Libur Semester dan Jalanan Mulus Bengkalis

Beberapa waktu yang lalu kami sekeluarga memutuskan membawa liburan semester anak-anak untuk mengeksplorasi pulau tetangga dari pulau sumatera, yang masih satu provinsi itu dengan Provinsi Riau. Pulau Bengkalis. Beda pulau bukan hanya sekedar istilah. Benar-benar beda pulau, harus melewati selat, harus menggunakan kapal, RORO namanya, singakatan dari Roll-On/Roll-Off, agar kami juga bisa membawa serta mobil, untuk operasional jalan-jalan selama di pulau Bengkalis.

Pagi benar sabtu itu, habis shubuh tepatnya, kami pun memulai perjalanan, dengan harapan tiba di penyeberangan RORO di pelabuhan Sei Pakning masih pagi, belum padat penumpang. Dan benar, perjalanan benar-benar nyaman pagi itu, tidak banyak volume kendaraan berlalu lalang. Sebelum dhuhur mobil kamipun mendapat giliran untuk menyeberangi Selat Bengkalis, menuju pulau yang terkenal dengan lempuk durian itu.

Lempuk durian adalah sejenis dodol durian, namun harganya bisa mencapai dua kali lipat dodol durian. Wajar , karena lempuk durian menggunakan bahan 100% daging buah durian, sedangkan dodol, campuran 50% nya adalah tepung ketang, alias pulut.

Cantiknya lagi, sebelum memasuki Sei Pakning, tempat pelabuhan RORO di sisi pulau sumatera itu berada, kami disuguhkan pemandangan hamparan tanaman padi yang sudah menguning, siap dipanen, itu di Kecamatan Bunga Raya, Kabupaten Siak, yang memang disiapkan sebagai lumbung padinya Provinsi Riau. Yang sebelumnya dikenal dengan provinsi pengimpor beras dari provinsi tetangganya. Sebut saja beras PTN, Ramos, Kuku Balam dari provinsi Sumatera Utara, Beras Ikan Belida, Topi Koki dari Sumatera Selatan, ataupun Beras Solok, Anak Daro dari Sumatera Barat. Melihat hamparan sawah, benar-benar serasa menyusuri jalan lintas pedesaan di jawa sana, mirip jalan lintas antara Kediri – Tulung Agung. Sepertinya, dengan laporan bupati Siak, akan bertambah lagi lahan yang berfungsi sebagai ladang padi. Entah tahun kapan Riau akan swasembada padi.

Anak-anak tampak excited saat kapal RORO yang mengangkut kami sekeluarga dan mobil kami beserta penumpang yang lain mulai meninggalkan sandarannya di Pelabuhan Sei Pakning. Perlahan namun jelas, RORO yang kami tumpangi mulai menyibak permukaan air selat yang syukur saja hari itu cukup cerah, tidak ada angin kencang yang biasanya berefek gelombang tinggi. Fasilitas kafetaria di kapal RORO saya lihat cukup nyaman, lengkap dengan jajajan. Yah..jajanan itulah yang membuat anak-anak betah, selain mereka sibuk berputar bak kipas angin, menjelajahi setiap sudut kapal. Sampai-sampai ibunya pun geram, tidak hanya kepada anak-anak, tapi juga geram pada saya, yang ngajak anak-anak keliling kapal,…maklum saya jadi teringat memori masa kecil, saat naik kapal Feri penyeberangan Surabaya-Madura itu, jauh sebelum jembatan Suramadu berdiri gagah seperti saat ini.

Sudah tidak rahasia umum. Disemua tempat umum pasti semua paham. Yang paling minus di kapal RORO adalah sudah bisa ditebak, toiletnya. Selain jorok, bau pesing pun tak lepas darinya. Budaya lama yang harus dibenahi negeri ini. Sayangnya, setiap nama kapal RORO tidak begitu jelas diberi nama setiap kapalnya. Agar jika ada kotak saran atau masukan lainnya, penumpang bisa definitif memberi masukan pada kapal yang mana. Seperti halnya kapal Feri penyeberangan Surabaya-Madura. Masih ingat dalam benak saya nama-nama kapal Feri yang ada kala itu. Maklum, waktu kecil suka ngapalin yang aneh-aneh, ada Niaga Feri 1, Niaga Feri 2, Potre Koneng, Joko Tole dkk.

