Pelajaran Integritas dari Sekotak Donat

“Pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mempekerjakan seseorang dari bani Asad yang namanya Ibnul Lutbiyyah untuk mengurus zakat. Orang itu datang sambil mengatakan, “Ini bagimu, dan ini hadiah bagiku.” Secara spontan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di atas mimbar -sedang Sufyan mengatakan dengan redaksi ‘naik minbar’-, beliau memuja dan memuji Allah kemudian bersabda,

Ada apa dengan seorang pengurus zakat yang kami utus, lalu ia datang dengan mengatakan, “Ini untukmu dan ini hadiah untukku!” Cobalah ia duduk saja di rumah ayahnya atau rumah ibunya, dan cermatilah, apakah ia menerima hadiah ataukah tidak? Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang datang dengan mengambil hadiah seperti pekerja tadi melainkan ia akan datang dengannya pada hari kiamat, lalu dia akan memikul hadiah tadi di lehernya. Jika hadiah yang ia ambil adalah unta, maka akan keluar suara unta. Jika hadiah yang ia ambil adalah sapi betina, maka akan keluar suara sapi. Jika yang dipikulnya adalah kambing, maka akan keluar suara kambing.“

Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya sehingga kami melihat putih kedua ketiaknya seraya mengatakan, “Ketahuilah, bukankah telah kusampaikan?” (beliau mengulang-ulanginya tiga kali). (HR. Bukhari no. 7174 dan Muslim no. 1832)

Baca Selengkapnya : https://rumaysho.com/9729-hukum-hadiah-mahasiswa-untuk-dosennya.html

***

Sore itu, salah seorang staf keuangan di tim saya masuk ke ruangan, sembari membawa kotak kuning, yang isinya sekotak donat dari merk terkenal yang sering kita jumpai di mal-mal. Pak, ini hadiah dari Bank B*@#%. Sebut saja Bank B.

“Kenapa dia ngasih hadiah ini?” tanyaku spontan. Belum sempat staf keuangan saya menjawab saya baru ingat, oh iya , kemarin kami baru saja penempatan dana kampus 2 Miliar ke Bank B. Pantas saja. Dan sekotak donat itu diberikan tentu saja karena jabatan saya, karena jabatan kami di keuangan yang mengotorisasi penempatan dana ke bank mereka.

Sedikit gusar bagi hati saya waktu itu. Perlahan saya sudah mulai merasakan godaannya menjabat Pembantu Direktur Bidang Keuangan, Kepegawaian dan Umum ini. Satu persatu benefit karena jabatan itu datang. Dan itu haram bagi kami yang menjabat. Teringat akan hadist diatas, saya dengan mudah untuk tidak ikut menikmati donat itu, yang walaupun tampak mennggoda, disore hari nan lapar.

Haram bagi kami yang menjabat, halal bagi orang lain yang terlibat. Itulah prinsip integritas hidup saya yang semoga terus istiqomah kami pegang hingga ke anak cucu. Seperti beberapa waktu sebelumnya, marketing Bank M%$#@ mendatangi saya, menawarkan penempatan dana kampus kami ke Bank M. Sambil menawarkan produknya, membawa brosur lengkap, juga membawa pisang goreng kipas yang khas Pekanbaru itu. Untung ada staf lain yang diruangan kala itu, dan ada juga mahasiswa, kami bagilah pisang goreng kipas itu ke mereka. Alhamdulillah, kami bisa tetap independen mencari mitra penempatan dana.

Kembali ke cerita sekotak donat. Rejeki hendak kemana. Banyak sekali sore itu saya menerima tamu, baik dari staf dan beberapa mahasiswa yang mau bimbingan Proyek Akhir. Alhamdulillah, semua ludes oleh orang lain. Sembari saya jelaskan kenapa saya bagi semua, saya tidak memakan satupun, padahal saya sedang tidak berpuasa. Perlahan seluruh staf keuangan dibawah saya sudah mulai saya pahamkan akan bahayanya kita ikut menikmati hadiah. Intinya adalah integritas.

Pelajaran integritas dari sekotak donat. Semoga juga selamat dari cobaan integritas dari kotak-kotak yang lain.

Advertisements
Posted in Kisah | Leave a comment

Seorang Dokter Hewan dengan Lima “Best” nya

Adalah Dr. drh. Chaidir, yang dokter hewan itu, mantan ketua DPRD Provinsi Riau, yang mungkin waktunya lebih banyak beraktifitas di dunia politik ketimbang praktik dokter hewannya itu. Pagi ini dihadapan 256 mahasiswa baru Politeknik Caltex Riau, kampus politeknik swasta terbaik nasional itu, tokoh masyarakat Riau yang merupakan Dewan Pengawas Yayasan PCR itu banyak memberi nasihatnya yang berbobot. Layak menjadi perhatian mahasiswa baru dan semua yang hadir pagi tadi di Sidang Terbuka Senat PCR, dalam rangka pelantikan mahasiswa baru dan ultah kampus itu, yang dihadiri, alhamdulillah 100% manusia semua, 0% hewan, kecuali kuman yang tidak kasat mata. 🙂

Pak Chaidir, yang juga satu almamater beda fakultas dengan saya, Universitas Sumatera Utara, saat menyelesaikan program MM nya itu, memberikan beberapa tips nya. Menarik bagi saya, sembari duduk di meja Senat, jempol saya pun menari diatas HP pintar saya yang buatan Tiongkok itu, berikut setidaknya pesan yang disampaikan Pak Chaidir yang dapat saya tangkap.

Agar dapat bersaing saat nantinya masuk kedunia usaha, mahasiswa harus mampu berbuat tidak hanya good, baik…tapi lebih dari itu, best, yang terbaik.

Best yang pertama, Best Competence, untuk mampu bersaing, mahasiswa harus mampu menyiapkan, memiliki, kompetensi terbaik pada bidangnya masing-masing. Tidak sekedar bisa, tapi bisa melalukan yang terbaik, menjadi ahli di bidangnya.

