Kebersamaan Melalui Bumbu Dapur

“Mbak ada brambang, minta dua siung mbak, aku lagi masak lah kok kurang sedikiiiit aja..”

” Dek, minta garam sejumput yah, lagi masak , lah pas tak incipi kok kurang garam rasanya ..”

Kira-kira seperti itulah percakapan tetangga kanan kiri rumah bapak ibuku dulu ketika mereka kekurangan bahan bumbu masakan yang tanggung jika beli di warung, solusinya ya itu, minta tetangga. Sebaliknya, demikian juga ibuku, jika merasa ada kurang bumbu di dapur ketika masak, dan tanggung, butuhnya juga sedikiiittt, biasanya satu diantara kami anak-anaknya diminta untuk minta sedikit dari dapur tetangga. Rumah di pinggiran Kota Surabaya dengan bangunan rumah khas berdempet-dempet dan jalan yang tidak terlalu lebar, justru hal tersebut memberikan kehangatan bertetangga diantara kami.

Brambang, alias bawang merah dan garam, adalah salah satu jenis bumbu dapur yang menjadi “objek”,  masih banyak lagi bumbu dapur lain yang menjadi objek “transaksi” :). Bisa ketumbar, merica, cabai, laos alias lengkuas, kunyit, kemiri dll. Tidak ada yang merasa dirugikan atau direpotkan dengan budaya tersebut. Justru setiap rumah pertetanggaan kami merasa bahagia dan ikut senang membantu. Terlebih ikut senang mensukseskan “proyek” masakan dirumah masing-masing tetangga yang merupakan persembahan terbaik untuk sang suami dan anak-anak.

Disisi lain, tak jarang juga, bukan sebagai budaya transaksional sih…, yang masakannya selesai dahulu, biasanya membawa sampel hasil masakannya, untuk sekedar sebagai ucapan terima kasih, ataupun sebagai media untuk meminta masukan yang “membangun” agar masakannya lebih baik.

“Mbak, iniloh jangan kacang beras yang saya masak tadi, coba mbak incipi, eunakkk loh, tapi rodok pedas sih ” 🙂

Itulah sisi kehidupan pertetanggaan yang masih melekat di ingatan saya. Betapa, hanya melalui bumbu dapur, secuplik, yang tak seberapa, tercipta sebuah kebersamaan. Yah, kebersamaan melalui bumbu dapur. Hikmah lainnya yang kami sadari belakangan adalah, kami anak-anaknya jadi mengenal berbagai macam bumbu, minimal bisa membedakan mana kunyit, mana lengkuas, mana jahe, kencur, daun sereh, daun salam, merica, pala, ketumbar, dan kawan-kawannya yang lain.

Kira-kira, masih adakah percakapan seperti diawal tulisan ini dilingkungan rumah kita ? Masih adakah kebersamaan melalui saling melengkapi bumbu dapur ?

Wallohu a’lam.

Albaroyo, Asli Bahasa Suroboyo :

brambang = bawang merah

sejumput = mengambil dengan tangkupan ujung-ujung jari

jangan = sayur

rodok = agak

secuplik = sangat sedikit

Posted in Kisah | Leave a comment

Strategi Jitu Akreditasi Program Studi

Bukti segala sesuatu berkualitas saat ini selalu dibuktikan dengan adanya jaminan tim penilai. Demikian juga dengan bukti suatu program studi pada perguruan tinggi adalah penilainya, salah satunya adalah nilai akreditasi oleh Badan Akreditasi Nasional-Perguruan Tinggi (BAN PT). Saya sebut sebagai salah satunya karena banyak lembaga penilai lainnya, misalkan ISO.

Kali ini saya cuman membahas fokus pada akreditasi oleh BAN PT. Kebetulan beberapa pekan yang lalu saya dan teman-teman di kampus mendapatkan workshop untuk mensukseskan akreditasi BAN PT. Rasanya sangat sayang untuk tidak dibagi dengan teman-teman yang lain. Pembahasan akan terbagi menjadi beberapa tahapan, mulai dari rencana penyusunan tim, penyusunan dan pengisian borang, hingga strategi menyambut penilaian lapangan oleh asesor.

