Sengeti Yang Makin Meninggi, Belilas Yang Naik Daya Belinya

Waktu menunjukkan jam 5:45, matahari nampak mulai menggeliat, hendak terbit. Mobil kamipun melaju meninggalkan Jambi menuju Pekanbaru. Usai sudah liburan lebaran kami 4 hari 3 malam di provinsi tetangga itu. Jalanan masih seperti ketika kami berangkat 4 hari sebelumnya, sepi, hanya berpapasan dengan beberapa truk sawit bersubu dua dan beberapa pemudik yang sepertinya juga sudah memasuki arus balik lebaran.

Tidak membutuhkan waktu beberapa lama kami akhirnya tiba di Sengeti, sebuah kota kecil bertetanggaan dengan Kota Jambi. Jauh berbeda, dari awal saya merantau ke Sumatera 18 tahun yang lalu, Pertumbuhan kota Sengeti ini benar-benar pesat. Banyak ruko yang sudah meninggi, dengan beberapa fasilitas kota yang lengkap, bank, dan beberapa pertokoan, tidak absen, jaringan toko kelontong nasional itu, warna strip biru, merah, kuning. Kemaren sesaat memasuki Kota Jambi, kami sempat mampir ke Sengeti, sekedar membeli minuman dan makanan di swalayan.

Perjalanan kami lanjutkan, setelah menempuh kurang lebih 4 jam perjalanan kami memasuki Provinsi Riau. Kali ini kami janjian ketemuan dengan Bang Agus, teman satu rekrutmen saya di tempat kerja. Kami sama-sama satu proses rekrutmen dulu di Pusat Jasa Ketenagakerjaan (PJK) Kampus USU, Medan. Belilas, itulah nama desanya. 13 tahun lalu saya masih merasakan hawa desanya. Listrik PLN belum masuk, walhasil jika sore menjelang magrib, lomba deru suara genset dari masing-masing rumah pun dimulai. Masuk kedalam desa, siap-siap saja terputus hubungan dengan dunia luar. Tidak ada sinyal HP. Walaupun ada beberapa warga yang kreatif membuat menara/antena tambahan sendiri, demi dilayar HP tetap muncul barisan sinyal.

Kini jauh berbeda. Belilas sudah berubah. Orang mendengar nama Belilas, sudah pasti yakin, kotanya kaya, mambu membeli apa saja, lah wong Beli Las aja sanggup :). hahaha.

Anekdot itu menjadi sebuah doa. Dandanan Kota Belilas benar-benar berubah drastis. Deretan Ruko berjejer megah, tentu saja jaringa toko swalayan nasional itu juga gak absen. Listrik PLN sudah masuk sampai ke pelosok desa, termasuk rumah Bang Agus. Sinyal HP ? gak usah kuatir ketinggalan update berita di grup WA, update instastorymu di Instagram, atau sekedar pamer foto yang gak perlu dipamerkan itu di FBmu. Sinyal masuk sampai ke pelosok Desa. Yang lebih mengejutkan, Showroom mobil dengan merk-merk terkenal pun berderet rapi. Tak jarang showroom mobil bekas juga tak mau ketinggalan. Dua Pom Bensin berukuran besarpun hadir. Daya beli masyarakatnya benar-benar meningkat. Maklum, mayoritas adalah pengusaha sawit, yang konon, dekade ini adalah dekade masa menikmati hasil kerja kerasnya selama ini. Benar-benar maju, mengalahkan Pematang Reba, yang dulu menjadi pusat jalur lintas timur dikawasan ini.

Setelah istirahat sejenak sambil menikmati secangkir kopi, sekedar silaturahmi dan menghilangkan kantuk, perjalanan kamipun kami lanjutkan tepat jam 13:30. Lalu lintas kendaraan masih cukup lengang, hanya sesekali dibeberapa ruas jalan yang terdapat tempat wisata dipinggirnya yang macet. Alhamdulillah sore hari menjelang magrib kami sudah tiba di Pekanbaru. Benar-benar perjalanan yang mengurai hikmah dan pengalaman.

Advertisements
Posted in Kisah | Leave a comment

Liburan Lebaran 1439 H, Menjajal Jalur Lintas Timur Sumatera

Sudah pernah, bahkan sering. Bukan jalan yang baru, jalan yang sering saya lewati. Namun selama ini terlena, jika boleh menyebutnya seperti itu. Terlena karena disupirin, baik itu supir bus atau supir mobil travel. Ya itu, jalur lintas timur sumatera, Pekanbaru – Jambi. Yang naik turun itu. Yang berkelok-kelok itu. Yang separuhnya beraspal, dan separohnya ber cor semen. Kali ini sedikit berbeda, saya merasakan sendiri menyupiri kendaraan sendiri, bergantian dengan istri saya terkasih.

Lebaran kali ini kami memutuskan untuk tidak “balek kampong”, baik ke Jawa Barat ataupun ke Jawa Timur. Mengingat bulan agustus kedepan kami akan ke Bandung sekeluarga karena ponakan akan menikah. Kami akhirnya memutuskan berliburan lebaran kali ini ke Jambi, ada abang istri disana. Dulunya, jalur Pekanbaru-Jambi masih dalam perbaikan, waktu tempuh untuk jarak 460 Km pun menjadi lama, belum lagi adanya pungli dari beberapa oknum pemuda yang berdalih pura-pura ikut menimbun jalan yang memang sedang dalam proses pengerjaan itu.

Kali ini berbeda. Kondisi jalan yang mulus, -info dari beberapa rekan pemudik-, membuat perjalanan Pekanbaru-Jambi menjadi lancar, membuat kami pun ingin menjajal jalur tersebut.

Rute yang cukup panjang, membuat kami harus merencanakan dengan baik setiap etapenya. Sesuai rencana kami berangkat dari rumah, di daerah Rumbai-Pekanbaru sekitar jam 03:30 dini hari. Tentu saja malamnya, yang kebetulan malam takbiran kamipun dengan sangat detail mempersiapkan, terutama bekal anak-anak yang berempat itu. Untung saja kami ditemani keponakan kami Rahma, yang sangat membantu.

