Menikmati Paket Lengkap Wisata Pantai Ocarina Park Batam

Beberapa pekan yang lalu kami sekeluarga memutuskan untuk sejenak berlibur ke Singapura. Negeri tetangga itu. Namun untuk menghemat biaya penginapan, kamipun memilih Batam sebagai tempat transit sebelum lanjut ke Singapura menggunakan kapal ferry.

Alih-alih transit, kamipun juga mencoba memanfaatkan keseruan wisata pantai kota Batam. Setelah melalui review yang sangat panjang dengan istri, karena untuk mencocokkan pantai yang tepat untuk liburan sekeluarga, akhirnya pilihan kami jatuh di Pantai Ocarina.

Pagi itu, 12 November 2017, setelah kami sarapan di apartemen yang kami sewa untuk 3 malam itu, kami pun meluncur menggunakan go-car. Sebagai catatan kami, menggunakan go-car di Batam sangat nyaman, armadana cukup walau tidak sebanyak kota-kota besar, namun tidak butuh lama kami menunggu untuk dijemput di apartemen.

Dan benar, komplek pantai ocarina memang tidak kalah dengan pantai-pantai lain di seputaran kota Batam. Untuk tiket masuk juga terhitung mura, anak-anak hanya dikenakan Rp 5.000, sedang dewasa Rp 10.000, tiket parkir mobil Rp 5.000. Karena kita menggunakan go-car, kita cukup bilang tidak parkir, hanya drop. Biasanya si driver go-car sudah dengan cekatan menunjukkan bukti order kita ke petugas parkir.

Memasuki kawasan wisata Ocarina Park, kita akan disambut dengan patung-patung yang menggambarkan Shio disepanjang kanan jalan, beserta keterangannya. Sebenarnya ada banyak wahana di Ocarina Park, ada Giant Swing, Perahu Naga, Bianglala, dan ada atraksi Mandi Busa pada jam 5 sore dan jam 7 malam dihari ahad.

Namun karena minat anak-anak akan pantai jauh lebih besar dari yang lain, maka kami memutuskan untuk bermain-main dahulu dipinggiran pantainya. Ombak pantai yang cukup tenang, membuat kita sebagai orang tua tidak perlu khawatir jika anak-anak mandi air laut di pantainya. Hanya sesekali waspada terhadap deburan ombak yang diakibatkan lewatnya kapal ferry dari atau ke Pelabuhan Batam Center.

Sembari mengamati dan mengawasi anak-anak bermain air pantai, kami pun memilih duduk-duduk santai menikmati angin pantai yang sepoi-sepoi dibawah rindangnya pohon pinus disepanjang tepian pantai. Memang sangat cocok untuk wisata keluarga gumamku.

Selain kami, banyak juga pengunjung yang lain yang juga memilih menikmati wahana pantai ketimbang wahana permainan yang lain. Bahkan tepat disamping kami berdudk santai, ada beberapa rombongan yang sedang Family Gathering disana. Sembari duduk kami juga bisa mengamati lalu-lalangnya kapal ferry dari dan ke Batam Center, kebanyakan menuju Singapura sih memang.

Puas bermain air laut, anak-anak pun bersiap untuk makan siang. Satu yang kurang, dan ini umum ditempat wisata di Indonesia, perawatan kamar mandi/kamar ganti. Ini juga yang kami alami saat menemani anak-anak berbilas dan berganti baju. Sambil menikmati es krim seharga Rp 5.000 (hampir sama dengan es krim diluar tempat wisata), kami pun menuju ke cafetaria. Benar-benar asyik, harga makanan juga cukup standar, hampir sama saat diluar area wisata, Rp 20.000. Setelah anak-anak kenyang kami pun sholat dhuhur untuk selanjutnya istirahat dibalai-balai yang disediakan disepanjang pantai. Untuk menikmati balai/gazebo yang disediakan pihak pengelola sepertinya tidak ada sistem pesan, sehingga bisa siapa saja yang menggunakan, asal tidak keduluan oleh yang lain, kecuali untuk acara tertentu sudah di pesan/reserved.

Disaat istirahat menunggu agak sorean dikit, rencananya kami akan bermain sepeda dahulu sambil menunggu waktu mandi busa jam 5 sore, ehhh ada pengumuman mandi busa akan dimulai, melirik jam masih jam 2 siang, loh kok udah ada event mandi busa? ternyata ada pihak yang mengadakan event di ocarina request mandi busa, oh ya,.ternyata selain jam 5 dan 7 malam, mandi busa juga ternyata bisa direquest jam berapapun oleh pengunjung, asalna bayar tentunya, berapa rupiah, saya kemarin belum sempat bertanya.

Seketika mendengar pengumuman mandi busa akan segera dimulai, Mas Farish dan Si Aa Nadif yang dari kemaren sudah sangat ingin mengikuti mandi busanya langsung berlarian menuju hall mandi busa. Bergabung dengan para pengunjung yang lain nampak dua jagoan itu menyelusup masuk keluar timbunan busa yang nampak bak salju turun tersebut. Abang Fathan yang dari tadi tampak ragupun akhirnya ikut juga mandi busa. Walhasil, ketiga bocah tersebutpun bajunya penuh dengan busa yang lengket, kemudian lepas karena tertiup angin pantai yang cukup kencang.

