Solok : Nasi Terenak di Pulau Sumatera dan Ilmu dari Seorang Pensiunan

Sore semakin menjelang, ketika mobil van biru yang membawa kami, rombongan sosialisai menuju Kota Solok. Dengan jarak tempuh sepanjang 29 Km, perjalanan dari Kota Sawah Lunto ke Kota Solok kami tempuh kurang dari satu jam. Sepanjang perjalanan kami masih disuguhi pemandangan seputar sawah, punggung Bukit Barisan dan juga beberapa jalan yang sedikit tidak rata.

Menjelang magrib, kamu pun sudah memasuki mulut Kota Solok. Setelah check in dan bersih diri di Hotel Taufina, satu dari hotel yang ada di kota penghasil beras terbaik di Sumatera ini. Tidak banyak pilihan memang untuk masalah hotel di kota yang berhawa cukup sejuk ini. Selain hotel yang kami inapi, masih ada satu hotel yang terletak di tengah kota, namun kondisinya kurang representatif.

Malam pun menjelang, usai sholat kamipun mulai mengitari Kota Solok sembari mencari tempat makan malam. Sungguh diluar dugaan, Kota Solok ternyata sangat ramai. Berbeda dengan dengan dua kota yang kami singgahi sebelumnya, suasana kota sangat terasa di Kota Solok. Kalau boleh dibandingkan, volume kendaraannya menyerupai Pekanbaru. Bedanya, di Kota Solok ini tidak banyak bangunan-bangunan tinggi. Setelah survei jalur yang akan kami lalui untuk sosialisasi ke SMA-SMA di Kota Solok, kami pun mampir ke rumah makan yang cukup terkenal didaerah tersebut, RM. Salero Kampuang. Menyajikan menu andalannya berupa nasi “Bareh Solok” dengan sayur dan lauknya khas Minang membuat makan malam kami menjadi lebih spesial. Benar-benar terasa nasi terenak di Pulau Sumatera.

Esok harinya setelah sarapan kami pun melanjutkan kegiatan sosialisasi kampus. Berbeda dengan dua kota sebelumnya. Sosialisasi kami di kota yang diapit Gunung Talang tersebut ditemani Pak Indra Masri, seorang pensiunan PT Chevron Pasifik Indonesia (PT CPI) yang telah menetap di Kota Solok. Beliau merasa sangat terpanggil untuk menemani kami, secara PT CPI merupakan founding father kampus kami.

Sosialisasi kami mulai di SMAN 1 Kota Solok, walau tidak seramah sekolah-sekolah di dua kota sebelumnya, namun tidak menyurutkan semangat kami untuk memberikan sosialisasi akan penerimaan mahasiswa baru dan beasiswa di kampus kami. Kalau meniru kata Pak Indra, sedikit aneh memang, mau diberi bantuan tapi ogah-ogahan. Tak masalah bagi saya, karena disesi sosialisasi tahun-tahun sebelumnya juga pernah mendapat sambutan model serupa.

Sosialisasi berikutnya kami lanjutkan ke SMAN 2, SMAN 3, SMAN 4, SMKN 1 dan SMKN 2, alhamdulillah semua berjalan lancar. Ada sebuah kejadian lucu, saking semangatnya merambah sekolah yang ada di Solok, sampailah kami di pintu gerbang SMKN 3 di daerah Tanjung Harapan-Solok. Sempat salah satu dari kami mempersiapkan semua berkas dan suvenir, ternyata setelah dibaca di banner yang terpampang cukup besar di tembok salah satu sekolah, kompetensinya : Tata Boga dan Tata Busana. Tidak ada program studi yang masuk di kampus kami, kamipun balik badan dan meluncur meninggalkan sekolah tersebut.

Disela-sela sosialisasi Pak Indra banyak bercerita, lebih tepatnya sharing ilmu. Diantaranya ilmu bagaimana kekuatan tekad beliau yang gigih ketika hanya diberi kesempatan kursus Bahasa Inggris selama sembilan bulan di California, malah dijadikan oleh beliau meraih gelar Master dibidang Bahasa Inggris dalam kurun waktu tak lebih dari sembilan bulan tersebut, ketika pada masanya, normalnya orang lulus setelah menempuh program master selama 18 bulan. Pak Indra berhasil meringkasnya menjadi separuh masa, well done, demikian kata pimpinan “bule”nya di Minas ketika mendapat undangan menghadiri wisudanya di SOL-California.