Jarak dari Pekanbaru ke Jambi yang 460 Km itu kami bagi menjadi 4 etape. Etape Pertama, Pekanbaru – Pangkalan Kerinci, 75 Km. Cukup untuk istirahat sekaligus sholat shubuh di kota yang terkenal dengan industri kertasnya itu. Etape kedua, Pangkalan Kerinci – Belilas, Rengat, 136 Km. Untuk etape yang kedua ini kami berencana untuk sholat idul fitri di pertengahan perjalanan. Etape ketiga, etape melintasi batas kedua provinsi, Riau dan Jambi, Belilas – Merlung, Tanjung Jabung Barat, 142 Km. Dan etape terakhir, Merlung, Tanjung Jabung Barat-Kota Jambi, 107 Km.

Pagi benar dengan berbagai drama membangunkan anak-anak, akhirnya kami tepat berangkat dari rumah jam 03:30. Jalanan sangat sepi, sehingga kami cukup lancar mengendarai. Hanya sesekali berpapasan dan berbarengan dengan mobil pick up pengangkut sayuran yang memang memliki ritual dini hari untuk mengangkut hasil taninya langsung ke pasar.

Sholat Subuh di kota penghasil kertas

Pangkalan Kerinci, Pelalawan. Kota industri yang menjadi salah satu andalan Provinsi Riau dengan industri kertasnya itu menjadi pitstop kami yang pertama. Perjalanan dini hari menjelang subuh jam 03:30 itu menjadi menyenangkan. Jalanan sepi. Pemudik hampir rata-rata sudah tiba dikampung halaman mereka masing-masing, bertemu dengan sanak saudara, nyaris hanya kami yang menyusuri jalanan lintas timur pagi dini hari itu.

Menjelang waktu sholat subuh, kami pun sudah tiba di pusat Kota Pangkalan Kerinci, sembari terus melaju, kami mencari tempat pemberhentian untuk sholat subuh. Lewat sudah batas kota, mata kami tertuju pada Pom Bensin disini kanan, bertuliskan SPBU PT. KSO, kontan kendaraan kami arahkan memasuki areal SPBU, berharap musholanya bisa menjadi tempat sholat kami dan istirahat secukupnya untuk perjalanan selanjutnya.

Syukur alhamdulillah, SPBU itu ternyata luas banget, ada beberapa mobil pemudik lain yang juga istirahat dan nampaknya masih belum menyadari bahwa waktu shubuh telah masuk. Sembari memarkir kendaraan, ada beberapa yang menanyakan, apakah waktu subuh sudah masuk. Sudah jawab saya. Sepertinya dari posisi kendaraan, mereka adalah pemudik dari arah selatan yang hendak ke utara, arah Kota Pekanbaru, berbeda arah dengan kami.

Musholanya bersih, nampak sedang direnovasi, hanya menyisakan halaman mushola yang nampak belum selesai pembangunannya. Tumpukan tanah timbun masih nampak berserakan, namun rapi, terususun diarea yang calon halaman mushola itu. Kamar mandinya juga luas dan bersih. Selang beberapa waktu kemudian, setelah sholat subuh, perjalanan pun kami lanjutkan. Selesai etape pertama.

Me-Lirik kiri, akhirnya sholat iedul fitri di Lirik

Waktu sudah menunjukkan pukul 7:05 pagi. Kendaraan kami masih melaju menyusuri jalan lintas timur pulau sumatera itu. Sembari terus melaju, kami terus berusaha mencari tempat yang tepat untuk sholat ied. Perkiraan kami, lapangan luas, ataupun masjid. Ciri-ciri yang kami tandai, ada banyak calon jamaah yang bergerombol.

Sampai disatu kota yang merupakan salah satu situs Pertamina di Riau, mata kami tertuju, melirik, disebelah kiri jalan ada masjid. Tidak besar, namun ramai jamaah diparkirannya, khawatir semakin diteruskan perjalanan, tidak ada lapangan atau masjid untuk sholat ied, sedangkan sholat ied di Riau dimulai pukul 07:30 pagi. Kami memutuskan untuk berhenti di masjid tersebut. Persiapan sholat iedul fitri. Akhirnya sholat iedul fitri kami di 1439 H ini di Lirik.

Adzan sebelum sholat ied, itu Budaya disini

Berjalanlah, maka engkau akan mendapatkan ilmu baru. Rasanya kalimat ini benar-benar mengena. Masjid tempat kami “mampir” sholat ied, mempunyai sedikit keunikan. Keunikan ini yang menguji kemampuan saya untuk mengolah jawaban.

Seperti pada pelaksanaan sholat ied pada umumnya, panitia, biasanya diwakili oleh ketua pengurus masjid menyampaikan beberapa pengumuman, termasuk pengumuman keuangan masjid selama ramadhan. Sampai disitu belum terlihat keunikan, atau perbedaan dengan pelaksanaan sholat ied pada umumnya.

Segera setelah ketua pengurus menyampaikan pengumumannya, salah satu petugas mengumandangkan adzan, kontan Mas Farish, Aa Nadif dan Si Abang Fathan celingak-celinguk nampak kebingungan, ritual apa ini ? Saya juga bingung.

Kontan saja anak-anak bertanya, ” Ayah..kok pakai adzan sebelum sholat ied ?” Setelah celingak-celinguk kanan kiri, melihat reaksi jamaah lain yang berada disamping saya, dengan pelan dan hati-hati saya jawab, ” Udah gapapa, ini budaya disini”

Syukur anak-anak tidak melanjutkan lagi pertanyaannya.

Sekitar 1 jam juga kami sholat ied di Masjid itu sekaligus istirahat. Setelah menyempatkan sarapan di halaman masjid dengan rendang dan opor bekal kami dari Pekanbaru, perjalanan pun kami lanjutkan. Hendak menyelesaikan etape berikutnya.

Test Drive jalur lintas, separuh aspal separuh cor semen

Mendekati tengah hari, perjalanan kami sudah melewati 1 Kota , 2 Kabupaten. Kota Pekanbaru, Kabupaten Pelalawan, dan Kabupaten Indragiri Hulu. Kabupaten Indragiri Hululah yang berbatasan langsung dengan provinsi Jambi. Melewati pinggiran Taman Nasional Bukit Tigapuluh, kemudipun beralih ke ibunya anak-anak. Sembari test drive jalur lintas, juga sekedar memberi saya kesempatan istirahat.

Dulunya jalur ini termasuk jalan lintas yang rusak parah, sampai akhirnya direnovasi dengan dengan pengecoran dibeberapa titik. Hasilnya, jalur tampak warna warni, terkadang aspal, terkadang jalanan keras khas beton, cor semen. Nampak jelas suara ban ketika menapaki dua jenis jalan ini yang berbeda, terdengar halus di aspal, dan kasar di semen. Namun saya mendapati ibunya anak-anak nampak menikmati testdrivenya. Masih dengan arus lalu lintas yang terhitung sepi.