Tidak hanya sekali, ternyata ada dua kelompok event yang memesan mandi busa.Sehingga tanpa menunggu jam 5 sore ataupun jam 7 malam, anak-anak sudah kehabisa baju ganti untuk mandi busanya..Lumayan, kami pun tidak perlu berlama-lama nunggu.

Sore harinya, sambil menikmati angin sore pantai ocarina, kamipun memilih wahana bersepeda, setelah puas berfoto-foto di pelabuhan ocarina. Sepeda yang kami pilih adalah yang double, sehingga bisa sekali kami naikin berdua. Harga sewa Rp 30.000/jam. Satu jam kami bersepeda bergantian sampai puas. Berputar-putar seluruh area Ocarina Park. Sampai akhirnya kamipun memutuskan balik ke apartemen untuk istirahat dan persiapan esoknya menuju Singapura.

 

 

Advertisements
Posted in Kisah | Leave a comment

Based Practice VS Based Rule Accounting, Praktisan mana?

Sudah beberapa kali saya ditegur, dikritisi bahkan dicibir. Sudah banyak kali juga saya dianggap tidak kooperatif, ribet dan gak praktis… Itu semua saya dapat lantaran menjalankan fungsi sebagai Ketua Tim Monitoring dan Evaluasi (MONEV) salah satu program hibah pemerintah yang dimenangkan beberapa program studi di kampusku.

Itu adalah kisah diawal, yah..awal-awal program hibah dijalankan. Karena terbiasa dengan pelaksanaan sistem keuangan kampus kami yang swasta, banyak yang terkejut, dan kaget dalam menjalankan keuangan hibah. Beda..jelas beda, beda prinsip dan cara pelaksanaan. Alhamdulillah seiring berjalannya waktu, seluruh tim sudah mampu menerima kenapa kontrol yang kita lakukan benar-benar ketat. Tim sudah paham kapan harus menggunakan standar keuangan kampus kami yang swasta itu, dan kapan harus menggunakan standar keuangan pemerintah.

Ibarat seperti anak kecil yang mendapatkan uang dari orang tuanya, tentunya si anak kecil tersebut harus mengikuti aturan dan arahan orang tuanya, si pemberi uang, terutama dalam membelanjakan uang yang telah diterima. Bukan seenaknya sendiri, apalagi sesuai dengan kebiasaan pribadi yang dianggap benar.

Hal ini tak ubahnya dengan yang dialami teman-teman tim hibah pemerintah, karena yang memberi hibah adalah pemerintah, tentunya dalam proses pelaksanaan keuangan mengikuti aturan pemerintah, yang memberi uang.

Secara istilah, inilah yang disebut perseteruan Based Practice VS Based Rule Accounting. Kesan pertama tentunya based rule itu gak praktis. Sebagaimana sebuah kasus yang saya temui, seorang yang ditugaskan dengan dana hibah, ketika kunjungan ke beberapa kota tidak diperkenankan menggunakan anggaran transportasi dengan label : sewa mobil. Berdasarkan aturan harus tetap menggunakan label : transportasi umum. Ada yang nyeletuk saat kita sampaikan hal ini, “gak praktis banget…”.

Wajar saja celetukan itu keluar, karena pemahaman yang selama ini, yang berlaku dikampus adalah standar keuangan kampus kami yang swasta memperkenankan sewa mobil, praktis memang. Based rule kesannya tidak praktis, namun dibalik itu tentunya pemerintah sudah mempertimbangkan kenapa hal itu tidak diperkenankan. Ada hal praktis kedepan yang akan lebih praktis jika menggunakan aturan pemerintah.

Contoh kedua adalah penggunaan SPPD yang digunakan sebagai dasar pembayaran transportasi dan akomodasi. Dalam praktik, tidak semua perusahaan yang menugaskan pegawainya melengkapi SPPD. Ini yang terkadang sering menimbulkan kesan tidak praktis..

Jadi, kesimpulannya, jika kita hendak melaksanakan tata kelola keuangan, pahami dulu standar yang digunakan, apakah based rule atau based practice…

Mengenai tingkat kepraktisan dan fleksibilitas pelaksanaan tergantung kita mengelolanya yah..

Semoga bermanfaat

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Utak Atik Biaya Produksi

Beberapa pekan yang lalu, salah satu kolega saya, yang juga menjabat salah satu pimpinan di kampus menanyakan suatu hal yang cukup membuatnya gusar.

“Pak Heri, berapa presentase yang wajar dari biaya gaji karyawan di suatu kampus. Soalnya kalau udah menembus angka 40% dari seluruh biaya operasional itu sudah sangat membengkak bukan..? “. Tanyanya kala itu dengan mimik yang agak serius.

