Antara Kontrak Perkuliahan dan Jadwal Acara Televisi

Bagi sebagian pengajar ataupun mahasiswa, Kontrak Perkuliahan mungkin hanya dianggap sebagai basa-basi belaka, sebuah formalitas, ataupun sebuah pelengkap penderita dalam sebuah proses belajar mengajar (PBM). Lebih parah, kontrak perkuliahan hanya akan dibuat atau disiapkan saat ada Monev dari auditor QA atau hanya sekedar memenuhi kekurangan berkas saat Akreditasi .. miris…

Sejatinya tidak demikian, Kontrak Perkuliahan merupakan 50% kesuksesan suatu perkuliahan. Disana dimuat berbagai rencana perkuliahan selama satu semester, per pertemuan mau bahas apa, bahkan agenda penugasan apa yang harus disiapkan mahasiswa pada suatu pertemuan semua dapat diketahui diawal semester, kapan kuis, kapan ujian, termasuk presentase komponen penilaian dan aturan suasana kelas. Jadi tidak ada kucing dalam karung dalam proses penilaian. Mahasiswa dapat mengukur dan merencanakan dengan baik apa yang harus dilakukan per pekannya untuk suatu mata kuliah tertentu, mengingat, mereka juga kuliah dengan dosen lain yang gak kalah seabrek tugasnya. Singkat kata, kontrak perkuliah itu penting, tidak hanya untuk mahasiswa, melainkan juga untuk sang pengajar..

Betapa tidak, kebayang gak enak kan kalo dosen masuk, trus nanya sama kita sebagai mahasiswa, ” kita kemaren udah sampai mana ?”. Lebih parah, ” hari ini kita belajar apa yah???” lahhhh…..kalo udah kena dosen model gini, dari awal perkuliahan hingga akhir rasanya eneg… Yang paling menakutkan, ‘ Hari ini kita kuis..!! ‘ hehehehh.

Dosen yang memanfaatkan betul penggunaan kontrak belajar akan dengan mudah membuat perencanaan perkuliahannya, tanpa ada kesan mendholimi mahasiswa, jika pada pertemuan tertentu langsung memberikan kuis, karena sudah direncanakan, sudah tertuang dalam kontrak perkuliahan yang ditandatangani bersama dan diketahui ketua prodi ataupun ketua jurusan.

Saya jadi teringat, kontrak perkuliah itu tak ubahnya seperti jadwal acara televisi. Jauh hari kita sudah bisa membaca di koran, diwebsite saluran televisi tentang jadwal acara. Senang bukan hati kita, kita jadi bisa memilih jadwal acara yang hendak kita tonton, karena semua dilaksanakan sesuai jadwal. Namun betapa kecewanya kita, kalau tiba-tiba film kesukaan kita, tiba-tiba terpotong dengan acara yang tidak ada dijadwal, misalnya Liputan Khusus Kunjungan Presiden Soehart* ke Jerman… hahahah ini contoh hanya anak kecil era 90-an yang paham. Bener2 kecewa berat..

Mungkin itu yang dirasakan mahasiswa jika dosen mengajar tanpa kontrak diawal, suka ati dosen. Yang aneh, tanpa pernah melihat bentuk kontrak perkuliahan, ketika semesteran udah berakhir, dosen yang bersangkutan tiba2 menunjukkan kontrak perkuliahan dan minta tanda tangan mahasiswa, alasan mau di audit oleh tim auditor QA lah, mau ada akreditasi lah … 🙂

Jadi, yuk, kontrak perkuliahan jadikan budaya mutu, bukan kebutuhan praktis. Jangan kalah dengan jadwal acara televisi, bahkan acara televisi kabel pun sudah dibukukan dengan kemasan yang lux, dan diupdate beberapa bulan sekali.

Selamat berkarya.

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Lebaran Haji di Ranah Minang, Danau Yang Bertumbuh

Jika tahun sebelumnya kami berlebaran haji di negara tetangga, Malaysia, kali ini kami berlebaran haji di provinsi tetangga, Sumatera Barat. Benar memang, Sumatera Barat merupakan provinsi tetangga dari Riau. Provinsi Sumatera Barat dengan Riau hanya terpisah dengan jalan lintas provinsi, sehingga tidak banyak kesulitan bagi setiap orang berlalu-lalang melintas antar provinsi.

Setelah melalui persiapan yang matang, kami sekeluarga pun sepakat untuk berlebaran haji ke Sumatera Barat dengan mengendarai mobil sendiri. Sampai hari itupun tiba.

Setelah lumayan capek menemani anak-anak takbiran di masjid dekat rumah, malam takbiran itupun kami mempersiapkan segala perbekalan. Termasuk beras dan magic com, maklum di Bukittinggi nantinya kami menginap di guesthouse yang tidak ada fasilitas sarapannya.

Pagi dini hari menjelang subuh, diiringi rintik hujan, kamipun mulai meluncur meninggalkan kota Pekanbaru. Alhamdulillah melewati Kabupaten Kampar, hujan deras pun mengguyur, walaupun dengan kecepatan melambat, kami terus melaju. Perlu hati-hati pada saat baru keluar gerbang kota Pekanbaru, karena ada perlintasan jalan kembar, sedangkan lampu penerangan jalan yang minim, akan sangat rawan jika kita tidak mampu melihat batas pemecahan jalan menjadi dua jalur. Setelah melaju dengan kecepatan sedang, akhirnya kami istirahat sebelum memasuki Bangkinang, Ibu Kota Kabupaten kampar, untuk sholat subuh.

Setelah sholat subuh, perjalanan pun kami lanjutkan. Mentari tampak mulai bergeliat ketika mobil yang kami tumpangi melintas disuatu bukit yang orang menyebutnya Ulu Kasok. Konon katanya pemandangan danau yang terbentuk dari bendungan Koto Panjang membentu pulau-pulau yang tak kalah indahnya dengan pemandangan gugusan pulau-pulau di Raja Ampat yang tersohor. Sejenak ketika saya tawarkan ke istri dan anak-anak, semua pada enggan.. ya sudahlah..mungkin lain kali fikirku, mobilpun ku gas lagi meninggalkan Kabupaten Kampar.