Yang perlu diwaspadai adalah jalanan saat memasuki Provinsi Jambi. Masih jalanan pinggiran Taman Nasional Bukit Tigapuluh. Taman Nasional itu sendiri membentang dari utara ke selatan menempati wilayah dua provinsi, sebagian wilayah Provinsi Riau dibagian utaranya, dan bagian selatannya masuk dalam wilayah Provinsi Jambi. Jalanan memasuki Provinsi Jambi berkelok-kelok. Beberapa kali saya terus mengawal dan memperingati ibunya anak-anak agar tetap di lajur kiri saat ditanjakan dan ditikungan, juga terus mengurangi kecepatan jika menikung. Perlahan dengan laju yang cukup, akhirnya target test drive 50 Km pun terpenuhi. Selanjutnya kemudipun beralih kembali ke saya.

Sampai di Merlung, kota kecil di Provinsi Jambi ini, kami singgah di sebuah masjid yang nampak unik, dengan menara berbentuk permen-permen yang manis. Benar adanya, masjid ini baru, dan luas. Kami akhirya istirahat sholat dhuhur dan ashar disitu, sembari istirahat.

Sengeti yang semakin meninggi, Cat merah spesial untuk sepeda motor.

Sudah masuk etape terakhir. Sudah dekat dengan Kota Jambi, tujuan kami. Menjelang ashar, kami sudah tiba di Sengeti. Sebuah kota kecil di Jambi yang semakin maju, semakin ramai, juga semakin meninggi. Banyak ruko di kanan kiri jalan utamanya. Meninggi juga arus volumen kendaraan yang lalu lalang. Menurut saya, inilah kota yang teramai kami jumpai setelah memasuki provinsi Jambi sebelum masuk Kota Jambi.

Ramainya arus kendaraan, kendaraan kamipun sedikit perlahan menyusuri jalanan Kota Sengeti, sampai akhirnya kami meninggalkannya. Lanjut perjalanan menuju Kota Jambi.

Sekira pukul 17:00 sore, kamipun sudah melintas Jembatan Aur Duri, tandanya kami sudah memasuki Kota Jambi. Sembari sesekali menyiapkan GPS, kamipun menuju Kelurahan Pasir Putih, tempat abangnya ibunya anak-anak bermukim, tempat wak nya anak-anak.

Ada yang baru dijalanan Kota Jambi, yang belum pernah kami dapati di Pekanbaru. Sepeda motor mendapat tempat spesial di persimpangan Lampu Merah di kota ini. Di beberapa pemberhentian lampu merah, ada area jalan yang dicat warna merah, dengan logo sepeda motor warna putih. Bagi pengendara roda empat, harus waspada dengan area ini. Ketika lampu merah menyala, pengendara roda empat diwajibkan berhenti tepat dibelakang area ber cat merah itu, jika menapakinya, sudah dipastikan kena tilang. Hanya pengendara roda dua yang diperbolehkan berhenti menunggu lampu hijau menyala diarea itu. Benar-benar istimewa untuk pengendara sepeda motor. Kabarnya baru setahunan ini aturan itu berlaku di Kota Jambi. Memang tidak semua lampu merah ada tanda itu, namun ada baiknya kita tetap waspada.

Alhamdulillah, menjelang, magrib kami pun tiba di rumah waknya anak-anak. Terhitung perjalanan diluar waktu istirahat sekitar 10 jam. Syukurnya anak-anak menikmati, tidak ada rasa lelah menghinggapi. Arus pulang balik ke Pekanbaru, akan saya ceritakan kemudian…

Posted in Kisah | Leave a comment

Ide Kreatifitas Mahasiswa : Dari perilaku ibu-ibu hingga ujian itu bukan ulangan.

Hari senin kemarin saya dan sembilan rekan yang lain mendapat kesempatan mengikuti pelatihan pembimbingan program kreatifitas mahasiswa. Kegiatan pelatihan yang diisi oleh pembicara Prof. Sundani Nurono Soewandhi dari Sekolah Farmasi ITB itu dilaksakan dikampus tetangga kota kami, STIKES Hang Tuah Pekanbaru.

Sudah bisa ditebak, karena panitianya kampus dibidang kesehatan, tamu undangan yang lain lebih banyak dari kampus di bidang kesehatan, termasuk pak Profesor sendiri yang ahli farmasi. Mungkin lantaran kampus kami politeknik yang penyebutannya mirip poliklinik juga akhirnya “terundang” :).

Syukurnya, kamipun mendapatkan banyak pencerahan berita terupdate dari program kreatifitas mahasiswa, PKM, yang didanai DIKTI itu.

Dengan pembawaan yang segar, dan penampilan yang enerjik dan tampak senantiasa lebih muda, Prof Sundani membawa materi yang cukup dinikmati semua peserta yang ada.

Diawal sesi, Prof Sundani yang konon kelahiran 1953 itu memberikan pencerahan terkait asal muasal ide kegiatan PKM itu ada di DIKTI. Salah satunya adalah DIKTI ingin mencipatakan manusia lulusan perguruan tinggi yang tidak bermental pengemis. Yang jagonya membuat proposal untuk mengemis, dengan wajah melas. Prof pun menyindir perilaku pejabat dan pengelola negeri ini yang masih memiliki mental seperti itu. Tidak..tidak mau, sang Prof berujar, tidak mau hal itu akan menjadi pelajaran turun temurun ke anak didik. Dengan mengikuti PKM, mahasiswa akan terlatih menulis proposal programnya dengan baik, jelas, dan elegan, tidak memelas. Dengan sendirinya akan melatih mental mahasiswa yang lebih kuat, bukan mental pengemis tadi. Ditambahkan olehnya, dengan pengamatan, akan didapat perbedaan kematangan berpikir antara mahasiswa alumni program PKM dan mahasiswa yang tidak pernah mencoba mengikuti PKM pun. Namun sayang, data feedback dari kampus mengenai anak didiknya yang alumni PKM itu tidak ada, terutama terkait bagaimana survival mereka didunia kerja.