Saya cukup tergelitik dengan pertanyaan yang seolah-olah angka 40% itu sudah tinggi dan kecenderungannya yang akan naik menjadi sebuah kekhawatiran tersendiri. Jawaban saya kala itu cukup akademis dan rasional, sehingga sangat sayang kalau tidak diabadikan dalam tulisan kali ini. Tentunya semoga juga bermanfaat bagi semua pembaca.

3 Komponen Biaya

Pada prinsipnya, semua jenis usaha apapun selalu memuat 3 jenis komponen biaya dalam usahanya. Apakah itu Jasa, Perdagangan, ataupun Manufaktur, ketiganya pasti ada, walaupun ada yang mencapai skala kecil dan tidak signifikan, sehingga dianggap tidak ada.

3 komponen biaya itu adalah :

  1. Biaya Bahan Baku (Direct Material Cost)
  2. Biaya Tenaga Kerja (Direct Labor Cost)
  3. Biaya Overhead Pabrik (Factory Overhead Cost)

Kita ambil contoh, usaha jasa pembuatan air mancur dari ban bekas. Secara bahan baku, bisa jadi sangat murah, karena beli dari loakan, atau jika dikasih dari bengkel-bengkel ban, tentu biaya bahan baku menjadi 0 Rupiah. Komponennya menjadi 0%. Sedangkan Biaya Tenaga Kerja tentunya akan menjadi komponen biaya yang dominan, bisa mencapai 90%. Sedang yang 10% adalah overhead, biaya ornamen dan perlengkapan pembantu.

Bandingkan dengan komponen Biaya Tenaga Kerja yang 40% dalam suatu kampus yang ditanya kolega saya tadi.

Saya cukup memahami asal usul pertanyaannya itu muncul, karena pandangan yang menyamakannya dengan industri manufaktur yang mengolah bahan. Kalau ini menjadi pembanding tentu sangat berbeda.

Misalnya kita ambil contoh perusahaan rokok, bisa jadi Biaya Tenaga Kerja menduduki proporsi yang tinggi, karena peraturan pemerintahan kita yang mengharuskan pabrik rokok tetap mempekerjakan tenaga manusia untuk melintingnya. Tak heran bukan, jika jam bubaran pabrik rokok, para pekerja itu keluar bak semut merah yang terganggu rumahnya? buanyak bangett…. Persentase biaya tenaga kerjanya bisa jadi 50% keatas.

Sifat Substitusi Biaya Tenaga Kerja vs Biaya Overhead 

Disisi lain, Biaya Tenaga Kerja memiliki sifat substitusi dengan Biaya Overhead Pabrik. Jika biaya tenaga kerja memiliki porsi yang tinggi, pada umumnya biaya overhead pabrik menjadi turun. Seperti contoh pabrik rokok tadi, biaya overheadnya kita misalkan penyusutan peralatan, sangat kecil, karena hanya alat linting rokok manual 🙂

Bandingkan dengan pabrik rokok yang menggunakan mesin-mesin canggih, alias industri modern. Biaya overhead pabrik akan tinggi, karena penyusutan peralatan canggih yang tentunya harga asetnya mahal. Sedangkan biaya tenaga kerjanya akan turun, karena hanya butuh tenaga kerja yang mengoperasikan alat-alat canggih, itupun jumlahnya sedikit sekali.

Dengan bahasa lain dapat dirumuskan seperti berikut ;

Perusahaan Tradisional->Butuh tenaga kerja banyak (padat karya)->Biaya tenaga kerja tinggi->Biaya overhead pabrik turun.

Perusahaan Modern->Butuh alat banyak (padat modal)->Biaya overhead tinggi->Biaya tenaga kerja turun.

Jika kita kembalikan dengan kondisi kampus yang ditanyakan kolega saya, jawabannya tentunya sangat relatif, tergantung kebijakan kampus dan juga sifat natural bisnisnya.

Kampus, jika kita lihat nature of business nya adalah melayani konsumen yang merupakan mahasiswa dengan layanan jasa keilmuan yang disampaikan oleh dosen, dan butuh dosen banyak, maka kemungkinan biaya tenaga kerja yang tinggi itu adalah wajar dan normal. Lantas biaya overheadnya? karena hampir minim biaya bahan baku, kemungkinan komponen biaya overhead juga tinggi, namun tidak melebihi biaya tenaga kerja. Biaya overhead meliputi penyusutan peralatan perkuliahan, praktikum, kantor dan administrasi.

Berbeda ceritanya jika kampus tidak banyak menyediakan dosen, cukup menyediakan alat-alat canggih, sistem-sistem canggih yang mampu menggantikan kebutuhan dosen yang banyak dan juga tenaga admin dapat ditekan, nahh, ini nih yang namanya padat modal, tentunya biaya tenaga kerja langsung, berupa dosen dan tenaga kependidikan lainnya, akan dapat ditekan setekan-tekannya 🙂

Jadi, jangan menjudge dulu yah, cek dulu jenis usaha anda, cek karakteristiknya, apakah model tradisional (padat karya) atau model canggih/modern (padat modal)…?

Semoga bermanfaat..

Posted in Fenomena | Leave a comment

Kapan ROP dan EOQ Baiknya Digunakan ?