Pagi hari kamipun sudah memasuki Pangkalan, kota di provinsi Sumatera Barat yang berbatasan langsung dengan Provinsi Riau. Jalanan tampak lancar, hingga jam pun menunjukkan pukul 7, saatnya kami mulai mencari lapangan/masjid untuk sholat idul adha. Alhamdulillah kami menjumpai serombongan orang yang tampak mengenakan pakaian hari raya, kamipun mengikutinya dan sampai pada sebuah masjid. Lantaran hujan semalaman mengguyur, sholat idul adhapun dialihkan kedalam masjid oleh panitia.

Jalan Ranah yang benar-benar Tanah

Tengah hari, kamipun memasuki Kota Bukittingi. Saatnya kami mencari penginapan yang telah kami booking sebelumnya melalui travel online. Tertulis alamatnya jalan Ranah. Setelah mendapatkan jalan yang dimaksud, tampak sedikit terlintas keraguan dari istri dan anak-anak. “Kok jalannya jalan tanah yah…belum diaspal atau semen ?”. ” Yahh namanya juga jalan Ranah, kan emang jalan tanah” jawabku sekenanya waktu itu. Dan ternyata dibalik jalan tanah, hanya cukup beberapa meter kami mendapati Guest House Rumah Kayu, tempat kami menginap. Tempatnya sangat asri, dikelilingi kebun buah naga, dan ada kolam ikan nila dibawah jembatan menuju setiap kamarnya, membuat suasananya tampak menyejukkan.

Sorenya kamipun berjalan-jalan keliling Kota Bukittinggi. Salah satu yang menjadi objek wisata yang kami kunjungi adalah Gua Jepang dan Panorama Ngarai Sihanok. Selain belajar sejarah dengan memasuki gua yang dulunya menjadi tempat persembunyian Jepang, anak-anak juga tampak menikmati panorama Ngarai Sihanok yang seolah-olah membelah Pulau Sumatera menjadi utara dan selatan itu.

Danau yang bertumbuh

Melintasi 3 kabupaten/kota, mungkin itu istilah yang tepat atas perjalanan kami esok harinya. Pagi itu setelah sarapan dengan bekal ayam rendang yang kami bawa dari Pekanbaru, kami pun meluncur meninggalkan Kota Bukittinggi. Menuju Danau Singkarak dari Bukittinggi ternyata lumayan jauh, harus melewati kota Padang Panjang, Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Solok. Konon Danau Singkarak itu terus bertumbuh karena pergeseran lempeng sumatera yang terus bergerak, wal hasil panjang dan luas danau itupun terus bertumbuh, bergerak, semakin luas.

Setelah menyusuri pinggiran Danau Singkarak, kami menjumpai salah satu pantai rakyat yang terbuka untuk umum. Hanya dengan membayar uang parkir, kami dapat menikmati fasilitas pantai. Duduk-duduk sambil tiduran didipan yang diletakkan dibawah pohon terasa nikmat, sembari menikmati semilir angin yang berembus membawa uap air danau yang terasa sejuk. Segelas kopi susupun menemani saya menikmati istirahat dibawah pohon, sembari mengawasi anak-anak yang asyik mandi ditepian danau yang airnya sangat jernih itu.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Menjadi Trainer Keuangan Syariah Hingga S3 Yang Tidak Kunjung Selesai Karena 45 dan 10

Tiga hari belakangan ini saya dan dua rekan yang lain dari Politeknik Caltex Riau sangat sulit dijumpai di ruangan kerja, tak ayal, karena selama tiga hari itu kami memenuhi undangan Otoritas Jasa Keuangan kerjasama dengan UIN Sultan Syarif Kasim untuk mengikuti ToT Keuangan Syariah terintegrasi. Singkat kata kami dilatih menjadi Trainer Keuangan Syariah bersama ratusan peserta yang lain dari Riau dan Kepulauan Riau.

Pelatihan sendiri terbagi menjadi tiga materi, dan tuntas dibahas dalam tiga hari. Pas bener rasanya panitia menset kegiatan. Hari pertama kami mendapat pelatihan tema Perbankan Syariah, hari kedua, Pasar Modal Syariah dan pada hari ketiga membahas Industri Keuangan Non Bank Syariah.

Bagi saya sendiri keuangan syariah dengan segala seluk beluknya sebenarnya tidak asing lagi. Selain secara praktik saya juga memegang beberapa instrumen keuangan syariah juga materi tentang keuangan syariah sangat menarik untuk selalu diikuti. Saya jadi teringat dulu sewaktu kuliah di FE-USU Medan,era 2000-an saya dan teman-teman terlibat dalam berbagai kegiatan kajian/diskusi tentang ekonomi syariah, melalui wadah FOSEI, Forum Studi Ekonomi Islam. Bahkan kami sempat mewakili kampus di Kongres ke dua di Unibraw-Malang. Dengan hasil, saya dan dua rekan saya yang lain waktu itu ditunjuk menjadi koordinator wilayah Sumbagut, meliputi Sumatera Utara dan Aceh.

Namun, industri keuangan syariah terus bergerak, dan terus berbenah. Tentu saja, dengan adanya undangan pelatihan ini tentu tidak kami sia-siakan. Banyak aturan, fatwa ulama yang terus berkembang, tentunya butuh pemahaman baru, dan perbaikan pemahaman tentunya.

Alhamdulillah, selain mendapatkan ilmu baru, ajang pelatihan kemaren juga menjadi ajang silaturrahmi dengan teman-teman profesi di Pekanbaru. Berjumpa dengan Pak Emon dari BEI perwakilan Riau misalnya, kami menjadi dapat masukan banyak tentang perkembangan kegiatan bursa. Jumpa dengan bu Neneng, kami pun sempat ngobrol ringan tentang perkembangan usaha kami, Kantor Jasa Akuntan. Atau hanya sekedar nostalgia, ketemu teman-teman kuliah, Bang Jufri misalnya, kenalan sewaktu kuliah S2 dulu, yang antusias dan bangga dengan capaiannya lulus serdos, alhamdulillah.