Penyusunan Tim

Kebanyakan tim penyusun akreditasi dibuat dengan “azas” berbagi rata. Membagi standar yang 7 itu (kabarnya tahun 2017 akan bertambah 8 standar) ke masing-masing penanggung jawab, bahkan kaprodi/ketua tim akreditasi juga kebagian salah satu standar. Hal ini terkesan fair, namun sejatinya ini bukanlah strategi terbaik. Karena selain fokus sebagai ketua tim, kaprodi juga terbebani dengan salah satu kewajiban hasil “bagi-bagi” standarnya, sehingga tidak fokus untuk menguasai seluruh standar. Dari hasil workshop kami dapati bahwa strategi yang terbaik adalah ketua tim akreditasi tidak bertanggung jawab salah satu standar, alias tidak menjadi salah satu pengisi borang, melainkan mengontrol seluruh standar satu per satu yang dikerjakan oleh tim. Dengan sendirinya kualitas borang dan evaluasi diri yang dikerjakan sudah dari awal dikuasai ketua tim. Hal ini amat sangat penting, karena ketua timlah yang wajib menguasai dari a-z seluruh dokumen akreditasi.

Penyusunan Borang Akreditasi

Saat penyusunan borang akreditasi,beberapa hal prinsip yang harus dipegang kuat oleh tim adalah :

  1. Susun borang sesuai dengan Borang dan ED

Ada kesalahan besar yang sering terjadi dalam penyusunan borang akreditasi ataupun evaluasi diri, yakni korban copy paste dari borang akreditasi yang salah. Akibatnya, borang yang disusunpun salah. Untuk memastikan kebenaran dan borang ter update, tim sebaiknya mengunduh langsung dari situs BAN PT untuk format borang yang mau disusun. Termasuk yang kabarnya akan ada perkembangan borang menjadi 8 standar tahun 2017 nanti.

       2. Jangan malas

Tim pengisi borang harus serius menulis/mengisi borang sesuai dengan keadaan sebenarnya. Hindari penjelasan yang terlalu ringkas, karena akan menimbulkan persepsi asesor bahwa tim borang malas. Tim harus bekerja keras untuk membuat pembaca/asesor menjadi lebih mudah mendeteksi poin-poin positif dari masing-masing standar.

     3. Buat asesor senang

Maksud dari membuat asesor senang adalah, isi dari borang harus mampu memberikan informasi yang dibutuhkan oleh asesor dalam waktu singkat untuk setiap butir penilaian. Menurut pemateri workshop waktu ideal yang dibutuhkan asesor untuk setiap butir sekitar 2-3 menit. Salah satu trik yang bisa dilakukan adalah menebalkan kalimat yang dibutuhkan untuk penilaian. Untuk mengetahui kalimat mana saja yang layaknya ditebalkan bisa kita cek pada buku panduan penilaian akreditasi.

     4. Menyediakan informasi yang diperlukan asesor

Ada satu informasi penting yang kami dapati saat workshop, yakni ternyata kita boleh memberikan sentuhan kreatifitas pada borang akreditasi. Kreatifitas tersebut diantaranya adalah menyediakan berbagai informasi yang diperlukan oleh asesor dengan cara menambahkan pada borang senyampang tidak mengurangi format yang telah baku, dalam bahasa singkatnya, mengurangi tidak boleh, menambah boleh. Salah satu contohnya adalah misalkan pada standar V tentang Kurikulum dan Suasana Akademik, kita boleh menambahkan hitungan rata-rata pembimbing, persentase matakuliah yang berunsur tugas. Hal ini tidak lain meringankan tugas asesor untuk tidak bersusah payah lagi menghitung.

      5. Tepat

Saat tim penyusun borang mengisikan borang, harus memperhatikan ketepatan antara yang ditulis dengan yang akan dinilai oleh tim asesor. Strategi yang paling jitu adalah selalu menyesuaikan antara buku panduan penilaian asesor dengan apa yang ditulis oleh tim penyusun.

     6. Konkrit

Seluruh yang ditulis oleh tim penyusun borang akreditasi harus dipastikan sesuai kondisi riil, sesuai kenyataan yang ada, bukan berbicara normati/idelanya.