Kontrol terhadap bahan baku dalam sebuah industri manufaktur merupakan satu hal yang sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi. Suatu usaha manufaktur yang gagal dalam mengendalikan bahan baku, akan tergerus dengan ketidakefisiensian bahan baku yang dikelolanya. Terlalu banyak bahan baku disimpan, biaya penyimpanan membengkak, potensi hilang dan rusak (kadaluarsa) meningkat, biaya produksi terbebani biaya bahan baku yang tidak semestestinya, secara efek domino, biaya produksi meningkat, hargapun terpaksa tinggi dan tidak seksi lagi untuk bersaing dengan yang ramping-ramping harganya.

Secara sederhana sebenarnya ada dua kategori kontrol terhadap bahan baku :

  1. Kontrol secara fisik. Ketika kita berbelanja di swalayan sering kita sampai disuatu lorong, ada pintu, namun diatasnya tertulis, DILARANG MASUK KECUALI KARYAWAN. Ini adalah salah satu contoh kontrol secara fisik, tidak sembarangan orang yang bisa mengakses bahan baku.
  2. Kontrol secara investasi. Kontrol ini meliputi segala kegiatan pengadaan bahan baku. Bagaimana perusahaan harus mencapai tingkat efisiensi tinggi.

Ringkas kata, ada tiga titik rawan dalam pengendalian bahan baku :

  1. Saat dibeli/diadakan.
  2. Saat disimpan
  3. Saat digunakan.

Khusus saat dibeli, ada dua isu besar yang sering juga menjadi bahan penelitian. Yang pertama ROP (Reorder Point), yang kedua EOQ (Economic Order Quantity). Walaupun banyak sudah referensi terkait dua hal tersebut, namun masih banyak para peneliti yang kurang menguasai konsep, sehingga arah dari tujuan penelitian terkait dengan ROP dan EOQ pun bias. Padahal, pemahaman yang sederhana terkait dua hal tersebut dapat diterapkan.

Yang pertama, ROP. Sesuai namanya ROP bertujuan menentukan suatu Point / Titik kapan kita harus mengorder kembali bahan baku kepada vendor. Dengan kata lain ROP fokus dimensinya adalaha KAPAN?. Artinya, jika bahan baku kita mencapai suatu level/batas unit tertentu, disitulah SAAT kita melakukan order bahan baku. Oleh karenanya ada 3 komponen yang harus ada dalam menentukan ROP.

  1. Kebutuhan akan bahan baku per hari, USAGE
  2. Jumlah hari yang dibutuhkan bahan baku tiba dari saat dipesan, LEAD TIME
  3. Jumlah cadangan stok bahan baku yang harus selalu ada, untuk mengantisipasi adanya keterlambatan kedatangan bahan baku atau pesanan dalam jumlah besar yang mendadak, SAFETY STOCK

Dengan ketiga komponen tersebut maka ROP dapat dihitung dengan rumus :

ROP = (USAGE x LEAD TIME) + SAFETY STOCK

Contoh kasus misalnya :

Sebuah industri Jilbab membutuhkan perhari : 50 Meter kain. Pemesanan kepada Vendor biasanya memakan waktu 3 hari hingga bahan baku yang dipesan tiba. Berdasarkan pengalaman, perusahaan menentukan safety stock sebanya 20 Meter. Kapan baiknya perusahaan memesan kembali bahan baku ?

Dari contoh kasus tersebut maka :

ROP = (50 Meter X 3 hari) + 20 Meter

= 150 + 20 = 170 Meter

Artinya, ketika stok bahan baku menunjukkan bahwa bahan baku kain yang tersisa tinggal 170 Meter, disitulah SAAT perusahaan baiknya melakukan Order kembali bahan baku.

Ringkasannya, ROP digunaan saat kita menentukan KAPAN kita memesan bahan baku.

Yang kedua EOQ. Economic Order Quantity, sesuai namanya, EOQ mengantarkan kita untuk menentukan berapa jumlah pesanan yang paling ekonomis saat kita melakukan order ulang bahan baku. Singkatnya, kalau ROP menunjukkan KAPAN kita memesan, kalau EOQ menunjukkan BERAPA kita pesannya.

Ringkasnya, EOQ digunakan saat kita menentukan BERAPA jumlah setiap kita memesan bahan baku.

catatan :

Rumus EOQ = √ 2CN/k

C = COST , biaya pemesanan setiap kali order

N = NUMBER, jumlah kebutuhan bahan baku setiap periode/tahun

k = biaya penyimpanan bahan baku/unit.