Disela-sela waktu istirahat sholat dhuhur dan makan siang, kebetulan saya berpapasan dengan Pak Prof dilorong tempat sholat yang disediakan panitia. Tidak menyia-nyiakan kesempatan langsung saja saya berkenalan. Menarik, ternyata mendengar nama saya dari politeknik, beliau pun langsung nyambung. Pak Prof berujar bahwa dia dulu juga ikut membidani lahirnya politeknik-politeknik di Indonesia,.. luar biasa, ketemu founding father gumamku.

Cerita dilorong pun berlanjut, Pak Prof banyak berharap dari politeknik dapat lebih banyak berkolaborasi dengan kampus-kampus dibidang kesehatan, karena ide dari bidang kesehatan dengan segala permasalahannya banyak solusinya ada di politeknik, dan itu bisa diangkat menjadi ide PKM, ujarnya semangat.

Tanpa berpikir panjang, langsung saja obrolan saya ikat, ” wahh menarik prof..” ujarku. Alih-alih sambil masuk ruangan pelatihan kembali, Prof pun kami perkenalkan dengan teman-teman delegasi kami dari politeknik. Obrolan pun berlanjut seru..yah.. dengan tetap sambil berdiri memutari meja bundar kami..stand-up discussion..mungkin itulah namanya kalau tidak pantas disebut stand-up meeting 🙂

Banyak yang kami diskusikan, itu berarti banyak juga ilmu yang kami dapat langsung dari beliau, lebih dari kesempatan sesi tanya jawab dipelatihan itu. Dengan semangat yang masih membara, enerjik, dengan wajah yang masih terlihat lebih muda dari usianya, pak Prof antusias menjelaskan setiap pertanyaannya kami. Beberapa hal berikut ini yang berhasil saya rangkum.

PKM Politeknik itu dekat dengan bidang kesehatan.

Mendengar pernyataan ini, kami pun memperkenalkan dua rekan kami yang memiliki interest pada bidang bio medik, ada Bu Made dan Bu Yuli. Pak prof mencontohkan yang pernah dilakukan mahasiswa PENS. Ketika salah satu temannya sakit dan dirawat di salah satu rumah sakit di Surabaya mereka menjenguk. Nahh saat menjenguk itu mereka mendapatkan ide PKM terkait sensor pengaturan udara dalam selang infus. Menarik… Bakal banyak nyawa dapat terselamatkan dari kelebihan kandungan udara dalam pembuluh darah.

Politeknik lebih menarik fokus PKM nya maintenance dan repair, daripada membuat alat baru.

Kali ini pak Prof yang juga reviewer nasional PKM itu  mengungkapkan pendapatnya berdasarkan pengalaman dilapangan, bahwa sering didapati alat-alat yang telah diciptakan dunia industri besar itu sudah canggih, namun jika ada permasalahan, langsung mangkrak. Jadi ide PKM tentang maintenance, repair dan optimasi lebih menarik untuk disetujui menurut pak Prof.

Dosen dan Mahasiswa harus terjun langsung menjumpai masyarakat, yang calon mitra PKM itu.

Pak prof menjelaskan, ide PKM itu tidak ada diruang kuliah, ruangan dosen yang sejuk dan nyaman dengan ac-nya itu, bukan juga dari buku. Namun ide itu ada dimasyarakat, dipelaku usaha, ataupun dikelompok sosial kemasyarakatan. Jadi dosen dan mahasiswa diharapkan langsung terjun kemasyarakat, lihat langsung permasalahan mereka.

Trik mendekati masyarakat.

Masyarakat adalah orang-orang yang lebih hebat dari dosen dan mahasiswa dalam urusannya. Jangan pernah datang dan langsung menggurui dengan segudang teori yang kita dapat dari dunia pendidikan. Karena yang akan didapat bukannya malah kesediaan bekerjasama dalam PKM, namun penolakan.

Disini pak Prof membagikan triknya.

Yang pertama, tetap hargai, bahwa mereka sudah bertahun-tahun berkecimpung didunia usaha mereka, bahkan ada yang sudah puluhan tahun.

Yang kedua, jangan pernah bermain langsung, menembak langsung, yuk jadi mitra PKM kami, ini salah, itu salah, harusnya begini, begitu bla..bla.,,bla. Gunakan teknik pendekatan sosial, misalnya calon mitra kita adalah pengusaha martabak, untuk awal perjumpaan, belilah produknya. Beberapa hari kemudian, belilah lagi. Sampai calon mitra tersebut kenal dengan kita. Selanjutnya belilah lagi, nahh disaat inilah kita bisa ngobrol santai, dan mengorek keterangan dan permasalahan yang ada, sehingga muncul ide. Selanjutnya penawaran menjadi mitra PKM akan sangat jarang tertolak.

Yang ketiga, cari orang yang dikenal baik oleh si calon mitra untuk melakukan pendekatan, agar kita mendapat kesan sebagai orang baik, tidak berniat aneh-aneh ketika datang, apalagi dituduh minta sumbangan atau pajak preman. Seloroh Pak Prof, apalagi dosen itu wajahnya melas, pasti yang ada dalam pikiran masyarakat, wahhh mau minta sumbangan apa nih orang :). Menurut prof, teorinya, setiap kawan baik pasti akan mengenalkan seseorang dengan orang yang baik.

Mendengar penjelasan inipun, kami manggut-manggut dan semangat untuk langsung mempraktikkannya. Yahh mempraktikkannya langsung, jatuhlah pilihan, kabarnya mau langsung datang ke sentra empek-empek dan tekwan yang ada dijalan SM. Raja itu. Namun apa daya, diperjalanan sudahlah macet, dan terlalu sore, hampir magrib, kamipun membatalkan praktik saran dari prof Sundani yang satu itu. Mungkin lain kali yah…

Perhatikan nalar masyarakat calon mitra.

Pak prof mengingatkan, bahwa masyarakat itu terdiri dari berbagai strata pendidikan. Menurut pak prof, strata pendidikan itu linier dengan nalarnya. Jadi kita perlu berhati-hati ketika menjelaskan program dan rencana PKM kita pada calon mitra. Agar terjadilah, ibaratnya, tutup ketemu botol, maka perhatikan nalar calon mitra, gunakan pendekatan sesuai dengan nalar yang dapat dijangkaunya.

Skema PKM jangan salah kamar.

