Empat Penjuru Politeknik untuk Kebangkitan Aceh

Optimisme itu terus dibangun, untuk kebangkitan Aceh. Dari berbagai masalahnya, dari ketertinggalannya dengan provinsi di sekawasan Pulau Sumatera, termasuk kebangkitan dari Bencana Tsunami Aceh, yang 14 tahun lalu itu.

Itu semua saya saksikan langsung saat menghadiri wisuda ke-8 Politeknik Aceh, mewakili pak direktur kami yang berhalangan hadir, yang juga wisuda bagi anak-anak korban Tsunami, yang telah menjadi anak asuh BAZNAS semenjak mereka rata-rata kelas 4 SD, yang rata-rata kehilangan orang tuanya, hidup sebatang kara. Aura optimis itu nampak dari pancaran wajah mereka. Maka tak mengherankan bila pembimbing mereka dari BAZNAS pusat itu juga nampak berurai air mata, saat memberi sambutannya, terharu.

Usai prosesi wisuda, kamipun beramah tamah sembari makan siang. Kebetulan saya kebagian satu meja dengan salah satu Yayasan Politeknik Aceh Pak Iskandar, Baznas, Direktur Politeknik Aceh, Direktur Politeknik Aceh Selatan. Banyak yang kami diskusikan, mulai dari potensi lokak Aceh , dan tentu saja persiapan SDMnya melalui pendidikan politeknik.

Menarik, Pak Mawardi rupa-rupanya sudah menyiapkan jurusnya terkait pendidikan politeknik di Aceh agar mampu menyuplai tenaga terampil dalam mengolah Aceh secara mandiri, putra-putri Aceh bangkit di wilayahnya sendiri. Itulah yang bisa saya sebut Empat Penjuru Politeknik untuk kebangkitan Aceh. Empat politeknik itu adalah :

Politeknik Aceh dengan keahlian Mekatronikanya

Politeknik Negeri Lhokseumawe dengan keahlian Migasnya

Politeknik Indonesia Venezuela dengan keahlian Pertaniannya

Politeknik Aceh Selatan dengan keahlian Mesinnya.

Catatan menarik ketika berbicara keahlian tersebut. Aceh yang terkenal dengan penghasil kopi terbaik dunia ternyata kehilangan namanya di dunia. Kopi yang terkenal didunia saat ini ternyata hanya berubah nama, hampir semuanya itu berasal dari Kopi Gayo, kopi Aceh yang khas itu. Dengan adanya peningkatan keahlian di Politeknik Indonesia Venezuela, harapan akan berkibarnya nama Kopi Gayo tidak mustahil akan terjadi, mendunia.

Advertisements
Posted in Kisah | Leave a comment

Reuni Kecil Dalam Penugasan Audit

Namanya Pak Katio, mantan dosen saya waktu S1 di USU-Medan, mantan bos saya juga sewaktu saya masih mengaudit dibawah bendera Kantor Akuntan Publik beliau, masih segar bugar diusia yang ke 76 nya itu.

Dulu mahasiswanya, dulu, dulu sekali, saya pegawainya, sekarang pertemuan tampak seperti reuni. Saya sebagai Pembantu Direktur 2 di kampus tempatku mengabdi, yang salah satunya mengurus keuangan itu, memanggil beliau untuk penugasan audit keuangan kampus. Hubungan baru dalam pertemuan itupun terjadi, antara saya sebagai klien, dan beliau sebagai auditor.

Reuni Kecil pun terjadi dipertemukan untuk membahas kontrak audit itu. Bahkan lebih lengkap lagi. Para pengurus Yayasan pun ada yang alumni beliau, dari USU juga. Ada Pak Lamsana Sirait yang Stambuk/Angkatan 1980 itu, ada juga Pak Simon Elimander yang stambuk 1984 itu, sedang saya stambuk 2000, dan Pak Katio sendiri stambuk 1971. Mulai mengajar di USU sejak tahun 1984, setelah sebelumnya bertugas di Departemen Keuangan di Medan.

