Kebersamaan Melalui Bumbu Dapur

“Mbak ada brambang, minta dua siung mbak, aku lagi masak lah kok kurang sedikiiiit aja..”

” Dek, minta garam sejumput yah, lagi masak , lah pas tak incipi kok kurang garam rasanya ..”

Kira-kira seperti itulah percakapan tetangga kanan kiri rumah bapak ibuku dulu ketika mereka kekurangan bahan bumbu masakan yang tanggung jika beli di warung, solusinya ya itu, minta tetangga. Sebaliknya, demikian juga ibuku, jika merasa ada kurang bumbu di dapur ketika masak, dan tanggung, butuhnya juga sedikiiittt, biasanya satu diantara kami anak-anaknya diminta untuk minta sedikit dari dapur tetangga. Rumah di pinggiran Kota Surabaya dengan bangunan rumah khas berdempet-dempet dan jalan yang tidak terlalu lebar, justru hal tersebut memberikan kehangatan bertetangga diantara kami.

Brambang, alias bawang merah dan garam, adalah salah satu jenis bumbu dapur yang menjadi “objek”,  masih banyak lagi bumbu dapur lain yang menjadi objek “transaksi” :). Bisa ketumbar, merica, cabai, laos alias lengkuas, kunyit, kemiri dll. Tidak ada yang merasa dirugikan atau direpotkan dengan budaya tersebut. Justru setiap rumah pertetanggaan kami merasa bahagia dan ikut senang membantu. Terlebih ikut senang mensukseskan “proyek” masakan dirumah masing-masing tetangga yang merupakan persembahan terbaik untuk sang suami dan anak-anak.

Disisi lain, tak jarang juga, bukan sebagai budaya transaksional sih…, yang masakannya selesai dahulu, biasanya membawa sampel hasil masakannya, untuk sekedar sebagai ucapan terima kasih, ataupun sebagai media untuk meminta masukan yang “membangun” agar masakannya lebih baik.

“Mbak, iniloh jangan kacang beras yang saya masak tadi, coba mbak incipi, eunakkk loh, tapi rodok pedas sih ” 🙂

Itulah sisi kehidupan pertetanggaan yang masih melekat di ingatan saya. Betapa, hanya melalui bumbu dapur, secuplik, yang tak seberapa, tercipta sebuah kebersamaan. Yah, kebersamaan melalui bumbu dapur. Hikmah lainnya yang kami sadari belakangan adalah, kami anak-anaknya jadi mengenal berbagai macam bumbu, minimal bisa membedakan mana kunyit, mana lengkuas, mana jahe, kencur, daun sereh, daun salam, merica, pala, ketumbar, dan kawan-kawannya yang lain.

Kira-kira, masih adakah percakapan seperti diawal tulisan ini dilingkungan rumah kita ? Masih adakah kebersamaan melalui saling melengkapi bumbu dapur ?

Wallohu a’lam.

Albaroyo, Asli Bahasa Suroboyo :

brambang = bawang merah

sejumput = mengambil dengan tangkupan ujung-ujung jari

jangan = sayur

rodok = agak

secuplik = sangat sedikit

Advertisements
This entry was posted in Kisah. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s