Akad menjadi kata kunci

Belajar hari pertama, pembahasan khusus mengenai industri Perbankan Syariah. Dalam pembahasan perbankan syariah ini kami dipandu oleh banyak trainer. Setelah diawali dengan seremoni pembukaan yang cukup ringan, mengingat Dekan Fakultas Syariah UIN SUSKA cukup pandai membawakan joke-jokenya yang segar, kami pun dibagi menjadi dua kelas pelatihan. Saya kebetulan satu kelas dengan rekan saya Pak Tobi dari, sedang rekan satu kampus kami yang lain dikelas yang berbeda. Tidak ada perbedaan materi ataupun level, pembagian kelas ini hanya sebatas membagi konsentrasi agar kelas menjadi efektif. Risikonya hanya satu, trainer ngomong hal yang sama didua kelas yang berbeda. Namun tentunya dengan karakter isi kelas, dengan isi kepala yang berbeda akan menjadi menarik disetiap kelasnya.

Saya mencatat selain dari pihak OJK yang menjadi trainer, juga ada dari praktisi, ataupun orang-orang OJK yang dulunya pernah bekerja didunia praktik perbankan syariah dan juga yang tidak kalah pentingnya, materi dari Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia, DSN-MUI, karena merekalah yang merumuskan apakah suatu produk/aktifitas perbankan memenuhi tingkat syarat sesuai syariat.

Dari berbagai materi mengenai perbankan syariah, sedikit saya bisa menyimpulkan, ternyata banyak jenis akad yang dapat menampung seluruh aktifitas perbankan syariah agar sesuai syariah. Misalkan untuk kegiatan pembiayaan sendiri, kita bisa menggunakan akad murabahah, mudharabab, salam atau yang lainnya yang sesuai. Yang perlu dilakukan agar sesuai syariah adalah, mekanisme pembiayaan harus mengikuti jenis akadnya.

Akad menjadi kata kunci dari setiap transaksi yang dideklarasikan menjadi sebuah transaksi syariah. Sebagai contoh ekstrim yang bawakan sang trainer, misalkan berkumpulnya seorang laki-laki dan perempuan dalam satu rumah. Jika akadnya pacaran, suka-sama-suka, tentu menjadi haram. Namun jika akad yang mendahuluinya adalah pernikahan, maka menjadi halal. Terbersit sama saya kala itu, berarti semua jenis transaksi bisa menjadi transaksi syariah, asal kuncinya, akadnya sesuai syariah.

Kuliah S3 yang tak kunjung selesai karena 45 dan 10

Hari kedua waktunya kami peserta belajar Pasar Modal Syariah. Dibandingkan dengan perbankan syariah yang sudah ada kemunculannya sejak 1992, tema industri pasar modal syariah ini termasuk baru, tahun 2013-an, meskipun pasar modal bukan hal yang asing bagi masyarakat Indonesia.

Trainer kali ini banyak diisi oleh bagian Pasar Modal Syariah, praktisi, dan DSN MUI sebagai dasar hukum syariah. Pada intinya kegiatan jual beli saham, senyampang tidak menyalahi fatwa MUI terkait perdagangan saham, misalnya kaitannya dengan Short Selling, Margin Trading, maka transaksi saham tersebut dapat dikatergorikan sebagai transaksi syariah.

Belakangan semenjak munculnya konsep pasar modal syariah maka dua isu utama muncul. Yang pertama terkait penggunaan Bank Syariah sebagai penampung Rekening Dana Investor, yang kedua terkait dengan Emiten yang termasuk perusahaan yang secara operasional memenuhi kriteria sebagai perusahaaan yang menjalankan prinsip syariah dalam operasional perusahaannya sehingga layak menjadi emiten dalam kelompok/indeks bursa saham syariah.

Mengenai hal yang pertama terkait pemilihan Bank Syariah menjadi jelas. Yang kedua itu yang sempat menjadi perdebatan dan diskusi panjang di kelas training. Peraturan OJK sendiri mensyaratkan jika suatu Emiten memiliki komposisi Utang Ribawi kurang 45% dari Total Aset dan Pendapatan Non Halal tidak lebih 10% dari total pendapatan, maka saham emiten tersebut masuk dalam kategori indeks saham syariah.

Para peserta training tampak mengernyutkan dahi. Terlebih yang menjelaskan hal ini adalah orang DSN MUI. Secara hukum yang dipahami adalah sedikit atau banyak, 45% atau 10% riba tetap riba, haram tetap haram. Setelah memahami kondisi kelas yang terlihat masih tidak mampu menerima logika DSN MUI. Sang trainer pun menjelaskan jika ini sebuah langkah awal, kedepan akan diperketat hingga benar-benar bersih dari non halal, baik itu rasio utang ataupun pendapatan non halal.

Alih-alih masih belum menerima konsep MUI, ada sebagian peserta mempertanyakan kembali kenapa 45 dan 10, sedangkan jika dibandingkan dengan standar Internasional yang dikeluarkan The Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institutions(AAOIFI) saja hanya boleh mentolerir cuma 30 dan 5. Tidak boleh lebih 30% utang ribawi(berunsur bunga) dan tidak lebih 5% pendapatan Non Halal (Miras, Rokok, Daging haram). Hal ini justru memancing sang trainer semakin mengeluarkan jurus-jurus persuasifnya untuk mendorong peserta secara emosional keislaman menerima. Dalam bahasa singkat, ini bertahap, kalau bukan kita siapa lagi. Mungkin agar tampak meyakinkan kami, tercetuklah dari bibir sang trainer sebuah ungkapan yang cenderung Curcol menurut saya, ” Lah itu pak, karena sibuk mikirin kenapa harus 40 dan 10 itu makanya S3 saya gak selesai-selesai juga”. Saya pun numpang ngikik…. 😀

Kesan Terakhir : Trainer Yang Killer

Hari ketiga kami belajar tentang Industri Keuangan Non Bank Syariah. Sebenarnya dalam praktik banyak sekali jenis produk ataupun industri keuangan non bank. Namun karena keterbatasan waktu dan juga training masih berdasarkan lembaga-lembaga keuangan yang dibawah pengawasan OJK jadinya tidak begitu banyak industri keuangan non bank syariah yang dikupas.