     7. Kebijakan dan pedoman tertulis

Untuk menampilkan adanya kebijakan dan pedoman tertulis,penyusun borang harus menulisnya pada borang dan menyatakannya secara eksplisit. Hal ini berfungsi salah satunya untuk menghindari asesor bertanya-tanya terlebih dahulu untuk memastikan adanya kebijakan atau pedoman tertulis.

     8. Klaim yang tegas terhadap poin-poin kualitatif

Tidak semua penilaian poin akreditasi menggunakan data kuantitatif dengan angka-angka yang jelas, melainkan ada juga yang berupa penilaian kualitatif. Untuk poin yang bertipe kualitatif tersebut biasanya asesor akan menilai sesuai dengan klaim penyusun borang. Untuk itu, klaim dengan kata “sangat bagus” atau “sangat baik” untuk poin-poin kualitatif tersebut, hindari keraguan dengan menulis , ” cukup baik” atau ” baik” saja.

    9. Ukur

Sebelum borang dikirim, ada baiknya tim akreditasi mensimulasi borang yang telah ditulis, setidaknya dua kali simulasi. Menurut nara sumber yang memberikan workshop, kemungkinan simulasi akan sangat baik menggambarkan kondisi nilai akhir, karena perbedaan antara skor final penilaian borang dan visitasi hanya sekitar +- 10 poin.

    10. Lengkap dan diatur dengan baik

Data ataupun dokumen yang digunakan sebagai dasar tim penyusun borang untuk mengisi borang harus tersedia lengkap dan jika memasuki masa visitasi, harus dapat ditunjukkan kepada asesor dalam hitungan detik.

Saat Visitasi

Sebelum visitasi terlaksana, jika informasi mengenai kontak asesor sudah didapati, ada baiknya tim akreditasi melakukan kontak dengan tim asesor yang terdiri dari dua orang itu untuk berkoordinasi mengenai jadwal kedatangan dan keberangkatan.

Tim akreditasi juga harus menghargai profesionalitas asesor dengan tidak memberikan layanan yang berlebihan, misalkan pesta durian dll 🙂

Selain itu perhatikan kebutuhan-kebutuhan ringan asesor yang menurut pandangan kita hal tersebut sepele, namun hal itu memberi kesan positif bagi asesor, misalnya saja dengan memberikan daftar id dan password wifi di meja asesor ataupun akses digital terhadap dokumen/data pendukung akreditasi.

Jika seluruh persiapan sudah mapan, tinggal berdoa saja…

Selamat berjuang bagi tim akreditasi dimanapun anda berkarya 🙂

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Lebaran Haji di negeri jiran

Lebaran haji kali ini, 1437 H kami sekeluarga memmutuskan untuk lebaran haji yang lain dari biasanya. Biasanya kami cukup lebaran haji di Pekanbaru, sholat ied di masjid dekat rumah, menyaksikan hewan kurban kami disembelih, gabung bersama panitia untuk menguliti dan mencincang daging kurban, bakar sate dan makan bersama, namun tidak kali ini. Ya, kali ini kami memutuskan untuk lebaran haji di negeri jiran, negeri tetangga terdekat dari sumatera, Malaysia.

Setelah jauh-jauh hari kami membeli tiket pesawat, mengurus paspor, akhirnya kesampaian juga jalan-jalan keluar negeri lengkap bersama anak-anak. Setelah dirasa semua persiapan beres, tepat tanggal 8 Dzulhijjah 1437 kami pun berangkat melalui Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II menuju Kuala Lumpur.

Sebenarnya selain jalan-jalan, yang menjadi tujuan kami adalah bersilaturrahim dengan sanak family dari arah ibunya anak-anak yang kebetulan sudah lama menjadi warga negara Malaysia dan bermukim disana.

Saya mencatat pelayanan imigrasi saat keberangkatan di bandara sangat praktis dan efisien, tidak membutuhkan waktu lama untuk kami akahirnya bisa masuk ke waiting room untuk menunggu panggilan menaiki pesawat.