Best yang kedua, Best Character. Menjadi orang baik itu baik. Namun jika ingin memenangkan persaingan, menjadi orang yang terbaik, berkarakter baik sangat jauh lebih penting. Pak Chaidir menyinggung nilai karakter yang telah dibangun di kampus PCR yang dianggapnya cukup untuk menggambarkan usaha kampus untuk membangun karakter warganya, Kampus Bebas Asap Rokok, Tertib Beralu Lintas, Ramah Lingkungan.

Best yang ketiga, Best Technique. Memiliki kemampuan teknis terbaik sangatlah penting. Sangat lucu rasanya jika ingin bersaing dengan dunia global kalau tidak menguasai bidang ilmunya secara teknis, alias mampu berteori saja. Untungnya hal ini selara dengan pola pendidikan di politeknik, yang 60% lebih muatannya adalah praktikum, sisanya, disisain untuk perkuliahan teori.

Best yang keempat, Best Communication, baik personal ataupun intra personal. Pak Chaidir, yang kalau lihat sekilas memiliki gestur yang sangat mirip dengan Pak Dahlan Iskan, yang kalau berbicara selalu tidak absen joke-jokenya yang segar itu, mengingatkan bahwa banyak terjadi kegaduhan dimasyarakat saat ini semuanya berasal dari kemampuan komunikasi yang buruk, munculnya kerusuhan, korupsi itu juga tidak lepas dari buruknya komunikasi. Seorang alumni yang memiliki kemampuan komunikasi terbaik, akan dapat mengomunikasinya situasi yang dihadapi. Dan ini modal besar untuk bersaing.

Best yang kelima, tentu saja, apresiasi undangan yang datang terhadap isi pidato Pak Chaidir benar-benar menunjukkan kelas beliau sebagai Best Speaker, di event sidang terbuka senat di Best Private Polythechnic itu. Semua serba the Best.

Diakhir pidatonya, beliau membaca satu pantun kuno, yang tak pernah lekang maknanya oleh waktu,

Berguru kepalang ajar, bagai bunga kembang tak jadi: belajar hendaknya bersungguh, jangan hendaknya kepalang tanggung

Yang terakhir itupun nampaknya The Best “Pantun” dipagi itu. 🙂

 

Posted in Kisah | Leave a comment

3 Jurus Yang Tak Mampu Membendung Cobaan Jabatan

Mungkin tidak seheboh peralihan Blok Rokan, ladang eksplorasi minyak di Riau itu, dari Chevron ke Pertamina.

Tidak juga seberisik persaingan dua kubu #gantipresiden dan #tetapjokowi itu.

Namun bagi saya ini cukup membuat dag dig dug ser…karena ini bicara amanah. Amanah di tempat kerja. Menjadi bagian dari pimpinan. Politeknik Caltex Riau, kampus swasta terbaik nasional itu. Dengan 50% program studinya yang sudah terakreditasi A itu.

Pagi benar kemarin lusa, Kang Dr. Dadang Syarif SS, Direktur baru Politeknik Caltex Riau yang baru diangkat itu, menelepon lewat telepon Voip yang nangkring di meja kerja saya. Dari awal cerita sudah terbayang dari balik telepon beliau sudah ketawa ketiwi saja, khas orang Sunda yang hobi “ngabodor”. Ngobrol tentang project perhitungan harga mesin pencacah pelepah kelapa sawit made in workshop kampus itu, yang sedianya akan ikut menjadi salah satu material pameran yang diunggulkan dalam rangka HARTEKNAS 2018, yang kebetulan Riau jadi tuan rumahnya itu.

Sambil terus ketawa ketiwi kamipun bertekad akan memberikan harga pasti dari produk itu, yang baru dilaunching sudah banyak industri perkebunan kelapa sawit yang berminat. Karena kepastian harga belum didapat, tak ayal transaksi masih pending.

Menginjak obrolan lebih serius, begitu kata Kang Dadang yang masih terngiang.

” Saya mau ketemu sebenarnya untuk ngomongin ini, tapi saya butuh waktu cepat, jadi saya minta bantuan bapak untuk membantu saya di kepemimpinan ini, sebagai Pembantu Direktur 2, bidang keuangan, kepegawaian dan umum ”

Sontak, ini yang langsung membuat semua obrolan sebelumnya menjadi garing, terkesan gak penting, termasuk project perhitungan harga mesin pencacah yang sudah banyak ditunggu peminatnya itu. Karena bicara amanah menjadi segala-galanya.

Astaghfirulloh, ini cobaan gumamku.

Saya sejatinya masih merasa belum pantas menempati jabatan itu. Berputarlah otak seketika dengan jurus seadanya, berusaha mengelit dari cobaan yang sangat besar itu. Mengelola keuangan kampus swasta terbaik nasional, dengan sekelompok dosen dan pegawainya yang cerdas-cerdas, dengan ribuan mahasiswanya yang kritis?

Berat, memang berat…

Tanpa menunggu serangan berikutnya, keluarlah 3 jurus untuk menghalau cobaan jabatan itu, 3 jurus, 3 alasan :

Yang pertama, ” Maaf pak, saya pikir masih banyak staf yang lain yang lebih kompeten dan berkemampuan daripada saya yang masih perlu banyak belajar”

Yang kedua, ” Maaf pak, saya masih perlu banyak belajar berfikir lebih dewasa dalam menerima setiap tugas”

Yang ketiga ” Maaf pak, saya masih merasa terlalu muda untuk jabatan seperti ini”. Sambil melirik rekan lain seruangan yang kenyataannya tidak ada yang lebih tua dari saya, saya yang paling tua hehehhehe.

Saya dulu berfikir juga begitu, dan itu juga alasan yang hampir sama saya ungkapkan pada yayasan dulu, tangkis Kang Dadang. Sembari bercerita beliau akhirnya juga bisa menjalankan amanah itu. Saya cuman bisa manggut. Maklum, Kang Dadang sempat menjadi direktur sebelumnya selama 2 tahun, sebelum ditugaskan S3.

Gitu ya pak Heri, bisa bantu di bidang 2 yah… Menutup obrolan dari voip warna abu-abu gelap buatan Tiongkok itu.