Setelah penawaran lingkup audit disepakati, nilai perikatan disepakati, tanggal penugasan auditpun disepakati. Cepat dan ringkas. Karena ini bukan pekerjaan baru bagi kami yang duduk dimeja perundingan itu. Pengurus yayasan dan pimpinan kampuspun mengaminkan kesepakatan yang dicapai. Selesai sudah tujuan utama pertemuan disore hari itu. Tinggal cerita-cerita santai sembari reuni kecil itu yang tak kalah serunya.

Pak Katio juga dengan semangat menceritakan perkembangan dunia audit. Termasuk perubahan istilah dalam opini audit, yang kini berubah menjadi wajar tanpa modifikasi, menggantikan opini wajar tanpa pengecualian, untuk menggambarkan opini terbaik atas laporan  keuangan klien yang diaudit. Dengan gestur yang tidak berubah dari jaman dulu, beliau juga mengungkapkan suatu hal temuan yang menarik, ternyata opini audit tanpa modifikasipun tidak menjamin suatu institusi itu bebas dari korupsi, terutama pada institusi pemerintahan, begitu pengalaman beliau membuktikan. Penyebabnya adalah, korupsi itu melibatkan persekongkolan, semuanya disiapkan dengan rapi, lebih lanjut beliau melengkapi.

Kami yang hadir semeja dengan beliaupun mengangguk-angguk. Seolah kami masih dibangku kuliah di Kampus USU kala itu, menyimak kuliah langsung dari beliau.

Terbersit kenangan, bak gayung bersambut, Pak Lamsana yang juga sedari tadi ikut menyimak, yang stambuk ’80 itu, pun berujar, saya jadi ingat, Auditing 1 saya kuliahnya sama bapak loh pak. Pak Katio pun langsung membalas, saya termasuk yang galak dulu yah, diikuti ketawa grrrr semua yang hadir disitu. Beliau melanjutkan, saya dulu kalau pintu kelas sudah tertutup, artinya mahasiswa yang telat sudah tidak boleh masuk, berbeda jika pintu masih terbuka sedikit, boleh masuk.

Berada Diantara Dua Profesor Akuntansi

Sore itu Pak Katio dengan ditemani stafnya, Bang Razak, juga membagi kenangan beliau ketika menjadi dosen muda di USU dulu. Dua profesor hebat, sama-sama senior, berbeda gaya, Profesor Hadibroto dengan kalem khas Jawanya itu, dan Profesor Moenaf H. Regar dengan gayanya yang bersemangat, berapai-api itu, masing-masing meminta Pak Katio menjadi asistennya. Dua-duanya pingin Pak Katio yang menggantikan mereka ketika berhalangan hadir mengajar di kelas. Akan menjadi kesulitan jika kelas yang mau diganti ada dalam waktu yang sama…sembari ketawa lirih Pak Katio menjelaskaan triknya tetap menjadi asisten yang baik bagi keduanya.

Pengendalian untuk kuda, Pengawasan untuk manusia

Mendengar nama Profesor Hadibroto, Pak Simon yang sedari tadi ikut menyimak, pun tak mau kalah. Saya jadi teringat tentang Profesor Hadibroto, ujarnya. Profesor Hadibroto memang terkenal dikalangan mahasiswa Akuntansi USU sebagai ahli pada bidang Management Control System, juga dengan penguasaan istilah asing dengan serapannya pada Bahasa Indonesia. Pak Simon pun menceritakan bahwa istilah Internal Control, yang umumnya diartikan Pengendalian Internal itu sangat haram bagi Profesor Hadibroto. Harus diubah padanannya dalam Bahasa Indonesianya, Pengawasan Internal. Karena Profesor Hadibroto berargumen, pengendalian itu untuk kuda (mengendalikan kuda, hewan), sedangkan pengawasan itu untuk manusia. Manusia itu diawasi. Bukan dikendalikan. Bagai pak kusir yang mengendalikan kuda supaya baik jalannya 🙂

Begitulah, sore itu menjadi reuni kecil kami, disela-sela penugasan audit, antara klien dan auditor, antara mantan mahasiswa dan dosennya, sesama alumni Akuntansi Fakultas Ekonomi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Posted in Kisah | Leave a comment

Secarik Kertas Kuning Untuk Perlindungan Si Resipien

Ada hal yang baru di PMI UPTD Pekanbaru. Saya baru tahu kemarin ahad, waktu mendonorkan darah yang ke-31, hitungan jumlah donor yang sangat kecil, dibandingkan masa mendonor yang sudah 21 tahun, dari kelas satu SMA. Hal baru itu bukanlah layout ruangan tempat menyedot darah, bukan, layout cakep dan ciamik itu sudah lama, dari akhir tahun lalu. Hal baru itu adalah secarik kertas warna kuning, saya tidak tahu kenapa harus warna kuning, yang disodorkan ke calon pendonor, oleh dokter konsultan, setelah calon pendonor lolos tes kadar HB.