Kisah perkuliahannya juga tidak lupa beliau ceritakan, termasuk diantaranya bagaimana konflik dengan teman kuliah yang berasal dari RRC (China daratan) yang tukang nyontek itu. Kasus bermula ketika ada tugas kuliah, dan 80% tugasnya Pak Indra yang ngerjain, ehhh,… si teman RRC itu yang mendapat nilai bagus. Puncaknya adalah saat UAS si RRC tersebut ketahuan menyontek, dan Pak Indra melaporkan ke profesornya yang telah menaruh kepercayaan kepada kelas bahwa sang profesor yakin mereka tidak akan menyontek. Akhirnya sang profesor pun memberi hukuman yang setimpal terhadap si RRC tersebut.

Jiwa ingin berbaginya Pak Indra masih sangat jelas terurai dari obrolan-obrolan yang mengalir di dalam mobil. Beliau mengaku alasan kembali ke kota kelahirannya tersebut adalah ingin berbagi dengan orang kampungnya tentang ilmu yang beliau telah dapatkan selama aktif menjadi pegawai perusahaan minyak terbesar di pulau sumatera itu. Tidak hanya ilmu bahasa Inggris, namun juga Ilmu Tahsinul Quran, yang beliau dapat 2 tahun sebelum pensiun. Ilmu tahsin yang dimaksud adalah tahsin yang rutin diikuti di masjid PT CPI di Rumbai, Masjid Al-Ittihad. Namun sayang, sampai saat ini beliau belum menemukan pihak-pihak yang serius menerima sumbangsih ilmunya di Kota Solok. Beruntung kami ditemani beliau selama sosialisasi, secara tidak langsung, beliau mendapat langsung kenalan para kepala sekolah yang bakalan akan menindaklanjuti keinginan mulianya itu. Bahkan salah satu pengawas sekolah yang kami temui selama sosialisasi akan mengontak beliau ketika Universitas Sumatera Barat yang telah direncanakan tokoh-tokoh Sumatera Barat akan benar-benar terwujud di Kota Solok.

Pak Indra juga bercerita tentang pentingnya membangun semangat positif dikalangan anak-anak. Terutama harus menghindari kata-kata negatif, jangan, tidak, awas. Pak Indra memaparkan berbagai hasil penelitian yang menyebutkan akibat buruk akan adanya kata-kata tersebut dalam mendidik anak-anak. Diantaranya adalah, anak-anak akan menjadi takut berkreasi, takut berekspresi dan takut mengambil keputusan, karena telah terbiasa dengan kata larangan. Solusinya adalah, ungkapkan saja kata yang menganjurkan anak-anak tersebut harus berbuat apa. Misalnya, saat anak naik sepeda, kita sangat tidak dianjurkan untuk mengatakan awas jatuh. Sebut saja kalimat yang ingin kita mereka lebih berhati-hati. Misalnya, “ Hati-hati ya bang naik sepedanya”. Sulit memang, ini dikarenakan kita juga telah dibesarkan dengan banyaknya kata larangan tersebut.

Ada dua kisah yang Pak Indra ungkapkan khusus mengenai hal tersebut. Beliau bertutur, kisah yang pertama tentang mahasiswa Indonesia di Amerika, secara nilai akademik sangat diacungi jempol kepintarannya. Jauh melebihi bule-bule itu. Namun ketika dalam mata kuliah project, mahasiswa Indonesia mulai klepek-klepek, jauh tertinggal dengan bule-bule tadi. Mereka kewalahan dalam mengambil kebijakan, atau menentukan apa yang harus dikerjakan. Hal ini tidak lain adalah buah dari edukasi “larangan” yang mereka dapat semasa kecil. Takut berbuat sesuatu menjadi sebuah momok.

Kisah yang berikutnya tentang mahasiswa asal Jepang yang akan dikirim belajar di Amerika. Sebelum diberangkatkan ke negeri Paman Sam itu, mereka mendapat doktrin, di Amerika nanti dilarang begini, dilarang begitu, dilarang bla..bla.. (hingga banyak larangan yang mereka terima). Singkat cerita sampailah mereka di Amerika. Sesampai di Amerika, masuk kamar apartemen, mereka tidak melakukan apapun, takut salah…

Pak Indra tampak begitu expert menjelaskan kepada kami yang masih jauh lebih muda dari beliau, masih jauh anak-anak ketimbang beliau. Hal ini wajar saja, ternyata sebelum pensiun Pak Indra yang sebelumnya berada pada posisi instruktur sudah menempati posisi Instruktur Leadership Program, yang merupakan program persiapan untuk para pegawai PT CPI yang akan memasuki area manajemen.

Namun sayang, karena alasan kesehatan, Pak Indra tidak bisa bergabung pada sesi sosialisasi berikutnya. Setelah makan siang bersama, dan mengantarkan beliau pulang, kami pun melanjutkan sosialisasi tanpa beliau.

Advertisements
This entry was posted in Kisah. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s