Lima Tempat Untuk Obat

Ada banyak cara yang sering dilakukan orang untuk mengobati rasa rindunya akan kampung halaman, kota kelahirannya, atau tempat dimana dia dibesarkan. Salah satunya adalah dengan mengenang cita rasa kulinernya, alias mengobati rindu melalui lidah yang mengecap. Termasuk mengenang Kota Surabaya dan Jawa Timurannya di Pekanbaru, Riau….

Dengan kultur Melayu yang kental memang susah-susah gampang mencari beragam tempat kuliner yang mampu membawa cita rasa Jawa Timur, khususnya Surabaya, yang terkenal dengan masakan yang pedas bercampur manis dengan bumbu yang tak pernah absen, Petis. Yahh pasta berwarna hitam yang terbuat dari olahan ikan, udang, ataupun kupang itu.

Sebenarnya dengan banyaknya menyebar Warung Pecel Lele di se-antero Indonesia Raya termasuk di Pekanbaru, sebenarnya sudah mewakili lidah jawa timurannya. Namun ternyata tidak semua masakan di Warung Pecel Lele itu pas dengan lidah Jawa Timuran, alias dengan rasa kenangan yang terekam dimemori indra pengecap kita. Setelah sudah belasan tahun di kota bertuah ini, berikut lima tempat yang saya yakini bisa menjadi obat rindu akan Surabaya dan Jawa Timurannya. Lima tempat ini menurut lidah pengecap saya sangat pas dengan cita rasa asli Jawa Timurannya.

Yuk kita simak satu per satu …

  1. Warung LA Boom Sea Food, Jl. Yos Sudarso, Rumbai

Dulunya warung ini berupa warung tenda dan pertama kali terletak di depan kantor/menara TELKOM di Jl. Umbansari. Tepat didepan lapangan olahraga Caltex (sekarang Taman Olah Raga Rumbai). Sebenarnya ada beberapa warung pecel lele di deretan Jl. Umbansari, namun Boom Sea Food-lah yang eksis dan selalu ramai. Karena semakin ramai dan pesat, sehingga parkirpun susah, terlebih parkir mobil. Akhirnya Boom Sea Food yang mengusung gambar Bom di Tendanya itu pindah ke tempat yang lebih representatif di Jl. Yos Sudarso, tidak jauh dari simpang empat lampu merah, kira-kira sekitar 400 meter dari simpang lampu merah ke arah Kota Pekanbaru. Boom Sea Food terletak disebelah kiri, setelah jl. Harapan, sebelum Pom Bensin.

Boom Sea Food terkenal dengan sambalnya yang muanteb, pedasnya menggoda dan cita rasa terasinya pas. Mungkin ini yang membuatnya tetap bertahan dan eksis hingga sekarang. Selain pelayanannya yang ramah yang  Lamongan  Asli  (LA) bisa kita manfaatkan untuk melatih bahasa Jawa Timuran kita yang mungkin jarang kita gunakan, Untuk masalah parkir tidak usah kuatir, motor ataupun mobil aman, tukang parkirnya juga sangat sigap mengatur parkir kita.

2. Warung Suroboyo, Jl. Pembangunan, Sukajadi

Warung ini bener-bener khas Suroboyo, sepertinya pemilik serta seluruh kru memang asli Suroboyo. Terlihat jelas dengan warna warungnya yang ijo royo-royo, seperti terinspirasi ama Bajul Ijo, PERSEBAYA, tim kebanggaan arek-arek Suroboyo. Terletak di Jl, Pembangunan di daerah Sukajadi membuat warung yang menempati deretan Ruko sebelah kiri jalan ini (jika kita masuk dari jl. Nangka/ Tuanku Tambusai) mudah dijangkau. Setiap saya dan keluarga kesini selalu ada dua kenangan, yang pertama kulinernya, yang kedua, palang depan gangnya ada tulisan SMPN 17 Pekanbaru, jadi teringat akan SMPN 17 Surabaya 🙂

Untuk mencapainya, dari Jl. Nangka/Tuanku Tambusai, kita masuk Jl. Pembangunan, Kampung Melayu, Sukajadi (didepannya ada palang penunjuk SMPN 17 Pekanbaru). Kira-kira 125 Meter, disebelah kiri kita akan menjumpai warung ruko berwarna hijau. Warung Suroboyo terletak paling sebelah kanan ruko.

Banyak aneka kuliner spesial Surabaya dengan cita rasa yang pas banget menurut saya bisa kita dapatkan disini. Mulai dari Nasi Rawonnya yang maknyusss.., Sego pecelnya yang seakan membuat kita serasa sarapan di Surabaya, terlebih saat kita menggigit peyeknya yang kiwir-kiwir kesiram sambal pecelnya :).  Dan yang paling khas diwarung ini adalah Rujak Cingurnya yang bisa kita pesan pedes maksimal…, petisnya banjir, bener-bener membuat kita tenggelam dalam cita rasa cingurnya. Selain itu, kita juga bisa melepas kangen dengan soto surabaya, yang biasa kita jumpai di Surabaya dengan gerobak keliling. Cuman untuk soto, menurut saya sedikit lari dari cita rasa Surabaya Aslinya. Untuk lontong kikil, kadang ada kadang tak masak :(.  Cuman sayangnya, untuk tahu campur belum ada disini 🙂

Sembari makan, kita juga bisa terus mengasah bahasa Suroboyoan kita agar tidak punah 🙂

Untuk masalah parkir tidak usah kuatir, meskipun dideretan ruko, selain parkir didepan ruko, ternyata pihak pengelola sudah punya parkir tambahan diseberang ruko, (menyeberangi parit besar).

