Belajar dari pedagang Malioboro : Mau Untung Besar Atau Untung Kecil ?

Bulan lalu kebetulan saya ada tugas pelatihan Penjaminan Mutu di Kota Pelajar, Yogyakarta. Berhubung hotel tempat saya menginap tidak jauh dari kawasan bisnis dan wisata Malioboro, tentu saja ketika pelatihan selesai, saya manfaatkan untuk jalan-jalan diseputaran Malioboro sembari belanja beberapa barang untuk oleh-oleh di Pekanbaru.

Berjalan disepanjang koridor toko yang berjajar di Malioboro tidak pernah membosankan, barang dagangan yang ditawarkanpun terlihat cukup menarik dan menghibur, meskipun tidak membeli, saya dapat merasakan aura ekonomi kreatifnya. Sebut saja pernak-pernik gantungan kunci, kaos dengan beragam gambar menarik, bahkan beberapa kerajinan kayu yang serba unik.

Diantara kerumunan para penjual dan pembeli yang mencoba menawar barang ada satu yang menarik perhatian saya. Sebuah papan dengan tulisan yang kurang lebih isinya agar para pengunjung menanyakan betul informasi harga sebelum membeli. Himbauan tersebut dikeluarkan resmi oleh Dinas Pariwisata Yogyakarta. Tak ada asap jika tak ada api. Tentu himbauan tersebut dibuat bukan karena tak ada maksud. Sudah sering kita ketahui pengalaman teman-teman yang pernah traveling ke Malioboro, kemudian jajan, dan kena charge harga yang selangit tak wajar, aji mumpung istilahnya. Saya sendiri sudah pengalaman dua kali kena hal demikian. Yang pertama saat berkunjung kali pertama di Malioboro dan menikmati seporsi bebek panggang, sekitar 7-8 tahun yang lalu itu dihargai 50 ribu seporsi, hampir 3 kali lipat di Pekanbaru. Kala itu benar-benar pengalaman pertama nyobain sadisnya harga. Kali kedua ini bener-bener iseng. Iseng nyobain, apakah sesudah ada himbauan dari Dinas Pariwisata sikap pedagangnya sudah berubah, ternyata tidak. Didepan Pasar Bringharjo yang masih dikawasan Malioboro, iseng saya makan nasi pecel, lauk tempe dan telor, plus air mineral, di charge 28 ribu. Masih sama, hampir 3 kali lipat di Pekanbaru. Kali kedua itu, saya benar-benar iseng, meskipun pesan dengan menggunakan bahasa jawa halus, saya tidak menanyakan harga, kali aja si ibu penjual agak paham, ternyata tidak, tetap di charge harga sadis. :).

Berbanding terbalik dengan pedagang yang masih dikawasan yang sama namun menjajakan barang atau souvenir. Harganya masih terbilang wajar dan bahkan tak jarang pembeli dapat menawar harga lebih rendah jika membeli dengan jumlah banyak.

Sebenarnya fenomena tersebut tidak hanya terjadi di Malioboro, hal itu secara kita sadari terjadi umum di Indonesia, terutama tempat-tempat wisata, dan daerah yang jarang pengunjung, misalnya jalur lintas, seperti rumah makan disepanjang jalur lintas sumatera yang juga menawarkan harga sadis. Bagi kebanyakan orang hal tersebut sering disebut aji mumpung, karena orang yang belanja jarang mampir, maka sekali mampir langsung di charge sesadis-sadisnya.

Secara ilmu keuangan, hal tersebut, yang dilakukan oleh pedagang makanan di Malioboro, ataupun di tempat wisata lainnya masih terhitung wajar, wajar dari sudut ekonomi dan manajemen keuangan. Secara umum, tujuan pedagang adalah untuk mendapatkan Return, alias Income alias laba alias untung. Gambaran kemampuan menghasilkan untung tersebut biasanya diukur dengan rasio Return On Investment (ROI). Rumus ROI sendiri adalah :

ROI = Income/Investment

ROI menggambarkan berapa keuntungan bersih dibandingkan dengan investasi. Suatu usaha yang memiliki nilai ROI yang semakin tinggi menunjukkan semakin baik usaha tersebut dalam meraih laba. Bahasa anak bangku kuliahnya profitabilitasnya semakin naik. Contoh mudahnya, sebuah usaha mendapatkan laba 100 ribu dari total investasi 1 jt, berarti ROI = 100.000/1.000.000 = 10%, sedangkan usaha yang lain mendapatkan laba 200 ribu dari total investasi 1 jt, berarti ROI = 200.000/1.000.000 = 20%. ROI usaha yang 20% tentu lebih baik dari ROI usaha yang 10%.

PM VS ATO.

Secara keuangan ROI juga dapat dicari dengan rumus sebagai berikut :

ROI = Profit Margin x Asset Turnover

karena : Profit Margin = Income/Sales, dan Asset Turnover = Sales/Total Asset

maka ROI = (Income/Sales) x (Sales/Total Asset)

ROI = Income/Total Asset

karena Investasi utamanya berupa aset, maka Total Asset= Investment

Sehingga Rumus ROI menjadi = Income/Investment. Beberapa pakar menyebut ROI dengan ROA (Return on Asset) sama. Dengan catatan investment = asset.

Berdasarkan rumus tersebut, berarti ada dua cara utama yang umum ditempuh pedagang untuk menaikkan ROI nya. Yang pertama adalah dengan menentukan harga tinggi walaupun akibatnya pembeli sepi, barang dagangan tidak banyak yang terjual. Hal ini disebut strategi menaikkan profit margin. Yang kedua dengan menentukan harga murah, yang penting yang beli banyak, barang dagangan banyak terjual. Hal ini yang disebut strategi menaikkan asset turnover.

Strategi PM atau ATO adalah pilihan. Kita tidak bisa, bahkan sangat sulit memasangkan keduanya, setiap usaha harus memilih salah satu. Tidak mungkin suatu produk/jasa, kita naikkan harga maka pembeli akan semakin ramai. Harga barang naik, untung besar, profit margin naik, barang banyak yang laku, asset turnover naik. Sulit cenderung mustahil, melawan hukum ekonomi, supply-demand-price.

Dengan hitungan tersebut, saya jadi memahami mengapa penjaja baju, souvenir dan cinderamata lainnya di Malioboro menjual murah, dan mengapa penjaja makanannya mihil-mihil banget.

Disisi lain, hal ini juga menunjukkan saya, mengapa hypermart, Giant, Lottemart dan swalayan besar lainnya jauh menjual barang dagangannya lebih murah. Karena mereka tidak bermain diuntung besar, tapi bermain di jumlah pembeli yang banyak. Biar Profit Marginnya kecil, yang penting Asset Turnovernya tinggi. Bandingkan dengan Alfamart, Indomaret, Circle-K, atau bahkan warung dipinggir jalan lintas provinsi. Mereka menerapkan sebaliknya, biar yang beli sedikit, yang penting untung besar. Biar Asset Turnover rendah, yang penting Profit Margin tinggi.

Mungkinkah oleh-oleh kekinian yang sedang marak akhir-akhir ini juga menerapkan startegi PM VS ATO ? Sebut saja Medan Napoleon, Surabaya Snowcake, Malang Strudel, JOgja Scrummy dkk. Yang beli sedikit, yang dijual sedikit, yang penting laba tinggi.

Kalo anda memilih mana, mau untung besar tapi sedikit yang beli, atau mau untung kecil tapi banyak yang beli. Bagaimanapun strateginya, tetap kreatif dan ROI terjaga yah..

Salam pengusaha.. !

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s