Tiga Kesalahan Yang Sering Muncul dalam Penelitian Akuntansi Manajemen

Topik penelitian dibidang akuntansi memang sangat banyak, mulai dari akuntansi keuangan, dan saudara mudanya, akuntansi manajemen, perpajakan hingga auditing dan komputerisasi akuntansi. Satu topik yang cukup mencuri perhatian saya akhir-akhir ini adalah topik bidang akuntansi manajemen.

Dalam tulisan saya kali ini fokus membahas 3 kesalahan yang sering muncul baik itu dibeberapa proposal penelitian yang saya review, jurnal dan penelitian yang saya baca atau bahkan beberapa buku terbitan nasional.

Akuntansi Differensial

Kesalahan yang sering saya dapati yang pertama adalah topik khusus akuntansi differensial. Akuntansi differensial memiliki konsep dasar bahwa akuntansi ini dapat diterapkan jika perusahaan atau objek akuntansi/penelitian memiliki lebih dari satu alternatif pilihan. Artinya jika perusahaan dalam pengambilan keputusannya tidak memiliki lebih dari satu alternatif penelitian, maka tidak dapat diterapkan akuntansi differensial. Beberapa mahasiswa, masih ngotot akan menerapkan akuntansi differensial pada objek penelitiannya sedangkan perusahaan sendiri tidak ada alternatif lain dalam mengambil sebuah keputusan yang dimaksud.

Salah satu contohnya ada seorang mahasiswa meneliti salah satu pabrik kopi terbesar di Pekanbaru. Beliau mencoba memasukkan alternatif untuk menambah pendapatan perusahaan dengan memproduksi sesuatu yang lain dari yang biasa diproduksi. Setelah beberapa kali saya review ternyata seluruh sumberdaya yang dimiliki perusahaan memang tidak menunjukkan adanya alternatif tersebut dapat dilakukan, sehingga hal ini bukan sebuah alternatif. Sebagai reviewer, saya menyarankan untuk menggali lebih dalam informasi mengenai alternatif yang dimaksud. Setelah sekian lama, berbulan-bulan, beliau tidak lagi konsultasi, besar kemungkinan memang tidak ada alternatif lain, artinya akuntansi diferensial tidak dapat diterapkan dalam penelitiannya.

Kesalahan kedua yang sering saya dapati masih terkait dengan akuntansi diferensial. Kali ini terkait dengan timing, dimensi waktunya.

Secara konsep mendasar, akuntansi diferensial diterapkan untuk membantu memberi kepastian secara terukur suatu pilihan alternatif terbaik yang akan dipilih perusahaan. Kenyataannya, banyak penelitian yang meneliti akuntansi diferensial pada saat perusahaan sudah mengambil suatu keputusan dari berbagai alternatif keputusan yang ada. Hal ini berarti, manfaat mendasar akuntansi diferensial sudah tidak berfungsi lagi. Dengan kata lain, timing penelitian sudah tidak tepat lagi.

Activity Based Costing

Penelitian dengan tema Activity Based Costing (ABC) adalah penelitian yang njlimet, detil dan butuh ketelitian yang tinggi. Hal ini karena peneliti dituntut untuk dengan cermat mendata setiap aktifitas dan alokasi biaya yang digunakan untuk membiayai aktifitas tersebut.

Sejatinya konsep ABC muncul seiring dengan semakin tingginya komponen biaya produksi pada bagian Biaya Overhead. Biaya produksi sendiri terdiri dari tiga komponen besar :

  1. Biaya bahan baku
  2. Biaya tenaga kerja langsung
  3. Biaya overhead

Untuk biaya yang kedua dan ketiga, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead, besar nilainya bersifat substitusi. Artinya, jika biaya tenaga kerja tinggi, biaya overhead akan turun, demikian sebaliknya.

Contohnya, misalkan sebuah peternakan sapi, yang memperkerjakan 25 orang karyawan untuk memerah susu sapi yang jumlahnya 100 ekor. Masing-masing memiliki tanggungjawab untuk memerah 4 ekor sapi dalam sehari. Dengan kondisi seperti ini, komponen biaya pemerahan susu sapi lebih akan tinggi pada komponen biaya tenaga kerja langsung, sedangkan biaya overhead akan rendah, mungkin hanya sarung tangan karet dan ember.

Bandingkan dengan peternakan yang menggunakan mesin pemerah susu yang dijalankan secara komputerisasi. 1 orang karyawan dapat menjalankan mesin pemerah yang dapat sekaligus memerah susu dari 25 ekor sehari. Sehingga hanya butuh mempekerjakan 4 orang karyawan. Sehingga biaya tenaga kerja akan turun, sebaliknya, biaya overhead akan naik.

Dapat dipastikan penelitian tentang ABC akan sukses dan tepat diterapkan pada objek penelitian yang memiliki karakteristik biaya overhead yang tinggi, ketimbang biaya tenaga kerja. Kesalahan penerapan penelitian bertema ABC yang sering saya dapati adalah peneliti tetap ngoto menerapkan ABC pada objek penelitiannya meskipun komponen biaya overhead terhitung tidak signifikan.

Semoga kesalahan-kesalahan tersebut menjadi pelajaran buat kita semua. Selamat meneliti….

Advertisements
Posted in Fenomena | Leave a comment

Lima Tempat Untuk Obat

Ada banyak cara yang sering dilakukan orang untuk mengobati rasa rindunya akan kampung halaman, kota kelahirannya, atau tempat dimana dia dibesarkan. Salah satunya adalah dengan mengenang cita rasa kulinernya, alias mengobati rindu melalui lidah yang mengecap. Termasuk mengenang Kota Surabaya dan Jawa Timurannya di Pekanbaru, Riau….

Dengan kultur Melayu yang kental memang susah-susah gampang mencari beragam tempat kuliner yang mampu membawa cita rasa Jawa Timur, khususnya Surabaya, yang terkenal dengan masakan yang pedas bercampur manis dengan bumbu yang tak pernah absen, Petis. Yahh pasta berwarna hitam yang terbuat dari olahan ikan, udang, ataupun kupang itu.

Sebenarnya dengan banyaknya menyebar Warung Pecel Lele di se-antero Indonesia Raya termasuk di Pekanbaru, sebenarnya sudah mewakili lidah jawa timurannya. Namun ternyata tidak semua masakan di Warung Pecel Lele itu pas dengan lidah Jawa Timuran, alias dengan rasa kenangan yang terekam dimemori indra pengecap kita. Setelah sudah belasan tahun di kota bertuah ini, berikut lima tempat yang saya yakini bisa menjadi obat rindu akan Surabaya dan Jawa Timurannya. Lima tempat ini menurut lidah pengecap saya sangat pas dengan cita rasa asli Jawa Timurannya.

Yuk kita simak satu per satu …

  1. Warung LA Boom Sea Food, Jl. Yos Sudarso, Rumbai

Dulunya warung ini berupa warung tenda dan pertama kali terletak di depan kantor/menara TELKOM di Jl. Umbansari. Tepat didepan lapangan olahraga Caltex (sekarang Taman Olah Raga Rumbai). Sebenarnya ada beberapa warung pecel lele di deretan Jl. Umbansari, namun Boom Sea Food-lah yang eksis dan selalu ramai. Karena semakin ramai dan pesat, sehingga parkirpun susah, terlebih parkir mobil. Akhirnya Boom Sea Food yang mengusung gambar Bom di Tendanya itu pindah ke tempat yang lebih representatif di Jl. Yos Sudarso, tidak jauh dari simpang empat lampu merah, kira-kira sekitar 400 meter dari simpang lampu merah ke arah Kota Pekanbaru. Boom Sea Food terletak disebelah kiri, setelah jl. Harapan, sebelum Pom Bensin.

Boom Sea Food terkenal dengan sambalnya yang muanteb, pedasnya menggoda dan cita rasa terasinya pas. Mungkin ini yang membuatnya tetap bertahan dan eksis hingga sekarang. Selain pelayanannya yang ramah yang  Lamongan  Asli  (LA) bisa kita manfaatkan untuk melatih bahasa Jawa Timuran kita yang mungkin jarang kita gunakan, Untuk masalah parkir tidak usah kuatir, motor ataupun mobil aman, tukang parkirnya juga sangat sigap mengatur parkir kita.