Berdasarkan buku materi training yang dibagi, sepertinya pembahasan fokus pada Industri Dana Pensiun Syariah. Namun beruntung dikelas kami sempat sedikit membahas Asuransi Syariah. Saya sendiripun sempat sharing dan diskusi diforum kelas dengan sang trainer terkait pengalaman saya sebagai pengguna instrument asuransi syariah. Suasana cukup hangat dan diskusi terus berkembang.

Sesi-sesi berikutnya kami mulai membahas terkait dana pensiun syariah. Yang paling berkesan adalah trainer terakhir, materi terakhir dan hari terakhir :). Cocok memang, mengawali kelas sesi beliau, beliau berpesan, “saya ingin kelas ini menjadi berkesan, meninggalkan kesan bagi bapak ibu terhadap saya sebagai trainer. Memang berkesan bagi kami. Betapa tidak, setelah membuka dengan khas kyai pesantren, sang trainer langsung menegur para peserta yang memilih bangku dideretan belakang untuk pindah ke bangku-bangku kosong didepannya. Mau tak mau, ibarat disuruh dosen killer, peserta yang merasa seperti mahasiswa/i pun dengan lunglai pindah ke deretan bangku depannya yang kosong. Suasana sempat tegang. Namun sang trainer yang sangat mengusai materi Dana Pensiun Syariah pun tetap enteng memandu jalannya pelatihan, walau hanya dengan duduk saja didepan, tidak berinteraksi seperti trainer yang lain. Benar-benar sesuai doa sang trainer diawal pertemuan, berkesan, killer :D.

Alhamdulillah setelah melalui serangkaian pelatihan tiga hari berturut-turut, sertifkat trainer pun kami dapat. Perjuangan mengikuti pretest dan posttest setiap harinyapun tidak sia-sia. Ada ilmu yang kami dapat, ada pemahaman baru, ada informasi baru, ada fatwa baru yang memperbaharui pemahaman kami akan keuangan syariah. Tentunya ada semangat baru untuk terus tumbuh dengan instrument keuangan syariah. Ada tanggung jawab baru untuk ikut memahamkan masyarakat. Tentunya, ada buku baru tentang tema ekonomi syariah buatan MUI Jatim yang terkenal paling tinggi literasi keuangan syariahnya itu. Semoga bermanfaat untuk umat…

 

Posted in Fenomena | Leave a comment

Selangkah demi Selangkah Menuju Nilai Tertinggi. Dari C menuju A.

Melangkah, membuat sesuatu bergerak. Mengalir membuat sesuatu tidak tersumbat. Dan menuju puncak selalu diawali dengan langkah pertama, tanjakan pertama.

Selintas, kata-kata diatas mengalir saja dalam benak saya tatkala pagi ini membaca kabar, program studi tempat saya mengabdi meraih nilai tertinggi dalam akreditasi di negeri ini, A. Rasa haru megharu biru, rasa bangga menyeruak diseluruh penjuru sel-sel tubuh. Betapa tidak, nilai inilah yang kami tunggu-tunggu dari sebalik persiapan dan usaha keras yang telah kami lakukan.

Nilai A dari akreditasi Prodi Akuntansi Politeknik Caltex Riau bukanlah sebuah capaian yang instan. Semua melalui proses. Proses panjang ini kami jalani hampir 15 tahun, alias 3 kali proses akreditasi. Melalui bejibaku yang luar biasa, akhirnya nilai A juga kami raih. Selangkah demi selangkah menuju akreditasi tertinggi A.

Masih ingat dalam ingatan saya, akreditasi pertama benar-benar akreditasi yang penuh tantangan, tahun 2009, tidak ada contoh, tidak ada panduan, tidak ada pendampingan, hanya bermodal nekat, berani, tim dengan bekal panduan umum BAN-PT dan masukan dari Direktur kala itu yang merupakan dosen Politeknik Elektronika Negeri Surabaya, Pak Dedid, borang demi borang pun terisi, dan akhirnya submit. Kala itu kami benar-benar seperti seorang petualang yang membuka jalan baru disebuah hutan yang penuh dengan semak belukar, tak ada jalan, dan tak ada petunjuk, sedangkan ujung jalan yang kami buka tidak pernah kami ketahui akan berhenti dimana.

Namun dengan semangat, dan dorongan motivasi yang kuat dari Pak Dedid, yang juga jawara pencak silat itu, semuanya dapat terlalui. Langkah pertama kami lewati, nilai akreditasi C kami dapati.

Tiga tahun berikutnya, 2012. Langkah kedua kami jalani. Berbekal semangat memperbaiki hasil akreditasi yang C sebelumnya, tiga tahun berikutnya, tanpa menunggu masa berlaku akreditasi lima tahunan, kami sepakat nekat lagi untuk mengajukan re-akreditasi. Langkah kedua ini sedikit ringan. Berbekal pengalaman akreditasi sebelumnya, walau dengan tim yang baru, seluruh langkah dijalani begitu mudah. Namun isu SDM yang kala itu masih banyak yang belum menyelesaikan S2 nya, menjadi nyata dalam penilaian. Bersyukur, kami berhasil melangkah lebih baik. Nilai Akreditasi B pun menjadi ganjarannya.

Tahun ini, 2017, tepat 5 tahun kemudian. Syukur kehadirat Yang Maha Kuasa, tahun ini kami mendapat kesempatan menimba ilmu dari beberapa asesor akreditasi nasional. Sebut saja Pak Ertambang dan Pak Suharyanto, keduanya dari UGM. Dari keduanya, kami mendapatkan banyak masukan berharga terkait bagaimana mengemas borang dan laporan. Tetap dengan modal nekat, kami terus melangkah. Alhamdulillah, langkah yang ketiga ini berkah kembali kami rasakan, Nilai akreditasi tertinggi pun diraih, A. Sebuah langkah yang benar-benar harus kami jalani dengan sabar. Dari C, kemudian B, selanjutnya A.

Tidak berpuas diri sampai disitu tentunya. Bak kata pepatah, mempertahankan itu lebih sulit ketimbang meraih. Demikian juga dengan nilai akreditasi yang didapat. Mempertahankan nilai A, seketika saja langsung memenuhi ruang pikir kami saat informasi hasil akreditasi diumumkan melalui website resmi BAN-PT. Terbayang sudah, beberapa komentar membangun dari para asesor saat visitasi yang mengkritisi mengenai peningkatan SDM, penelitian, serta prestasi, baik level nasional ataupun internasional.