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Antara Kontrak Perkuliahan dan Jadwal Acara Televisi

Bagi sebagian pengajar ataupun mahasiswa, Kontrak Perkuliahan mungkin hanya dianggap sebagai basa-basi belaka, sebuah formalitas, ataupun sebuah pelengkap penderita dalam sebuah proses belajar mengajar (PBM). Lebih parah, kontrak perkuliahan hanya akan dibuat atau disiapkan saat ada Monev dari auditor QA atau hanya sekedar memenuhi kekurangan berkas saat Akreditasi .. miris…

Sejatinya tidak demikian, Kontrak Perkuliahan merupakan 50% kesuksesan suatu perkuliahan. Disana dimuat berbagai rencana perkuliahan selama satu semester, per pertemuan mau bahas apa, bahkan agenda penugasan apa yang harus disiapkan mahasiswa pada suatu pertemuan semua dapat diketahui diawal semester, kapan kuis, kapan ujian, termasuk presentase komponen penilaian dan aturan suasana kelas. Jadi tidak ada kucing dalam karung dalam proses penilaian. Mahasiswa dapat mengukur dan merencanakan dengan baik apa yang harus dilakukan per pekannya untuk suatu mata kuliah tertentu, mengingat, mereka juga kuliah dengan dosen lain yang gak kalah seabrek tugasnya. Singkat kata, kontrak perkuliah itu penting, tidak hanya untuk mahasiswa, melainkan juga untuk sang pengajar..

Betapa tidak, kebayang gak enak kan kalo dosen masuk, trus nanya sama kita sebagai mahasiswa, ” kita kemaren udah sampai mana ?”. Lebih parah, ” hari ini kita belajar apa yah???” lahhhh…..kalo udah kena dosen model gini, dari awal perkuliahan hingga akhir rasanya eneg… Yang paling menakutkan, ‘ Hari ini kita kuis..!! ‘ hehehehh.

Dosen yang memanfaatkan betul penggunaan kontrak belajar akan dengan mudah membuat perencanaan perkuliahannya, tanpa ada kesan mendholimi mahasiswa, jika pada pertemuan tertentu langsung memberikan kuis, karena sudah direncanakan, sudah tertuang dalam kontrak perkuliahan yang ditandatangani bersama dan diketahui ketua prodi ataupun ketua jurusan.

Saya jadi teringat, kontrak perkuliah itu tak ubahnya seperti jadwal acara televisi. Jauh hari kita sudah bisa membaca di koran, diwebsite saluran televisi tentang jadwal acara. Senang bukan hati kita, kita jadi bisa memilih jadwal acara yang hendak kita tonton, karena semua dilaksanakan sesuai jadwal. Namun betapa kecewanya kita, kalau tiba-tiba film kesukaan kita, tiba-tiba terpotong dengan acara yang tidak ada dijadwal, misalnya Liputan Khusus Kunjungan Presiden Soehart* ke Jerman… hahahah ini contoh hanya anak kecil era 90-an yang paham. Bener2 kecewa berat..

Mungkin itu yang dirasakan mahasiswa jika dosen mengajar tanpa kontrak diawal, suka ati dosen. Yang aneh, tanpa pernah melihat bentuk kontrak perkuliahan, ketika semesteran udah berakhir, dosen yang bersangkutan tiba2 menunjukkan kontrak perkuliahan dan minta tanda tangan mahasiswa, alasan mau di audit oleh tim auditor QA lah, mau ada akreditasi lah … 🙂

Jadi, yuk, kontrak perkuliahan jadikan budaya mutu, bukan kebutuhan praktis. Jangan kalah dengan jadwal acara televisi, bahkan acara televisi kabel pun sudah dibukukan dengan kemasan yang lux, dan diupdate beberapa bulan sekali.

Selamat berkarya.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Lebaran Haji di Ranah Minang, Danau Yang Bertumbuh

Jika tahun sebelumnya kami berlebaran haji di negara tetangga, Malaysia, kali ini kami berlebaran haji di provinsi tetangga, Sumatera Barat. Benar memang, Sumatera Barat merupakan provinsi tetangga dari Riau. Provinsi Sumatera Barat dengan Riau hanya terpisah dengan jalan lintas provinsi, sehingga tidak banyak kesulitan bagi setiap orang berlalu-lalang melintas antar provinsi.

Setelah melalui persiapan yang matang, kami sekeluarga pun sepakat untuk berlebaran haji ke Sumatera Barat dengan mengendarai mobil sendiri. Sampai hari itupun tiba.

Setelah lumayan capek menemani anak-anak takbiran di masjid dekat rumah, malam takbiran itupun kami mempersiapkan segala perbekalan. Termasuk beras dan magic com, maklum di Bukittinggi nantinya kami menginap di guesthouse yang tidak ada fasilitas sarapannya.

Pagi dini hari menjelang subuh, diiringi rintik hujan, kamipun mulai meluncur meninggalkan kota Pekanbaru. Alhamdulillah melewati Kabupaten Kampar, hujan deras pun mengguyur, walaupun dengan kecepatan melambat, kami terus melaju. Perlu hati-hati pada saat baru keluar gerbang kota Pekanbaru, karena ada perlintasan jalan kembar, sedangkan lampu penerangan jalan yang minim, akan sangat rawan jika kita tidak mampu melihat batas pemecahan jalan menjadi dua jalur. Setelah melaju dengan kecepatan sedang, akhirnya kami istirahat sebelum memasuki Bangkinang, Ibu Kota Kabupaten kampar, untuk sholat subuh.