2. Warung Suroboyo, Jl. Pembangunan, Sukajadi

Warung ini bener-bener khas Suroboyo, sepertinya pemilik serta seluruh kru memang asli Suroboyo. Terlihat jelas dengan warna warungnya yang ijo royo-royo, seperti terinspirasi ama Bajul Ijo, PERSEBAYA, tim kebanggaan arek-arek Suroboyo. Terletak di Jl, Pembangunan di daerah Sukajadi membuat warung yang menempati deretan Ruko sebelah kiri jalan ini (jika kita masuk dari jl. Nangka/ Tuanku Tambusai) mudah dijangkau. Setiap saya dan keluarga kesini selalu ada dua kenangan, yang pertama kulinernya, yang kedua, palang depan gangnya ada tulisan SMPN 17 Pekanbaru, jadi teringat akan SMPN 17 Surabaya 🙂

Untuk mencapainya, dari Jl. Nangka/Tuanku Tambusai, kita masuk Jl. Pembangunan, Kampung Melayu, Sukajadi (didepannya ada palang penunjuk SMPN 17 Pekanbaru). Kira-kira 125 Meter, disebelah kiri kita akan menjumpai warung ruko berwarna hijau. Warung Suroboyo terletak paling sebelah kanan ruko.

Banyak aneka kuliner spesial Surabaya dengan cita rasa yang pas banget menurut saya bisa kita dapatkan disini. Mulai dari Nasi Rawonnya yang maknyusss.., Sego pecelnya yang seakan membuat kita serasa sarapan di Surabaya, terlebih saat kita menggigit peyeknya yang kiwir-kiwir kesiram sambal pecelnya :).  Dan yang paling khas diwarung ini adalah Rujak Cingurnya yang bisa kita pesan pedes maksimal…, petisnya banjir, bener-bener membuat kita tenggelam dalam cita rasa cingurnya. Selain itu, kita juga bisa melepas kangen dengan soto surabaya, yang biasa kita jumpai di Surabaya dengan gerobak keliling. Cuman untuk soto, menurut saya sedikit lari dari cita rasa Surabaya Aslinya. Untuk lontong kikil, kadang ada kadang tak masak :(.  Cuman sayangnya, untuk tahu campur belum ada disini 🙂

Sembari makan, kita juga bisa terus mengasah bahasa Suroboyoan kita agar tidak punah 🙂

Untuk masalah parkir tidak usah kuatir, meskipun dideretan ruko, selain parkir didepan ruko, ternyata pihak pengelola sudah punya parkir tambahan diseberang ruko, (menyeberangi parit besar).

3. Warung GOPEK.

Dari namanya sangat familiar, yahh…familiar dengan murahnya, maklum saja karena berada dikawasan kampus, tentu marketnya yah mahasiswa, gak boleh mahal-mahal 🙂 . Warung Gopek ini memiliki ke khasan cita rasa sambalnya yang pedas banget. Bahkan kita bisa menyaksikan langsung bagaimana sambal “dadakan”nya dibuat melalui cobek besar dan batu gilingnya yang khas Jawa Timuran itu.

Selain itu, es tehnya dan es jeruknya juga tersedia dengan versi jumbo, alias disajikan dengan gelas yang guede banget. Tentunya masih dengan harga mahasiswa. Karena harga yang sangat bersahabat jangan heran juga kalau ikan, atau ayamnya per porsinya juga tidak terlalu besar. Tapi untuk cita rasa puedes yang nendang banget, gak bakalan kecewa. Untuk porsi kalau kurang yahhh tinggal pesan satu porsi lagi… 🙂

Sebenarnya Warung Gopek ini sekarang sudah ada dua cabang, dan keduanya masih mengusung harga mahasiswa, jadi gak jauh-jauh dari dua kampus besar di Pekanbaru.

Yang pertama di kawasan Universitas Riau, di Jl. Balam Sakti. Dari Jl. HR. Subrantas, tepat disebelah kiri RSJ Tampan kita masuk ke Jl. Balam Sakti, kurang lebih 800 Meter masuk, sebelum simpang tiga Jl. Binakrida, tepat disebelah kanan, Warung Gopek berada. Untuk masalah parkir, tidak usah khawatir, disebelah ruko ada lahan kosong yang untuk saat ini difungsikan untuk parkir pengunjung.

Yang kedua di kawasan Universitas Islam Negeri. di Jl. Garuda Sakti. Dari simpang empat Panam, kita belok kanan ke arah Jl. Garuda Sakti, kira-kira 900 Meter, disebelah kiri jalan kita akan mendapati Musholla Alhamdulillah, nahh Warung Gopek tepat berada disebelah kanan jalannya, dideretan Ruko paling sebelah kiri. Citarasa pas, sama dengan cabang yang di Jl. Balam Sakti, dan untuk parkir juga sangat luas.

4. Pecel Lele Cak Budi

Namanya emang pecel lele namun yang menurut saya membuat obat kangen Surabaya adalah menu Tehu Tek dan Sego Goreng Jowonya. Tahu teknya benar-benar banjir petis, dengan tingkat kepedasan yang bisa kita request maksimal. Kalau menurut saya yang asli orang Surabaya, Cak Budi cukup sukses menyajikan Tahu Teknya, walaupun ada sedikit penyesuaian dengan lidah orang Pekanbaru, yakni telurnya kebanyakan dari pada tahunya 🙂

Untuk Sego Goreng Jowonya bener-bener pas cita rasa gerobak tok-tok yang sering keliling di Kota Surabaya. terlebih campuran kecambahnya yang makin membuat khas.

Untuk mencapai warung Cak Budi, dari simpang empat pasar pagi Arengka, kita memilih menuju ke selatan , arah Jl. Soekarno Hatta (Arengka 1). Kurang lebih 1 KM disebelah kiri kita akan mendapati Plang Nama Pecel Lele Cak Budi. Untuk parkir tidak usah khawatir, sangat luas. Sembari makan kita juga bisa terus melatih Boso Suroboyoane yo rek..

 

5. Warung Nganjuk

Terletak tidak tepat disebelah kiri Plaza Citra Jl. Pepaya membuat warung ini sangat mudah dijangkau. Dari Jl. Nangka/Tuanku Tambusai, kita masuk ke Jl, Pepaya, kira-kira 50 Meter sebelah kiri jalan kita akan menemukan warung Nganjuk yang bernuansa warna hijau. Memang untuk parkir mobil kita perlu sedikit jeli melihat bahun jalan yang kosong, lantaran tidak tersedia banyak lahan parkir untuk kendaraan roda empat. Sedangkan untuk kendaraan roda dua cukup aman untuk area parkirnya.

Yang paling khas dari Warung Nganjuk adalah segala pepesnya, alias Bothok’an. Berbagai macam pepesnya enak semua, mulai dari tahu, tempe, lamtoro gung, ikan asin, tongkol, jeroan, hingga telor asin.Semuanya maknyuss… Meskipun demikian, warung Nganjuk juga menjual berbagai masakan jawa timuran, kothok’an misalnya , bahkan ada juga Nasi Rawon, cuman untuk nasi rawon rasanya masih kalah dengan Warung Suroboyo.

Itulah lima tempat yang mudah-mudahan bisa menjadi obat kangen Surabaya dan Jawa Timurannya…

Selamat mencoba.

Catatan :

  1. Sengaja tidak ada gambar, karena menjaga konsep semua tulisan di blog ini no picture, biar sipembaca lebih bebas berekspresi, membayangkan apa yang dibaca. Selain biar tetap enteng kalau di akses 🙂
  2. Khusus tulisan kuliner tidak menyebutkan harga masing-masing menu, selain saya belum mencoba seluruh menu yang ada di tempat kuliner yang bersangkutan, juga menghindari kekecewaan pembaca jika ada perubahan/kenaikan harga. Namun sepanjang pengalaman saya menikmati kuliner suroboyoan di kelima tempat tersebut, untuk harga, saya menilai sangat wajar.

 

Posted in Kisah | Leave a comment

Muliakan Islam Melalui Parkir Mobil

“Harap bapak/ibu yang memarkir mobilnya pararel di pinggir jalan hingga berlapis tiga agar segera memindahkan ketempat yang lain, hanya parkir pararel satu lapis yang kita izinkan, kalau sudah tiga itu sudah sangat mengganggu pengguna jalan yang lain, dholim namanya ”

Demikian kira-kira suara tegas dan jelas yang keluar dari speaker masjid tempat dilaksanakannya sebuah Tabligh Akbar yang dihadiri oleh ribuan jamaah tersebut.