Jalanan Mulus Bengkalis

Alhamdulillah, belum sampai dhuhur kamipun sudah mendarat di pulau tetangga, kalau boleh disebut seperti itu. Indah…pengaturan tata kota Bengkalis begitu rapi. Bersih jalanannnya dan mulus. Meskipun ruas-ruas jalannya tidak begitu lebar, namun kami sekeluarga suka sekali melihat tata kota dari kota yang merupakan Ibu Kota Kabupaten terkaya di Indonesia ini, setelah Kabupaten Kutai Kertanegara di Kaltim. Terkaya karena ada ladang minyak terbesarnya di sisi pulau sumateranya, yang masih termasuk wilayah kabupatennya, Kota Minyak, Duri.

Sambil menunggu waktu dhuhur, kami pun terus melaju menuju sisi barat pulau Bengkalis,  menuju Pantai Selat Baru, yang berbatasan langsung dengan Selat Malaka, Negeri Jiran Malaysia. Sembari terus melaju ke Pantai Selat Baru, mampir dahulu kami ke sebuah rumah makan, sambil istirahat sejenak untuk sholat dhuhur di masjid disekitarnya.

Pantai Landai Arena Jong

Mendekati wilayah pantai selat baru juga nyaman. Jalanan yang memang tidak begitu lebar sudah berganti bahan, tidak lagi aspal, namun cor semen. Namun tetap nyaman, itu catatan saya. Saya berpikir pengunjung yang pertama kali ke pantai selat baru juga tidak akan kecewa. Akses jalan yang baik, infrastuktur yang nyaman juga salah satu daya tarik tempat wisata.

Tidak ada retribusi masuk kawasan wisata saat mobil yang kami tunggangi memasuki gerbangnya. Hanya ada beberapa pemuda, yang nampaknya seperti pemuda tempatan membantu kami memarkir kendaraan, pun tidak meminta uang parkir diawal.

Pantai dengan bibir pantai yang cukup panjang, dan juga landai menjorok ke arah selat malaka ini ternyata juga menjadi arena atraksi wisata tahunan Kabupaten Bengkalis. Festival Jong namanya. Jong sendiri adalah sebutan untuk replika kapal layar khas Bengkalis yang diperlombakan pada festival tersebut. Dipilih pantai selat baru kemungkinan karena bibir pantainya yang landai dan datar sampai puluhan meter ke arah selat. Ini memungkinkan peserta melepas Jong nya dari jarak jauh. Dan pemenang adalah yang Jong nya paling cepat sampai di bibir pantai. Keahlian menyusun layar dan memanfaatkan angin menjadi kunci utama. Selain desain Jong yang harus tepat untuk membelah air laut.

Anak-anak kami tampak riang. Pantai yang landai dimanfaatkan mereka untuk berbasahan-basahan ria, kejar-kejaran ,mengumpulkan anak kepiting dan umang. Yang katanya mau dibawa ke Pekanbaru. 🙂

Puas bermain air laut, kamipun rehat sejenak dibeberapa kantin yang ada disepanjang bibir pantai. Fantastis, harga jajanan masih sangat wajar, hampir sama dengan tempat diluar kawasan wisata, murah. Tidak seperti biasanya, yang umumnya tempat wisata selalu mahal harga jajanannya. Termasuk parkir yang hanya Rp 2.000, sama seperti ditempat umum lainnya. Menjelang sore kami pun beranjak balik ke Kota Bengkalis, untuk ke penginapan.

Senja Di Pantai Marina

Namanya memang pantai, namun jangan berharap bisa bermain air pantainya. Pantainya terjal. Untungnya sudah dibatasi dengan tembok batu. Memang tidak cocok untuk berenang, namun cukup asyik untuk sekedar duduk-duduk bercengkerama sembari menunggu senja. Salah satu spot yang paling diminati pengunjung dipantai yang letaknya ditengaha kota ini adalah ikon tulisan “I love Bengkalis”. Mungkin menjadi salah satu spot wajib untuk berswafoto. Sebagai salah satu bukti sudah sampai di kota kabupaten terkaya nomor dua di negeri ini.

Tidak banyak permainan memang, namun untung saja ada odong-odong, penghibur anak-anak di senja itu. Berputar-putar arena Taman Pantai Marina, sudah membuat mereka senang. Selain itu juga mereka terlihat lelah. Istirahat di hotel menjadi agenda utama malam itu. Sebelum esok pagi kami kembali menyeberangi selat. Kembali ke Pulau Sumatera.

 

 

 

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Rapat Para Ajudan

Ada hal yang lucu, geli, menggelitik sekaligus sarat penuh kritik akan yang namanya komitmen waktu. Itu diungkapkan Gubernur Riau terpilih, Pak H. Syamsuar. Kenapa ada embel-embel terpilih ? Karena beliau memang belum menjadi Gubernur Riau yang sah, masih sekitar bulan Februari nanti akan menjadi sah dilantik, setelah memenangkan Pilgubri tahun lalu. Selama ini, gubernur Riau yang sah masih Plt-nya.