Semoga, selangkah demi selangkah yang sudah kami lalui, mengantarkan kami untuk terus melangkah dan berlari, seakan kami tidak pernah melihat garis finish itu ada…

Selamat Prodi Akuntansi -Politeknik Caltex Riau, semoga berjaya….

Posted in Kisah | Leave a comment

Meneropong Surabaya dari Jaman Kolonial hingga Kini di Museum Surabaya

Memasuki pintu masuk Gedung Siola yang Museum Surabaya bertempat disalah satu sudut gedungnya membuat kita langsung yakin bahwa gedung ini begitu kuno dan bersejarah. Betapa tidak, tepat didepan gedung yang dulunya digunakan kaum sosialita Eropa untuk berpesta setiap malam itu diletakkan satu mesin uap kuno dan mobil pemadam kebakaran kuno yang pernah dioperasikan pada jamannya. Kesan kuno akan terlihat…

Namun jangan sampai terkecoh, karena sejatinya pintu masuk ke area Museum, kita harus melewati pintu dan area pelayanan SAMSAT Kota surabaya, Disduk dan lain dinas pelayanan berada diarea ini, namun tidak usah canggung, anda cukup jalan kaki aja melawati selasar pengantri yang duduk manis diruang tunggu antrian, selanjutnya belok kanan dari lorong yang terdapat arah panah menunjukkan tempat Museum Surabaya berada.

Gedung yang dulunya bernama Simpang Societet ini benar-benar luas, layaknya gedung tempat kaum sosialita eropa berhura-hura tiap malamnya, dan sepertinya hampir setiap kota memiliki gedung serupa pada jamannya. Karena luasnya, gedung ini masih kokoh dan kuat menampung beberapa lokasi bisnis, masih ada pusat elektronik, pertokoan di samping kiri kanan gedung  yang menghadap ke jalan.

Berbicara mengenai Museum Surabaya, memang sedikit aneh rasanya, sebuah museum ditempatkan dilokasi yang sama dengan satu layanan publik. Namun, justru disini cerdasnya ibu Walikotanya, ning Risma. Disadari atau tidak, minat orang Indonesia untuk berkunjung ke Museum sangatlah kecil, itupun kadang yang paling banyak berkunjung adalah pelajar yang mendapat tugas sekolah.

Dengan ditempatkannya di area pelayanan publik, saya melihat sendiri, orang yang awalnya hanya ada urusan ke Samsat jadi tertarik untuk mampir disela-sela urusannya, ataupun proses pengurusannya selesai. Sehingga tercatat banyak juga pengunjung yang datang. Terlebih, penempatan Cak & Ning Surabaya sebagai pemandunya, mempunyai daya tarik tersendiri. Karena dengan keramahan dan mental duta pariwisatanya itu benar-benar memberikan rasa kenyamanan bagi pengunjung.

Memasuki area museum, kita akan disambut oleh petugas, yang merupakan Cak & Ning Surabaya disini gerbang masuk museum. Mereka akan siap membantu jika ada hal-hal yang memerlukan penjelasan. Namun jika kita ingin mengeksplorasi sendiri, juga tidak kesulitan, karena setiap koleksi museum dilengkapi dengan keterangan yang jelas.

Saat baru melewati Cak & Ning, kita akan disuguhkan dokumentasi poto Walikota Surabaya yang pertama dari Jaman Kolonial Belanda hingga yang terakhir. Untuk mengetahui profil, dan kiprah setiap periode walikotanya, kita dapat membaca buku profil walikota yang sangat lengkap.  Sejenak memori saya waktu kecil sedikit terbuka, yang saya ingat waktu sekolah, sebelum saya memutuskan merantau ke sumatera, walikota yang sangat ingat betul namanya adalah Bpk. Purnomo Kasidi, Bpk Soenarto Sumoprawiro, serta Bpk. Bambang DH.

Melanjutkan penelusuran, berjalan kekiri, searah jarum jam, area pertama kita akan disuguhi koleksi permainan anak-anak surabaya jaman dulu, ada Dakon, Bekel, Enggrang, Karet, Neker, Gasing dll. Sejenak, saya seakan kembali ke masa kecil. Saat kami belum mengenal saluran TV kecuali TVRI, itupun layarnya dua warna, Hitam dan Putih :). Disamping area koleksi permainan kuno, terdapat satu etalase berisi berbagai piagam dan piala kehormatan yang diperoleh Surabaya.

Melanjutkan penelusuran, disamping area mainan anak, kita disuguhkan alat-alat praktikum kuno, ataupun peraga kuno yang ada disekolah-sekolah kuno di Surabaya yang sampai saat ini sekolah-sekolah tersebut masih eksis. Ada alat peraga mesin uap, alat peraga bandul fisika, volt meter kuno. Dan yang paling membuat kagum, Daftar rapot dan ijazah kuno pun masih ada.

Peneropongan kota Surabaya selanjutnya adalah area koleksi Gedung Societat. Alias gedung Siola pada jamannya. Banyak furniture, alat musik yang digunakan buat pesta pora kala itu, dan sederetan peralatan dapur, makan minum yang masih tertata rapi dilemari yang juga tidak kalah kunonya. Ada dua piano besar yang berbahan jati yang masih nampak kokoh. Untuk fungsinya belum tahu apakah masih berfungsi, karena pengunjung dilarang menyentuh untuk mengetes suaranya :). Meja dan kayu pesta pun masih terlihat kokoh, karena terbuat dari bahan kayu jati pilihan, bahkan khusus furniture pun dirancang arsitek yang sama yang merancang Gedung Societat.