Ini penting. Karena banyak proposal PKM yang langsung direject reviewer. Hanya cukup melihat judul dan skemanya yang tidak cocok, review tidak akan dilanjutkan, dan proposal otomatis ditolak. Dalam PKM yang dibiayai DIKTI memang banyak skemanya. Kita harus hati-hati. Pak Prof mencontohkan, ada sebuah proposal yang katanya PKM-KC, yang outputnya harusnya buat alat untuk dijual ke industri, setelah dicek ternyata dari judul dan isinya hanya membuat alat untuk mengatasi masalah pada perusahaan X. Tidak layak dipasarkan. Ini harusnya PKM-T. Jadi jangan salah kamar lagi.

Perilaku ibu-ibu/mamak-mamak, bisa jadi bahan ide PKM.

Sudah tidak asing lagi bagi kita, perilaku mamak-mamak yang lucu, simple, pingin praktis yang membuat geli kita. Tak jarang masuk dalam ide para pembuat meme kocak. Jangan mau kalah, ternyata perilaku mamak-mamak juga bisa jadi bahan ide PKM lho..

Pak prof mencontohkan ada proposal yang bercerita akan menciptakan alat pengiris tempe dengan sensor tertentu sehingga ketebalan, lebih cocok ketipisan, tempe menjadi standar. Sehingga sangat cocok untuk industri keripik tempe yang menuntut ketebalannya super tipis itu, biar kriuks.. Ini berasal dari ide mamaknya yang sedang beraksi memotong tempe didapur.

Kontan saja, Pak Tata, Abu Aqeel, rekan saya yang enginer itu, yang pernah training di Kanada beberapa bulan itupun berseloroh, wahh perilaku mamak-mamak yang ngidupin lampu sen kiri tapi belok kanan itu bisa juga jadi bahan ide PKM 🙂

Dengan PKM lebih bermakna nilai seorang dosen

Prof sundani berujar, anda-anda yakin jika mahasiswa anda pernah mendoakan anda semua? yang ada mungkin ngutuk-ngutuk, soal ujiannya sulit banget. Coba jika salah satu tri dharma, yakni PKM itu kita tingkatkan, nilai anda sebagai seorang dosen akan lebih bermakna. Mahasiswa juga akan lebih memiliki nilai dimasyarakat sebagai kaum intelektual. Bonusnya, anda semua akan banyak didoakan oleh masyarakat. Sambungnya.

Memang benar ada tiga dharma dalam profesi dosen, pendidikan, penelitian dan pengabdian. Namun Prof Sundani menyatakan, bahwa dari pengalaman beliau, beliau lebih enjoy menguatkan sisi PKM nya, ketimbang yang lain. Pantas tampak awet muda dan enerjik,…gumam saya.

Diakhir-akhir stand-up discussion, mungkin itu istilahnya bagi saya, Pak Prof juga mengungkapkan fenomena kemunduran daya juang mahasiswa. Menurut beliau ini disebabkan karena negara kita berutang ke dunia luar, dan dunia luar tuntutannya tinggi dalam dunia perguruan tinggi. Ketepatan waktu lulus, IPK lulusan dan lainnya yang membuat dosen saat ini lebih dituntut menjadi “orang baik” yang gampang kasih nilai tinggi, ketimbang “pendidik yang baik” yang benar-benar memberikan nilai sesuai dengan hasil terbaik mahasiswa. Hasilnya, nilai IPK yang tinggi dan ketepatan lulusan yang meningkat, bisa disebut sebagai buah hasil dari daya paksa sistem institusi.

Beliau mencontohkan di ITB, saat ini Pak Prof heran, betapa banyak dan mudahnya IPK mahasiswa 3, .. keatas. Sedangkan dulu, 2,7 keatas saja sudah bangga, dan benar-benar hebat. Ini semua karena paksaaan institusi yang didorong oleh utang luar negeri. Kita dipaksa membuat Ulangan saat UTS dan UAS, yang seharusnya Ujian. Kalau ulangan, itu yang kita ajarkan kita tanya ulang di ujian. Kalau ujian ya harus penalaran dan pengembangan dari yang kita ajarkan dong, demikian Pak Prof masih antusias menjelaskan. Hasilnya, IPK 3,… keatas tidak menjamin alumni itu mampu menghadapi dunia pekerjaan yang sesungguhnya,…

Sambil manggut-manggut, kami semua coba meresapi dan membandingkan apa yang diungkapkan pak Prof dengan apa yang kami alami diinstitusi kami, yang kami ini termasuk dosen-dosen yang dapat rapor merah dari Kaprodi kami masing-masing lantaran memberikan nilai D/E mahasiswa dengan jumlah yang dianggap melampaui “plafon” yang telah ditetapkan kampus… 🙂

Wallohu a’lam

Posted in Kisah | Leave a comment

Ketika Akuntansi Hanya Dinilai dengan Sebuah Pensil dan Penghapus

Entah mengapa saya pingin sekali menceritakan kisah ini. Yang jelas ketika membaca artikel hasil penelitian PWC, salah satu KAP big four dunia itu, tentang Industry 4.0. Sontak, saya jadi teringat dengan suatu kisah yang menurut saya cukup getir dan kecut, mengenai SDM kita, ya.. Bangsa Indonesia ini yang kita banggakan, ternyata masih jauh dari harapan. Bukan ilmunya, tapi mentalnya…

Bagi saya sendiri, ada baiknya saya sarankan teman-teman pembaca juga membaca hasil riset PWC tersebut, dijamin bagus, diakui sebagai riset tentang Industry 4.0 terlengkap saat ini. Gimana tidak, melibatkan lebih dari 2.000 responden, di 26 negara seluruh dunia dengan background berbagai sektor bisnis. Dijamin gak kecewa…

Balik lagi pada kisah yang mau saya ceritakan. Kisah ini terjadi ketika saya masih menjabat Ketua Program Studi Akuntansi di kampusku. Dalam suatu rapat akademik, yang dihadiri seluruh ketua jurusan dan ketua program studi, pimpinan unit, para pembantu direktur dan direktur  itu sendiri sebagai pimpinan tertinggi dalam rapat.

Disuatu sesi rapat, masuklah pembahasan kami pada suatu agenda rapat, cek kesiapan seluruh laboratorium, sebelum memasuki semester baru. Karena laboratorium pengelolaannya dibawah Jurusan/Program Studi, maka yang melaporkan adalah ketua jurusan/ketua program studi, termasuk saya. Satu persatu seluruh ketua jurusan memberikan laporannya terkait persiapan laboratorium. Nampak mimik para pimpinan rapat sangat serius menyimak setiap laporan ketua jurusan, sambil sesekali memberi komentar dan solusi jika ada hal-hal yang terlihat belum fix. Dari jurusan komputer, dengan semangat melaporkan kesiapan komputer-komputer canggihnya, aplikasi-aplikasi ampuhnya. Disambung dengan antusias dari jurusan elektro melaporkan kesiapan alat-alat digital mutakhirnya, dan berbagai komponen elektronikanya yang printil-printil, ditambah dengan laporan kesiapan mesin-mesin praktikum industri yang konon harganya ber M-M an itu.