Saya menyebutnya lucu, sekaligus sarat penuh kritik. Disela-sela kunjungannya ke kampus kami jumat pekan lalu, Pak Syam mengungkapkan salah satu yang ingin dia benahi adalah komitmen waktu, komitmen tepat waktu memulai acara dilingkungan birokrasi Pemrintah Provinsi Riau. Beliau yang juga masih menjabat Bupati Siak, menyebutkan komitmen waktu yang tidak dijaga akan merugikan orang lain, agenda orang lain. Begitu ungkapnya, saking geramnya.

Beliau bercita-cita, dilingkungan pemerintahan yang akan dipimpinnya nanti, akan benar-benar berkomitmen dengan waktu. Ekstrimnya, setiap acara, tidak akan menunggu orang-orang yang tidak berkomitmen dengan waktu, akan terus dilaksanakan sesuai jadwal, walau minim peserta. Agar menjadi pelajaran bagi yang telat, ungkapnya.

Pak Syam lebih lanjut menceritakan bagaimana pola yang sering terjadi. Misalnya saja ada sebuah agenda resmi pemerintahan, masing-masing pejabat selalu mengirim stafnya, ataupun salah satu ajudannya untuk pergi dahulu menghadiri acara, sambil terus mengudate, siapa saja pejabat yang sudah hadir.

Bisa dibayangkan, jika setiap pejabat masing-masing mengirim ajudannya untuk hanya melihat, apakah pejabat yang lain sudah datang. Pasti acara akan molor, agenda berikutnya juga molor. Dan yang lebih menggelitik, acara resmi tersebut akan menjadi ajang rapat para ajudan, sebelum benar-benar pejabatnya berdatangan.

Sebuah karakter manajemen waktu yang harus dibangun dengan sungguh-sungguh.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

8 utusan politeknik negeri jiran dengan 5 programnya

Mendengar Shah Alam, Selangor, salah satu negeri dari kerajaan negeri jiran Malaysia, pikiran langsung terbayang dengan Selangor FC, tim papan atas di liga Malaysia, yang Andik Firmansyah yang Bajul Ijo itu (Persebaya) , pernah menjadi salah satu striker utamanya. Namun kali ini bukan itu, ini adalah tentang Politeknik Sultan Salahuddin Abdul Azis Shah, yang berlokasi di Shah Alam, yang lebih dikenal resmi Politeknik Shah Alam itu, disingkat PSA.

Hari itu PSA mengadakan lawatannya ke Riau, Indonesia. Mengunjungi rekan sejawatnya, kampus-kampus rekanan di Provinsi Riau. Salah satunya kampus kami, Politeknik Catex Riau. Sebenarnya ada 15 orang yang melawat ke Riau, namun karena suatu hal jadilah 8 orang utusan saja yang mampir ke kampus. Dipimpin Pak Nasharudin Bin Zainal Abidin, yang mengaku fasih berbahasa Indonesia, yang membuat kami tidak canggung berbahasa Indonesia saat menyambut beliau dan rombongan.

Kunjungan memang singkat sore itu, namun banyak hal yang dapat kami sepakati, banyak hal rencana saling berbagi. Selain tentunya PSA berkenan berkeliling diarea kampus kami, sambil banyak memberi masukan, terutama terkait keberanian memproduksi masal hasil penelitian, karena bernilai ekonomis tinggi.

Setidaknya dalam lawatan tersebut saya mencatat ada 5 kesepakatan program kerjasama yang akan dilakukan.

1. Final Project

Dalam program ini, pihak PSA ingin ada kerjasama saling tukar menukar pengalaman dalam membimbing tugas akhir mahasiswa, termasuk saling mengunjungi untuk bertukar informasi arah penelitian tugas akhir mahasiswa.

2. Entreprenuership

Kalau dalam program yang satu ini PSA saya akui lebih unggul. Penekanan jiwa kewirausahaan tidak hanya sekedar perkuliahan, namun praktik. Termasuk praktik membuka usaha kecil secara online. Termasuk terdaftar dalam situs jual beli online.

3. Student Exchange

Bermodalkan pertukaran mahasiswa yang pernah kami lakukan dengan Republik Polytechnic of Singapura dan Politeknik Mersing Johor, tentu program pertukaran mahasiswa akan menjadi hala tidak sulit bagi kami. Satu yang menjadi kelebihana program yang disepakati dengan politeknik yang berdiri sejak 1997 di Malaysia itu adalah, pertukaran juga mencakup pertukaran tenaga pengajar, alias pensyarah kata mereka.