Bandara di Dalam Mall

Butuh waktu cuma 40 menit hingga pesawat pimpinan Tony Fernandes yang kami tumpangi itu akhirnya mendaratkan rodanya di Bandara Kuala Lumpur yang baru. Orang pada umumnya menyebut Kuala Lumpur International Airport 2 (KLIA 2). Sedangkan bandara yang lama KLIA 1 masih digunakan untuk beberapa maskapai, diantaranya Malaysia Airlines. Setelah memasuki terminal bandara, jarak dari pintu masuk bandara KLIA 2 menuju tempat pemeriksaan imigrasi cukup jauh menurut kami. Setelah sempat membeli kartu operator lokal Malaysia, untuk kebutuhan internet, kami pun berjalan menyusuri ruangan terminal sampai akhirnya di kounter pemeriksaan imigrasi.

Jumlah kounter imigrasi Bandara KLIA 2 sangat banyak, terbagi berbagai daerah asal. Karena bukan masa liburan, maka kami dapat memanfaatkan kounter manapun. Setelah melalui antrian yang tidak terlalu panjang, sekitar dua antrian didepan kami, kami sekeluarga pun memasuki pemeriksaan petugas kounter. Tampak dari perawakannya, si ibu petugas merupakan warga negara Malaysia keturunan India, ” Cuti sekolah keh di Indonesia? ” sambil sibuk menstempel paspor kami satu persatu. Sembari lamat-lamat memahami pertanyaannya yang bertanya cuti alias libur sekolah, saya menjawab, ” No, just permit for family visit”. Saya memilih menjawab sekenanya dengan Bahasa Inggris, ketimbang bahasa Indonesia yang bisa jadi terjadi salah paham, walau kedua rumpun bahasa sama.

Perasaaan lega dan bersyukur melewati setiap pemeriksaan pun menyeruak dihati kami, anak-anak tampak senang sudah merasa saatnya melancong di Malaysia. Saya juga ikut lega, ternyata jenggot saya yang panjang tidak menghambat pemeriksaan. 🙂

Menyusuri koridor terminal menuju pintu keluar, sembari ibuknya anak-anak menelepon Bang Azfar, anak dari Teh Ninuk, sepupu ibunya anak-anak untuk penjemputan, sejenak saya menikmati betapa megah bandara KLIA 2 itu. Integrasi sarana transportasi yang sangat baik benar-benar memanjakan para traveler. Tidak lupa juga kounter-kounter makanan dan minuman yang terjejer rapi layaknya Mall, seolah-olah kami tidak terasa di bandara, malah lebih terasa di Mall. Menuju pintu keluar, ada satu tulisan yang menyatakan konsep utama yang menjadikan bandara KLIA 2 seperti yang kami lihat, yah.. Bandara di Dalam Mall. Pantas saja… Bukan, Mall di dalam Bandara seperti yang pada umumnya.

Tidak membutuhkan waktu lama Bang Azfar akhirnya menemukan kami didepan pintu keluar. Sembari menunggu, saya sempat mengamati, ternyata Taxi-taxi di bandara KLIA 2 modelnya kuno-kuno, atau lebih kurang disebut jelek-jelek. Belakangan saya mengetahui, ternyata populasi kepemilikan mobil di Kuala Lumur sangat tinggi, bisa jadi karena jarang yang menggunakan taxi sehingga perkembangan dan pembaharuan taxi kurang berkembang. Belum lagi sudah marak taxi online, demikian yang saya lihat di papan reklame di jalanan Kuala Lumpur.

Apartemen Palladium dan Menara Kembar Petronas

Memasuki Kota Kuala Lumpur, kami langsung menuju Apartemen Palladium di Jl. Gurney. Sepanjang perjalanan kami disuguhkan pemandangan kepadatan kota, layak saja, karena ini adalah Kuala Lumpur, Ibu Kota Negara, selevel Jakarta, gumamku. Di Apartemen kami berjumpa dengan Abang Ahmad, Cucu dari Eyang Tini yang akan kami kunjungi ke Ipoh nantinya dan juga Teh Wangi, sepupu istri, putri dari Eyang Tini, sedangkan orang tua Bang Ahmad sedang menunaikan ibadah haji. Kami memutuskan untuk fokus malam itu istirahat, mengingat perjalanan yang cukup melelahkan, terutama bagi anak-anak, walaupun mereka terlihat senang, namun kondisi stamina tubuh tetap harus dijaga agar lebih siap lagi untuk petualangan esok harinya.