Lanjut serah jarum jam, ada suguhan koleksi alat-alat transportasi yang pernah berjaya mengiringi maju pesatnya Surabaya. Yang pertama becak, kendaraan umum dengan tenaga penggerak kayuhan kaki supirnya ini sangat merajai jalanan Surabaya. Saking terkenalnya, kalau seseorang memiliki betis yang besar, selalu diidentikkan, kalau bukan tukang becak yah pemain bola :). Di pameran museum ini ditampilkan dua becak dua warna. Warna putih dikenal dengan becak malam, dan warna hitam untuk becak siang. Pewarnaan ini lebih kearah pengaturan operasional becak, karena sudah semakin ruwetnya lalulintas becak kala itu. Walaupun berdasarkan pengalaman saya semasa kecil dulu tidak ada batasan warna, ada yang merah, biru, hijau,…terserah dipemilik becak mewarnainya seperti apa. Seiring perkembangan, kendaraan ini semakin tersingkir, saat ini memang masih ada beberapa, namun sudah bukan becak tenaga betis, melainkan sudah diganti penggeraknya dengan sepeda motor yang dimodifikasi. Namun demikian, beberapa waktu masih saya jumpai becak bertenaga betis, umumnya supir becak yang sudah tua yang masih menggunakan ini. Salah satunya bisa kita jumpai di pintu air Kalimir, perbatasan antara Jagir Sidoresmo dan Jagir Sidomukti.

Kendaraan kedua yang dipamerkan adalah Bajaj, buatan India. Khusus di Surabaya kendaraan ini lebih akrab disebut Helicak, sedang orang Jakarta nyebutnya Bajai. Helicak ini sejatinya adalah pengganti becak. Namun tidak banyak yang bermigrasi ke Helicak kala itu, karena alasan penggunaan bahan bakar, ataupun izin mengemdi, yang tentunya akan menambah biaya operasional. Sistem tarifnya masih sama dengan becak, yakni sistem tawar menawar. Berbeda dengan becak, helicak mempunyai kewajiban taat lampu lalu lintas, rambu-rambu. Sedang becak, masih sah-sah saja nerobos lampu merah, menantang arus :). Mungkin ini salah satu alasan kenapa becak kala itu masih menjadi primadona, karena kepraktisan.

Jika di Jakarta, becak dibumi hanguskan menjadi terumbu karang di era modern berikutnya. Di Surabaya justru kebalikannya, becak dipertahankan, Helicak yang dilarang. Sebagai pengganti Helicak, adalah Angguna, alias Angkutan Serba Guna. Pada pameran kendaraan yang ketiga, Angguna yang benar-benar khas di Kota Surabaya masih ditampilkan dalam wujud aslinya, van tampa moncong 4 roda, type daihatsu hijet, dengan dua baris penumpang, baris ketiga disulap menjadi bak terbuka untuk mengangkut barang, dan warna kuning khasnya, serta lampu diatas atapnya yang menyerupai TAXI, namun tertulis dengan warna merah, ANGGUNA. Masih sama dengan becak dan helicak, untuk tarif, angguna masih menggunakan sistem tawar menawar. Saya masih ingat, Angguna dulu banyak ngetem di Pasar Wonokromo, menunggu para pedagang yang kulakan barang.

Satu lagi kendaraan yang ikut dipamerkan, Bemo, buatan Daihatsu. Dengan warna merah yang khas. Namun kendaraan ini kurang populer di Surabaya, sehingga masa kecil saya pun hampir tidak pernahh menjumpainya lagi.

Lanjut kesisi kanan, searah jarum jam, dipamerkan berbagai peralatan kedokteran dan kedokteran gigi yang dahulu digunakan disekolah kedokteran surabaya dan rumah sakit. Hal ini mengingat, Surabaya dengan FK Unair dan RSUD Dr. Soetomonya masih menjadi pusat ilmu medis di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara. Saya jadi paham, kenapa sepupu Istri saya yang berkewarganegaraan Malaysia itu S1 Kedokterannya di Unair.

Seiring dengan perkembangan kota yang semakin padat menuju metropolitan. Perkembangan kotanya juga dibarengi dengan perkembangan kemajuan Dinas Pemadam Kebakarannya, karena kebakaran dengan efek yang merembet dan membesar akan sangat berpotensi di kota-kota besar. Terlebih lingkungan padat penduduk. Di pameran museum, kita dapat juga menjumpai berbagai jenis pakaian tim damkar dengan berbagai peralatan yang digunakan, termasuk selang dan berbagai jenis kran. Untuk mobil damkar, bisa kita lihat langsung di area trotoar depan museum.

Dari koleksi Dinas Pemadam Kebakaran, disebelah kanannya kita akan mendapati koleksi arsip Kota Surabaya dari yang berbahasa Belanda, sampai yang berbahasa Indonesia, baik ejaaan kuno ataupun EYD. Satu yang menarik adalah mesin pencetak register nomor aset yang bentuknya sangat besar, dan itu digunakan sejak pemerintahan kolonial dulu.

Disisi kanan sebelum menuju pintu keluar, kita akan disuguhi sketsa tarian khas Jawa Timur, REMO tentunya. Tarian ini menjadi tarian khas penyambut tamu baik, di jawatimur pada umumnya ataupun di Surabaya pada khususnya. Untuk seni yang lain ditampilkan juga wayang Potehi, wayang orang, yang merupakan hiburan favorit pada jamannya.

Sebelum pintu keluar, ada maket berbagai jajanan khas Surabaya dilengkapi dengan cerita asal usulnya dan berbagai ciri khasnya. Diantaranya, ada lontong balap, pecel, tahu campur dan kawan-kawannya.

Sembari keluar, kita bisa mengisi kesan kita dibuku tamu. Menurut saya, lumayanlah, setidaknya dalam waktu singkat, setidaknya kita bisa jalan-jalan di Surabaya dari masa ke masa. Meneropong dari jaman kolonial hingga kini.

Posted in Kisah | Leave a comment

Dua Variabel Penting Saat Meneliti BEP Multi Produk

Breakeven Point atau yang sering disebut orang BEP masih menjadi topik menarik dalam pembicaraan Ekonomi Manajerial. Baik itu pembicaraan di kelas-kelas perkuliahan, riset ataupun obrolan warung kopi.

Namun tidak banyak yang menyadari kesalahan-kesalahan yang sering muncul saat menganalisisnya, walhasil akan terjadi banyak perdebatan panjang yang tiada henti akibat tidak terpenuhinya variabel-variabel penting saat menghitungnya. Terlebih kasus ini sering terjadi pada kasus BEP untuk multi produk.