Tiba giliran saya, melaporkan kesiapan laboratorium yang berada dalam naungan jurusan akuntansi dan bisnis, konon mereka menyebutnya seperti itu…

Baru saja, saya membuka lembaran catatan saya terkait persiapan laboratorium, baru saja saya menarik udara dalam hidung, untuk persiapan laporan, keluar suara dari pemimpin tertinggi rapat itu …

“jadi gimana akuntansi, pensil dan penghapusnya sudah siap …? ”

Diikuti gelak tawa darinya, dan diikuti ketawa ngakak dari semua peserta rapat. Tentunya kecuali saya. Dengan cepat saya hembuskan kembali udara yang sempat saya hirup tadi. Dan saya memilih diam. Saya merasa dibully... keilmuan akuntansi merasa dilecehkan, hanya dinilai dengan sebuah pensil dan penghapus.

Melihat saya yang memilih diam, seorang Kabag yang kebetulan duduk disamping saya, memilih berbicara..

” jangan seperti inilah (sikap kalian), kalau tidak ada akuntansi, kampus kita tidak akan jalan keuangan, tidak akan mendapat opini audit yang baik..”

Saya masih memilih diam, dan urung melaporkan apapun kesiapan laboratorium dibawah kelola saya. Hingga suasana rapat menjadi sunyi, dan sipemimpin rapat pun berujar..

“baik..agenda berikutnya..”

Saya pribadi, sangat berterima kasih dengan bapak kabag yang ada dikanan saya saat itu, cukup menguatkan. Masih ada orang yang punya rasa penghargaan terhadap orang lain, terhadap keilmuan orang lain.

Kini, program studi akuntansi dikampus saya, suka atau tidak, membuat bahagia orang atau tidak, disenangi atau tidak, sudah terakreditasi A.

Membaca artikel riset PWC, yang Kantor Akuntan Publik big four dunia itu, tentang industry 4.0. Menyebutkan, bahwa tata kelola yang paling utama perlu disiapkan adalah people baru digitasinya kemudian. Yahh SDM nya,  kalau masih beranggapan terhadap suatu keilmuan itu tertinggal, kuno, sepele, dan remeh.. dengan sendirinya dia tidak akan bisa mengembangkan keilmuan yang dia kelola, yang ada dan termasuk dalam kepemimpinannya.

Begitu juga akuntansi, jika kita masih sama dengan pimpinan rapat itu, yang masih menilai akuntansi hanya sebatas pensil dan penghapus, tentunya akan sulit kita mengembangkan, apalagi ikut bertransformasi dalam geliat industry 4.0.

 

Posted in Kisah | Leave a comment

Respect Jaman Now

Pernah tidak kita mendapati adegan-adegan berikut ini dikampus atau ditempat kita bekerja :

Adegan 1 :

Sekumpulan mahasiswa yang sedang menunggu dosen matakuliahnya sedang duduk-duduk diselasar kelas. Lantas lewatlah sang dekan, kajur atau bahkan kaprodinya, atau siapapun pejabat kampus. Nampak mereka biasa saja, dan hanya menyapa sekenanya, itupun kalau ditengokin terus 🙂

Adegan 2 :

Masih dengan sekumpulan mahasiswa yang sama. Namun kali ini yang lewat adalah dosen biasa, tidak menjabat apapun, tapi senantiasa memberi motivasi dan kenyamanan mahasiswa dalam berkonsultasi, menyelesaikan masalah mereka dll. Nampak mereka sangat antusias menyapa, bahkan tidak jarang mereka berdiri dari tempat duduknya dan bertegur sapa.

Kontradiktif dengan  adegan ke 3 dan 4 berikut ini :

Adegan 3 :

Seorang dosen biasa, tidak menjabat apapun, datang ke bagian administrasi. Kemudian meminta tolong sesuatu, misalkan fotocopy soal ujian. Dengan serempak bagian administrasi yang bertugas menjawab, ” Fotocopynya sebelah sana pak, kertasnya disana ..”

Adegan 4 :

Situasi yang masih sama dengan adegan 3. Namun kali ini yang minta tolong Dekan, Kajur, atau Kaprodi, atau pejabat kampus lah. Dengan serempak bagian administrasi menyambut menghampiri, melepas headsetnya yang sedari tadi digunakan mendengar musik dari chanel youtube kesukaaannya, sambil berdiri dari kursi kerjanya yang empuk, berujar, ” Mana pak yang mau difotocopy, berapa rangkap? sini biar saya bantu..”

Begitulah memang. Dalam adegan 1 dan 2, kita bisa mengambil pelajaran. Saat ini, era jaman now, yang katanya remajanya adalah para Generasi Z. Mereka memiliki jiwa lebih kesatria menurut saya. Bukan kesatria baja hitam yahh,, 🙂

Anak-anak sekarang lebih memilih akan respect terhadap siapapun yang memberi nilai / value dalam kehidupannya, istilah di ilmu ekonomi namanya Value Added. Tidak peduli apakah mereka pejabat atau tidak dilingkungannya. Siapapun selama orang tersebut memberi nilai tambah bagi mereka, akan mendapatkan respect yang pantas jaman now. Walaupun nilai-nilai seperti ini sudah ada dari dulu. Namun karena kontaminasi kepentingan, budaya transaksional, akhirnya kita yang generasi sebelumnya terlatih “ngatok” kepada pejabat. Sebagai buktinya, banyak diantara kita dahulu waktu kuliah pasti lebih respect sama yang namanya pejabat kampus, hormat karena takut, hormat karena ada maunya. Bener-bener tidak mendidik…

Adegan ke 3 dan 4 menunjukkan, begitulah jika halnya kita masih menganggap hanya pejabat yang harus kita hormati, harus kita layani, harus diutamakan, karena sistem respect yang dibangun dari dalam diri masih sistem yang lama. Betapa banyak generasi angkatan sebelum Z kita dapati masih sering menyebut, itu kan pak kepala, dia kan bu pimpinan, dll untuk menganalisis tingkat layanan yang akan diberikan.