Sembari menikmati malam di Kuala Lumpur, sambil menidurkan anak-anak, beberaa kali kami melempar pandangan ke arah luar jendela. Tampak menjulang seakan menunjuk langit Kuala Lumpur, puncak menara kembar Petronas yang tersohor itu ternyata berada sangat dekat dengan apartemen Bang Ahmad. Kira-kira sekitar 2 KM. Namun efek ukuran yang besar membuat seolah-seoalah menara kembar tersebut adalah pemandangan halaman apartemen. Kami harus mampir kesana, gumamku malam itu. Sambil menikmati kerlap-kerlip lampu menara kembar, tanpa sengaja pandanganku jatuh ke arah jalan layang yang melintang disamping apartemen. Hilir mudik kendaraan dimalam hari, mengisyaratkan banyak para pekerja yang baru saja pulang dari tempatnya bekerja pada jam-jam malam seperti ini. Waktu di Kuala Lumpur sendiri lebih cepat 1 jam dari WIB, kurang lebih sama dengan WITA. Namun untuk waktu sholat, tidak terlalu berbeda dengan Pekanbaru.

Banyak kendaraan roda empat dan roda dua malam itu yang saling kejar-kejaran seolah ingin mengantarkan tuannya pulang. Namun yang paling memancing perhatian adalah kendaraan roda duanya, jenisnya jadul-jadul, kuno. Ini juga mungkin memiliki alasan yang sama kenapa taxi-taxi di Kuala Lumpur juga demikian. Budaya berkendara roda empat sudah seperti hal yang biasa. Efek di jajah Inggris pada masanya, mobil-mobil, atau kereta orang Malaysianya menyebutnya, memiliki sistem stir di posisi kanan, tidak ada bedanya dengan di Indonesia, sehingga saya pun juga sempat menikmati memegang kemudi mobil di negeri jiran ini.

Mencoba Trans Studio Pertamina-nya Malaysia

Jumat itu, pagi-pagi sekali kami sekeluarga sudah bersia-siap untuk mengunjungi destinasi wisata kami yang pertama, Petrosains. Diiringin dengan guyuran hujan rintik-rintik mobil yang membawa kami pun melaju meninggalkan Palladium. Petrosains ini terletak dikompleks area Menara Kembar Petronas, bergabung dengan Mallnya. Mungkin karena bergabung dengan mall, sehingga terkesan tulisan petrosains kurang mencolok.

Petrosains sendiri adalah wahana pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan oleh Petronas, Pertamina-nya Malaysia itu, dan terbuka untuk umum dengan membayar tiket dikounter depan. Jika diperhatikan dari layout yang dikembangkan mirip dengan Trans Studio yang di Bandung itu.

Memasuki mall, kami masih merasa seperti masih di Pekanbaru. Betaa tidak, disekeliling kami banyak pengunjung mall yang mengenakan baju melayu, baik itu pria wanita, bahkan dari anak-anak sekalipun. Persis dengan kebiasaan yang ada di Pekanbaru, hari jumat, harinya baju melayu.

Banyak wahana yang bisa dilihat dan dicoba langsung oleh pengunjung. Setelah menaiki kereta pengantar yang berbentuk bulat, kami disuguhkan berbagai diorama disisi kanan dan kiri lorong kereta yang menceritakan alam, dan terutama tentunya minyak bumi, sebagai produk andalan Petronas. Ternyata menaiki kereta bulat ini adalah semacam sambutan selamat datang.

Turun dari kereta kami langsung dipandu menuju wahana pertama oleh beberapa petugas yang dilihat dari wajahnya masih seumuran mahasiswa. Belakangan ternyata dugaan kami tepat, dari baju seragam yang dikenakan, kami mengenali mereka ternyata volunter dari berbagai lapisan masyarakat yang ikut menyumbangkan tenaganya untuk melayani para pengunjung. Konsep yang keren menurut saya. Selain itu juga ada petugas yang asli pegawai Petrosains.