” Bagi siapa saja yang tidak memindahkan mobilnya, harap setelah acara berakhir, silahkan mengambil mobilnya di Dinas Perhubungan atau Polsek, karena mobilnya akan kami derek”

Lebih tegas lagi, Pak Kapoltabes, yang juga panitia Tabligh Akbar kembali menekankan pengumumannya.

Demikianlah yang sering terjadi memang dilingkungan kita, atau bahkan  kita sendiri juga pelakunya.Sering kita, alih-alih menuntut ilmu, beribadah, namun justru kita lakukan dengan mendholimi saudara kita yang lain. Seperti halnya dengan kisah yang saya paparkan diatas. Alih-alih mengikuti kajian untuk mempersholeh diri, namun dilakukan dengan cara yang tidak patut, mendholimi saudaranya, mengganggu lalu lintas pengguna jalan yang lain, yang mungkin karena macet keperluannya menjadi tertunda, belum lagi jika ada mobil ambulance yang menganggut pasien yang dalam keadaaan kritis ? Benar-benar mengharap besar orang lain memaklumi

Saya jadi teringat sebuah nasihat yang kira-kira berbunyi, untuk membuat orang lain tahu anda islam, tidak perlu anda berteriak, berkoar-koar mengatakan anda islam, namun berbuatlah, berakhlaklah layaknya bagaimana orang islam itu bertindak-tanduk, bukan hanya berkata-kata, dengan demikian, perbuatan kita akan mengantarkan orang akan paham bahwa diri kita islam.

Sebenarnya ada banyak kasus yang sering kita lihat, karena berpikir orang lain akan selalu memakluminya. Diantaranya, suatu ketika ada seorang yang memarkir mobilnya melintang, menghalangi jalan keluar peserta kajian yang lain. Qodarulloh, orang yang mobilnya terhalang itu ada keadaan darurat dan harus meninggalkan kajian, Sang Ustadz yang sedang memberikan ceramah pun terpaksa menghentikan ceramahnya dan ikut menasehati peserta kajian agar tidak berbuat dholim seperti itu.

Banyak lagi mungkin hal-hal dholim, yang tidak kita sadari sering kita lakukan, karena alih-alih “saya kan cari ilmu”, “saya kan beribadah”, “orang lain pasti maklum”. Untuk itu, yuk, mari kita tunjukkan bagaimana akhlak seorang yang memluk islam. Dan memang, terkadang, tidak perlu dengan teriak, berkoar-koar, lantas kita yakin membuat orang paham bahwa kita orang islam. Bisa jadi dengan cara parkir mobil yang baik dan sesuai arahan petugas, menjadikan kita memuliakan islam, orang mengetahui kita islam, orang mau mengenal islam, dan bisa jadi juga, mereka memeluk Islam yang Rahmat Bagi Seluruh Alam ini….

Wallohu a’lam

Posted in Fenomena, Kisah | Leave a comment

Belajar dari pedagang Malioboro : Mau Untung Besar Atau Untung Kecil ?

Bulan lalu kebetulan saya ada tugas pelatihan Penjaminan Mutu di Kota Pelajar, Yogyakarta. Berhubung hotel tempat saya menginap tidak jauh dari kawasan bisnis dan wisata Malioboro, tentu saja ketika pelatihan selesai, saya manfaatkan untuk jalan-jalan diseputaran Malioboro sembari belanja beberapa barang untuk oleh-oleh di Pekanbaru.

Berjalan disepanjang koridor toko yang berjajar di Malioboro tidak pernah membosankan, barang dagangan yang ditawarkanpun terlihat cukup menarik dan menghibur, meskipun tidak membeli, saya dapat merasakan aura ekonomi kreatifnya. Sebut saja pernak-pernik gantungan kunci, kaos dengan beragam gambar menarik, bahkan beberapa kerajinan kayu yang serba unik.

Diantara kerumunan para penjual dan pembeli yang mencoba menawar barang ada satu yang menarik perhatian saya. Sebuah papan dengan tulisan yang kurang lebih isinya agar para pengunjung menanyakan betul informasi harga sebelum membeli. Himbauan tersebut dikeluarkan resmi oleh Dinas Pariwisata Yogyakarta. Tak ada asap jika tak ada api. Tentu himbauan tersebut dibuat bukan karena tak ada maksud. Sudah sering kita ketahui pengalaman teman-teman yang pernah traveling ke Malioboro, kemudian jajan, dan kena charge harga yang selangit tak wajar, aji mumpung istilahnya. Saya sendiri sudah pengalaman dua kali kena hal demikian. Yang pertama saat berkunjung kali pertama di Malioboro dan menikmati seporsi bebek panggang, sekitar 7-8 tahun yang lalu itu dihargai 50 ribu seporsi, hampir 3 kali lipat di Pekanbaru. Kala itu benar-benar pengalaman pertama nyobain sadisnya harga. Kali kedua ini bener-bener iseng. Iseng nyobain, apakah sesudah ada himbauan dari Dinas Pariwisata sikap pedagangnya sudah berubah, ternyata tidak. Didepan Pasar Bringharjo yang masih dikawasan Malioboro, iseng saya makan nasi pecel, lauk tempe dan telor, plus air mineral, di charge 28 ribu. Masih sama, hampir 3 kali lipat di Pekanbaru. Kali kedua itu, saya benar-benar iseng, meskipun pesan dengan menggunakan bahasa jawa halus, saya tidak menanyakan harga, kali aja si ibu penjual agak paham, ternyata tidak, tetap di charge harga sadis. :).

Berbanding terbalik dengan pedagang yang masih dikawasan yang sama namun menjajakan barang atau souvenir. Harganya masih terbilang wajar dan bahkan tak jarang pembeli dapat menawar harga lebih rendah jika membeli dengan jumlah banyak.

Sebenarnya fenomena tersebut tidak hanya terjadi di Malioboro, hal itu secara kita sadari terjadi umum di Indonesia, terutama tempat-tempat wisata, dan daerah yang jarang pengunjung, misalnya jalur lintas, seperti rumah makan disepanjang jalur lintas sumatera yang juga menawarkan harga sadis. Bagi kebanyakan orang hal tersebut sering disebut aji mumpung, karena orang yang belanja jarang mampir, maka sekali mampir langsung di charge sesadis-sadisnya.

Secara ilmu keuangan, hal tersebut, yang dilakukan oleh pedagang makanan di Malioboro, ataupun di tempat wisata lainnya masih terhitung wajar, wajar dari sudut ekonomi dan manajemen keuangan. Secara umum, tujuan pedagang adalah untuk mendapatkan Return, alias Income alias laba alias untung. Gambaran kemampuan menghasilkan untung tersebut biasanya diukur dengan rasio Return On Investment (ROI). Rumus ROI sendiri adalah :

ROI = Income/Investment

ROI menggambarkan berapa keuntungan bersih dibandingkan dengan investasi. Suatu usaha yang memiliki nilai ROI yang semakin tinggi menunjukkan semakin baik usaha tersebut dalam meraih laba. Bahasa anak bangku kuliahnya profitabilitasnya semakin naik. Contoh mudahnya, sebuah usaha mendapatkan laba 100 ribu dari total investasi 1 jt, berarti ROI = 100.000/1.000.000 = 10%, sedangkan usaha yang lain mendapatkan laba 200 ribu dari total investasi 1 jt, berarti ROI = 200.000/1.000.000 = 20%. ROI usaha yang 20% tentu lebih baik dari ROI usaha yang 10%.

PM VS ATO.

Secara keuangan ROI juga dapat dicari dengan rumus sebagai berikut :

ROI = Profit Margin x Asset Turnover

karena : Profit Margin = Income/Sales, dan Asset Turnover = Sales/Total Asset

maka ROI = (Income/Sales) x (Sales/Total Asset)

ROI = Income/Total Asset

karena Investasi utamanya berupa aset, maka Total Asset= Investment

Sehingga Rumus ROI menjadi = Income/Investment. Beberapa pakar menyebut ROI dengan ROA (Return on Asset) sama. Dengan catatan investment = asset.

Berdasarkan rumus tersebut, berarti ada dua cara utama yang umum ditempuh pedagang untuk menaikkan ROI nya. Yang pertama adalah dengan menentukan harga tinggi walaupun akibatnya pembeli sepi, barang dagangan tidak banyak yang terjual. Hal ini disebut strategi menaikkan profit margin. Yang kedua dengan menentukan harga murah, yang penting yang beli banyak, barang dagangan banyak terjual. Hal ini yang disebut strategi menaikkan asset turnover.