Yuk ubah sistem respect kita, biar gak ketinggalan dengan anak-anak Jaman Now.

Note :

  • Tulisan ini diilhami pelatihan : Mendidik Mahasiswa Djaman Now, by Pak Lukito (UGM)
  • Seluruh adegan hanya rekaan si penulis berdasarkan kisah masa lalu 🙂
  • Ngatok (Bahasa Jawa, pen) : Diartikan orang yang akan memberi hal yang terbaik terhadap orang yang dianggap bisa menolong dalam urusannya yang pragmatis, biasanya kepada pejabat diatasnya. Bahasa kasarnya : Menjilat.
Posted in Fenomena | Leave a comment

Piknik, pindah makan ke Desa Gema dan Desa Teluk Jering

Akhir tahun yang lalu kami sekeluarga memutuskan menghabiskan cuti akhir tahun untuk eksplorasi wisata alam disekitar Kota Pekanbaru. Jenis pilihan wisata kami pun jatuh kepada pilihan, piknik, alias pindah makan. Dua tempat yang menjadi tujuan adalah Desa Gema dan Desa Teluk Jering, keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan satu sama lainnya.

Sungai landai di Desa Gema Camping Ground

Dengan kendaraan bermotor, jarak  Desa Gema yang 107 Km itu dapat kita tempuh sekitar 2,5- 3 jam.  Melewati wilayah Sungai Pagar membuat perjalanan yang cukup jauh tersebut jadi tidak membosankan. Dikanan kiri jalan kita akan disuguhi rindangnya perkebunan kelapa sawit dan karet. Tidak jarang juga penduduk lokal menjajakan aneka hasil kebunnya, terutama durian. Durian khas Kab. Kampar ini memiliki citarasa yang unik, dagingnya tebal, bijinya kecil, jadinya puas memakannya.

Selain itu, banyaknya masjid bak ribuan dengan tampilan yang indah, maka tak ayal lah Kampar ini juga disebut dengan Serambi Makkah nya Riau. Semoga banyak juga yang yang meramaikan masjidnya dengan sholat wajib 5 waktu.

Tidak jauh dari Tugu Katulistiwa, sebelum Jembatan Kembar, disebelah kanan, kita akan mendapati papan penunjuk arah menuju desa Gema. Agak jauh memang dari jalan lintas Kampar-Kuantan Singingi. Masuk dari simpang sekitar 25 Km. Namun tidak usah kuatir bosan, pemandangan kanan dan kirinya juga tak kalah menarik. Hamparan ladang dan sungai juga menghiasi.

Memasuki gerbang Desa Gema Camping Ground, kita langsung disuguhi lapangan rumput hijau membentang yang langsung berhadapan dengan bibir sungai, jernih dan menyegarkan. Lapangan rumput yang sangat rapi itu merupakan area kemping. Terbagi menjadi 3 area, kanan , tengah dan kiri. Setelah mengelilingi area camping ground kami memutuskan untuk menggelar karpet piknik kami diarea tengah, untuk lebih mudah menikmati seluruh pemandangannya.

Karena hari cukup terik, kami memilih menggelar makan siang kami tepat dibawah pohon, sejuk dan menyenangkan. Anak-anak tampak tidak sabar untuk segera mandi ditepian sungai, namun sekali lagi, saratnya, makan siang dahulu dan harus habis 🙂

Setelah makan siang,  kamipun bergeser ke area kanan camping ground. Area ini sangat sesuai jika kita bermain air. Landai, dan sungainya yang penuh dengan bebatuan juga sangat jernih. Bebatuan bulat dan tidak tajam membuat berendam didalam airnya jadi nyaman. Namun toh demikian, kita harus tetap waspada menjaga anak-anak. Aliran sungai Sobayang yang cukup deras bisa-bisa menyeret kita hingga tak tahu ujungnya kemana .

Waktu kami berkunjung kesana sepertinya tidak banyak orang yang juga berlibur. walhasil sepi, justru camping ground ini seperti punya pribadi. Anak-anak bebas bermain air sepuasnya.

Asyik memang, kamipun jadi pingin kesini lagi, tentunya dengan persiapan yang lebih matang, tidak hanya sekedar piknik, pindah makan, kami juga mau pindah tidur, alias bawa tenda dan kemping. InsyaAlloh.

Bermain pasir pantai di teluk Sungai Kampar

Dihari berikutnya, kami mengulang piknik pindah makan. Namun kali ini kami mencoba sesuatu yang lain. Pindah makan kali ini bukan makan siang, melainkan pindah sarapan, wal hasil kami harus berangkat pagi-pagi sekali. Berjarak sekitar 26 Km dari Pekanbaru, kami memutuskan berangkat dari rumah sekitar jam 6:00 pagi.

Tidak jauh memang, namun dengan berangkat pagi-pagi sekali kami berharap area lokasi Teluk Jering Camping Ground masih steril, sepi, jadi anak-anak bisa bermain bebas bak pantai pribadi.

Setelah memasuki jalan tanah, kurang lebih 3 Km dari simpang jalan lintas Pekanbaru-Kampar, sampailah kami di Desa Teluk Jering. Penduduk yang ramah mengarahkan mobil kami parkir ditempat yang telah ditentukan. Berbeda dengan di Desa Gema  yang mobil dapat parkir langsung di area Camping, lantaran jalan yang cukup terjal dan curam, di Desa Teluk Jering ini mobil agak jauh parkirnya dari area camping ground. Selebihnya kita teruskan perjalanan dengan berjalan kaki.

Tidak banyak pembagian area kemping, sekitar dua area padang rumput yang ready sebagai tempat kemping. Namun tidak usah kuatir, setiap areanya sangat luas. Tepat didepan area kemping utama, disitulah terletak hamparan pasir, yang mirip dengan pasir pantai. Lepas sarapan, tentunya anak-anak langsung bermain pasir dan mandi dipinggiran pantainya. Benar memang, karena masih sepi, pantai tersebut bak pantai pribadi.

Bagi yang tidak membawa makanan dan minuman sepertinya tidak perlu kuatir, karena banyak sekali penjaja makanan diarea ini dari penduduk lokal. Dan yang paling mengejutkan adalah harga makanan dan minuman, yang sangat wajar, murah, seperti harga diwarung dekat rumah. Contohnya saja, harga makanan ringan, yang masih ada 500 rupiah, persis kayak diwarung.