Dibilang baru juga boleh, sudah lama iya juga, walaupun standar ini sudah ada di UPTD Pekanbaru sejak Agustus. Cuman saya saja yang belum tahu. Ketika saya tanyakan dengan dokter konsultan yang menentukan kita boleh donor atau tidak, sudah sejak agustus pak, jawabnya. Dari kartu donor saya terakhir bulan juli tanggal dua. Pantas tidak ketemu prosedur kertas kuning itu.

Secarik kertas kuning yang disodorkan dan harus kita tandatangani jika bersedia donor sejatinya adalah sebuah kertas pernyataan yang berisi kesediaan kita diproses lebih lanjut jika dalam darah yang kita donorkan terdapat indikasi penyakit menular. Hal ini untuk menghindari terjadinya IMLTD, infeksi menular lewat transfusi darah, begitu istilahnya.

Ketika calon pendonor lolos tes kadar HB, selanjutnya lolos tes kesehatan oleh dokter konsultan, secarik kertas kuning itulah yang disodorkan sang dokter untuk dibaca dan ditandatangani sebelum masuk keruang penyedotan darah.

Untuk di Pekanbaru masih baru 4 penyakit menular yang diperiksa, Hepatitis A, Hepatitis C, Sifilis, dan HIV/AIDS. Dalam prosedur yang saya tandatangani itu, disebutkan, jika nantinya didapat indikasi dari penyakit menular yang dimaksud, pendonor bersedia dihubungi dan dirujuk ke dokter spesialis yang ditunjuk. Hasil dari rujukan dokter spesialis selain pengobatan bagi si pendonor, juga keputusan akan keberlangsungan proses donor, apakah si pendonor disuruh “libur” dulu sekian waktu untuk donor. Atau yang lebih mengerikan lagi, dilarang donor seumur hidup. Artinya darah kita terlarang untuk didonorkan ke resipien.

Paham, memang hal ini untuk melindungi resipien yang rentan tertular oleh darah pendonor yang menngandung penyakit menular, melalui transfusi darah, miris. Menyelematkan nyawa melalui transfusi darah, malah memasukkan penyakit menular. Screening ini benar-benar bermanfaat. Kesannya hanya melindungi resipien, namun juga memberi peringatan dini bagi pendonor, kalau-kalau ada penyakit menular dalam darahnya.

Penasaran dengan hasil screening darah yang telah saya donor 30 kali sebelumnya, alhamdulillah, setelah melihat database hasil pemeriksaan, bu dokter yang bertugas sebagai konsultan hari itu memberitahu darah saya sampai donor ke 30 itu masih bebas dari empat penyakit menular itu. InsyaAlloh yang ke 31 ini juga aman pak, begitu ujarnya. Jadi bagi sodara semua yang mau tes kesehatan darahnya gratis, bisa juga mencoba mendonorkan darahnya, beramal sekaligus tes darah gratis. Namun ingat, ada secarik kertas kuning yang akan melindungi si resipien.

 

 

Posted in Kisah | Leave a comment

Pelajaran Integritas dari Sekotak Donat

“Pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mempekerjakan seseorang dari bani Asad yang namanya Ibnul Lutbiyyah untuk mengurus zakat. Orang itu datang sambil mengatakan, “Ini bagimu, dan ini hadiah bagiku.” Secara spontan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di atas mimbar -sedang Sufyan mengatakan dengan redaksi ‘naik minbar’-, beliau memuja dan memuji Allah kemudian bersabda,