Strategi PM atau ATO adalah pilihan. Kita tidak bisa, bahkan sangat sulit memasangkan keduanya, setiap usaha harus memilih salah satu. Tidak mungkin suatu produk/jasa, kita naikkan harga maka pembeli akan semakin ramai. Harga barang naik, untung besar, profit margin naik, barang banyak yang laku, asset turnover naik. Sulit cenderung mustahil, melawan hukum ekonomi, supply-demand-price.

Dengan hitungan tersebut, saya jadi memahami mengapa penjaja baju, souvenir dan cinderamata lainnya di Malioboro menjual murah, dan mengapa penjaja makanannya mihil-mihil banget.

Disisi lain, hal ini juga menunjukkan saya, mengapa hypermart, Giant, Lottemart dan swalayan besar lainnya jauh menjual barang dagangannya lebih murah. Karena mereka tidak bermain diuntung besar, tapi bermain di jumlah pembeli yang banyak. Biar Profit Marginnya kecil, yang penting Asset Turnovernya tinggi. Bandingkan dengan Alfamart, Indomaret, Circle-K, atau bahkan warung dipinggir jalan lintas provinsi. Mereka menerapkan sebaliknya, biar yang beli sedikit, yang penting untung besar. Biar Asset Turnover rendah, yang penting Profit Margin tinggi.

Mungkinkah oleh-oleh kekinian yang sedang marak akhir-akhir ini juga menerapkan startegi PM VS ATO ? Sebut saja Medan Napoleon, Surabaya Snowcake, Malang Strudel, JOgja Scrummy dkk. Yang beli sedikit, yang dijual sedikit, yang penting laba tinggi.

Kalo anda memilih mana, mau untung besar tapi sedikit yang beli, atau mau untung kecil tapi banyak yang beli. Bagaimanapun strateginya, tetap kreatif dan ROI terjaga yah..

Salam pengusaha.. !

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Kebersamaan Melalui Bumbu Dapur

“Mbak ada brambang, minta dua siung mbak, aku lagi masak lah kok kurang sedikiiiit aja..”

” Dek, minta garam sejumput yah, lagi masak , lah pas tak incipi kok kurang garam rasanya ..”

Kira-kira seperti itulah percakapan tetangga kanan kiri rumah bapak ibuku dulu ketika mereka kekurangan bahan bumbu masakan yang tanggung jika beli di warung, solusinya ya itu, minta tetangga. Sebaliknya, demikian juga ibuku, jika merasa ada kurang bumbu di dapur ketika masak, dan tanggung, butuhnya juga sedikiiittt, biasanya satu diantara kami anak-anaknya diminta untuk minta sedikit dari dapur tetangga. Rumah di pinggiran Kota Surabaya dengan bangunan rumah khas berdempet-dempet dan jalan yang tidak terlalu lebar, justru hal tersebut memberikan kehangatan bertetangga diantara kami.

Brambang, alias bawang merah dan garam, adalah salah satu jenis bumbu dapur yang menjadi “objek”,  masih banyak lagi bumbu dapur lain yang menjadi objek “transaksi” :). Bisa ketumbar, merica, cabai, laos alias lengkuas, kunyit, kemiri dll. Tidak ada yang merasa dirugikan atau direpotkan dengan budaya tersebut. Justru setiap rumah pertetanggaan kami merasa bahagia dan ikut senang membantu. Terlebih ikut senang mensukseskan “proyek” masakan dirumah masing-masing tetangga yang merupakan persembahan terbaik untuk sang suami dan anak-anak.

Disisi lain, tak jarang juga, bukan sebagai budaya transaksional sih…, yang masakannya selesai dahulu, biasanya membawa sampel hasil masakannya, untuk sekedar sebagai ucapan terima kasih, ataupun sebagai media untuk meminta masukan yang “membangun” agar masakannya lebih baik.

“Mbak, iniloh jangan kacang beras yang saya masak tadi, coba mbak incipi, eunakkk loh, tapi rodok pedas sih ” 🙂

Itulah sisi kehidupan pertetanggaan yang masih melekat di ingatan saya. Betapa, hanya melalui bumbu dapur, secuplik, yang tak seberapa, tercipta sebuah kebersamaan. Yah, kebersamaan melalui bumbu dapur. Hikmah lainnya yang kami sadari belakangan adalah, kami anak-anaknya jadi mengenal berbagai macam bumbu, minimal bisa membedakan mana kunyit, mana lengkuas, mana jahe, kencur, daun sereh, daun salam, merica, pala, ketumbar, dan kawan-kawannya yang lain.

Kira-kira, masih adakah percakapan seperti diawal tulisan ini dilingkungan rumah kita ? Masih adakah kebersamaan melalui saling melengkapi bumbu dapur ?

Wallohu a’lam.

Albaroyo, Asli Bahasa Suroboyo :

brambang = bawang merah

sejumput = mengambil dengan tangkupan ujung-ujung jari

jangan = sayur

rodok = agak

secuplik = sangat sedikit

Posted in Kisah | Leave a comment

Strategi Jitu Akreditasi Program Studi

Bukti segala sesuatu berkualitas saat ini selalu dibuktikan dengan adanya jaminan tim penilai. Demikian juga dengan bukti suatu program studi pada perguruan tinggi adalah penilainya, salah satunya adalah nilai akreditasi oleh Badan Akreditasi Nasional-Perguruan Tinggi (BAN PT). Saya sebut sebagai salah satunya karena banyak lembaga penilai lainnya, misalkan ISO.

Kali ini saya cuman membahas fokus pada akreditasi oleh BAN PT. Kebetulan beberapa pekan yang lalu saya dan teman-teman di kampus mendapatkan workshop untuk mensukseskan akreditasi BAN PT. Rasanya sangat sayang untuk tidak dibagi dengan teman-teman yang lain. Pembahasan akan terbagi menjadi beberapa tahapan, mulai dari rencana penyusunan tim, penyusunan dan pengisian borang, hingga strategi menyambut penilaian lapangan oleh asesor.

Penyusunan Tim

Kebanyakan tim penyusun akreditasi dibuat dengan “azas” berbagi rata. Membagi standar yang 7 itu (kabarnya tahun 2017 akan bertambah 8 standar) ke masing-masing penanggung jawab, bahkan kaprodi/ketua tim akreditasi juga kebagian salah satu standar. Hal ini terkesan fair, namun sejatinya ini bukanlah strategi terbaik. Karena selain fokus sebagai ketua tim, kaprodi juga terbebani dengan salah satu kewajiban hasil “bagi-bagi” standarnya, sehingga tidak fokus untuk menguasai seluruh standar. Dari hasil workshop kami dapati bahwa strategi yang terbaik adalah ketua tim akreditasi tidak bertanggung jawab salah satu standar, alias tidak menjadi salah satu pengisi borang, melainkan mengontrol seluruh standar satu per satu yang dikerjakan oleh tim. Dengan sendirinya kualitas borang dan evaluasi diri yang dikerjakan sudah dari awal dikuasai ketua tim. Hal ini amat sangat penting, karena ketua timlah yang wajib menguasai dari a-z seluruh dokumen akreditasi.

Penyusunan Borang Akreditasi

Saat penyusunan borang akreditasi,beberapa hal prinsip yang harus dipegang kuat oleh tim adalah :

  1. Susun borang sesuai dengan Borang dan ED

Ada kesalahan besar yang sering terjadi dalam penyusunan borang akreditasi ataupun evaluasi diri, yakni korban copy paste dari borang akreditasi yang salah. Akibatnya, borang yang disusunpun salah. Untuk memastikan kebenaran dan borang ter update, tim sebaiknya mengunduh langsung dari situs BAN PT untuk format borang yang mau disusun. Termasuk yang kabarnya akan ada perkembangan borang menjadi 8 standar tahun 2017 nanti.

       2. Jangan malas

Tim pengisi borang harus serius menulis/mengisi borang sesuai dengan keadaan sebenarnya. Hindari penjelasan yang terlalu ringkas, karena akan menimbulkan persepsi asesor bahwa tim borang malas. Tim harus bekerja keras untuk membuat pembaca/asesor menjadi lebih mudah mendeteksi poin-poin positif dari masing-masing standar.