Saya sempat meminta tolong dipertimbangkan staf yang lain.

Akhirnya takdir itupun datang. Esok paginya, setelah rapat koordinasi. SK pengangkatan pejabat kampuspun berseliweran dijaringan email seluruh staf. SAH. Saya pun menerima cobaan jabatan itu dengan ikhlas.

Setelah tiga jurus juga tak mampu membendung cobaan Jabatan Pembantu Direktur bidang 2 itu. Qodarulloh.

Tidak ada lagi jurus yang perlu disiapkan untuk mengelak jabatan itu. Yang hanya bisa dilakukan adalah hanya berdoa, mohon dukungan seluruh pihak, terutama keluarga yang waktu kebersamaanya pasti ada yang berkurang, belajar menerima, melaksanakan tugas dengan penuh amanah dan terus belajar untuk memantaskan diri menjadi salah satu pimpinan kampus terbaik swasta nasional itu.

Mohon doa dan dukungannya. Semoga senantiasa amanah.

Posted in Kisah | Leave a comment

Sengeti Yang Makin Meninggi, Belilas Yang Naik Daya Belinya

Waktu menunjukkan jam 5:45, matahari nampak mulai menggeliat, hendak terbit. Mobil kamipun melaju meninggalkan Jambi menuju Pekanbaru. Usai sudah liburan lebaran kami 4 hari 3 malam di provinsi tetangga itu. Jalanan masih seperti ketika kami berangkat 4 hari sebelumnya, sepi, hanya berpapasan dengan beberapa truk sawit bersubu dua dan beberapa pemudik yang sepertinya juga sudah memasuki arus balik lebaran.

Tidak membutuhkan waktu beberapa lama kami akhirnya tiba di Sengeti, sebuah kota kecil bertetanggaan dengan Kota Jambi. Jauh berbeda, dari awal saya merantau ke Sumatera 18 tahun yang lalu, Pertumbuhan kota Sengeti ini benar-benar pesat. Banyak ruko yang sudah meninggi, dengan beberapa fasilitas kota yang lengkap, bank, dan beberapa pertokoan, tidak absen, jaringan toko kelontong nasional itu, warna strip biru, merah, kuning. Kemaren sesaat memasuki Kota Jambi, kami sempat mampir ke Sengeti, sekedar membeli minuman dan makanan di swalayan.

Perjalanan kami lanjutkan, setelah menempuh kurang lebih 4 jam perjalanan kami memasuki Provinsi Riau. Kali ini kami janjian ketemuan dengan Bang Agus, teman satu rekrutmen saya di tempat kerja. Kami sama-sama satu proses rekrutmen dulu di Pusat Jasa Ketenagakerjaan (PJK) Kampus USU, Medan. Belilas, itulah nama desanya. 13 tahun lalu saya masih merasakan hawa desanya. Listrik PLN belum masuk, walhasil jika sore menjelang magrib, lomba deru suara genset dari masing-masing rumah pun dimulai. Masuk kedalam desa, siap-siap saja terputus hubungan dengan dunia luar. Tidak ada sinyal HP. Walaupun ada beberapa warga yang kreatif membuat menara/antena tambahan sendiri, demi dilayar HP tetap muncul barisan sinyal.

Kini jauh berbeda. Belilas sudah berubah. Orang mendengar nama Belilas, sudah pasti yakin, kotanya kaya, mambu membeli apa saja, lah wong Beli Las aja sanggup :). hahaha.

Anekdot itu menjadi sebuah doa. Dandanan Kota Belilas benar-benar berubah drastis. Deretan Ruko berjejer megah, tentu saja jaringa toko swalayan nasional itu juga gak absen. Listrik PLN sudah masuk sampai ke pelosok desa, termasuk rumah Bang Agus. Sinyal HP ? gak usah kuatir ketinggalan update berita di grup WA, update instastorymu di Instagram, atau sekedar pamer foto yang gak perlu dipamerkan itu di FBmu. Sinyal masuk sampai ke pelosok Desa. Yang lebih mengejutkan, Showroom mobil dengan merk-merk terkenal pun berderet rapi. Tak jarang showroom mobil bekas juga tak mau ketinggalan. Dua Pom Bensin berukuran besarpun hadir. Daya beli masyarakatnya benar-benar meningkat. Maklum, mayoritas adalah pengusaha sawit, yang konon, dekade ini adalah dekade masa menikmati hasil kerja kerasnya selama ini. Benar-benar maju, mengalahkan Pematang Reba, yang dulu menjadi pusat jalur lintas timur dikawasan ini.

Setelah istirahat sejenak sambil menikmati secangkir kopi, sekedar silaturahmi dan menghilangkan kantuk, perjalanan kamipun kami lanjutkan tepat jam 13:30. Lalu lintas kendaraan masih cukup lengang, hanya sesekali dibeberapa ruas jalan yang terdapat tempat wisata dipinggirnya yang macet. Alhamdulillah sore hari menjelang magrib kami sudah tiba di Pekanbaru. Benar-benar perjalanan yang mengurai hikmah dan pengalaman.

Posted in Kisah | Leave a comment

Liburan Lebaran 1439 H, Menjajal Jalur Lintas Timur Sumatera

Sudah pernah, bahkan sering. Bukan jalan yang baru, jalan yang sering saya lewati. Namun selama ini terlena, jika boleh menyebutnya seperti itu. Terlena karena disupirin, baik itu supir bus atau supir mobil travel. Ya itu, jalur lintas timur sumatera, Pekanbaru – Jambi. Yang naik turun itu. Yang berkelok-kelok itu. Yang separuhnya beraspal, dan separohnya ber cor semen. Kali ini sedikit berbeda, saya merasakan sendiri menyupiri kendaraan sendiri, bergantian dengan istri saya terkasih.