Ada apa dengan seorang pengurus zakat yang kami utus, lalu ia datang dengan mengatakan, “Ini untukmu dan ini hadiah untukku!” Cobalah ia duduk saja di rumah ayahnya atau rumah ibunya, dan cermatilah, apakah ia menerima hadiah ataukah tidak? Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang datang dengan mengambil hadiah seperti pekerja tadi melainkan ia akan datang dengannya pada hari kiamat, lalu dia akan memikul hadiah tadi di lehernya. Jika hadiah yang ia ambil adalah unta, maka akan keluar suara unta. Jika hadiah yang ia ambil adalah sapi betina, maka akan keluar suara sapi. Jika yang dipikulnya adalah kambing, maka akan keluar suara kambing.“

Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya sehingga kami melihat putih kedua ketiaknya seraya mengatakan, “Ketahuilah, bukankah telah kusampaikan?” (beliau mengulang-ulanginya tiga kali). (HR. Bukhari no. 7174 dan Muslim no. 1832)

Baca Selengkapnya : https://rumaysho.com/9729-hukum-hadiah-mahasiswa-untuk-dosennya.html

***

Sore itu, salah seorang staf keuangan di tim saya masuk ke ruangan, sembari membawa kotak kuning, yang isinya sekotak donat dari merk terkenal yang sering kita jumpai di mal-mal. Pak, ini hadiah dari Bank B*@#%. Sebut saja Bank B.

“Kenapa dia ngasih hadiah ini?” tanyaku spontan. Belum sempat staf keuangan saya menjawab saya baru ingat, oh iya , kemarin kami baru saja penempatan dana kampus 2 Miliar ke Bank B. Pantas saja. Dan sekotak donat itu diberikan tentu saja karena jabatan saya, karena jabatan kami di keuangan yang mengotorisasi penempatan dana ke bank mereka.

Sedikit gusar bagi hati saya waktu itu. Perlahan saya sudah mulai merasakan godaannya menjabat Pembantu Direktur Bidang Keuangan, Kepegawaian dan Umum ini. Satu persatu benefit karena jabatan itu datang. Dan itu haram bagi kami yang menjabat. Teringat akan hadist diatas, saya dengan mudah untuk tidak ikut menikmati donat itu, yang walaupun tampak mennggoda, disore hari nan lapar.

Haram bagi kami yang menjabat, halal bagi orang lain yang terlibat. Itulah prinsip integritas hidup saya yang semoga terus istiqomah kami pegang hingga ke anak cucu. Seperti beberapa waktu sebelumnya, marketing Bank M%$#@ mendatangi saya, menawarkan penempatan dana kampus kami ke Bank M. Sambil menawarkan produknya, membawa brosur lengkap, juga membawa pisang goreng kipas yang khas Pekanbaru itu. Untung ada staf lain yang diruangan kala itu, dan ada juga mahasiswa, kami bagilah pisang goreng kipas itu ke mereka. Alhamdulillah, kami bisa tetap independen mencari mitra penempatan dana.

Kembali ke cerita sekotak donat. Rejeki hendak kemana. Banyak sekali sore itu saya menerima tamu, baik dari staf dan beberapa mahasiswa yang mau bimbingan Proyek Akhir. Alhamdulillah, semua ludes oleh orang lain. Sembari saya jelaskan kenapa saya bagi semua, saya tidak memakan satupun, padahal saya sedang tidak berpuasa. Perlahan seluruh staf keuangan dibawah saya sudah mulai saya pahamkan akan bahayanya kita ikut menikmati hadiah. Intinya adalah integritas.

Pelajaran integritas dari sekotak donat. Semoga juga selamat dari cobaan integritas dari kotak-kotak yang lain.