Setelah sholat subuh, perjalanan pun kami lanjutkan. Mentari tampak mulai bergeliat ketika mobil yang kami tumpangi melintas disuatu bukit yang orang menyebutnya Ulu Kasok. Konon katanya pemandangan danau yang terbentuk dari bendungan Koto Panjang membentu pulau-pulau yang tak kalah indahnya dengan pemandangan gugusan pulau-pulau di Raja Ampat yang tersohor. Sejenak ketika saya tawarkan ke istri dan anak-anak, semua pada enggan.. ya sudahlah..mungkin lain kali fikirku, mobilpun ku gas lagi meninggalkan Kabupaten Kampar.

Pagi hari kamipun sudah memasuki Pangkalan, kota di provinsi Sumatera Barat yang berbatasan langsung dengan Provinsi Riau. Jalanan tampak lancar, hingga jam pun menunjukkan pukul 7, saatnya kami mulai mencari lapangan/masjid untuk sholat idul adha. Alhamdulillah kami menjumpai serombongan orang yang tampak mengenakan pakaian hari raya, kamipun mengikutinya dan sampai pada sebuah masjid. Lantaran hujan semalaman mengguyur, sholat idul adhapun dialihkan kedalam masjid oleh panitia.

Jalan Ranah yang benar-benar Tanah

Tengah hari, kamipun memasuki Kota Bukittingi. Saatnya kami mencari penginapan yang telah kami booking sebelumnya melalui travel online. Tertulis alamatnya jalan Ranah. Setelah mendapatkan jalan yang dimaksud, tampak sedikit terlintas keraguan dari istri dan anak-anak. “Kok jalannya jalan tanah yah…belum diaspal atau semen ?”. ” Yahh namanya juga jalan Ranah, kan emang jalan tanah” jawabku sekenanya waktu itu. Dan ternyata dibalik jalan tanah, hanya cukup beberapa meter kami mendapati Guest House Rumah Kayu, tempat kami menginap. Tempatnya sangat asri, dikelilingi kebun buah naga, dan ada kolam ikan nila dibawah jembatan menuju setiap kamarnya, membuat suasananya tampak menyejukkan.

Sorenya kamipun berjalan-jalan keliling Kota Bukittinggi. Salah satu yang menjadi objek wisata yang kami kunjungi adalah Gua Jepang dan Panorama Ngarai Sihanok. Selain belajar sejarah dengan memasuki gua yang dulunya menjadi tempat persembunyian Jepang, anak-anak juga tampak menikmati panorama Ngarai Sihanok yang seolah-olah membelah Pulau Sumatera menjadi utara dan selatan itu.

Danau yang bertumbuh

Melintasi 3 kabupaten/kota, mungkin itu istilah yang tepat atas perjalanan kami esok harinya. Pagi itu setelah sarapan dengan bekal ayam rendang yang kami bawa dari Pekanbaru, kami pun meluncur meninggalkan Kota Bukittinggi. Menuju Danau Singkarak dari Bukittinggi ternyata lumayan jauh, harus melewati kota Padang Panjang, Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Solok. Konon Danau Singkarak itu terus bertumbuh karena pergeseran lempeng sumatera yang terus bergerak, wal hasil panjang dan luas danau itupun terus bertumbuh, bergerak, semakin luas.

Setelah menyusuri pinggiran Danau Singkarak, kami menjumpai salah satu pantai rakyat yang terbuka untuk umum. Hanya dengan membayar uang parkir, kami dapat menikmati fasilitas pantai. Duduk-duduk sambil tiduran didipan yang diletakkan dibawah pohon terasa nikmat, sembari menikmati semilir angin yang berembus membawa uap air danau yang terasa sejuk. Segelas kopi susupun menemani saya menikmati istirahat dibawah pohon, sembari mengawasi anak-anak yang asyik mandi ditepian danau yang airnya sangat jernih itu.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Menjadi Trainer Keuangan Syariah Hingga S3 Yang Tidak Kunjung Selesai Karena 45 dan 10

Tiga hari belakangan ini saya dan dua rekan yang lain dari Politeknik Caltex Riau sangat sulit dijumpai di ruangan kerja, tak ayal, karena selama tiga hari itu kami memenuhi undangan Otoritas Jasa Keuangan kerjasama dengan UIN Sultan Syarif Kasim untuk mengikuti ToT Keuangan Syariah terintegrasi. Singkat kata kami dilatih menjadi Trainer Keuangan Syariah bersama ratusan peserta yang lain dari Riau dan Kepulauan Riau.

Pelatihan sendiri terbagi menjadi tiga materi, dan tuntas dibahas dalam tiga hari. Pas bener rasanya panitia menset kegiatan. Hari pertama kami mendapat pelatihan tema Perbankan Syariah, hari kedua, Pasar Modal Syariah dan pada hari ketiga membahas Industri Keuangan Non Bank Syariah.