4. Social Inovation Project

Kerjasama untuk program ini sebenarnya kami sedikit terpukul, mereka negeri jiran lebih perhatian terhadap situs sejarah bangsa kita. Berdasarkan kisah, dan pertutur masyarakat sesepuh di seputaran komplek Candi Muara Takus, di Kabupaten Kampar itu, dipercaya, candi yang berada sekarang itu hanya wujud stupanya saja, hanya ujung bangunan saja, dengan kata lain, apa yang tertimbun dibawah tanah merupakan bagian candi yang belum nampak, diyakini setara dengan Candi Borobudur di Jawa Tengah, atau malah lebih besar. Untuk program ini kami diminta bekerjasama untuk mengungkapkan apakah mitos tersebut fakta. Jika benar adanya, tentunya ada potensi wisata yang lebih besar didalamnya.

5. Leadership Internship

Untuk program ini akan dibuat semacam camp untuk saling pertukaran budaya dan pelatihan kepemimpinan antar mahasiswa sekawasan ASEAN.

Dengan 5 program yang dipaparkan PSA, semoga kami bisa menyambut dan melaksanakannya, tentunya untuk kerjasama politeknik negeri serumpun yang lebih berjaya.

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Dari Selatan Sumatera Barat, Untuk Dunia

Pagi benar. Hawa dingin khas udara pegunungan masih terasa dikulit dan merasuk kedalam tulang kami. Namun pagi itu kami semua, 57 mahasiswa, 2 pembimbing termasuk saya, dan 4 kru dari 2 bus yang kami tumpang, harus check out dari Hotel Panorama Alam, Sangir, di kaki Gunung Kerinci itu.

Pagi itu kami serombongan dengan dua bus itu jam 08:00 WIB harus segera meluncur ke area PT. Mitra Kerinci, perusahaan perkebunan teh milik grup RNI itu. Meskipun, sehari sebelumnya kami menempuh perjalanan yang cukup jauh, 18 jam, naik berkelok-kelok khas jalanan pegunungan di wilayah selatan Provinsi Sumatera Barat itu, yang berbatasan langsung dengan utara provinsi tetangganya, Jambi.

Sisa wajah lelah setiap peserta Fieldtrip Akuntansi Perkebunan sekilas masih nampak, maklum baru mulai tidur di hotel mulai jam 02:30 dini hari, namun semua itu mendadak sirna, ketika bus-bus yang kami tumpangi mulai merayap menyusuri jalanan Kabupaten Solok Selatan menuju area perkebunan teh. Sepanjang perjalanan menuju lokasi pemandangana hamparan tanaman teh yang menghijau, bak permadani yang dijual di Pasar Bawah Pekanbaru, terhampar luas sejauh mata kami memandang.

Hanya butuh waktu 8 menit bus-bus kami pun memasuki area parkir di gerbang pintu masuk PT Mitra Kerinci. Sambutan hangat sudah sangat terasa didinginnya udara pegunungan pagi itu. Tampak diparkiran rombongan staf PT Mitra Kerinci yang telah siap menyambut rombongan kami. Rombongan staf Mitra Kerinci dipimpin Pak Shofwan, Pak Bezrisal, Pak Sony, Pak Agus dan bapak-bapak lainnya.

Tiga atau empat teratas untuk kualitas

Ternyata untuk mendapatkan teh dengan kualitas baik adalah dengan memetik pucuk daun teh sekitar tiga atau empat helai daun teratas. Pengetahuan itu kami dapati langsung di kebun teh. Setelah mendapat penjelasan awal di area gerbang perusahaan, kamipun diberi kesempatan langsung merasakan langsung proses pemetikan daun teh, langsung dikebunnya. Dipandu langsung oleh bapak-ibu pemetik teh yang sedang bertugas.

Memang, daun adalah kunci utama kualitas teh. Saat dikebun itu juga kami langsung menyaksikan proses penyemprotan pupuk, dengan fokus pupuk daun, yang fungsinya untuk merangsang pertumbuhan daun tersebut.

Pemetikan dilakukan menggunakan alat manual yang dimodifikasi. Sederhana. Alat itu sebenarnya gunting rumput, yang dimodifikasi dengan memasang kantung dimata gunting sebelah kanan dan mika/plastik penahan arah jatuhnya pucuk daun teh pada mata gunting disebelah kirinya. Efektif dan praktis. Ketimbang memetiknya dengan tangan, satu persatu, pegala tentunya.

Kami semua yang hadir disitu berkesempatan mencoba bagaimana rasanya bapak ibu pemetik teh memetik pucuk daun teh dibawah terik matahari. Walaupun udara dingin, karena pegunungan, maka terik matahari terasa sangat dekat, meskipun masih pagi.