3. Warung GOPEK.

Dari namanya sangat familiar, yahh…familiar dengan murahnya, maklum saja karena berada dikawasan kampus, tentu marketnya yah mahasiswa, gak boleh mahal-mahal 🙂 . Warung Gopek ini memiliki ke khasan cita rasa sambalnya yang pedas banget. Bahkan kita bisa menyaksikan langsung bagaimana sambal “dadakan”nya dibuat melalui cobek besar dan batu gilingnya yang khas Jawa Timuran itu.

Selain itu, es tehnya dan es jeruknya juga tersedia dengan versi jumbo, alias disajikan dengan gelas yang guede banget. Tentunya masih dengan harga mahasiswa. Karena harga yang sangat bersahabat jangan heran juga kalau ikan, atau ayamnya per porsinya juga tidak terlalu besar. Tapi untuk cita rasa puedes yang nendang banget, gak bakalan kecewa. Untuk porsi kalau kurang yahhh tinggal pesan satu porsi lagi… 🙂

Sebenarnya Warung Gopek ini sekarang sudah ada dua cabang, dan keduanya masih mengusung harga mahasiswa, jadi gak jauh-jauh dari dua kampus besar di Pekanbaru.

Yang pertama di kawasan Universitas Riau, di Jl. Balam Sakti. Dari Jl. HR. Subrantas, tepat disebelah kiri RSJ Tampan kita masuk ke Jl. Balam Sakti, kurang lebih 800 Meter masuk, sebelum simpang tiga Jl. Binakrida, tepat disebelah kanan, Warung Gopek berada. Untuk masalah parkir, tidak usah khawatir, disebelah ruko ada lahan kosong yang untuk saat ini difungsikan untuk parkir pengunjung.

Yang kedua di kawasan Universitas Islam Negeri. di Jl. Garuda Sakti. Dari simpang empat Panam, kita belok kanan ke arah Jl. Garuda Sakti, kira-kira 900 Meter, disebelah kiri jalan kita akan mendapati Musholla Alhamdulillah, nahh Warung Gopek tepat berada disebelah kanan jalannya, dideretan Ruko paling sebelah kiri. Citarasa pas, sama dengan cabang yang di Jl. Balam Sakti, dan untuk parkir juga sangat luas.

4. Pecel Lele Cak Budi

Namanya emang pecel lele namun yang menurut saya membuat obat kangen Surabaya adalah menu Tehu Tek dan Sego Goreng Jowonya. Tahu teknya benar-benar banjir petis, dengan tingkat kepedasan yang bisa kita request maksimal. Kalau menurut saya yang asli orang Surabaya, Cak Budi cukup sukses menyajikan Tahu Teknya, walaupun ada sedikit penyesuaian dengan lidah orang Pekanbaru, yakni telurnya kebanyakan dari pada tahunya 🙂

Untuk Sego Goreng Jowonya bener-bener pas cita rasa gerobak tok-tok yang sering keliling di Kota Surabaya. terlebih campuran kecambahnya yang makin membuat khas.

Untuk mencapai warung Cak Budi, dari simpang empat pasar pagi Arengka, kita memilih menuju ke selatan , arah Jl. Soekarno Hatta (Arengka 1). Kurang lebih 1 KM disebelah kiri kita akan mendapati Plang Nama Pecel Lele Cak Budi. Untuk parkir tidak usah khawatir, sangat luas. Sembari makan kita juga bisa terus melatih Boso Suroboyoane yo rek..

 

5. Warung Nganjuk

Terletak tidak tepat disebelah kiri Plaza Citra Jl. Pepaya membuat warung ini sangat mudah dijangkau. Dari Jl. Nangka/Tuanku Tambusai, kita masuk ke Jl, Pepaya, kira-kira 50 Meter sebelah kiri jalan kita akan menemukan warung Nganjuk yang bernuansa warna hijau. Memang untuk parkir mobil kita perlu sedikit jeli melihat bahun jalan yang kosong, lantaran tidak tersedia banyak lahan parkir untuk kendaraan roda empat. Sedangkan untuk kendaraan roda dua cukup aman untuk area parkirnya.

Yang paling khas dari Warung Nganjuk adalah segala pepesnya, alias Bothok’an. Berbagai macam pepesnya enak semua, mulai dari tahu, tempe, lamtoro gung, ikan asin, tongkol, jeroan, hingga telor asin.Semuanya maknyuss… Meskipun demikian, warung Nganjuk juga menjual berbagai masakan jawa timuran, kothok’an misalnya , bahkan ada juga Nasi Rawon, cuman untuk nasi rawon rasanya masih kalah dengan Warung Suroboyo.

Itulah lima tempat yang mudah-mudahan bisa menjadi obat kangen Surabaya dan Jawa Timurannya…

Selamat mencoba.

Catatan :

  1. Sengaja tidak ada gambar, karena menjaga konsep semua tulisan di blog ini no picture, biar sipembaca lebih bebas berekspresi, membayangkan apa yang dibaca. Selain biar tetap enteng kalau di akses 🙂
  2. Khusus tulisan kuliner tidak menyebutkan harga masing-masing menu, selain saya belum mencoba seluruh menu yang ada di tempat kuliner yang bersangkutan, juga menghindari kekecewaan pembaca jika ada perubahan/kenaikan harga. Namun sepanjang pengalaman saya menikmati kuliner suroboyoan di kelima tempat tersebut, untuk harga, saya menilai sangat wajar.

 

Advertisements
This entry was posted in Kisah. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s