Bagi saya sendiri keuangan syariah dengan segala seluk beluknya sebenarnya tidak asing lagi. Selain secara praktik saya juga memegang beberapa instrumen keuangan syariah juga materi tentang keuangan syariah sangat menarik untuk selalu diikuti. Saya jadi teringat dulu sewaktu kuliah di FE-USU Medan,era 2000-an saya dan teman-teman terlibat dalam berbagai kegiatan kajian/diskusi tentang ekonomi syariah, melalui wadah FOSEI, Forum Studi Ekonomi Islam. Bahkan kami sempat mewakili kampus di Kongres ke dua di Unibraw-Malang. Dengan hasil, saya dan dua rekan saya yang lain waktu itu ditunjuk menjadi koordinator wilayah Sumbagut, meliputi Sumatera Utara dan Aceh.

Namun, industri keuangan syariah terus bergerak, dan terus berbenah. Tentu saja, dengan adanya undangan pelatihan ini tentu tidak kami sia-siakan. Banyak aturan, fatwa ulama yang terus berkembang, tentunya butuh pemahaman baru, dan perbaikan pemahaman tentunya.

Alhamdulillah, selain mendapatkan ilmu baru, ajang pelatihan kemaren juga menjadi ajang silaturrahmi dengan teman-teman profesi di Pekanbaru. Berjumpa dengan Pak Emon dari BEI perwakilan Riau misalnya, kami menjadi dapat masukan banyak tentang perkembangan kegiatan bursa. Jumpa dengan bu Neneng, kami pun sempat ngobrol ringan tentang perkembangan usaha kami, Kantor Jasa Akuntan. Atau hanya sekedar nostalgia, ketemu teman-teman kuliah, Bang Jufri misalnya, kenalan sewaktu kuliah S2 dulu, yang antusias dan bangga dengan capaiannya lulus serdos, alhamdulillah.

Akad menjadi kata kunci

Belajar hari pertama, pembahasan khusus mengenai industri Perbankan Syariah. Dalam pembahasan perbankan syariah ini kami dipandu oleh banyak trainer. Setelah diawali dengan seremoni pembukaan yang cukup ringan, mengingat Dekan Fakultas Syariah UIN SUSKA cukup pandai membawakan joke-jokenya yang segar, kami pun dibagi menjadi dua kelas pelatihan. Saya kebetulan satu kelas dengan rekan saya Pak Tobi dari, sedang rekan satu kampus kami yang lain dikelas yang berbeda. Tidak ada perbedaan materi ataupun level, pembagian kelas ini hanya sebatas membagi konsentrasi agar kelas menjadi efektif. Risikonya hanya satu, trainer ngomong hal yang sama didua kelas yang berbeda. Namun tentunya dengan karakter isi kelas, dengan isi kepala yang berbeda akan menjadi menarik disetiap kelasnya.

Saya mencatat selain dari pihak OJK yang menjadi trainer, juga ada dari praktisi, ataupun orang-orang OJK yang dulunya pernah bekerja didunia praktik perbankan syariah dan juga yang tidak kalah pentingnya, materi dari Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia, DSN-MUI, karena merekalah yang merumuskan apakah suatu produk/aktifitas perbankan memenuhi tingkat syarat sesuai syariat.

Dari berbagai materi mengenai perbankan syariah, sedikit saya bisa menyimpulkan, ternyata banyak jenis akad yang dapat menampung seluruh aktifitas perbankan syariah agar sesuai syariah. Misalkan untuk kegiatan pembiayaan sendiri, kita bisa menggunakan akad murabahah, mudharabab, salam atau yang lainnya yang sesuai. Yang perlu dilakukan agar sesuai syariah adalah, mekanisme pembiayaan harus mengikuti jenis akadnya.

Akad menjadi kata kunci dari setiap transaksi yang dideklarasikan menjadi sebuah transaksi syariah. Sebagai contoh ekstrim yang bawakan sang trainer, misalkan berkumpulnya seorang laki-laki dan perempuan dalam satu rumah. Jika akadnya pacaran, suka-sama-suka, tentu menjadi haram. Namun jika akad yang mendahuluinya adalah pernikahan, maka menjadi halal. Terbersit sama saya kala itu, berarti semua jenis transaksi bisa menjadi transaksi syariah, asal kuncinya, akadnya sesuai syariah.

Kuliah S3 yang tak kunjung selesai karena 45 dan 10

Hari kedua waktunya kami peserta belajar Pasar Modal Syariah. Dibandingkan dengan perbankan syariah yang sudah ada kemunculannya sejak 1992, tema industri pasar modal syariah ini termasuk baru, tahun 2013-an, meskipun pasar modal bukan hal yang asing bagi masyarakat Indonesia.

Trainer kali ini banyak diisi oleh bagian Pasar Modal Syariah, praktisi, dan DSN MUI sebagai dasar hukum syariah. Pada intinya kegiatan jual beli saham, senyampang tidak menyalahi fatwa MUI terkait perdagangan saham, misalnya kaitannya dengan Short Selling, Margin Trading, maka transaksi saham tersebut dapat dikatergorikan sebagai transaksi syariah.

Belakangan semenjak munculnya konsep pasar modal syariah maka dua isu utama muncul. Yang pertama terkait penggunaan Bank Syariah sebagai penampung Rekening Dana Investor, yang kedua terkait dengan Emiten yang termasuk perusahaan yang secara operasional memenuhi kriteria sebagai perusahaaan yang menjalankan prinsip syariah dalam operasional perusahaannya sehingga layak menjadi emiten dalam kelompok/indeks bursa saham syariah.