Bahasa Jawa halus yang sudah lupa

Ada yang unik saya perhatikan, hampir semua bapak ibu pemetik teh itu berkomunikasi dalam bahasa jawa, walaupun bahasa jawanya kasar, alias ngoko. Iseng saya dekati yang nampak usianya lanjut, sudah nenek-nenek, alias mbah-mbah, saya tanya dalam bahasa jawa halus,

sampun angsal pinten kilo mbah ?” (sudah dapat berapa kilo nek?)

si nenek tersenyum-senyum,

maaf mas, ora iso boso alus, isone mung ngoko, wes lali aku” (maaf mas, sudah tidak bisa bahasa jawa halus bisanya bahasa jawa kasar, ngoko)

Selidik, wajar saja, mereka adalah keturunan yang kesekian dari leluhur mereka yang orang jawa, yang didatangkan saat penjajahan Hindia Belanda, yang mungkin saja saat Bahasa Indonesia belum disepakati menjadi bahasa nasional. Interaksi dengan seluruh suku yang ada di Solok Selatan memungkinkan mereka menjadi jarang menggunakan bahasa halus, syukur saja mereka masih bisa bahasa jawa, walau ngoko, toh bahasa ngoko juga sah-sah saja digunakan, terutama orang jawa diperantauan, atau di Surabaya sendiri, Ngoko adalah bahasa jawa utama 🙂

Satu pohon puluhan jenis produk

Puas, capek mengelilingi perkebunan teh, berfoto-foto di salah satu bukitnya yang konon disebut Bukit Teletubisnya Mitra Kerinci, rombongan pun disambut di Wisma Karyawan Mitra Kerinci. Ada suguhan teh hasil olah pabriknya yang tak jauh dari lokasi wisma. Kali itu disuguhkan dua jenis produk, white tea yang benar-benar white, ada rasa teh, cuman seperti bukan celupan teh, ada juga black tea yang memang sudah banyak dikenal.

Sambil menikmati teh yang disuguhkan, kami mendapat penngarahan kembali dari Pak Roni, GM Mitra Kerinci yang sedang bertugas pagi itu. Baru tahu, ternyata tidak ada perbedaan tanaman teh untuk menghasilkan berbagai varian produk teh. Tetap pohon teh yang sama. Termasuk memprduksi teh hijau yang harganya mahal itu. Semuanya dari pohon yang sama. Hanya proses pengolahannya saja yang menjadikan hasil bubuknya menjadi produk yang bervariasi.

Diakhir sesi kunjungan, kamipun diajak berkeliling pabrik. Tempat dimana daun-daun teh yang coba kami petik sebelumnya bermuara, untuk diolah menjadi bubuk teh. Tampak semua dari kami memperhatikan secara seksama penjelasan pak Shafwan, yang sangat telaten menjelaskan dri proses datang bergoni-goni daun teh, keudia dilayukan, dikeringkan dan distilasi menjaadi berbagai varian produk sampai proses pengemasan.

Harum semerbak wangi teh menyeruak keseluruh area pabrik, terutama area pengemasan. Seharum nilai teh hasil produksinya dipasar dunia. Produk kebun teh Mitra Kerinci itu memiliki merk Liki Tea, sesuai dengan nama are kebunnya, Liki, Solok Selatan.

Mungkin kita akan jarang mendapati langsung produk teh dengan merk LIKI, namun merek-merek ternama nasional hampir sebagian besar menggunakan bubuk teh hasil kebun Liki itu untuk campuran utama blending tea nya. Mungkin juga kita akan berkesempatan melihat merk Liki Tea langsung, tapi itu di negara-negara Eropa, karena Liki Tea memang kualitas ekspor, kualitas dunia. Berdoa saja, kita ada kesempatana jalan-jalan di eropa.

Dari Selatan Sumatera Barat, untuk dunia.

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Empat Penjuru Politeknik untuk Kebangkitan Aceh

Optimisme itu terus dibangun, untuk kebangkitan Aceh. Dari berbagai masalahnya, dari ketertinggalannya dengan provinsi di sekawasan Pulau Sumatera, termasuk kebangkitan dari Bencana Tsunami Aceh, yang 14 tahun lalu itu.

Itu semua saya saksikan langsung saat menghadiri wisuda ke-8 Politeknik Aceh, mewakili pak direktur kami yang berhalangan hadir, yang juga wisuda bagi anak-anak korban Tsunami, yang telah menjadi anak asuh BAZNAS semenjak mereka rata-rata kelas 4 SD, yang rata-rata kehilangan orang tuanya, hidup sebatang kara. Aura optimis itu nampak dari pancaran wajah mereka. Maka tak mengherankan bila pembimbing mereka dari BAZNAS pusat itu, Bu Emmy Hamidiyah juga nampak berurai air mata, saat memberikan sambutannya, terharu.