Sampai pengunjung sudah mulai ramai berdatangan, itulah saat kami untuk beranjak pulang. Sama dengan Desa Gema, insyaAlloh dilain waktu kami mau kemping disini.

 

Posted in Kisah | Leave a comment

Menikmati Paket Lengkap Wisata Pantai Ocarina Park Batam

Beberapa pekan yang lalu kami sekeluarga memutuskan untuk sejenak berlibur ke Singapura. Negeri tetangga itu. Namun untuk menghemat biaya penginapan, kamipun memilih Batam sebagai tempat transit sebelum lanjut ke Singapura menggunakan kapal ferry.

Alih-alih transit, kamipun juga mencoba memanfaatkan keseruan wisata pantai kota Batam. Setelah melalui review yang sangat panjang dengan istri, karena untuk mencocokkan pantai yang tepat untuk liburan sekeluarga, akhirnya pilihan kami jatuh di Pantai Ocarina.

Pagi itu, 12 November 2017, setelah kami sarapan di apartemen yang kami sewa untuk 3 malam itu, kami pun meluncur menggunakan go-car. Sebagai catatan kami, menggunakan go-car di Batam sangat nyaman, armadana cukup walau tidak sebanyak kota-kota besar, namun tidak butuh lama kami menunggu untuk dijemput di apartemen.

Dan benar, komplek pantai ocarina memang tidak kalah dengan pantai-pantai lain di seputaran kota Batam. Untuk tiket masuk juga terhitung mura, anak-anak hanya dikenakan Rp 5.000, sedang dewasa Rp 10.000, tiket parkir mobil Rp 5.000. Karena kita menggunakan go-car, kita cukup bilang tidak parkir, hanya drop. Biasanya si driver go-car sudah dengan cekatan menunjukkan bukti order kita ke petugas parkir.

Memasuki kawasan wisata Ocarina Park, kita akan disambut dengan patung-patung yang menggambarkan Shio disepanjang kanan jalan, beserta keterangannya. Sebenarnya ada banyak wahana di Ocarina Park, ada Giant Swing, Perahu Naga, Bianglala, dan ada atraksi Mandi Busa pada jam 5 sore dan jam 7 malam dihari ahad.

Namun karena minat anak-anak akan pantai jauh lebih besar dari yang lain, maka kami memutuskan untuk bermain-main dahulu dipinggiran pantainya. Ombak pantai yang cukup tenang, membuat kita sebagai orang tua tidak perlu khawatir jika anak-anak mandi air laut di pantainya. Hanya sesekali waspada terhadap deburan ombak yang diakibatkan lewatnya kapal ferry dari atau ke Pelabuhan Batam Center.

Sembari mengamati dan mengawasi anak-anak bermain air pantai, kami pun memilih duduk-duduk santai menikmati angin pantai yang sepoi-sepoi dibawah rindangnya pohon pinus disepanjang tepian pantai. Memang sangat cocok untuk wisata keluarga gumamku.

Selain kami, banyak juga pengunjung yang lain yang juga memilih menikmati wahana pantai ketimbang wahana permainan yang lain. Bahkan tepat disamping kami berdudk santai, ada beberapa rombongan yang sedang Family Gathering disana. Sembari duduk kami juga bisa mengamati lalu-lalangnya kapal ferry dari dan ke Batam Center, kebanyakan menuju Singapura sih memang.

Puas bermain air laut, anak-anak pun bersiap untuk makan siang. Satu yang kurang, dan ini umum ditempat wisata di Indonesia, perawatan kamar mandi/kamar ganti. Ini juga yang kami alami saat menemani anak-anak berbilas dan berganti baju. Sambil menikmati es krim seharga Rp 5.000 (hampir sama dengan es krim diluar tempat wisata), kami pun menuju ke cafetaria. Benar-benar asyik, harga makanan juga cukup standar, hampir sama saat diluar area wisata, Rp 20.000. Setelah anak-anak kenyang kami pun sholat dhuhur untuk selanjutnya istirahat dibalai-balai yang disediakan disepanjang pantai. Untuk menikmati balai/gazebo yang disediakan pihak pengelola sepertinya tidak ada sistem pesan, sehingga bisa siapa saja yang menggunakan, asal tidak keduluan oleh yang lain, kecuali untuk acara tertentu sudah di pesan/reserved.

Disaat istirahat menunggu agak sorean dikit, rencananya kami akan bermain sepeda dahulu sambil menunggu waktu mandi busa jam 5 sore, ehhh ada pengumuman mandi busa akan dimulai, melirik jam masih jam 2 siang, loh kok udah ada event mandi busa? ternyata ada pihak yang mengadakan event di ocarina request mandi busa, oh ya,.ternyata selain jam 5 dan 7 malam, mandi busa juga ternyata bisa direquest jam berapapun oleh pengunjung, asalna bayar tentunya, berapa rupiah, saya kemarin belum sempat bertanya.

Seketika mendengar pengumuman mandi busa akan segera dimulai, Mas Farish dan Si Aa Nadif yang dari kemaren sudah sangat ingin mengikuti mandi busanya langsung berlarian menuju hall mandi busa. Bergabung dengan para pengunjung yang lain nampak dua jagoan itu menyelusup masuk keluar timbunan busa yang nampak bak salju turun tersebut. Abang Fathan yang dari tadi tampak ragupun akhirnya ikut juga mandi busa. Walhasil, ketiga bocah tersebutpun bajunya penuh dengan busa yang lengket, kemudian lepas karena tertiup angin pantai yang cukup kencang.

Tidak hanya sekali, ternyata ada dua kelompok event yang memesan mandi busa.Sehingga tanpa menunggu jam 5 sore ataupun jam 7 malam, anak-anak sudah kehabisa baju ganti untuk mandi busanya..Lumayan, kami pun tidak perlu berlama-lama nunggu.

Sore harinya, sambil menikmati angin sore pantai ocarina, kamipun memilih wahana bersepeda, setelah puas berfoto-foto di pelabuhan ocarina. Sepeda yang kami pilih adalah yang double, sehingga bisa sekali kami naikin berdua. Harga sewa Rp 30.000/jam. Satu jam kami bersepeda bergantian sampai puas. Berputar-putar seluruh area Ocarina Park. Sampai akhirnya kamipun memutuskan balik ke apartemen untuk istirahat dan persiapan esoknya menuju Singapura.

 

 

Posted in Kisah | Leave a comment