     3. Buat asesor senang

Maksud dari membuat asesor senang adalah, isi dari borang harus mampu memberikan informasi yang dibutuhkan oleh asesor dalam waktu singkat untuk setiap butir penilaian. Menurut pemateri workshop waktu ideal yang dibutuhkan asesor untuk setiap butir sekitar 2-3 menit. Salah satu trik yang bisa dilakukan adalah menebalkan kalimat yang dibutuhkan untuk penilaian. Untuk mengetahui kalimat mana saja yang layaknya ditebalkan bisa kita cek pada buku panduan penilaian akreditasi.

     4. Menyediakan informasi yang diperlukan asesor

Ada satu informasi penting yang kami dapati saat workshop, yakni ternyata kita boleh memberikan sentuhan kreatifitas pada borang akreditasi. Kreatifitas tersebut diantaranya adalah menyediakan berbagai informasi yang diperlukan oleh asesor dengan cara menambahkan pada borang senyampang tidak mengurangi format yang telah baku, dalam bahasa singkatnya, mengurangi tidak boleh, menambah boleh. Salah satu contohnya adalah misalkan pada standar V tentang Kurikulum dan Suasana Akademik, kita boleh menambahkan hitungan rata-rata pembimbing, persentase matakuliah yang berunsur tugas. Hal ini tidak lain meringankan tugas asesor untuk tidak bersusah payah lagi menghitung.

      5. Tepat

Saat tim penyusun borang mengisikan borang, harus memperhatikan ketepatan antara yang ditulis dengan yang akan dinilai oleh tim asesor. Strategi yang paling jitu adalah selalu menyesuaikan antara buku panduan penilaian asesor dengan apa yang ditulis oleh tim penyusun.

     6. Konkrit

Seluruh yang ditulis oleh tim penyusun borang akreditasi harus dipastikan sesuai kondisi riil, sesuai kenyataan yang ada, bukan berbicara normati/idelanya.

     7. Kebijakan dan pedoman tertulis

Untuk menampilkan adanya kebijakan dan pedoman tertulis,penyusun borang harus menulisnya pada borang dan menyatakannya secara eksplisit. Hal ini berfungsi salah satunya untuk menghindari asesor bertanya-tanya terlebih dahulu untuk memastikan adanya kebijakan atau pedoman tertulis.

     8. Klaim yang tegas terhadap poin-poin kualitatif

Tidak semua penilaian poin akreditasi menggunakan data kuantitatif dengan angka-angka yang jelas, melainkan ada juga yang berupa penilaian kualitatif. Untuk poin yang bertipe kualitatif tersebut biasanya asesor akan menilai sesuai dengan klaim penyusun borang. Untuk itu, klaim dengan kata “sangat bagus” atau “sangat baik” untuk poin-poin kualitatif tersebut, hindari keraguan dengan menulis , ” cukup baik” atau ” baik” saja.

    9. Ukur

Sebelum borang dikirim, ada baiknya tim akreditasi mensimulasi borang yang telah ditulis, setidaknya dua kali simulasi. Menurut nara sumber yang memberikan workshop, kemungkinan simulasi akan sangat baik menggambarkan kondisi nilai akhir, karena perbedaan antara skor final penilaian borang dan visitasi hanya sekitar +- 10 poin.

    10. Lengkap dan diatur dengan baik

Data ataupun dokumen yang digunakan sebagai dasar tim penyusun borang untuk mengisi borang harus tersedia lengkap dan jika memasuki masa visitasi, harus dapat ditunjukkan kepada asesor dalam hitungan detik.

Saat Visitasi

Sebelum visitasi terlaksana, jika informasi mengenai kontak asesor sudah didapati, ada baiknya tim akreditasi melakukan kontak dengan tim asesor yang terdiri dari dua orang itu untuk berkoordinasi mengenai jadwal kedatangan dan keberangkatan.

Tim akreditasi juga harus menghargai profesionalitas asesor dengan tidak memberikan layanan yang berlebihan, misalkan pesta durian dll 🙂

Selain itu perhatikan kebutuhan-kebutuhan ringan asesor yang menurut pandangan kita hal tersebut sepele, namun hal itu memberi kesan positif bagi asesor, misalnya saja dengan memberikan daftar id dan password wifi di meja asesor ataupun akses digital terhadap dokumen/data pendukung akreditasi.

Jika seluruh persiapan sudah mapan, tinggal berdoa saja…

Selamat berjuang bagi tim akreditasi dimanapun anda berkarya 🙂

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Lebaran Haji di negeri jiran

Lebaran haji kali ini, 1437 H kami sekeluarga memmutuskan untuk lebaran haji yang lain dari biasanya. Biasanya kami cukup lebaran haji di Pekanbaru, sholat ied di masjid dekat rumah, menyaksikan hewan kurban kami disembelih, gabung bersama panitia untuk menguliti dan mencincang daging kurban, bakar sate dan makan bersama, namun tidak kali ini. Ya, kali ini kami memutuskan untuk lebaran haji di negeri jiran, negeri tetangga terdekat dari sumatera, Malaysia.

Setelah jauh-jauh hari kami membeli tiket pesawat, mengurus paspor, akhirnya kesampaian juga jalan-jalan keluar negeri lengkap bersama anak-anak. Setelah dirasa semua persiapan beres, tepat tanggal 8 Dzulhijjah 1437 kami pun berangkat melalui Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II menuju Kuala Lumpur.

Sebenarnya selain jalan-jalan, yang menjadi tujuan kami adalah bersilaturrahim dengan sanak family dari arah ibunya anak-anak yang kebetulan sudah lama menjadi warga negara Malaysia dan bermukim disana.

Saya mencatat pelayanan imigrasi saat keberangkatan di bandara sangat praktis dan efisien, tidak membutuhkan waktu lama untuk kami akahirnya bisa masuk ke waiting room untuk menunggu panggilan menaiki pesawat.

Bandara di Dalam Mall

Butuh waktu cuma 40 menit hingga pesawat pimpinan Tony Fernandes yang kami tumpangi itu akhirnya mendaratkan rodanya di Bandara Kuala Lumpur yang baru. Orang pada umumnya menyebut Kuala Lumpur International Airport 2 (KLIA 2). Sedangkan bandara yang lama KLIA 1 masih digunakan untuk beberapa maskapai, diantaranya Malaysia Airlines. Setelah memasuki terminal bandara, jarak dari pintu masuk bandara KLIA 2 menuju tempat pemeriksaan imigrasi cukup jauh menurut kami. Setelah sempat membeli kartu operator lokal Malaysia, untuk kebutuhan internet, kami pun berjalan menyusuri ruangan terminal sampai akhirnya di kounter pemeriksaan imigrasi.

Jumlah kounter imigrasi Bandara KLIA 2 sangat banyak, terbagi berbagai daerah asal. Karena bukan masa liburan, maka kami dapat memanfaatkan kounter manapun. Setelah melalui antrian yang tidak terlalu panjang, sekitar dua antrian didepan kami, kami sekeluarga pun memasuki pemeriksaan petugas kounter. Tampak dari perawakannya, si ibu petugas merupakan warga negara Malaysia keturunan India, ” Cuti sekolah keh di Indonesia? ” sambil sibuk menstempel paspor kami satu persatu. Sembari lamat-lamat memahami pertanyaannya yang bertanya cuti alias libur sekolah, saya menjawab, ” No, just permit for family visit”. Saya memilih menjawab sekenanya dengan Bahasa Inggris, ketimbang bahasa Indonesia yang bisa jadi terjadi salah paham, walau kedua rumpun bahasa sama.

Perasaaan lega dan bersyukur melewati setiap pemeriksaan pun menyeruak dihati kami, anak-anak tampak senang sudah merasa saatnya melancong di Malaysia. Saya juga ikut lega, ternyata jenggot saya yang panjang tidak menghambat pemeriksaan. 🙂

Menyusuri koridor terminal menuju pintu keluar, sembari ibuknya anak-anak menelepon Bang Azfar, anak dari Teh Ninuk, sepupu ibunya anak-anak untuk penjemputan, sejenak saya menikmati betapa megah bandara KLIA 2 itu. Integrasi sarana transportasi yang sangat baik benar-benar memanjakan para traveler. Tidak lupa juga kounter-kounter makanan dan minuman yang terjejer rapi layaknya Mall, seolah-olah kami tidak terasa di bandara, malah lebih terasa di Mall. Menuju pintu keluar, ada satu tulisan yang menyatakan konsep utama yang menjadikan bandara KLIA 2 seperti yang kami lihat, yah.. Bandara di Dalam Mall. Pantas saja… Bukan, Mall di dalam Bandara seperti yang pada umumnya.