Diantara semua wahana yang bagus-bagus itu, wahana yang paling digemari anak-anak adalah wahana Formula 1. Maklum saja, Petrosains memiliki wahana itu, karena dia salah satu sponsor terbesar F1. Ada berbagai permainan, diantaranya permainan desain mobil balap, dipermainan itu anak-anak bisa mendesain mobil balapnya sendiri, untuk selanjutnya diadu dengan hasil desain pengunjung lainnya. Asyik kami balapannya…

Disalah satu ada juga permainan gelombang pikiran, diwahana ini, Mas Farish, anak kami yang tertua menjajal melawan ibuknya :). Diujung lorong ada contoh mobil bala yang digunakan di F1, plus game simulasi bala F1. Sayang, untuk game simulasinya, anak-anak belum bisa mencoba, Mas Farish sekalipun, karena tinggi badan yang masih kurang dari standar permainan. Hanya Bang Azis, keponakan yang menemani kami ke Petrosains yang bisa memainkannya.

Waktu sholat dhuhur pun tak terasa sudah mulai dekat, Puas belajar dan bermain di Petrosains, kami pun beranjak meninggalkan area Petrosains untuk sholat Jumat di Masjid area KLCC. Keluar dari wahana Petrosains, kembali kami menggunakan kereta bulat itu, ini semacam ucapan perpisahan, sampai jumpa kembali..

Kereta Listrik Tanpa Masinis

Ada satu transportasi yang baru bagi kami sekeluarga yang kami jumpai di KL, yahh itu, kereta listrik tanpa masinis. Kereta ini ibarat commuter line yang ada di kota-kota besar di Indonesia, misalnya di Jakarta dan Surabaya. Namun satu yang membuat beda adalah kereta listrik ini dikemudikan secara komputerisasi,sehingga tidak perlu petugas masinis yang mengemudikan. Kereta sudah diatur berapa menit untuk berhenti, kemudian mulai berjalan, hingga kapan harus mengurangi kecepatan ketika hendak sampai distasiun.

Sebenarnya untuk naik kereta bukan hal yang baru bagi anak-anak, namun naik kereta listrik tanpa masinis benar-benar hal baru bagi kami, tak ayal, beberapa kali anak-anak merangsek maju kesisi depan kereta untuk merasakan langsung sensasi berdiri dikepala kereta sambil alih-alih membuktikan benar-benar tidak ada masinis didepannya. Sambil melongok kedepan melongok rel panjang yang seolah dilahap kepala kereta sesekali mereka minta difoto dan direkam momen yang menarik bagi mereka.

Hampir tidak ada kekurangan dalam pelayanan yang kami dapati ketika menaiki kereta listrik tanpa masinis kecuali, kadang-kadang jika ada permasalahan jaringan ataupun komputerisasinya terganggu/down, kereta akan berhenti otomatis untuk perbaikan distasiun terdekat. Demikian juga dengan kereta yang kami tumpangi, mendekati Glen Marry, stasiun tujuan kami, pengumuman dari speaker kereta memberitahukan karena ada gangguan teknis, penumpang diharap turun di stasiun Glen Marry, kebetulan itu stasiun tujuan kami, jadi tidak ada masalah.

Ada juga satu hal unik yang kami temui saat kami menaiki kereta listrik tersebut. Banyak ternyata dari penumpang yang saling ngobrol dengan rekan kanan-kirinya menggunakan bahasa yang tidak asing lagi ditelinga kami, yahh..bahasa indonesia yang kental, bahkan bahasa jawa yang super medok. Tak mengherankan memang, karena kereta listrik yang kami naiki ini menghubungkan berbagai stasiun di dalam kota Kuala Lumpur, termasuk wilayah-wilayah bisnis dan proyek yang banyak pekerjanya dari Indonesia.

Sowan ke Markas UPIN & IPIN

Dari Glen Marry, kamipun makan siang di Shah Alam. Banyak makanan ala melayu dan india. Wajar saja, karena dua etnis inilah yang banyak di sini. Tapi rumah makan yang kami kunjungi siang itu berbeda, banyak juga makanan khas Indonesia, bahkan ada lalapan trancam khas jawa yang lengkap dengan lamtoronya alias petai cinanya.