Lebaran kali ini kami memutuskan untuk tidak “balek kampong”, baik ke Jawa Barat ataupun ke Jawa Timur. Mengingat bulan agustus kedepan kami akan ke Bandung sekeluarga karena ponakan akan menikah. Kami akhirnya memutuskan berliburan lebaran kali ini ke Jambi, ada abang istri disana. Dulunya, jalur Pekanbaru-Jambi masih dalam perbaikan, waktu tempuh untuk jarak 460 Km pun menjadi lama, belum lagi adanya pungli dari beberapa oknum pemuda yang berdalih pura-pura ikut menimbun jalan yang memang sedang dalam proses pengerjaan itu.

Kali ini berbeda. Kondisi jalan yang mulus, -info dari beberapa rekan pemudik-, membuat perjalanan Pekanbaru-Jambi menjadi lancar, membuat kami pun ingin menjajal jalur tersebut.

Rute yang cukup panjang, membuat kami harus merencanakan dengan baik setiap etapenya. Sesuai rencana kami berangkat dari rumah, di daerah Rumbai-Pekanbaru sekitar jam 03:30 dini hari. Tentu saja malamnya, yang kebetulan malam takbiran kamipun dengan sangat detail mempersiapkan, terutama bekal anak-anak yang berempat itu. Untung saja kami ditemani keponakan kami Rahma, yang sangat membantu.

Jarak dari Pekanbaru ke Jambi yang 460 Km itu kami bagi menjadi 4 etape. Etape Pertama, Pekanbaru – Pangkalan Kerinci, 75 Km. Cukup untuk istirahat sekaligus sholat shubuh di kota yang terkenal dengan industri kertasnya itu. Etape kedua, Pangkalan Kerinci – Belilas, Rengat, 136 Km. Untuk etape yang kedua ini kami berencana untuk sholat idul fitri di pertengahan perjalanan. Etape ketiga, etape melintasi batas kedua provinsi, Riau dan Jambi, Belilas – Merlung, Tanjung Jabung Barat, 142 Km. Dan etape terakhir, Merlung, Tanjung Jabung Barat-Kota Jambi, 107 Km.

Pagi benar dengan berbagai drama membangunkan anak-anak, akhirnya kami tepat berangkat dari rumah jam 03:30. Jalanan sangat sepi, sehingga kami cukup lancar mengendarai. Hanya sesekali berpapasan dan berbarengan dengan mobil pick up pengangkut sayuran yang memang memliki ritual dini hari untuk mengangkut hasil taninya langsung ke pasar.

Sholat Subuh di kota penghasil kertas

Pangkalan Kerinci, Pelalawan. Kota industri yang menjadi salah satu andalan Provinsi Riau dengan industri kertasnya itu menjadi pitstop kami yang pertama. Perjalanan dini hari menjelang subuh jam 03:30 itu menjadi menyenangkan. Jalanan sepi. Pemudik hampir rata-rata sudah tiba dikampung halaman mereka masing-masing, bertemu dengan sanak saudara, nyaris hanya kami yang menyusuri jalanan lintas timur pagi dini hari itu.

Menjelang waktu sholat subuh, kami pun sudah tiba di pusat Kota Pangkalan Kerinci, sembari terus melaju, kami mencari tempat pemberhentian untuk sholat subuh. Lewat sudah batas kota, mata kami tertuju pada Pom Bensin disini kanan, bertuliskan SPBU PT. KSO, kontan kendaraan kami arahkan memasuki areal SPBU, berharap musholanya bisa menjadi tempat sholat kami dan istirahat secukupnya untuk perjalanan selanjutnya.

Syukur alhamdulillah, SPBU itu ternyata luas banget, ada beberapa mobil pemudik lain yang juga istirahat dan nampaknya masih belum menyadari bahwa waktu shubuh telah masuk. Sembari memarkir kendaraan, ada beberapa yang menanyakan, apakah waktu subuh sudah masuk. Sudah jawab saya. Sepertinya dari posisi kendaraan, mereka adalah pemudik dari arah selatan yang hendak ke utara, arah Kota Pekanbaru, berbeda arah dengan kami.

Musholanya bersih, nampak sedang direnovasi, hanya menyisakan halaman mushola yang nampak belum selesai pembangunannya. Tumpukan tanah timbun masih nampak berserakan, namun rapi, terususun diarea yang calon halaman mushola itu. Kamar mandinya juga luas dan bersih. Selang beberapa waktu kemudian, setelah sholat subuh, perjalanan pun kami lanjutkan. Selesai etape pertama.

Me-Lirik kiri, akhirnya sholat iedul fitri di Lirik

Waktu sudah menunjukkan pukul 7:05 pagi. Kendaraan kami masih melaju menyusuri jalan lintas timur pulau sumatera itu. Sembari terus melaju, kami terus berusaha mencari tempat yang tepat untuk sholat ied. Perkiraan kami, lapangan luas, ataupun masjid. Ciri-ciri yang kami tandai, ada banyak calon jamaah yang bergerombol.

Sampai disatu kota yang merupakan salah satu situs Pertamina di Riau, mata kami tertuju, melirik, disebelah kiri jalan ada masjid. Tidak besar, namun ramai jamaah diparkirannya, khawatir semakin diteruskan perjalanan, tidak ada lapangan atau masjid untuk sholat ied, sedangkan sholat ied di Riau dimulai pukul 07:30 pagi. Kami memutuskan untuk berhenti di masjid tersebut. Persiapan sholat iedul fitri. Akhirnya sholat iedul fitri kami di 1439 H ini di Lirik.

Adzan sebelum sholat ied, itu Budaya disini

Berjalanlah, maka engkau akan mendapatkan ilmu baru. Rasanya kalimat ini benar-benar mengena. Masjid tempat kami “mampir” sholat ied, mempunyai sedikit keunikan. Keunikan ini yang menguji kemampuan saya untuk mengolah jawaban.

Seperti pada pelaksanaan sholat ied pada umumnya, panitia, biasanya diwakili oleh ketua pengurus masjid menyampaikan beberapa pengumuman, termasuk pengumuman keuangan masjid selama ramadhan. Sampai disitu belum terlihat keunikan, atau perbedaan dengan pelaksanaan sholat ied pada umumnya.