Tidak membutuhkan waktu lama Bang Azfar akhirnya menemukan kami didepan pintu keluar. Sembari menunggu, saya sempat mengamati, ternyata Taxi-taxi di bandara KLIA 2 modelnya kuno-kuno, atau lebih kurang disebut jelek-jelek. Belakangan saya mengetahui, ternyata populasi kepemilikan mobil di Kuala Lumur sangat tinggi, bisa jadi karena jarang yang menggunakan taxi sehingga perkembangan dan pembaharuan taxi kurang berkembang. Belum lagi sudah marak taxi online, demikian yang saya lihat di papan reklame di jalanan Kuala Lumpur.

Apartemen Palladium dan Menara Kembar Petronas

Memasuki Kota Kuala Lumpur, kami langsung menuju Apartemen Palladium di Jl. Gurney. Sepanjang perjalanan kami disuguhkan pemandangan kepadatan kota, layak saja, karena ini adalah Kuala Lumpur, Ibu Kota Negara, selevel Jakarta, gumamku. Di Apartemen kami berjumpa dengan Abang Ahmad, Cucu dari Eyang Tini yang akan kami kunjungi ke Ipoh nantinya dan juga Teh Wangi, sepupu istri, putri dari Eyang Tini, sedangkan orang tua Bang Ahmad sedang menunaikan ibadah haji. Kami memutuskan untuk fokus malam itu istirahat, mengingat perjalanan yang cukup melelahkan, terutama bagi anak-anak, walaupun mereka terlihat senang, namun kondisi stamina tubuh tetap harus dijaga agar lebih siap lagi untuk petualangan esok harinya.

Sembari menikmati malam di Kuala Lumpur, sambil menidurkan anak-anak, beberaa kali kami melempar pandangan ke arah luar jendela. Tampak menjulang seakan menunjuk langit Kuala Lumpur, puncak menara kembar Petronas yang tersohor itu ternyata berada sangat dekat dengan apartemen Bang Ahmad. Kira-kira sekitar 2 KM. Namun efek ukuran yang besar membuat seolah-seoalah menara kembar tersebut adalah pemandangan halaman apartemen. Kami harus mampir kesana, gumamku malam itu. Sambil menikmati kerlap-kerlip lampu menara kembar, tanpa sengaja pandanganku jatuh ke arah jalan layang yang melintang disamping apartemen. Hilir mudik kendaraan dimalam hari, mengisyaratkan banyak para pekerja yang baru saja pulang dari tempatnya bekerja pada jam-jam malam seperti ini. Waktu di Kuala Lumpur sendiri lebih cepat 1 jam dari WIB, kurang lebih sama dengan WITA. Namun untuk waktu sholat, tidak terlalu berbeda dengan Pekanbaru.

Banyak kendaraan roda empat dan roda dua malam itu yang saling kejar-kejaran seolah ingin mengantarkan tuannya pulang. Namun yang paling memancing perhatian adalah kendaraan roda duanya, jenisnya jadul-jadul, kuno. Ini juga mungkin memiliki alasan yang sama kenapa taxi-taxi di Kuala Lumpur juga demikian. Budaya berkendara roda empat sudah seperti hal yang biasa. Efek di jajah Inggris pada masanya, mobil-mobil, atau kereta orang Malaysianya menyebutnya, memiliki sistem stir di posisi kanan, tidak ada bedanya dengan di Indonesia, sehingga saya pun juga sempat menikmati memegang kemudi mobil di negeri jiran ini.

Mencoba Trans Studio Pertamina-nya Malaysia

Jumat itu, pagi-pagi sekali kami sekeluarga sudah bersia-siap untuk mengunjungi destinasi wisata kami yang pertama, Petrosains. Diiringin dengan guyuran hujan rintik-rintik mobil yang membawa kami pun melaju meninggalkan Palladium. Petrosains ini terletak dikompleks area Menara Kembar Petronas, bergabung dengan Mallnya. Mungkin karena bergabung dengan mall, sehingga terkesan tulisan petrosains kurang mencolok.

Petrosains sendiri adalah wahana pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan oleh Petronas, Pertamina-nya Malaysia itu, dan terbuka untuk umum dengan membayar tiket dikounter depan. Jika diperhatikan dari layout yang dikembangkan mirip dengan Trans Studio yang di Bandung itu.

Memasuki mall, kami masih merasa seperti masih di Pekanbaru. Betaa tidak, disekeliling kami banyak pengunjung mall yang mengenakan baju melayu, baik itu pria wanita, bahkan dari anak-anak sekalipun. Persis dengan kebiasaan yang ada di Pekanbaru, hari jumat, harinya baju melayu.

Banyak wahana yang bisa dilihat dan dicoba langsung oleh pengunjung. Setelah menaiki kereta pengantar yang berbentuk bulat, kami disuguhkan berbagai diorama disisi kanan dan kiri lorong kereta yang menceritakan alam, dan terutama tentunya minyak bumi, sebagai produk andalan Petronas. Ternyata menaiki kereta bulat ini adalah semacam sambutan selamat datang.

Turun dari kereta kami langsung dipandu menuju wahana pertama oleh beberapa petugas yang dilihat dari wajahnya masih seumuran mahasiswa. Belakangan ternyata dugaan kami tepat, dari baju seragam yang dikenakan, kami mengenali mereka ternyata volunter dari berbagai lapisan masyarakat yang ikut menyumbangkan tenaganya untuk melayani para pengunjung. Konsep yang keren menurut saya. Selain itu juga ada petugas yang asli pegawai Petrosains.

Diantara semua wahana yang bagus-bagus itu, wahana yang paling digemari anak-anak adalah wahana Formula 1. Maklum saja, Petrosains memiliki wahana itu, karena dia salah satu sponsor terbesar F1. Ada berbagai permainan, diantaranya permainan desain mobil balap, dipermainan itu anak-anak bisa mendesain mobil balapnya sendiri, untuk selanjutnya diadu dengan hasil desain pengunjung lainnya. Asyik kami balapannya…

Disalah satu ada juga permainan gelombang pikiran, diwahana ini, Mas Farish, anak kami yang tertua menjajal melawan ibuknya :). Diujung lorong ada contoh mobil bala yang digunakan di F1, plus game simulasi bala F1. Sayang, untuk game simulasinya, anak-anak belum bisa mencoba, Mas Farish sekalipun, karena tinggi badan yang masih kurang dari standar permainan. Hanya Bang Azis, keponakan yang menemani kami ke Petrosains yang bisa memainkannya.

Waktu sholat dhuhur pun tak terasa sudah mulai dekat, Puas belajar dan bermain di Petrosains, kami pun beranjak meninggalkan area Petrosains untuk sholat Jumat di Masjid area KLCC. Keluar dari wahana Petrosains, kembali kami menggunakan kereta bulat itu, ini semacam ucapan perpisahan, sampai jumpa kembali..

Kereta Listrik Tanpa Masinis

Ada satu transportasi yang baru bagi kami sekeluarga yang kami jumpai di KL, yahh itu, kereta listrik tanpa masinis. Kereta ini ibarat commuter line yang ada di kota-kota besar di Indonesia, misalnya di Jakarta dan Surabaya. Namun satu yang membuat beda adalah kereta listrik ini dikemudikan secara komputerisasi,sehingga tidak perlu petugas masinis yang mengemudikan. Kereta sudah diatur berapa menit untuk berhenti, kemudian mulai berjalan, hingga kapan harus mengurangi kecepatan ketika hendak sampai distasiun.

Sebenarnya untuk naik kereta bukan hal yang baru bagi anak-anak, namun naik kereta listrik tanpa masinis benar-benar hal baru bagi kami, tak ayal, beberapa kali anak-anak merangsek maju kesisi depan kereta untuk merasakan langsung sensasi berdiri dikepala kereta sambil alih-alih membuktikan benar-benar tidak ada masinis didepannya. Sambil melongok kedepan melongok rel panjang yang seolah dilahap kepala kereta sesekali mereka minta difoto dan direkam momen yang menarik bagi mereka.