Posted in Kisah | Leave a comment

Seorang Dokter Hewan dengan Lima “Best” nya

Adalah Dr. drh. Chaidir, yang dokter hewan itu, mantan ketua DPRD Provinsi Riau, yang mungkin waktunya lebih banyak beraktifitas di dunia politik ketimbang praktik dokter hewannya itu. Pagi ini dihadapan 256 mahasiswa baru Politeknik Caltex Riau, kampus politeknik swasta terbaik nasional itu, tokoh masyarakat Riau yang merupakan Dewan Pengawas Yayasan PCR itu banyak memberi nasihatnya yang berbobot. Layak menjadi perhatian mahasiswa baru dan semua yang hadir pagi tadi di Sidang Terbuka Senat PCR, dalam rangka pelantikan mahasiswa baru dan ultah kampus itu, yang dihadiri, alhamdulillah 100% manusia semua, 0% hewan, kecuali kuman yang tidak kasat mata. 🙂

Pak Chaidir, yang juga satu almamater beda fakultas dengan saya, Universitas Sumatera Utara, saat menyelesaikan program MM nya itu, memberikan beberapa tips nya. Menarik bagi saya, sembari duduk di meja Senat, jempol saya pun menari diatas HP pintar saya yang buatan Tiongkok itu, berikut setidaknya pesan yang disampaikan Pak Chaidir yang dapat saya tangkap.

Agar dapat bersaing saat nantinya masuk kedunia usaha, mahasiswa harus mampu berbuat tidak hanya good, baik…tapi lebih dari itu, best, yang terbaik.

Best yang pertama, Best Competence, untuk mampu bersaing, mahasiswa harus mampu menyiapkan, memiliki, kompetensi terbaik pada bidangnya masing-masing. Tidak sekedar bisa, tapi bisa melalukan yang terbaik, menjadi ahli di bidangnya.

Best yang kedua, Best Character. Menjadi orang baik itu baik. Namun jika ingin memenangkan persaingan, menjadi orang yang terbaik, berkarakter baik sangat jauh lebih penting. Pak Chaidir menyinggung nilai karakter yang telah dibangun di kampus PCR yang dianggapnya cukup untuk menggambarkan usaha kampus untuk membangun karakter warganya, Kampus Bebas Asap Rokok, Tertib Beralu Lintas, Ramah Lingkungan.

Best yang ketiga, Best Technique. Memiliki kemampuan teknis terbaik sangatlah penting. Sangat lucu rasanya jika ingin bersaing dengan dunia global kalau tidak menguasai bidang ilmunya secara teknis, alias mampu berteori saja. Untungnya hal ini selara dengan pola pendidikan di politeknik, yang 60% lebih muatannya adalah praktikum, sisanya, disisain untuk perkuliahan teori.

Best yang keempat, Best Communication, baik personal ataupun intra personal. Pak Chaidir, yang kalau lihat sekilas memiliki gestur yang sangat mirip dengan Pak Dahlan Iskan, yang kalau berbicara selalu tidak absen joke-jokenya yang segar itu, mengingatkan bahwa banyak terjadi kegaduhan dimasyarakat saat ini semuanya berasal dari kemampuan komunikasi yang buruk, munculnya kerusuhan, korupsi itu juga tidak lepas dari buruknya komunikasi. Seorang alumni yang memiliki kemampuan komunikasi terbaik, akan dapat mengomunikasinya situasi yang dihadapi. Dan ini modal besar untuk bersaing.

Best yang kelima, tentu saja, apresiasi undangan yang datang terhadap isi pidato Pak Chaidir benar-benar menunjukkan kelas beliau sebagai Best Speaker, di event sidang terbuka senat di Best Private Polythechnic itu. Semua serba the Best.

Diakhir pidatonya, beliau membaca satu pantun kuno, yang tak pernah lekang maknanya oleh waktu,

Berguru kepalang ajar, bagai bunga kembang tak jadi: belajar hendaknya bersungguh, jangan hendaknya kepalang tanggung

Yang terakhir itupun nampaknya The Best “Pantun” dipagi itu. 🙂

 

Posted in Kisah | Leave a comment

3 Jurus Yang Tak Mampu Membendung Cobaan Jabatan

Mungkin tidak seheboh peralihan Blok Rokan, ladang eksplorasi minyak di Riau itu, dari Chevron ke Pertamina.

Tidak juga seberisik persaingan dua kubu #gantipresiden dan #tetapjokowi itu.

Namun bagi saya ini cukup membuat dag dig dug ser…karena ini bicara amanah. Amanah di tempat kerja. Menjadi bagian dari pimpinan. Politeknik Caltex Riau, kampus swasta terbaik nasional itu. Dengan 50% program studinya yang sudah terakreditasi A itu.