Mengenai hal yang pertama terkait pemilihan Bank Syariah menjadi jelas. Yang kedua itu yang sempat menjadi perdebatan dan diskusi panjang di kelas training. Peraturan OJK sendiri mensyaratkan jika suatu Emiten memiliki komposisi Utang Ribawi kurang 45% dari Total Aset dan Pendapatan Non Halal tidak lebih 10% dari total pendapatan, maka saham emiten tersebut masuk dalam kategori indeks saham syariah.

Para peserta training tampak mengernyutkan dahi. Terlebih yang menjelaskan hal ini adalah orang DSN MUI. Secara hukum yang dipahami adalah sedikit atau banyak, 45% atau 10% riba tetap riba, haram tetap haram. Setelah memahami kondisi kelas yang terlihat masih tidak mampu menerima logika DSN MUI. Sang trainer pun menjelaskan jika ini sebuah langkah awal, kedepan akan diperketat hingga benar-benar bersih dari non halal, baik itu rasio utang ataupun pendapatan non halal.

Alih-alih masih belum menerima konsep MUI, ada sebagian peserta mempertanyakan kembali kenapa 45 dan 10, sedangkan jika dibandingkan dengan standar Internasional yang dikeluarkan The Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institutions(AAOIFI) saja hanya boleh mentolerir cuma 30 dan 5. Tidak boleh lebih 30% utang ribawi(berunsur bunga) dan tidak lebih 5% pendapatan Non Halal (Miras, Rokok, Daging haram). Hal ini justru memancing sang trainer semakin mengeluarkan jurus-jurus persuasifnya untuk mendorong peserta secara emosional keislaman menerima. Dalam bahasa singkat, ini bertahap, kalau bukan kita siapa lagi. Mungkin agar tampak meyakinkan kami, tercetuklah dari bibir sang trainer sebuah ungkapan yang cenderung Curcol menurut saya, ” Lah itu pak, karena sibuk mikirin kenapa harus 40 dan 10 itu makanya S3 saya gak selesai-selesai juga”. Saya pun numpang ngikik…. 😀

Kesan Terakhir : Trainer Yang Killer

Hari ketiga kami belajar tentang Industri Keuangan Non Bank Syariah. Sebenarnya dalam praktik banyak sekali jenis produk ataupun industri keuangan non bank. Namun karena keterbatasan waktu dan juga training masih berdasarkan lembaga-lembaga keuangan yang dibawah pengawasan OJK jadinya tidak begitu banyak industri keuangan non bank syariah yang dikupas.

Berdasarkan buku materi training yang dibagi, sepertinya pembahasan fokus pada Industri Dana Pensiun Syariah. Namun beruntung dikelas kami sempat sedikit membahas Asuransi Syariah. Saya sendiripun sempat sharing dan diskusi diforum kelas dengan sang trainer terkait pengalaman saya sebagai pengguna instrument asuransi syariah. Suasana cukup hangat dan diskusi terus berkembang.

Sesi-sesi berikutnya kami mulai membahas terkait dana pensiun syariah. Yang paling berkesan adalah trainer terakhir, materi terakhir dan hari terakhir :). Cocok memang, mengawali kelas sesi beliau, beliau berpesan, “saya ingin kelas ini menjadi berkesan, meninggalkan kesan bagi bapak ibu terhadap saya sebagai trainer. Memang berkesan bagi kami. Betapa tidak, setelah membuka dengan khas kyai pesantren, sang trainer langsung menegur para peserta yang memilih bangku dideretan belakang untuk pindah ke bangku-bangku kosong didepannya. Mau tak mau, ibarat disuruh dosen killer, peserta yang merasa seperti mahasiswa/i pun dengan lunglai pindah ke deretan bangku depannya yang kosong. Suasana sempat tegang. Namun sang trainer yang sangat mengusai materi Dana Pensiun Syariah pun tetap enteng memandu jalannya pelatihan, walau hanya dengan duduk saja didepan, tidak berinteraksi seperti trainer yang lain. Benar-benar sesuai doa sang trainer diawal pertemuan, berkesan, killer :D.

Alhamdulillah setelah melalui serangkaian pelatihan tiga hari berturut-turut, sertifkat trainer pun kami dapat. Perjuangan mengikuti pretest dan posttest setiap harinyapun tidak sia-sia. Ada ilmu yang kami dapat, ada pemahaman baru, ada informasi baru, ada fatwa baru yang memperbaharui pemahaman kami akan keuangan syariah. Tentunya ada semangat baru untuk terus tumbuh dengan instrument keuangan syariah. Ada tanggung jawab baru untuk ikut memahamkan masyarakat. Tentunya, ada buku baru tentang tema ekonomi syariah buatan MUI Jatim yang terkenal paling tinggi literasi keuangan syariahnya itu. Semoga bermanfaat untuk umat…

 

Posted in Fenomena | Leave a comment