghindari kekecewaan pembaca jika ada perubahan/kenaikan harga. Namun sepanjang pengalaman saya menikmati kuliner suroboyoan di kelima tempat tersebut, untuk harga, saya menilai sangat wajar.

 

Posted in Kisah | Leave a comment

Muliakan Islam Melalui Parkir Mobil

“Harap bapak/ibu yang memarkir mobilnya pararel di pinggir jalan hingga berlapis tiga agar segera memindahkan ketempat yang lain, hanya parkir pararel satu lapis yang kita izinkan, kalau sudah tiga itu sudah sangat mengganggu pengguna jalan yang lain, dholim namanya ”

Demikian kira-kira suara tegas dan jelas yang keluar dari speaker masjid tempat dilaksanakannya sebuah Tabligh Akbar yang dihadiri oleh ribuan jamaah tersebut.

” Bagi siapa saja yang tidak memindahkan mobilnya, harap setelah acara berakhir, silahkan mengambil mobilnya di Dinas Perhubungan atau Polsek, karena mobilnya akan kami derek”

Lebih tegas lagi, Pak Kapoltabes, yang juga panitia Tabligh Akbar kembali menekankan pengumumannya.

Demikianlah yang sering terjadi memang dilingkungan kita, atau bahkan  kita sendiri juga pelakunya.Sering kita, alih-alih menuntut ilmu, beribadah, namun justru kita lakukan dengan mendholimi saudara kita yang lain. Seperti halnya dengan kisah yang saya paparkan diatas. Alih-alih mengikuti kajian untuk mempersholeh diri, namun dilakukan dengan cara yang tidak patut, mendholimi saudaranya, mengganggu lalu lintas pengguna jalan yang lain, yang mungkin karena macet keperluannya menjadi tertunda, belum lagi jika ada mobil ambulance yang menganggut pasien yang dalam keadaaan kritis ? Benar-benar mengharap besar orang lain memaklumi

Saya jadi teringat sebuah nasihat yang kira-kira berbunyi, untuk membuat orang lain tahu anda islam, tidak perlu anda berteriak, berkoar-koar mengatakan anda islam, namun berbuatlah, berakhlaklah layaknya bagaimana orang islam itu bertindak-tanduk, bukan hanya berkata-kata, dengan demikian, perbuatan kita akan mengantarkan orang akan paham bahwa diri kita islam.

Sebenarnya ada banyak kasus yang sering kita lihat, karena berpikir orang lain akan selalu memakluminya. Diantaranya, suatu ketika ada seorang yang memarkir mobilnya melintang, menghalangi jalan keluar peserta kajian yang lain. Qodarulloh, orang yang mobilnya terhalang itu ada keadaan darurat dan harus meninggalkan kajian, Sang Ustadz yang sedang memberikan ceramah pun terpaksa menghentikan ceramahnya dan ikut menasehati peserta kajian agar tidak berbuat dholim seperti itu.

Banyak lagi mungkin hal-hal dholim, yang tidak kita sadari sering kita lakukan, karena alih-alih “saya kan cari ilmu”, “saya kan beribadah”, “orang lain pasti maklum”. Untuk itu, yuk, mari kita tunjukkan bagaimana akhlak seorang yang memluk islam. Dan memang, terkadang, tidak perlu dengan teriak, berkoar-koar, lantas kita yakin membuat orang paham bahwa kita orang islam. Bisa jadi dengan cara parkir mobil yang baik dan sesuai arahan petugas, menjadikan kita memuliakan islam, orang mengetahui kita islam, orang mau mengenal islam, dan bisa jadi juga, mereka memeluk Islam yang Rahmat Bagi Seluruh Alam ini….

Wallohu a’lam

Posted in Fenomena, Kisah | Leave a comment

Belajar dari pedagang Malioboro : Mau Untung Besar Atau Untung Kecil ?

Bulan lalu kebetulan saya ada tugas pelatihan Penjaminan Mutu di Kota Pelajar, Yogyakarta. Berhubung hotel tempat saya menginap tidak jauh dari kawasan bisnis dan wisata Malioboro, tentu saja ketika pelatihan selesai, saya manfaatkan untuk jalan-jalan diseputaran Malioboro sembari belanja beberapa barang untuk oleh-oleh di Pekanbaru.

Berjalan disepanjang koridor toko yang berjajar di Malioboro tidak pernah membosankan, barang dagangan yang ditawarkanpun terlihat cukup menarik dan menghibur, meskipun tidak membeli, saya dapat merasakan aura ekonomi kreatifnya. Sebut saja pernak-pernik gantungan kunci, kaos dengan beragam gambar menarik, bahkan beberapa kerajinan kayu yang serba unik.

Diantara kerumunan para penjual dan pembeli yang mencoba menawar barang ada satu yang menarik perhatian saya. Sebuah papan dengan tulisan yang kurang lebih isinya agar para pengunjung menanyakan betul informasi harga sebelum membeli. Himbauan tersebut dikeluarkan resmi oleh Dinas Pariwisata Yogyakarta. Tak ada asap jika tak ada api. Tentu himbauan tersebut dibuat bukan karena tak ada maksud. Sudah sering kita ketahui pengalaman teman-teman yang pernah traveling ke Malioboro, kemudian jajan, dan kena charge harga yang selangit tak wajar, aji mumpung istilahnya. Saya sendiri sudah pengalaman dua kali kena hal demikian. Yang pertama saat berkunjung kali pertama di Malioboro dan menikmati seporsi bebek panggang, sekitar 7-8 tahun yang lalu itu dihargai 50 ribu seporsi, hampir 3 kali lipat di Pekanbaru. Kala itu benar-benar pengalaman pertama nyobain sadisnya harga. Kali kedua ini bener-bener iseng. Iseng nyobain, apakah sesudah ada himbauan dari Dinas Pariwisata sikap pedagangnya sudah berubah, ternyata tidak. Didepan Pasar Bringharjo yang masih dikawasan Malioboro, iseng saya makan nasi pecel, lauk tempe dan telor, plus air mineral, di charge 28 ribu. Masih sama, hampir 3 kali lipat di Pekanbaru. Kali kedua itu, saya benar-benar iseng, meskipun pesan dengan menggunakan bahasa jawa halus, saya tidak menanyakan harga, kali aja si ibu penjual agak paham, ternyata tidak, tetap di charge harga sadis. :).