Usai memanjakan perut, perjalanan kamipun berlanjut ke Les Copaque, yahh itu studio markas Upin & Ipin. Maklum saja, anak-anak kami semuanya penggemar Upin&Upin dkk. Tak ayal, ketika baru nyampai di depan markas Upin&Ipin mereka pun turun mobil dengan antusias berfoto ria dengan model Upin&Upin dan kawan-kawannya.

Setelah puas berkeliling di arena studio Upin&Ipin, alias markas besarnya, anak-anakpun tak luput membeli berbagai sovenir Upin&Upin, ada yang dibeli untuk sendiri, ada juga yang dibeli untuk Guru dan kawan-kawannya sekolah. Harganya cukup murah jika dikonversikan ke rupiah. Puas berbelanja, kamipun singgah sebentar di cafe Upin&Ipin sembari menunggu jemputan untuk kembali ke Palladium.

Bersejarahnya Dataran Merdeka, Sibuknya Petaling Street, Megahnya Masjid Putra Jaya

Agenda hari itu kami cukup padat, ada tiga tempat yang Teh Wangi mau tunjukkan kekami sekeluarga. Maka untuk dapat menikmati tiga tempat tersebut rombongan kami pun berangkat lebih pagi dari biasanya. Setelah nikmat sarapan dengan nasi lemak dan nasi dagangnya, rombongan pun mulai meluncur dari Palladium.

Tempat pertama yang kami kunjungi hari itu adalah Dataran Merdeka. Dataran merdeka adalah sebuah lapangan luas yang merupakan tempat bersejarah bagi Malaysia. Terletak didepan istana Sultan Abdul Samad, konon didataran merdekalah tempat pertama kali bendera kebangsaan federasi Malaysia dikibarkan setelah sebelumnya bendera Inggris diturunkan. Sambil mengambil beberapa gambar didepan istana yang berwarna merah bata tersebut, sesekali kami perhatikan betapa meriah persiapan peringatan kemerdekaan yang kurang beberapa hari lagi diperingati. Tampak dari seberang jalan bendera terbesar Federasi Malaysia didampingi bendera-bendera negara bagian berkibar gagah.

Puas menikmati sejarah di dataran merdeka, tujuan kami berikutnya yaitu Petaling Street. Memasuki area Petaling Street, hawa pecinannya begitu kental, meskipun satu dua juga kami mendapati pedagang etnis melayu dan india diantaranya. Ditempat inilah anak-anak dan istri memborong oleh-oleh, mulai dari kaos, gantungan kunci, pensil, tempelan kulkas hingga berbagai pernak-pernik lainnya. Harganya? jangan diragukan lagi, selain murah banget, masih juga ada kesempatan kita untuk menawarnya jika beruntung.

Saya sendiri  sempat join dengan turis dari singapura untuk menawar kacamata sport, rencananya buat gowes, namun karena belum juga ketemu harganya, akhirnya batal. Lumayan juga, pengalaman menawar menggunakan tiga bahasa, melayu, inggris dan indonesia. Jangan silap, para pedagang tersebut sangat fasih juga berbahasa Indonesia, saking seringnya turis Indonesia berbelanja di situ kali yah. Tak jarang juga saya berpapasan dengan turis asal Indonesia, tahunya dari mana? dari bahasa Jawa yang mereka gunakan 🙂

Kunjungan yang ketiga adalah ke komplek pemerintahan Kerajaan Malaysia di Putra Jaya. Salah satu strategi yang sangat jitu di Malaysia adalah dengan memisahkan komplek pemerintahannya dengan wilayah bisnis di Kuala Lumpur yang sangat padat. Hasilnya sungguh luar biasa. Kebetulan hari itu hari ahad, jadinya komplek tersebut tanpak lengang, dan sangat kondusif untuk para pelancong. Banyak juga dari pengunjung yang memang menjadikan Putra Jaya salah satu destinasi kunjungannya. Bangunan yang serba megah, jalanan yang rapi, membuat pengunjung tampak terkesima dengan semua pamandangan yang disuguhkan. Namun dari semua itu yang paling menonjol adalah sungainya yang sangat bersih dan jernih. Seakan-akan menambah kesejukan komplek perkantoran tersebut. Dari komplek perkantorat tersebut, satu bangunan yang wajib dikunjungi pelancong adalah Masjid Putra Jaya. Bagi umat muslim mungkin tidak ada pantangan memasuki area masjid, namun bagi pengunjung lain yang beragama non muslim wajib menggunakan pakaian jubah bagi wanita dan sarung bagi pria yang telah disediakan oleh pengurus masjid dibantu para volunter. Walhasil, ibu-ibu, anak-anak gadis yang berpakaian ketat dan pendek atapun bapak-bapak yang bercelana pendekpun bisa menikmati keindahan arsitektur  masjid, semoga menjadi jalan hidayah.