Usai prosesi wisuda, kamipun beramah tamah sembari makan siang. Kebetulan saya kebagian satu meja dengan Ketua Yayasan Politeknik Aceh Pak Iskandar, LPSDM Aceh Pak Mawardi CH. Hamid,  Bu Emmy dari Baznas, Direktur Politeknik Aceh Pak Yuhanis Yunus, Direktur Politeknik Aceh Selatan Pak Muhammad Yasar. Banyak yang kami diskusikan, mulai dari potensi alam Aceh , dan tentu saja persiapan SDM-nya melalui pendidikan politeknik.

Menarik, Pak Mawardi yang sangat konsen akan SDM rupa-rupanya sudah menyiapkan jurusnya terkait pendidikan politeknik di Aceh agar mampu menyuplai tenaga terampil dalam mengolah Aceh secara mandiri, putra-putri Aceh bangkit di wilayahnya sendiri. Itulah yang bisa saya sebut Empat Penjuru Politeknik untuk kebangkitan Aceh. Empat politeknik itu adalah :

Politeknik Aceh dengan keahlian Mekatronikanya

Politeknik Negeri Lhokseumawe dengan keahlian Migasnya

Politeknik Indonesia Venezuela dengan keahlian Pertaniannya

Politeknik Aceh Selatan dengan keahlian Mesinnya.

Catatan menarik ketika berbicara keahlian tersebut. Aceh yang terkenal dengan penghasil kopi terbaik dunia ternyata kehilangan namanya di dunia. Kopi yang terkenal didunia saat ini ternyata hanya berubah nama, hampir semuanya itu berasal dari Kopi Gayo, kopi Aceh yang khas itu. Konon ketika kopi Gayo bergeser tempat katakanlah ke propinsi tetangganya di selatannya. Sudah berubah namanya menjadi kopi sidikalang ataupun kopi mandailing. Catatan saya kopi mandailing atau mandheling sudah masuk dalam daftar menu kedai kopi besar dunia, Starbuck. Harapan muncul, dengan adanya peningkatan keahlian di Politeknik Indonesia Venezuela, harapan akan berkibarnya nama Kopi Gayo tidak mustahil akan terjadi, mendunia.

Suasana obrolan menjadi lebih menarik, ketika Pak Mawardi yang juga diaminkan Pak Yasar yang Direktu Politeknik Aceh Selatan, Poltas itu, bercerita, banyak potensi batu marmer yang belum terangkat nilai ekonomisnya di Aceh Selatan. Betapa banyak batu marmer, yang kalau diolah lebih lanjut itu memiliki harga yang tinggi, sementara ini hanya untuk sebagai batu timbun, pengokoh pondasi kaki-kaki rumah, atau hanya disusun sebagai penahan ombak di bibir pantai, sayang. Berbeda dengan yang di Tulung Agung, Jawa Timur ujarnya, produksi batuan marmer sudah menjadi pengangkat nilai ekonomi masyarakatnya.

Mendengar kata Tulung Agung saya yang keturunan asli orang Tulung Agung, Bapak dan Ibu saya keduanya orang Tulung Agung, walau beda daerah, Bapak di Beji (Tulung Agung lebih kota) dan ibu dari Sumber Gempol, pun merasa ikut bangga, kampung halaman kedua orang tua saya disebut. Dikampung halaman itu jugalah kedua orang tua saya dimakamkan.

Sepakat dengan olah mengolah marmer. Namun hampir sudah jarang orang menggunakan marmer sebagai lantai. Mungkin hanya masjid, ataupun gedung-gedung resmi yang menggunakannya. Maka obrolanpun mengalir sepakat olahan marmer yang bukan fungsional, namun kearah seni, itu yang harus dikembangkan di Poltas. Maka sesuai dengan penjurunya, Poltas akan lebih mengarah pada keahlian mesin-mesin produksi untuk mengolah marmer. Hebat. Mungkin kelak kita akan jumpai hiasan taman, hiasan dalam ruangan yang terbuat dari marmer, dan itu buatan Aceh Selatan.

Optimisme terus mengalir. Terus naik. Mungkin itulah yang sekarang dibutuhkan Aceh. Tsunami optimis yang terus meninggi. Waktu sholat dhuhur pun membubarkan obrolan kami siang yang teduh itu.