Pagi benar kemarin lusa, Kang Dr. Dadang Syarif SS, Direktur baru Politeknik Caltex Riau yang baru diangkat itu, menelepon lewat telepon Voip yang nangkring di meja kerja saya. Dari awal cerita sudah terbayang dari balik telepon beliau sudah ketawa ketiwi saja, khas orang Sunda yang hobi “ngabodor”. Ngobrol tentang project perhitungan harga mesin pencacah pelepah kelapa sawit made in workshop kampus itu, yang sedianya akan ikut menjadi salah satu material pameran yang diunggulkan dalam rangka HARTEKNAS 2018, yang kebetulan Riau jadi tuan rumahnya itu.

Sambil terus ketawa ketiwi kamipun bertekad akan memberikan harga pasti dari produk itu, yang baru dilaunching sudah banyak industri perkebunan kelapa sawit yang berminat. Karena kepastian harga belum didapat, tak ayal transaksi masih pending.

Menginjak obrolan lebih serius, begitu kata Kang Dadang yang masih terngiang.

” Saya mau ketemu sebenarnya untuk ngomongin ini, tapi saya butuh waktu cepat, jadi saya minta bantuan bapak untuk membantu saya di kepemimpinan ini, sebagai Pembantu Direktur 2, bidang keuangan, kepegawaian dan umum ”

Sontak, ini yang langsung membuat semua obrolan sebelumnya menjadi garing, terkesan gak penting, termasuk project perhitungan harga mesin pencacah yang sudah banyak ditunggu peminatnya itu. Karena bicara amanah menjadi segala-galanya.

Astaghfirulloh, ini cobaan gumamku.

Saya sejatinya masih merasa belum pantas menempati jabatan itu. Berputarlah otak seketika dengan jurus seadanya, berusaha mengelit dari cobaan yang sangat besar itu. Mengelola keuangan kampus swasta terbaik nasional, dengan sekelompok dosen dan pegawainya yang cerdas-cerdas, dengan ribuan mahasiswanya yang kritis?

Berat, memang berat…

Tanpa menunggu serangan berikutnya, keluarlah 3 jurus untuk menghalau cobaan jabatan itu, 3 jurus, 3 alasan :

Yang pertama, ” Maaf pak, saya pikir masih banyak staf yang lain yang lebih kompeten dan berkemampuan daripada saya yang masih perlu banyak belajar”

Yang kedua, ” Maaf pak, saya masih perlu banyak belajar berfikir lebih dewasa dalam menerima setiap tugas”

Yang ketiga ” Maaf pak, saya masih merasa terlalu muda untuk jabatan seperti ini”. Sambil melirik rekan lain seruangan yang kenyataannya tidak ada yang lebih tua dari saya, saya yang paling tua hehehhehe.

Saya dulu berfikir juga begitu, dan itu juga alasan yang hampir sama saya ungkapkan pada yayasan dulu, tangkis Kang Dadang. Sembari bercerita beliau akhirnya juga bisa menjalankan amanah itu. Saya cuman bisa manggut. Maklum, Kang Dadang sempat menjadi direktur sebelumnya selama 2 tahun, sebelum ditugaskan S3.

Gitu ya pak Heri, bisa bantu di bidang 2 yah… Menutup obrolan dari voip warna abu-abu gelap buatan Tiongkok itu.

Saya sempat meminta tolong dipertimbangkan staf yang lain.

Akhirnya takdir itupun datang. Esok paginya, setelah rapat koordinasi. SK pengangkatan pejabat kampuspun berseliweran dijaringan email seluruh staf. SAH. Saya pun menerima cobaan jabatan itu dengan ikhlas.

Setelah tiga jurus juga tak mampu membendung cobaan Jabatan Pembantu Direktur bidang 2 itu. Qodarulloh.

Tidak ada lagi jurus yang perlu disiapkan untuk mengelak jabatan itu. Yang hanya bisa dilakukan adalah hanya berdoa, mohon dukungan seluruh pihak, terutama keluarga yang waktu kebersamaanya pasti ada yang berkurang, belajar menerima, melaksanakan tugas dengan penuh amanah dan terus belajar untuk memantaskan diri menjadi salah satu pimpinan kampus terbaik swasta nasional itu.