Kali ini saya khusus mau berbagi tentang dua variabel penting saat BEP untuk multiple produk dianalisis. Sesuai dengan namanya, multiple produk, artinya BEP yang biasanya digunakan untuk menghitung BEP suatu produk kali ini kita gunakan untuk menghitung BEP suatu usaha yang memiliki lebih dari satu produk, minimal dua.

Kesalahan utaman dari menghitung BEP untuk multiple produk adalah justru pada titik awalnya, yakni si analis, peneliti, ataupun apapun gagal mendeteksi apakah produk yang hendak dianalisis benar-benar multiple produk. Karena konsep BEP diukur dengan jumlah unit dan satuan moneter, banyak yang beranggapan asal beda produk, sudah dianggap multiple produk. Contoh yang pernah saya temui :

Suatu perusahaan bakery di Riau memiliki produk lebih dari satu, yang katanya multiple produk. Produk itu ialah : roti isi kacang, roti isi coklat, roti isi keju, roti isi nanas, roti isi kelapa. Harga sama, dan biaya sama. Begitu data menunjukkan (sepertinya tidak ada beda, bahkan untuk isi keju atau kelapa, sama saja ? 🙂 )

Setelah lebih jauh di teliti, ternyata akibat tidak adanya perbedaan harga dan struktur biaya, walhasil, BEP untuk setiap produk, sama jumlahnya. Dengan kata lain, tidak perlu kita repot-repot menghitung BEP sebagai multiple produk, mencari WACM (Weighted Average Contribution Margin), hanya untuk menghitung BEP yang ujung-ujungnya setiap produk memiliki nilai BEP yang sama.

Untuk itu, ada dua variabel penting yang harus kita perhatikan, agar syarat “benar-benar” multiple produknya terpenuhi.

Yang pertama, Variabel Harga. Nilai harga yang sama, tidak serta merta membuat produk yang berbeda, seolah-olah dia multiple produk yang harus dihitung dengan rumus yang agak rumit tersebut. Dikatakan produk-produk itu masuk dalam kategori multiple produk jika dan hanya jika produk-produk tersebut memiliki struktur harga yang berbeda.

Yang Kedua, Variabel Biaya Variabel. Sama dengan variabel harga, Nilai biaya variabel yang sama, tidak membuat produk-produk yang berbeda tersebut langsung dikategorikan proses perhitungannya sebagai multiple produk. Produk-produk tersebut dapat dikatakan dan diproses perhitungannya sebagai multiple produk jika masing-masing produk memiliki struktur nilai biaya variabel yang berbeda.

Kedua variabel diatas harus berbeda. Jika tidak berbeda atau berbeda namun tidak cukup signifikan, dipastikan, BEP per produk akan sama. Hal ini tidak ubahnya kalo kita menghitungnya dengan rumus BEP untuk single produk bukan ? Kalau ada yang sederhana, kenapa mencari yang rumit.

Posted in Fenomena | Leave a comment

Kesamaan Mahasiswa Tugas Akhir dengan Seorang Marketing

Diakui atau tidak menjadi mahasiswa yang sedang mengerjakan Tugas Akhir memang susah-susah gampang. Banyak yang berpendapat kadang-kadang malah inti tugas akhirnya itu sebenarnya mudah, namun proses bimbingan dengan pembimbing itu yang kadang lebih ruwet ketimbang tugas akhirnya itu sendiri. Benar saja, karena dosen pembimbing itu juga manusia, mereka juga butuh dipahami :).

Kalau sudah begini, bener-bener terasa istilah, Kalau kuliah itu beda dengan sekolah, kuliah itu tidak cukup hanya mengandalkan pandai, tapi lebih dari itu, kuliah itu butuh pandai-pandai. Yah macam-macam, mulai dari pandai-pandai lihat situasi, pandai-pandai lihat kesempatan, pandai-pandai lihat kondisi dosen, dannnn…pandai-pandai lainnya lah.

Kali ini saya cukup mau membahas tentang pandai-pandai saat bimbingan tugas akhir, yang katanya bener-bener momok yang sangat mengerikan bagi mahasiswa. Kalau istilah saya sih, tugas akhir itu ibarat tembok, yahh tembok yang menghalangi perjalanan kita, kita sudah 3 tahun (D3), atau 4 tahun (D4/S1) berjalan disuatu jalan, ehhh ujung-ujungnya ada tembok yang menghalangi, mau mundur, rugi banget, mau diem aja yahh gak jalan-jalan, terpaksa, kita harus menjebol tembok tersebut. Tingkat intensitasnya macem-macem, ada yang pakai palu gada, sekali gempur jebol, ada yang pakai linggis, beberapa kali congkel baru jebol, bahkannn…adapula yang pakai sendok, korek-korek, sikit-sikit, biar lama, tembok itu jebol juga. 😀

Berpengalaman mengerjakan tugas akhir 3 kali sampai saat ini membuat sayang jika pengalaman saya tidak saya bagi kesemua pembaca. Mudah-mudahan juga menjadi amalan bagi saya dan semuanya.

Sampai saat ini saya sudah melewati mengerjakan tugas akhir 3 kali, yang pertama sewaktu menyelesaikan Diploma 1 saya dibidang Teknik Informatika, yang kedua diwaktu yang hampir bersamaan saya juga menyelesaikan S1 saya dibidang Akuntansi, dan yang ketiga sewaktu menyelesaikan Master Akuntansi.

Dari kesemua pengalaman tersebut, akhirnya saya mengambil kesimpulan, tidak ada bedanya rupanya seorang mahasiswa yang sedang tugas akhir dengan seorang marketing. Terutama saat menghadapi proses bimbingan dengan dosen pembimbing. Benar-benar harus berjiwa marketing kita. Mengapa demikian ?