Segera setelah ketua pengurus menyampaikan pengumumannya, salah satu petugas mengumandangkan adzan, kontan Mas Farish, Aa Nadif dan Si Abang Fathan celingak-celinguk nampak kebingungan, ritual apa ini ? Saya juga bingung.

Kontan saja anak-anak bertanya, ” Ayah..kok pakai adzan sebelum sholat ied ?” Setelah celingak-celinguk kanan kiri, melihat reaksi jamaah lain yang berada disamping saya, dengan pelan dan hati-hati saya jawab, ” Udah gapapa, ini budaya disini”

Syukur anak-anak tidak melanjutkan lagi pertanyaannya.

Sekitar 1 jam juga kami sholat ied di Masjid itu sekaligus istirahat. Setelah menyempatkan sarapan di halaman masjid dengan rendang dan opor bekal kami dari Pekanbaru, perjalanan pun kami lanjutkan. Hendak menyelesaikan etape berikutnya.

Test Drive jalur lintas, separuh aspal separuh cor semen

Mendekati tengah hari, perjalanan kami sudah melewati 1 Kota , 2 Kabupaten. Kota Pekanbaru, Kabupaten Pelalawan, dan Kabupaten Indragiri Hulu. Kabupaten Indragiri Hululah yang berbatasan langsung dengan provinsi Jambi. Melewati pinggiran Taman Nasional Bukit Tigapuluh, kemudipun beralih ke ibunya anak-anak. Sembari test drive jalur lintas, juga sekedar memberi saya kesempatan istirahat.

Dulunya jalur ini termasuk jalan lintas yang rusak parah, sampai akhirnya direnovasi dengan dengan pengecoran dibeberapa titik. Hasilnya, jalur tampak warna warni, terkadang aspal, terkadang jalanan keras khas beton, cor semen. Nampak jelas suara ban ketika menapaki dua jenis jalan ini yang berbeda, terdengar halus di aspal, dan kasar di semen. Namun saya mendapati ibunya anak-anak nampak menikmati testdrivenya. Masih dengan arus lalu lintas yang terhitung sepi.

Yang perlu diwaspadai adalah jalanan saat memasuki Provinsi Jambi. Masih jalanan pinggiran Taman Nasional Bukit Tigapuluh. Taman Nasional itu sendiri membentang dari utara ke selatan menempati wilayah dua provinsi, sebagian wilayah Provinsi Riau dibagian utaranya, dan bagian selatannya masuk dalam wilayah Provinsi Jambi. Jalanan memasuki Provinsi Jambi berkelok-kelok. Beberapa kali saya terus mengawal dan memperingati ibunya anak-anak agar tetap di lajur kiri saat ditanjakan dan ditikungan, juga terus mengurangi kecepatan jika menikung. Perlahan dengan laju yang cukup, akhirnya target test drive 50 Km pun terpenuhi. Selanjutnya kemudipun beralih kembali ke saya.

Sampai di Merlung, kota kecil di Provinsi Jambi ini, kami singgah di sebuah masjid yang nampak unik, dengan menara berbentuk permen-permen yang manis. Benar adanya, masjid ini baru, dan luas. Kami akhirya istirahat sholat dhuhur dan ashar disitu, sembari istirahat.

Sengeti yang semakin meninggi, Cat merah spesial untuk sepeda motor.

Sudah masuk etape terakhir. Sudah dekat dengan Kota Jambi, tujuan kami. Menjelang ashar, kami sudah tiba di Sengeti. Sebuah kota kecil di Jambi yang semakin maju, semakin ramai, juga semakin meninggi. Banyak ruko di kanan kiri jalan utamanya. Meninggi juga arus volumen kendaraan yang lalu lalang. Menurut saya, inilah kota yang teramai kami jumpai setelah memasuki provinsi Jambi sebelum masuk Kota Jambi.

Ramainya arus kendaraan, kendaraan kamipun sedikit perlahan menyusuri jalanan Kota Sengeti, sampai akhirnya kami meninggalkannya. Lanjut perjalanan menuju Kota Jambi.

Sekira pukul 17:00 sore, kamipun sudah melintas Jembatan Aur Duri, tandanya kami sudah memasuki Kota Jambi. Sembari sesekali menyiapkan GPS, kamipun menuju Kelurahan Pasir Putih, tempat abangnya ibunya anak-anak bermukim, tempat wak nya anak-anak.

Ada yang baru dijalanan Kota Jambi, yang belum pernah kami dapati di Pekanbaru. Sepeda motor mendapat tempat spesial di persimpangan Lampu Merah di kota ini. Di beberapa pemberhentian lampu merah, ada area jalan yang dicat warna merah, dengan logo sepeda motor warna putih. Bagi pengendara roda empat, harus waspada dengan area ini. Ketika lampu merah menyala, pengendara roda empat diwajibkan berhenti tepat dibelakang area ber cat merah itu, jika menapakinya, sudah dipastikan kena tilang. Hanya pengendara roda dua yang diperbolehkan berhenti menunggu lampu hijau menyala diarea itu. Benar-benar istimewa untuk pengendara sepeda motor. Kabarnya baru setahunan ini aturan itu berlaku di Kota Jambi. Memang tidak semua lampu merah ada tanda itu, namun ada baiknya kita tetap waspada.

Alhamdulillah, menjelang, magrib kami pun tiba di rumah waknya anak-anak. Terhitung perjalanan diluar waktu istirahat sekitar 10 jam. Syukurnya anak-anak menikmati, tidak ada rasa lelah menghinggapi. Arus pulang balik ke Pekanbaru, akan saya ceritakan kemudian…

Posted in Kisah | Leave a comment

Ide Kreatifitas Mahasiswa : Dari perilaku ibu-ibu hingga ujian itu bukan ulangan.

Hari senin kemarin saya dan sembilan rekan yang lain mendapat kesempatan mengikuti pelatihan pembimbingan program kreatifitas mahasiswa. Kegiatan pelatihan yang diisi oleh pembicara Prof. Sundani Nurono Soewandhi dari Sekolah Farmasi ITB itu dilaksakan dikampus tetangga kota kami, STIKES Hang Tuah Pekanbaru.