Mohon doa dan dukungannya. Semoga senantiasa amanah.

Posted in Kisah | Leave a comment

Sengeti Yang Makin Meninggi, Belilas Yang Naik Daya Belinya

Waktu menunjukkan jam 5:45, matahari nampak mulai menggeliat, hendak terbit. Mobil kamipun melaju meninggalkan Jambi menuju Pekanbaru. Usai sudah liburan lebaran kami 4 hari 3 malam di provinsi tetangga itu. Jalanan masih seperti ketika kami berangkat 4 hari sebelumnya, sepi, hanya berpapasan dengan beberapa truk sawit bersubu dua dan beberapa pemudik yang sepertinya juga sudah memasuki arus balik lebaran.

Tidak membutuhkan waktu beberapa lama kami akhirnya tiba di Sengeti, sebuah kota kecil bertetanggaan dengan Kota Jambi. Jauh berbeda, dari awal saya merantau ke Sumatera 18 tahun yang lalu, Pertumbuhan kota Sengeti ini benar-benar pesat. Banyak ruko yang sudah meninggi, dengan beberapa fasilitas kota yang lengkap, bank, dan beberapa pertokoan, tidak absen, jaringan toko kelontong nasional itu, warna strip biru, merah, kuning. Kemaren sesaat memasuki Kota Jambi, kami sempat mampir ke Sengeti, sekedar membeli minuman dan makanan di swalayan.

Perjalanan kami lanjutkan, setelah menempuh kurang lebih 4 jam perjalanan kami memasuki Provinsi Riau. Kali ini kami janjian ketemuan dengan Bang Agus, teman satu rekrutmen saya di tempat kerja. Kami sama-sama satu proses rekrutmen dulu di Pusat Jasa Ketenagakerjaan (PJK) Kampus USU, Medan. Belilas, itulah nama desanya. 13 tahun lalu saya masih merasakan hawa desanya. Listrik PLN belum masuk, walhasil jika sore menjelang magrib, lomba deru suara genset dari masing-masing rumah pun dimulai. Masuk kedalam desa, siap-siap saja terputus hubungan dengan dunia luar. Tidak ada sinyal HP. Walaupun ada beberapa warga yang kreatif membuat menara/antena tambahan sendiri, demi dilayar HP tetap muncul barisan sinyal.

Kini jauh berbeda. Belilas sudah berubah. Orang mendengar nama Belilas, sudah pasti yakin, kotanya kaya, mambu membeli apa saja, lah wong Beli Las aja sanggup :). hahaha.

Anekdot itu menjadi sebuah doa. Dandanan Kota Belilas benar-benar berubah drastis. Deretan Ruko berjejer megah, tentu saja jaringa toko swalayan nasional itu juga gak absen. Listrik PLN sudah masuk sampai ke pelosok desa, termasuk rumah Bang Agus. Sinyal HP ? gak usah kuatir ketinggalan update berita di grup WA, update instastorymu di Instagram, atau sekedar pamer foto yang gak perlu dipamerkan itu di FBmu. Sinyal masuk sampai ke pelosok Desa. Yang lebih mengejutkan, Showroom mobil dengan merk-merk terkenal pun berderet rapi. Tak jarang showroom mobil bekas juga tak mau ketinggalan. Dua Pom Bensin berukuran besarpun hadir. Daya beli masyarakatnya benar-benar meningkat. Maklum, mayoritas adalah pengusaha sawit, yang konon, dekade ini adalah dekade masa menikmati hasil kerja kerasnya selama ini. Benar-benar maju, mengalahkan Pematang Reba, yang dulu menjadi pusat jalur lintas timur dikawasan ini.

Setelah istirahat sejenak sambil menikmati secangkir kopi, sekedar silaturahmi dan menghilangkan kantuk, perjalanan kamipun kami lanjutkan tepat jam 13:30. Lalu lintas kendaraan masih cukup lengang, hanya sesekali dibeberapa ruas jalan yang terdapat tempat wisata dipinggirnya yang macet. Alhamdulillah sore hari menjelang magrib kami sudah tiba di Pekanbaru. Benar-benar perjalanan yang mengurai hikmah dan pengalaman.

Posted in Kisah | Leave a comment