Kita lihat sejenak prinsip dasar marketing. Yang pertama, marketing itu harus muka tembok, atau sebagian orang bilang muka badak. Alias tidak tahu malu, senyampang tidak malu-maluin. Jangan malu salah, jangan malu mencoba. Yang kedua, tidak ada dalam kamus seorang marketing itu kata gagal. Karena seorang marketing itu selalu mencoba, resikonya cuman dua, ditolak (coba lagi lain waktu) atau diterima. 🙂

Berikut lima perilaku marketing (http://www.marketing.co.id/5-perilaku-yang-membuat-seorang-sales-sukses/) yang harus bisa kita contoh dan terapkan sebagai mahasiswa dalam bimbingan Tugas Akhir

  1. Berjiwa besar dan berani melawan kegagalan

Hati yang luas, jiwa yang besar, sifat pemaaf benar-benar harus kita miliki jika ingin tugas akhir kita sukses. Karena dosen pembimbing juga manusia yang sama dengan kita, mereka punya aktifitas, baik itu aktifitas akademik, pekerjaan, bahkan keluarga. Bahkan, mahasiswa bimbingannya pun bukan kita saja, banyak yang harus dilayani, bisa puluhan. Wajar saja jika kadang-kadang kita ditolak untuk bimbingan, maafkan, dan coba lagi. Jangan merasa penolakan yang hanya sekali atau beberapa kali itu sebuah kegagalan tugas akhir. Contoh yang pernah saya alami, saya mau bimbingan, kata dosen, saya persiapan mau berangkat haji, saat itu saya langsung mendoakan beliau, “semoga menjadi haji mabrur ya pak”. Sepulang haji, saya temui lagi, kata beliau, saya sedang flu nih pulang haji, kembali saya doakan ” semoga lekas sembuh ya pak”. Lain waktu ada juga, “maaf ini mau long weekend, saya mau liburan sama keluarga, jadi gak bisa bimbingan”, saya doakan, ” selamat liburan ya pak”. Tidak berhenti disitu, jangan merasa gagal. Walhasil, pada beberapa kesempatan percobaan yang tidak kuasa saya menghitungnya, akhirnya tugas akhir sayapun di ACC untuk sidang. Jebol dah temboknya.

2. Selalu jeli melihat pasar dan menciptakan sebuah peluang

Sama dengan marketing, mahasiswa tugas akhir harus jeli melihat pasar dan menciptakan. Pasar disini bisa kita terapkan pada, kondisi si dosen pembimbing, apakah cukup luang untuk menerima bimbingan. Ini bisa kita terapkan dengan melihat jadwal kuliah beliau dan aktifitas rutinnya. Dengan demikian kita bisa melihat waktu-waktu tambahan yang mungkin saja bisa kita manfaatkan menambah jumlah tatap muka bimbingan kita selain jadwal reguler bimbingan yang telah dijadwalkan kampus.

3. Biasakan diri Anda menjadi seorang pemenang

Kembali kerumus kedua seorang marketing, tidak mengenal kata gagal. Yang ada hanya ditolak, itupun bisa kita coba lagi lain waktu, atau diterima. Tentu resiko kedua yang mau kita dapat. Tapi jikapun kita selalu ditolak, coba terus, namanya juga manusia, ada satu titik dimana dia akan menerimanya. INGAT, jangan pernah merasa gagal tugas akhir hanya karena penolakan sekali, dua kali atau berkali-kali.

Pada prinsipnya, kegagalan kita menyelesaikan tugas akhir juga merupakan kegagalan dosen pembimbing. Tentunya dosen tersebut juga tidak ingin gagal bukan? Nahh coba terus, pasti suatu saat nanti anda akan mendapatkan perhatiannya, di ACC, dan tembok itupun jebol juga.

4. Perluas networking

Pernah dengar SKSD, aslinya sih ini istilah untuk sistem komunikasi satelit domestik, namun untuk pembahasan kali ini kita pakai SKSD untuk istilah, Sok Kenal Sok Dekat. Nahh ini perilaku marketing yang sangat layak untuk kita tiru. Mahasiswa tugas akhir itu memang harus memperluas jaringan, termasuk kalau jaringannya gak luas, coba-coba sok luas saja, yaitu, sok kenal sok dekat. Misalnya waktu bimbingan, “pak dapat salam dari bang a, kak b, katanya dia alumni sini juga”. Dijamin, suasana bimbingan juga akan lebih cair.

Syukur-syukur, kamu teman sekolah anaknya si dosen, ponakannya si dosen atau apapun lah. Bisa juga misalnya ternyata kita rekan bisnis istri si dosen tersebut, atau teman kursus anaknya. Atau aktif dikomunitas yang sama dengan sang dosen. Yang penting cari semua kemungkinan yang bisa menyambungkan pembicaraan dengan sang dosen. Berdasarkan pengalaman, pembicaraan diluar tema bimbingan tugas akhir ternyata juga membantu tugas akhir kita lebih cepat diterima, di ACC dan jebol deh temboknya.

5. Selalu melakukan evaluasi secara rutin

Evaluasi itu penting. Termasuk mengevaluasi, mengapa tidak ada perkembangan terhadap tugas akhir kita. Atau bahkan mungkin tidak ada perkembangan dalam jumlah bimbingan dengan dosen pembimbing. Evaluasi bersama teman-teman yang senasib, alias sama-sama nyangkut didosen yang sama akan jauh lebih menguatkan kita ketimbang berjalan sendiri. Evaluasi bersama paling tidak sebulan sekali untuk terus mengasah strategi yang tepat agar bisa diterima dengan baik oleh si dosen yang nyangkut tadi. Jangan pernah kehilangan MOMENTUM. Ketika teman-teman sibuk mengerjakan tugas akhir, risau dengan tugas akhirnya, kita santai. Kalau hal ini terjadi, ketika teman-teman tadi sudah mulai menemukan jalan akhir, tembok mereka mau jebol, kita baru memikirkan dan mengevaluasi perkembangan tugas akhir, ini yang bakalan membuat kita kehilangan momentum. Ketika teman pada wisuda, kita tertinggal sendiri, akhirnya malas mengerjakan sendiri, melangkahkan kaki ke kampus pun rasanya berat.

Jadi, banyak samanya kan antara mahasiswa tugas akhir dan seorang marketing, jangan mau kalah sama marketing yah… Kata orang, Tuhan bersama mahasiswa tingkat akhir. Selamat berjuang.

Posted in Fenomena | 2 Comments