Sudah bisa ditebak, karena panitianya kampus dibidang kesehatan, tamu undangan yang lain lebih banyak dari kampus di bidang kesehatan, termasuk pak Profesor sendiri yang ahli farmasi. Mungkin lantaran kampus kami politeknik yang penyebutannya mirip poliklinik juga akhirnya “terundang” :).

Syukurnya, kamipun mendapatkan banyak pencerahan berita terupdate dari program kreatifitas mahasiswa, PKM, yang didanai DIKTI itu.

Dengan pembawaan yang segar, dan penampilan yang enerjik dan tampak senantiasa lebih muda, Prof Sundani membawa materi yang cukup dinikmati semua peserta yang ada.

Diawal sesi, Prof Sundani yang konon kelahiran 1953 itu memberikan pencerahan terkait asal muasal ide kegiatan PKM itu ada di DIKTI. Salah satunya adalah DIKTI ingin mencipatakan manusia lulusan perguruan tinggi yang tidak bermental pengemis. Yang jagonya membuat proposal untuk mengemis, dengan wajah melas. Prof pun menyindir perilaku pejabat dan pengelola negeri ini yang masih memiliki mental seperti itu. Tidak..tidak mau, sang Prof berujar, tidak mau hal itu akan menjadi pelajaran turun temurun ke anak didik. Dengan mengikuti PKM, mahasiswa akan terlatih menulis proposal programnya dengan baik, jelas, dan elegan, tidak memelas. Dengan sendirinya akan melatih mental mahasiswa yang lebih kuat, bukan mental pengemis tadi. Ditambahkan olehnya, dengan pengamatan, akan didapat perbedaan kematangan berpikir antara mahasiswa alumni program PKM dan mahasiswa yang tidak pernah mencoba mengikuti PKM pun. Namun sayang, data feedback dari kampus mengenai anak didiknya yang alumni PKM itu tidak ada, terutama terkait bagaimana survival mereka didunia kerja.

Disela-sela waktu istirahat sholat dhuhur dan makan siang, kebetulan saya berpapasan dengan Pak Prof dilorong tempat sholat yang disediakan panitia. Tidak menyia-nyiakan kesempatan langsung saja saya berkenalan. Menarik, ternyata mendengar nama saya dari politeknik, beliau pun langsung nyambung. Pak Prof berujar bahwa dia dulu juga ikut membidani lahirnya politeknik-politeknik di Indonesia,.. luar biasa, ketemu founding father gumamku.

Cerita dilorong pun berlanjut, Pak Prof banyak berharap dari politeknik dapat lebih banyak berkolaborasi dengan kampus-kampus dibidang kesehatan, karena ide dari bidang kesehatan dengan segala permasalahannya banyak solusinya ada di politeknik, dan itu bisa diangkat menjadi ide PKM, ujarnya semangat.

Tanpa berpikir panjang, langsung saja obrolan saya ikat, ” wahh menarik prof..” ujarku. Alih-alih sambil masuk ruangan pelatihan kembali, Prof pun kami perkenalkan dengan teman-teman delegasi kami dari politeknik. Obrolan pun berlanjut seru..yah.. dengan tetap sambil berdiri memutari meja bundar kami..stand-up discussion..mungkin itulah namanya kalau tidak pantas disebut stand-up meeting 🙂

Banyak yang kami diskusikan, itu berarti banyak juga ilmu yang kami dapat langsung dari beliau, lebih dari kesempatan sesi tanya jawab dipelatihan itu. Dengan semangat yang masih membara, enerjik, dengan wajah yang masih terlihat lebih muda dari usianya, pak Prof antusias menjelaskan setiap pertanyaannya kami. Beberapa hal berikut ini yang berhasil saya rangkum.

PKM Politeknik itu dekat dengan bidang kesehatan.

Mendengar pernyataan ini, kami pun memperkenalkan dua rekan kami yang memiliki interest pada bidang bio medik, ada Bu Made dan Bu Yuli. Pak prof mencontohkan yang pernah dilakukan mahasiswa PENS. Ketika salah satu temannya sakit dan dirawat di salah satu rumah sakit di Surabaya mereka menjenguk. Nahh saat menjenguk itu mereka mendapatkan ide PKM terkait sensor pengaturan udara dalam selang infus. Menarik… Bakal banyak nyawa dapat terselamatkan dari kelebihan kandungan udara dalam pembuluh darah.

Politeknik lebih menarik fokus PKM nya maintenance dan repair, daripada membuat alat baru.

Kali ini pak Prof yang juga reviewer nasional PKM itu  mengungkapkan pendapatnya berdasarkan pengalaman dilapangan, bahwa sering didapati alat-alat yang telah diciptakan dunia industri besar itu sudah canggih, namun jika ada permasalahan, langsung mangkrak. Jadi ide PKM tentang maintenance, repair dan optimasi lebih menarik untuk disetujui menurut pak Prof.

Dosen dan Mahasiswa harus terjun langsung menjumpai masyarakat, yang calon mitra PKM itu.

Pak prof menjelaskan, ide PKM itu tidak ada diruang kuliah, ruangan dosen yang sejuk dan nyaman dengan ac-nya itu, bukan juga dari buku. Namun ide itu ada dimasyarakat, dipelaku usaha, ataupun dikelompok sosial kemasyarakatan. Jadi dosen dan mahasiswa diharapkan langsung terjun kemasyarakat, lihat langsung permasalahan mereka.

Trik mendekati masyarakat.

Masyarakat adalah orang-orang yang lebih hebat dari dosen dan mahasiswa dalam urusannya. Jangan pernah datang dan langsung menggurui dengan segudang teori yang kita dapat dari dunia pendidikan. Karena yang akan didapat bukannya malah kesediaan bekerjasama dalam PKM, namun penolakan.

Disini pak Prof membagikan triknya.

Yang pertama, tetap hargai, bahwa mereka sudah bertahun-tahun berkecimpung didunia usaha mereka, bahkan ada yang sudah puluhan tahun.