Posted in Kisah | Leave a comment

Reuni Kecil Dalam Penugasan Audit

Namanya Pak Katio, mantan dosen saya waktu S1 di USU-Medan, mantan bos saya juga sewaktu saya masih mengaudit dibawah bendera Kantor Akuntan Publik beliau, masih segar bugar diusia yang ke 76 nya itu.

Dulu mahasiswanya, dulu, dulu sekali, saya pegawainya, sekarang pertemuan tampak seperti reuni. Saya sebagai Pembantu Direktur 2 di kampus tempatku mengabdi, yang salah satunya mengurus keuangan itu, memanggil beliau untuk penugasan audit keuangan kampus. Hubungan baru dalam pertemuan itupun terjadi, antara saya sebagai klien, dan beliau sebagai auditor.

Reuni Kecil pun terjadi dipertemukan untuk membahas kontrak audit itu. Bahkan lebih lengkap lagi. Para pengurus Yayasan pun ada yang alumni beliau, dari USU juga. Ada Pak Lamsana Sirait yang Stambuk/Angkatan 1980 itu, ada juga Pak Simon Elimander yang stambuk 1984 itu, sedang saya stambuk 2000, dan Pak Katio sendiri stambuk 1971. Mulai mengajar di USU sejak tahun 1984, setelah sebelumnya bertugas di Departemen Keuangan di Medan.

Setelah penawaran lingkup audit disepakati, nilai perikatan disepakati, tanggal penugasan auditpun disepakati. Cepat dan ringkas. Karena ini bukan pekerjaan baru bagi kami yang duduk dimeja perundingan itu. Pengurus yayasan dan pimpinan kampuspun mengaminkan kesepakatan yang dicapai. Selesai sudah tujuan utama pertemuan disore hari itu. Tinggal cerita-cerita santai sembari reuni kecil itu yang tak kalah serunya.

Pak Katio juga dengan semangat menceritakan perkembangan dunia audit. Termasuk perubahan istilah dalam opini audit, yang kini berubah menjadi wajar tanpa modifikasi, menggantikan opini wajar tanpa pengecualian, untuk menggambarkan opini terbaik atas laporan  keuangan klien yang diaudit. Dengan gestur yang tidak berubah dari jaman dulu, beliau juga mengungkapkan suatu hal temuan yang menarik, ternyata opini audit tanpa modifikasipun tidak menjamin suatu institusi itu bebas dari korupsi, terutama pada institusi pemerintahan, begitu pengalaman beliau membuktikan. Penyebabnya adalah, korupsi itu melibatkan persekongkolan, semuanya disiapkan dengan rapi, lebih lanjut beliau melengkapi.

Kami yang hadir semeja dengan beliaupun mengangguk-angguk. Seolah kami masih dibangku kuliah di Kampus USU kala itu, menyimak kuliah langsung dari beliau.

Terbersit kenangan, bak gayung bersambut, Pak Lamsana yang juga sedari tadi ikut menyimak, yang stambuk ’80 itu, pun berujar, saya jadi ingat, Auditing 1 saya kuliahnya sama bapak loh pak. Pak Katio pun langsung membalas, saya termasuk yang galak dulu yah, diikuti ketawa grrrr semua yang hadir disitu. Beliau melanjutkan, saya dulu kalau pintu kelas sudah tertutup, artinya mahasiswa yang telat sudah tidak boleh masuk, berbeda jika pintu masih terbuka sedikit, boleh masuk.

Berada Diantara Dua Profesor Akuntansi

Sore itu Pak Katio dengan ditemani stafnya, Bang Razak, juga membagi kenangan beliau ketika menjadi dosen muda di USU dulu. Dua profesor hebat, sama-sama senior, berbeda gaya, Profesor Hadibroto dengan kalem khas Jawanya itu, dan Profesor Moenaf H. Regar dengan gayanya yang bersemangat, berapai-api itu, masing-masing meminta Pak Katio menjadi asistennya. Dua-duanya pingin Pak Katio yang menggantikan mereka ketika berhalangan hadir mengajar di kelas. Akan menjadi kesulitan jika kelas yang mau diganti ada dalam waktu yang sama…sembari ketawa lirih Pak Katio menjelaskaan triknya tetap menjadi asisten yang baik bagi keduanya.