Hampir tidak ada kekurangan dalam pelayanan yang kami dapati ketika menaiki kereta listrik tanpa masinis kecuali, kadang-kadang jika ada permasalahan jaringan ataupun komputerisasinya terganggu/down, kereta akan berhenti otomatis untuk perbaikan distasiun terdekat. Demikian juga dengan kereta yang kami tumpangi, mendekati Glen Marry, stasiun tujuan kami, pengumuman dari speaker kereta memberitahukan karena ada gangguan teknis, penumpang diharap turun di stasiun Glen Marry, kebetulan itu stasiun tujuan kami, jadi tidak ada masalah.

Ada juga satu hal unik yang kami temui saat kami menaiki kereta listrik tersebut. Banyak ternyata dari penumpang yang saling ngobrol dengan rekan kanan-kirinya menggunakan bahasa yang tidak asing lagi ditelinga kami, yahh..bahasa indonesia yang kental, bahkan bahasa jawa yang super medok. Tak mengherankan memang, karena kereta listrik yang kami naiki ini menghubungkan berbagai stasiun di dalam kota Kuala Lumpur, termasuk wilayah-wilayah bisnis dan proyek yang banyak pekerjanya dari Indonesia.

Sowan ke Markas UPIN & IPIN

Dari Glen Marry, kamipun makan siang di Shah Alam. Banyak makanan ala melayu dan india. Wajar saja, karena dua etnis inilah yang banyak di sini. Tapi rumah makan yang kami kunjungi siang itu berbeda, banyak juga makanan khas Indonesia, bahkan ada lalapan trancam khas jawa yang lengkap dengan lamtoronya alias petai cinanya.

Usai memanjakan perut, perjalanan kamipun berlanjut ke Les Copaque, yahh itu studio markas Upin & Ipin. Maklum saja, anak-anak kami semuanya penggemar Upin&Upin dkk. Tak ayal, ketika baru nyampai di depan markas Upin&Ipin mereka pun turun mobil dengan antusias berfoto ria dengan model Upin&Upin dan kawan-kawannya.

Setelah puas berkeliling di arena studio Upin&Ipin, alias markas besarnya, anak-anakpun tak luput membeli berbagai sovenir Upin&Upin, ada yang dibeli untuk sendiri, ada juga yang dibeli untuk Guru dan kawan-kawannya sekolah. Harganya cukup murah jika dikonversikan ke rupiah. Puas berbelanja, kamipun singgah sebentar di cafe Upin&Ipin sembari menunggu jemputan untuk kembali ke Palladium.

Bersejarahnya Dataran Merdeka, Sibuknya Petaling Street, Megahnya Masjid Putra Jaya

Agenda hari itu kami cukup padat, ada tiga tempat yang Teh Wangi mau tunjukkan kekami sekeluarga. Maka untuk dapat menikmati tiga tempat tersebut rombongan kami pun berangkat lebih pagi dari biasanya. Setelah nikmat sarapan dengan nasi lemak dan nasi dagangnya, rombongan pun mulai meluncur dari Palladium.

Tempat pertama yang kami kunjungi hari itu adalah Dataran Merdeka. Dataran merdeka adalah sebuah lapangan luas yang merupakan tempat bersejarah bagi Malaysia. Terletak didepan istana Sultan Abdul Samad, konon didataran merdekalah tempat pertama kali bendera kebangsaan federasi Malaysia dikibarkan setelah sebelumnya bendera Inggris diturunkan. Sambil mengambil beberapa gambar didepan istana yang berwarna merah bata tersebut, sesekali kami perhatikan betapa meriah persiapan peringatan kemerdekaan yang kurang beberapa hari lagi diperingati. Tampak dari seberang jalan bendera terbesar Federasi Malaysia didampingi bendera-bendera negara bagian berkibar gagah.

Puas menikmati sejarah di dataran merdeka, tujuan kami berikutnya yaitu Petaling Street. Memasuki area Petaling Street, hawa pecinannya begitu kental, meskipun satu dua juga kami mendapati pedagang etnis melayu dan india diantaranya. Ditempat inilah anak-anak dan istri memborong oleh-oleh, mulai dari kaos, gantungan kunci, pensil, tempelan kulkas hingga berbagai pernak-pernik lainnya. Harganya? jangan diragukan lagi, selain murah banget, masih juga ada kesempatan kita untuk menawarnya jika beruntung.

Saya sendiri  sempat join dengan turis dari singapura untuk menawar kacamata sport, rencananya buat gowes, namun karena belum juga ketemu harganya, akhirnya batal. Lumayan juga, pengalaman menawar menggunakan tiga bahasa, melayu, inggris dan indonesia. Jangan silap, para pedagang tersebut sangat fasih juga berbahasa Indonesia, saking seringnya turis Indonesia berbelanja di situ kali yah. Tak jarang juga saya berpapasan dengan turis asal Indonesia, tahunya dari mana? dari bahasa Jawa yang mereka gunakan 🙂

Kunjungan yang ketiga adalah ke komplek pemerintahan Kerajaan Malaysia di Putra Jaya. Salah satu strategi yang sangat jitu di Malaysia adalah dengan memisahkan komplek pemerintahannya dengan wilayah bisnis di Kuala Lumpur yang sangat padat. Hasilnya sungguh luar biasa. Kebetulan hari itu hari ahad, jadinya komplek tersebut tanpak lengang, dan sangat kondusif untuk para pelancong. Banyak juga dari pengunjung yang memang menjadikan Putra Jaya salah satu destinasi kunjungannya. Bangunan yang serba megah, jalanan yang rapi, membuat pengunjung tampak terkesima dengan semua pamandangan yang disuguhkan. Namun dari semua itu yang paling menonjol adalah sungainya yang sangat bersih dan jernih. Seakan-akan menambah kesejukan komplek perkantoran tersebut. Dari komplek perkantorat tersebut, satu bangunan yang wajib dikunjungi pelancong adalah Masjid Putra Jaya. Bagi umat muslim mungkin tidak ada pantangan memasuki area masjid, namun bagi pengunjung lain yang beragama non muslim wajib menggunakan pakaian jubah bagi wanita dan sarung bagi pria yang telah disediakan oleh pengurus masjid dibantu para volunter. Walhasil, ibu-ibu, anak-anak gadis yang berpakaian ketat dan pendek atapun bapak-bapak yang bercelana pendekpun bisa menikmati keindahan arsitektur  masjid, semoga menjadi jalan hidayah.

Ada satu hal yang menggelitik saat berkunjung ke Masjid Putra Jaya, ternyata jubah dan sarung yang sedianya hanya untuk pengunjung non muslim, banyak juga harus dikenakan oleh pengunjung muslim yang tidak menggunakan jilbab, bercelana pendek, atau bahkan sudah berjilbab, namun pakaiannya belum tepat, transparan, bahkan ketat. Semoga hal-hal tersebut membuat mereka menyadarinya, bahwa cara berpakaian mereka sendiri belum layak untuk menuju rumah Alloh.

Kurban Negeri Jiran, Mendoakan Pemimpin

Satu hari menjelang Hari Raya Idul Kurban, giliran perjalanan dari Kuala Lumpur-Ipoh yang harus kami tempuh. Perjalanan kali ini menggunakan perjalanan darat dengan driver keponakan kami, Abang Rahman. Meskipun terhitung baru mendapat driving license, alias SIM, bang aman, begitu panggilan akrabnya cukup piawai dalam menjoki kendaraan Honda HRV nya.

Melewati jalur tol yang jarang sekali ada Rest Areanya, perjalanan kamipun tidak memerlukan waktu yang lama untuk tiba di Ipoh. Selama melewati jalur tol, satu pemandangan yang mengusik saya, ternyata di Malaysia, kendaraan roda dua boleh melewati tol, seperti di luar negeri sana. Mungkin hal ini dikarenakan populasi sepeda motor sangat sedikit, beda dengan Indonesia,coba kalau sepeda motor boleh masuk tol ?

Tiba di rumah Ipoh, kami pun disambut bahagia oleh Bude, atau Eyang Putri anak-anak dengan anak dan cucunya sekeluarga. Rumah Ipoh sendiri adalah rumah Teh Mimin, sepupu istri yang dokter spesialis kandungan yang S1-nya tamatan FK – Unair itu. Bude sengaja stay di Ipoh sekalian untuk mengontrol kesehatannya. Kebetulah suami Teh Mimin, Bang Zia juga seorang dokter yang sudah pensiun dinas dan masih aktif dirumah sakit sebagai konsultan terapi penyembuhan. Jabatan terakhir beliau adalah kepala rumah sakit di Ipoh.