Yang kedua, jangan pernah bermain langsung, menembak langsung, yuk jadi mitra PKM kami, ini salah, itu salah, harusnya begini, begitu bla..bla.,,bla. Gunakan teknik pendekatan sosial, misalnya calon mitra kita adalah pengusaha martabak, untuk awal perjumpaan, belilah produknya. Beberapa hari kemudian, belilah lagi. Sampai calon mitra tersebut kenal dengan kita. Selanjutnya belilah lagi, nahh disaat inilah kita bisa ngobrol santai, dan mengorek keterangan dan permasalahan yang ada, sehingga muncul ide. Selanjutnya penawaran menjadi mitra PKM akan sangat jarang tertolak.

Yang ketiga, cari orang yang dikenal baik oleh si calon mitra untuk melakukan pendekatan, agar kita mendapat kesan sebagai orang baik, tidak berniat aneh-aneh ketika datang, apalagi dituduh minta sumbangan atau pajak preman. Seloroh Pak Prof, apalagi dosen itu wajahnya melas, pasti yang ada dalam pikiran masyarakat, wahhh mau minta sumbangan apa nih orang :). Menurut prof, teorinya, setiap kawan baik pasti akan mengenalkan seseorang dengan orang yang baik.

Mendengar penjelasan inipun, kami manggut-manggut dan semangat untuk langsung mempraktikkannya. Yahh mempraktikkannya langsung, jatuhlah pilihan, kabarnya mau langsung datang ke sentra empek-empek dan tekwan yang ada dijalan SM. Raja itu. Namun apa daya, diperjalanan sudahlah macet, dan terlalu sore, hampir magrib, kamipun membatalkan praktik saran dari prof Sundani yang satu itu. Mungkin lain kali yah…

Perhatikan nalar masyarakat calon mitra.

Pak prof mengingatkan, bahwa masyarakat itu terdiri dari berbagai strata pendidikan. Menurut pak prof, strata pendidikan itu linier dengan nalarnya. Jadi kita perlu berhati-hati ketika menjelaskan program dan rencana PKM kita pada calon mitra. Agar terjadilah, ibaratnya, tutup ketemu botol, maka perhatikan nalar calon mitra, gunakan pendekatan sesuai dengan nalar yang dapat dijangkaunya.

Skema PKM jangan salah kamar.

Ini penting. Karena banyak proposal PKM yang langsung direject reviewer. Hanya cukup melihat judul dan skemanya yang tidak cocok, review tidak akan dilanjutkan, dan proposal otomatis ditolak. Dalam PKM yang dibiayai DIKTI memang banyak skemanya. Kita harus hati-hati. Pak Prof mencontohkan, ada sebuah proposal yang katanya PKM-KC, yang outputnya harusnya buat alat untuk dijual ke industri, setelah dicek ternyata dari judul dan isinya hanya membuat alat untuk mengatasi masalah pada perusahaan X. Tidak layak dipasarkan. Ini harusnya PKM-T. Jadi jangan salah kamar lagi.

Perilaku ibu-ibu/mamak-mamak, bisa jadi bahan ide PKM.

Sudah tidak asing lagi bagi kita, perilaku mamak-mamak yang lucu, simple, pingin praktis yang membuat geli kita. Tak jarang masuk dalam ide para pembuat meme kocak. Jangan mau kalah, ternyata perilaku mamak-mamak juga bisa jadi bahan ide PKM lho..

Pak prof mencontohkan ada proposal yang bercerita akan menciptakan alat pengiris tempe dengan sensor tertentu sehingga ketebalan, lebih cocok ketipisan, tempe menjadi standar. Sehingga sangat cocok untuk industri keripik tempe yang menuntut ketebalannya super tipis itu, biar kriuks.. Ini berasal dari ide mamaknya yang sedang beraksi memotong tempe didapur.

Kontan saja, Pak Tata, Abu Aqeel, rekan saya yang enginer itu, yang pernah training di Kanada beberapa bulan itupun berseloroh, wahh perilaku mamak-mamak yang ngidupin lampu sen kiri tapi belok kanan itu bisa juga jadi bahan ide PKM 🙂

Dengan PKM lebih bermakna nilai seorang dosen

Prof sundani berujar, anda-anda yakin jika mahasiswa anda pernah mendoakan anda semua? yang ada mungkin ngutuk-ngutuk, soal ujiannya sulit banget. Coba jika salah satu tri dharma, yakni PKM itu kita tingkatkan, nilai anda sebagai seorang dosen akan lebih bermakna. Mahasiswa juga akan lebih memiliki nilai dimasyarakat sebagai kaum intelektual. Bonusnya, anda semua akan banyak didoakan oleh masyarakat. Sambungnya.

Memang benar ada tiga dharma dalam profesi dosen, pendidikan, penelitian dan pengabdian. Namun Prof Sundani menyatakan, bahwa dari pengalaman beliau, beliau lebih enjoy menguatkan sisi PKM nya, ketimbang yang lain. Pantas tampak awet muda dan enerjik,…gumam saya.

Diakhir-akhir stand-up discussion, mungkin itu istilahnya bagi saya, Pak Prof juga mengungkapkan fenomena kemunduran daya juang mahasiswa. Menurut beliau ini disebabkan karena negara kita berutang ke dunia luar, dan dunia luar tuntutannya tinggi dalam dunia perguruan tinggi. Ketepatan waktu lulus, IPK lulusan dan lainnya yang membuat dosen saat ini lebih dituntut menjadi “orang baik” yang gampang kasih nilai tinggi, ketimbang “pendidik yang baik” yang benar-benar memberikan nilai sesuai dengan hasil terbaik mahasiswa. Hasilnya, nilai IPK yang tinggi dan ketepatan lulusan yang meningkat, bisa disebut sebagai buah hasil dari daya paksa sistem institusi.