Pengendalian untuk kuda, Pengawasan untuk manusia

Mendengar nama Profesor Hadibroto, Pak Simon yang sedari tadi ikut menyimak, pun tak mau kalah. Saya jadi teringat tentang Profesor Hadibroto, ujarnya. Profesor Hadibroto memang terkenal dikalangan mahasiswa Akuntansi USU sebagai ahli pada bidang Management Control System, juga dengan penguasaan istilah asing dengan serapannya pada Bahasa Indonesia. Pak Simon pun menceritakan bahwa istilah Internal Control, yang umumnya diartikan Pengendalian Internal itu sangat haram bagi Profesor Hadibroto. Harus diubah padanannya dalam Bahasa Indonesianya, Pengawasan Internal. Karena Profesor Hadibroto berargumen, pengendalian itu untuk kuda (mengendalikan kuda, hewan), sedangkan pengawasan itu untuk manusia. Manusia itu diawasi. Bukan dikendalikan. Bagai pak kusir yang mengendalikan kuda supaya baik jalannya 🙂

Begitulah, sore itu menjadi reuni kecil kami, disela-sela penugasan audit, antara klien dan auditor, antara mantan mahasiswa dan dosennya, sesama alumni Akuntansi Fakultas Ekonomi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Posted in Kisah | Leave a comment

Secarik Kertas Kuning Untuk Perlindungan Si Resipien

Ada hal yang baru di PMI UPTD Pekanbaru. Saya baru tahu kemarin ahad, waktu mendonorkan darah yang ke-31, hitungan jumlah donor yang sangat kecil, dibandingkan masa mendonor yang sudah 21 tahun, dari kelas satu SMA. Hal baru itu bukanlah layout ruangan tempat menyedot darah, bukan, layout cakep dan ciamik itu sudah lama, dari akhir tahun lalu. Hal baru itu adalah secarik kertas warna kuning, saya tidak tahu kenapa harus warna kuning, yang disodorkan ke calon pendonor, oleh dokter konsultan, setelah calon pendonor lolos tes kadar HB.

Dibilang baru juga boleh, sudah lama iya juga, walaupun standar ini sudah ada di UPTD Pekanbaru sejak Agustus. Cuman saya saja yang belum tahu. Ketika saya tanyakan dengan dokter konsultan yang menentukan kita boleh donor atau tidak, sudah sejak agustus pak, jawabnya. Dari kartu donor saya terakhir bulan juli tanggal dua. Pantas tidak ketemu prosedur kertas kuning itu.

Secarik kertas kuning yang disodorkan dan harus kita tandatangani jika bersedia donor sejatinya adalah sebuah kertas pernyataan yang berisi kesediaan kita diproses lebih lanjut jika dalam darah yang kita donorkan terdapat indikasi penyakit menular. Hal ini untuk menghindari terjadinya IMLTD, infeksi menular lewat transfusi darah, begitu istilahnya.

Ketika calon pendonor lolos tes kadar HB, selanjutnya lolos tes kesehatan oleh dokter konsultan, secarik kertas kuning itulah yang disodorkan sang dokter untuk dibaca dan ditandatangani sebelum masuk keruang penyedotan darah.

Untuk di Pekanbaru masih baru 4 penyakit menular yang diperiksa, Hepatitis A, Hepatitis C, Sifilis, dan HIV/AIDS. Dalam prosedur yang saya tandatangani itu, disebutkan, jika nantinya didapat indikasi dari penyakit menular yang dimaksud, pendonor bersedia dihubungi dan dirujuk ke dokter spesialis yang ditunjuk. Hasil dari rujukan dokter spesialis selain pengobatan bagi si pendonor, juga keputusan akan keberlangsungan proses donor, apakah si pendonor disuruh “libur” dulu sekian waktu untuk donor. Atau yang lebih mengerikan lagi, dilarang donor seumur hidup. Artinya darah kita terlarang untuk didonorkan ke resipien.

Paham, memang hal ini untuk melindungi resipien yang rentan tertular oleh darah pendonor yang menngandung penyakit menular, melalui transfusi darah, miris. Menyelematkan nyawa melalui transfusi darah, malah memasukkan penyakit menular. Screening ini benar-benar bermanfaat. Kesannya hanya melindungi resipien, namun juga memberi peringatan dini bagi pendonor, kalau-kalau ada penyakit menular dalam darahnya.

Penasaran dengan hasil screening darah yang telah saya donor 30 kali sebelumnya, alhamdulillah, setelah melihat database hasil pemeriksaan, bu dokter yang bertugas sebagai konsultan hari itu memberitahu darah saya sampai donor ke 30 itu masih bebas dari empat penyakit menular itu. InsyaAlloh yang ke 31 ini juga aman pak, begitu ujarnya. Jadi bagi sodara semua yang mau tes kesehatan darahnya gratis, bisa juga mencoba mendonorkan darahnya, beramal sekaligus tes darah gratis. Namun ingat, ada secarik kertas kuning yang akan melindungi si resipien.

 

 

Posted in Kisah | Leave a comment