Berbanding terbalik dengan pedagang yang masih dikawasan yang sama namun menjajakan barang atau souvenir. Harganya masih terbilang wajar dan bahkan tak jarang pembeli dapat menawar harga lebih rendah jika membeli dengan jumlah banyak.

Sebenarnya fenomena tersebut tidak hanya terjadi di Malioboro, hal itu secara kita sadari terjadi umum di Indonesia, terutama tempat-tempat wisata, dan daerah yang jarang pengunjung, misalnya jalur lintas, seperti rumah makan disepanjang jalur lintas sumatera yang juga menawarkan harga sadis. Bagi kebanyakan orang hal tersebut sering disebut aji mumpung, karena orang yang belanja jarang mampir, maka sekali mampir langsung di charge sesadis-sadisnya.

Secara ilmu keuangan, hal tersebut, yang dilakukan oleh pedagang makanan di Malioboro, ataupun di tempat wisata lainnya masih terhitung wajar, wajar dari sudut ekonomi dan manajemen keuangan. Secara umum, tujuan pedagang adalah untuk mendapatkan Return, alias Income alias laba alias untung. Gambaran kemampuan menghasilkan untung tersebut biasanya diukur dengan rasio Return On Investment (ROI). Rumus ROI sendiri adalah :

ROI = Income/Investment

ROI menggambarkan berapa keuntungan bersih dibandingkan dengan investasi. Suatu usaha yang memiliki nilai ROI yang semakin tinggi menunjukkan semakin baik usaha tersebut dalam meraih laba. Bahasa anak bangku kuliahnya profitabilitasnya semakin naik. Contoh mudahnya, sebuah usaha mendapatkan laba 100 ribu dari total investasi 1 jt, berarti ROI = 100.000/1.000.000 = 10%, sedangkan usaha yang lain mendapatkan laba 200 ribu dari total investasi 1 jt, berarti ROI = 200.000/1.000.000 = 20%. ROI usaha yang 20% tentu lebih baik dari ROI usaha yang 10%.

PM VS ATO.

Secara keuangan ROI juga dapat dicari dengan rumus sebagai berikut :

ROI = Profit Margin x Asset Turnover

karena : Profit Margin = Income/Sales, dan Asset Turnover = Sales/Total Asset

maka ROI = (Income/Sales) x (Sales/Total Asset)

ROI = Income/Total Asset

karena Investasi utamanya berupa aset, maka Total Asset= Investment

Sehingga Rumus ROI menjadi = Income/Investment. Beberapa pakar menyebut ROI dengan ROA (Return on Asset) sama. Dengan catatan investment = asset.

Berdasarkan rumus tersebut, berarti ada dua cara utama yang umum ditempuh pedagang untuk menaikkan ROI nya. Yang pertama adalah dengan menentukan harga tinggi walaupun akibatnya pembeli sepi, barang dagangan tidak banyak yang terjual. Hal ini disebut strategi menaikkan profit margin. Yang kedua dengan menentukan harga murah, yang penting yang beli banyak, barang dagangan banyak terjual. Hal ini yang disebut strategi menaikkan asset turnover.

Strategi PM atau ATO adalah pilihan. Kita tidak bisa, bahkan sangat sulit memasangkan keduanya, setiap usaha harus memilih salah satu. Tidak mungkin suatu produk/jasa, kita naikkan harga maka pembeli akan semakin ramai. Harga barang naik, untung besar, profit margin naik, barang banyak yang laku, asset turnover naik. Sulit cenderung mustahil, melawan hukum ekonomi, supply-demand-price.

Dengan hitungan tersebut, saya jadi memahami mengapa penjaja baju, souvenir dan cinderamata lainnya di Malioboro menjual murah, dan mengapa penjaja makanannya mihil-mihil banget.

Disisi lain, hal ini juga menunjukkan saya, mengapa hypermart, Giant, Lottemart dan swalayan besar lainnya jauh menjual barang dagangannya lebih murah. Karena mereka tidak bermain diuntung besar, tapi bermain di jumlah pembeli yang banyak. Biar Profit Marginnya kecil, yang penting Asset Turnovernya tinggi. Bandingkan dengan Alfamart, Indomaret, Circle-K, atau bahkan warung dipinggir jalan lintas provinsi. Mereka menerapkan sebaliknya, biar yang beli sedikit, yang penting untung besar. Biar Asset Turnover rendah, yang penting Profit Margin tinggi.

Mungkinkah oleh-oleh kekinian yang sedang marak akhir-akhir ini juga menerapkan startegi PM VS ATO ? Sebut saja Medan Napoleon, Surabaya Snowcake, Malang Strudel, JOgja Scrummy dkk. Yang beli sedikit, yang dijual sedikit, yang penting laba tinggi.

Kalo anda memilih mana, mau untung besar tapi sedikit yang beli, atau mau untung kecil tapi banyak yang beli. Bagaimanapun strateginya, tetap kreatif dan ROI terjaga yah..

Salam pengusaha.. !

Posted in Uncategorized | Leave a comment