Beliau mencontohkan di ITB, saat ini Pak Prof heran, betapa banyak dan mudahnya IPK mahasiswa 3, .. keatas. Sedangkan dulu, 2,7 keatas saja sudah bangga, dan benar-benar hebat. Ini semua karena paksaaan institusi yang didorong oleh utang luar negeri. Kita dipaksa membuat Ulangan saat UTS dan UAS, yang seharusnya Ujian. Kalau ulangan, itu yang kita ajarkan kita tanya ulang di ujian. Kalau ujian ya harus penalaran dan pengembangan dari yang kita ajarkan dong, demikian Pak Prof masih antusias menjelaskan. Hasilnya, IPK 3,… keatas tidak menjamin alumni itu mampu menghadapi dunia pekerjaan yang sesungguhnya,…

Sambil manggut-manggut, kami semua coba meresapi dan membandingkan apa yang diungkapkan pak Prof dengan apa yang kami alami diinstitusi kami, yang kami ini termasuk dosen-dosen yang dapat rapor merah dari Kaprodi kami masing-masing lantaran memberikan nilai D/E mahasiswa dengan jumlah yang dianggap melampaui “plafon” yang telah ditetapkan kampus… 🙂

Wallohu a’lam

Posted in Kisah | Leave a comment

Ketika Akuntansi Hanya Dinilai dengan Sebuah Pensil dan Penghapus

Entah mengapa saya pingin sekali menceritakan kisah ini. Yang jelas ketika membaca artikel hasil penelitian PWC, salah satu KAP big four dunia itu, tentang Industry 4.0. Sontak, saya jadi teringat dengan suatu kisah yang menurut saya cukup getir dan kecut, mengenai SDM kita, ya.. Bangsa Indonesia ini yang kita banggakan, ternyata masih jauh dari harapan. Bukan ilmunya, tapi mentalnya…

Bagi saya sendiri, ada baiknya saya sarankan teman-teman pembaca juga membaca hasil riset PWC tersebut, dijamin bagus, diakui sebagai riset tentang Industry 4.0 terlengkap saat ini. Gimana tidak, melibatkan lebih dari 2.000 responden, di 26 negara seluruh dunia dengan background berbagai sektor bisnis. Dijamin gak kecewa…

Balik lagi pada kisah yang mau saya ceritakan. Kisah ini terjadi ketika saya masih menjabat Ketua Program Studi Akuntansi di kampusku. Dalam suatu rapat akademik, yang dihadiri seluruh ketua jurusan dan ketua program studi, pimpinan unit, para pembantu direktur dan direktur  itu sendiri sebagai pimpinan tertinggi dalam rapat.

Disuatu sesi rapat, masuklah pembahasan kami pada suatu agenda rapat, cek kesiapan seluruh laboratorium, sebelum memasuki semester baru. Karena laboratorium pengelolaannya dibawah Jurusan/Program Studi, maka yang melaporkan adalah ketua jurusan/ketua program studi, termasuk saya. Satu persatu seluruh ketua jurusan memberikan laporannya terkait persiapan laboratorium. Nampak mimik para pimpinan rapat sangat serius menyimak setiap laporan ketua jurusan, sambil sesekali memberi komentar dan solusi jika ada hal-hal yang terlihat belum fix. Dari jurusan komputer, dengan semangat melaporkan kesiapan komputer-komputer canggihnya, aplikasi-aplikasi ampuhnya. Disambung dengan antusias dari jurusan elektro melaporkan kesiapan alat-alat digital mutakhirnya, dan berbagai komponen elektronikanya yang printil-printil, ditambah dengan laporan kesiapan mesin-mesin praktikum industri yang konon harganya ber M-M an itu.

Tiba giliran saya, melaporkan kesiapan laboratorium yang berada dalam naungan jurusan akuntansi dan bisnis, konon mereka menyebutnya seperti itu…

Baru saja, saya membuka lembaran catatan saya terkait persiapan laboratorium, baru saja saya menarik udara dalam hidung, untuk persiapan laporan, keluar suara dari pemimpin tertinggi rapat itu …

“jadi gimana akuntansi, pensil dan penghapusnya sudah siap …? ”

Diikuti gelak tawa darinya, dan diikuti ketawa ngakak dari semua peserta rapat. Tentunya kecuali saya. Dengan cepat saya hembuskan kembali udara yang sempat saya hirup tadi. Dan saya memilih diam. Saya merasa dibully... keilmuan akuntansi merasa dilecehkan, hanya dinilai dengan sebuah pensil dan penghapus.

Melihat saya yang memilih diam, seorang Kabag yang kebetulan duduk disamping saya, memilih berbicara..

” jangan seperti inilah (sikap kalian), kalau tidak ada akuntansi, kampus kita tidak akan jalan keuangan, tidak akan mendapat opini audit yang baik..”

Saya masih memilih diam, dan urung melaporkan apapun kesiapan laboratorium dibawah kelola saya. Hingga suasana rapat menjadi sunyi, dan sipemimpin rapat pun berujar..

“baik..agenda berikutnya..”

Saya pribadi, sangat berterima kasih dengan bapak kabag yang ada dikanan saya saat itu, cukup menguatkan. Masih ada orang yang punya rasa penghargaan terhadap orang lain, terhadap keilmuan orang lain.

Kini, program studi akuntansi dikampus saya, suka atau tidak, membuat bahagia orang atau tidak, disenangi atau tidak, sudah terakreditasi A.

Membaca artikel riset PWC, yang Kantor Akuntan Publik big four dunia itu, tentang industry 4.0. Menyebutkan, bahwa tata kelola yang paling utama perlu disiapkan adalah people baru digitasinya kemudian. Yahh SDM nya,  kalau masih beranggapan terhadap suatu keilmuan itu tertinggal, kuno, sepele, dan remeh.. dengan sendirinya dia tidak akan bisa mengembangkan keilmuan yang dia kelola, yang ada dan termasuk dalam kepemimpinannya.

Begitu juga akuntansi, jika kita masih sama dengan pimpinan rapat itu, yang masih menilai akuntansi hanya sebatas pensil dan penghapus, tentunya akan sulit kita mengembangkan, apalagi ikut bertransformasi dalam geliat industry 4.0.

 

Posted in Kisah | Leave a comment