Tidak berapa lama dari kami tiba, adzan magrib pun berkumandang, kami beserta keluarga Ipoh pun berbuka puasa Arafah bersama. Malamnya kami sambung dengan takbiran di masjid terdekat di komplek perumahan sembari menyiapkan untuk sholat idul adha esok pagi.

Esok pagi lebaran haji di Ipoh pun tiba, selepas sholat subuh, kami pun mempersiapkan diri dan anak-anak untuk sholat idul adha. Pagi itu udara Ipoh cukup dingin, namun suasana dingin itu terasa terusir dengan gema alunan takbir dilangit Ipoh dari corong masjid dan lapangan disekelilingnya. Tidak ada perbedaan secara mencolok dari tatacara kepanitiaan kurban di Ipoh. Termasuk urutan acara sholat idul adha. Hanya satu yang berbeda dan mungkin jarang di Indonesia. Selepas kutbah kedua, khatib mengajak para jamaah untuk mendoakan Yang Dipertuan Agong, sultan Ipoh, keluarganya bahkan sultan-sultan yang telah mendahului. Sungguh budaya mendoakan pemimpin yang patut ditiru. Sudahkah kita mendokan pemimpin kita, Bapak Presiden Jokowi serta jajarannya, Bapak/Ibu Gubernur, walikota, bupati di seluruh Indonesia, Khususnya Bapak Arsyad Julaindi Rahman Gubernur Riau, dan walikota Pekanbaru yang akan terpilih tahun 2017 nanti? Semoga mereka semua senantiasa dalam lindungan Alloh dalam menjalankan amanah memimpin kita semua. Aamiiin.

Setelah sholat id, sama dengan di Pekanbaru, kita disuguhi sarapan bareng, namun ada yang berbeda, sarapannya benar-benar khas Malaysia, nasi lemak dan nasi dagang.Bahkan nasi dagangnya pun khas negeri Trengganu, bukan menggunakan gulai ayam atau daging, melainkan gulai ikan tongkol. Karena Trengganu terletak di daerah pesisir, jadi lebih kaya sumberdaya laut. Kebetulan yang menyajikan nasi lemak dan dagang adalah murid Eyang dari Trengganu, jadi benar-benar khas.

Setelah sarapan bareng, maka penyembelihan hewan kurban, yang semuanya sapi itu dimulai. Cara dan tekniknya pun hampir sama dengan di Indonesia. Bahkan menurut saya, di Indonesia tekniknya sedikit lebih maju dalam hal merobohkan sapi. Mungkin inilah yang diibaratkan dalam pepatah, lain lubuk lain ikannya, lain ladang lain ilalang.

Pantai Lumut, seberang Sumatera

Mengisi liburan selama di Ipoh, keluarga Teh Mimin mengajak kami menikmati wisata pantai, menginap diapartemen didaerah Lumut, Ipoh. Apartemen yang cukup padat karena musim liburan membuat suasana liburan kian terasa, kolam renang yang ramaiu dengan pengunjung bahkan tempat parkir yang sesak.

Disela-sela menunggu rombongan di area parkir apartemen, saya sempat berjumpa seorang kakek-kakek yang tiba-tiba saja mengajak ngobrol bahasa indonesia dan jawa. Mungkin karena mendengar logat kami, dia langsung yakin kami berasal dari jawa dan Indonesia. Beliau bercerita sangat rindu dengan Indonesia, beliau mengaku ibunya berasal dari jawa Medan, dan ayahnya juga orang medan. Dari kecil beliau mengaku sudah diboyong orang tuanya migrasi menjadi warga negara Malaysia. Obrolan kamipun terhenti tatkala cucunya sudah mulai memanggil untuk naik mobil.

Tak berapa lama rombongan pun siap meluncur ke pantai lumut, jarak dari apartemen tidak begitu jauh, jadi tidak membutuhkan waktu lama untuk kami akhirnya langsung berjumpa dengan bibir pantai. Pantai lumut termasuk pantai pesisir barat dari semenanjung Malaysia, berbatasan langsung dengan pulau sumatera, terpisah oleh sebuah selat yang memiliki nilai sangat strategis di kawasan ASEAN, selat Malaka. Airnya yang tidak begitu bergelombang tinggi membuat kita cukup tenang melepas anak-anak asyik bermain air dan pasir pantai. Sesekali melempar pandangan arah matahari terbenam, diujung batas pandangan itulah home town kami, sumatera, Indonesia, dengan segala kenangan yang merindukan kami untuk pulang. Setelah menikmati semburan kuning keemasan cahaya terbenamnya sang surya, kami pun bergegas untuk  kembali ke apartemen dan pulang ke Ipoh.

Naik KTM, dari orang India sampai sensasi naik kereta membelah kebun sawit.

Pagi itu udara cukup cerah, semburat cahaya matahari tampak menyesak berebut masuk melalui celah-celah dedaunan jejeran pohon kelapa sawit yang berbaris rapi dikanan dan kiri sisi kereta listrik yang kami tumpangi. Sejenak saya merasa naik kereta api membelah kebun sawit di Riau. Bukan…bukan..ini bukan kebun sawit di Riau sadarku, ini di Malaysia. Yahh sawit adalah komoditas yang sejenis diantara Malaysia dan Riau, bahkan nama-nama stasiun yang kami lewati dari Ipoh ke KL Sentralpun masih terdengar mirip, ada stesyen, demikian bahasa melayu yang tertulis dilayar monitor kereta, stasiun Kampar, Stasiun Kuantan…mirip dengan nama Kabupaten di Riau. Maka tak ayal jika saya sempat membayangkan naik kereta listrik ini di Riau.

Kereta listrik yang kami naiki kala itu benar-benar nyaman, walaupun tidak seperti LRT, kereta listrik tanpa masinis itu, KTM yang dilengkapi dengan masinis itu tetap beroperasi dengan nyaman. Seperti kereta eksekutif di Indonesia, tidak semua stasiun pemberhentian di singgahi. Jadi waktu tempuh dari Ipoh ke KL Sentral pun hanya sekitar 3,5 jam dengan kecepatan maksimum 160KM/Jam. Saya sempat memperhatikan dilayar monitor kecepatan kereta tidak lebih dari 160KM/jam, selain batas kemampuan kereta, bisa jadi ini sebuah pengaturan level aman.

Pagi benar hari itu kami menuju stasiun, karena jadwal pemberangkatan yang pertama yang kami tumpangi. Syukurlah tidak ada macet di Ipoh pagi itu, mungkin masih suasana liburan idul adha. Karena menunggu agak lama, Bang Zia yang keturunan India itupun menceritakan sejarah panjang perkereta-apian di Malaysia. Awal perkembangan kereta api di Malaysia tidak terlepas dari campur tangan tenaga kerja dari India. Inggris kala itu banyak mendatangkan tenaga kerja dari India untuk pembangunan rel, stasiun dan infrastuktur lainnya. Tenaga kerja dari India dipilih lantaran tersohornya akan kekuatan fisiknya yang luar biasa. Jadi kala itu, hampir 100% tenaga kerja yang mengoperasikan kereta semuanya keturunan India. Seiring perkembangan jaman, lantaran iming-iming penghasilan yang lebih tinggi, banyak yang mulai melirik pekerjaan lain selain perkeretaapian, diantara tiketing, toko, dan dunia komputer. Sehingga bisa dipastikan sekarang hampir tersisa 50% warga keturunan India yang masih bertahan dengan pekerjaan seputar operasi kereta, sisanya etnis melayu dan cina. Ini juga mungkin yang menjawab penasaran saya, kenapa tivi di kereta apinya filmya India terus J

Kembali ke Indonesia

Tiba saatnya kembali ke tanah air. Kami berangkat dari apartemen Teh Wangi, masih dengan Abang Aman sebagai pemandu kami. Sebagai kenang-kenangan, kami tinggalkan untuk bang aman, beberapa lembar uang rupiah Indonesia, dari ratusan ribu hingga puluhan ribunya, bang aman tampak girang. Setelah ditemani hingga check in, kamipun mengucap salam perpisahan. Semoga ada jalur untuk saling berkunjung kembali. Semoga safar kami bernilai ibadah bagi kami semua. Aamiin.

 

 

Posted in Kisah | Leave a comment