Ada satu hal yang menggelitik saat berkunjung ke Masjid Putra Jaya, ternyata jubah dan sarung yang sedianya hanya untuk pengunjung non muslim, banyak juga harus dikenakan oleh pengunjung muslim yang tidak menggunakan jilbab, bercelana pendek, atau bahkan sudah berjilbab, namun pakaiannya belum tepat, transparan, bahkan ketat. Semoga hal-hal tersebut membuat mereka menyadarinya, bahwa cara berpakaian mereka sendiri belum layak untuk menuju rumah Alloh.

Kurban Negeri Jiran, Mendoakan Pemimpin

Satu hari menjelang Hari Raya Idul Kurban, giliran perjalanan dari Kuala Lumpur-Ipoh yang harus kami tempuh. Perjalanan kali ini menggunakan perjalanan darat dengan driver keponakan kami, Abang Rahman. Meskipun terhitung baru mendapat driving license, alias SIM, bang aman, begitu panggilan akrabnya cukup piawai dalam menjoki kendaraan Honda HRV nya.

Melewati jalur tol yang jarang sekali ada Rest Areanya, perjalanan kamipun tidak memerlukan waktu yang lama untuk tiba di Ipoh. Selama melewati jalur tol, satu pemandangan yang mengusik saya, ternyata di Malaysia, kendaraan roda dua boleh melewati tol, seperti di luar negeri sana. Mungkin hal ini dikarenakan populasi sepeda motor sangat sedikit, beda dengan Indonesia,coba kalau sepeda motor boleh masuk tol ?

Tiba di rumah Ipoh, kami pun disambut bahagia oleh Bude, atau Eyang Putri anak-anak dengan anak dan cucunya sekeluarga. Rumah Ipoh sendiri adalah rumah Teh Mimin, sepupu istri yang dokter spesialis kandungan yang S1-nya tamatan FK – Unair itu. Bude sengaja stay di Ipoh sekalian untuk mengontrol kesehatannya. Kebetulah suami Teh Mimin, Bang Zia juga seorang dokter yang sudah pensiun dinas dan masih aktif dirumah sakit sebagai konsultan terapi penyembuhan. Jabatan terakhir beliau adalah kepala rumah sakit di Ipoh.

Tidak berapa lama dari kami tiba, adzan magrib pun berkumandang, kami beserta keluarga Ipoh pun berbuka puasa Arafah bersama. Malamnya kami sambung dengan takbiran di masjid terdekat di komplek perumahan sembari menyiapkan untuk sholat idul adha esok pagi.

Esok pagi lebaran haji di Ipoh pun tiba, selepas sholat subuh, kami pun mempersiapkan diri dan anak-anak untuk sholat idul adha. Pagi itu udara Ipoh cukup dingin, namun suasana dingin itu terasa terusir dengan gema alunan takbir dilangit Ipoh dari corong masjid dan lapangan disekelilingnya. Tidak ada perbedaan secara mencolok dari tatacara kepanitiaan kurban di Ipoh. Termasuk urutan acara sholat idul adha. Hanya satu yang berbeda dan mungkin jarang di Indonesia. Selepas kutbah kedua, khatib mengajak para jamaah untuk mendoakan Yang Dipertuan Agong, sultan Ipoh, keluarganya bahkan sultan-sultan yang telah mendahului. Sungguh budaya mendoakan pemimpin yang patut ditiru. Sudahkah kita mendokan pemimpin kita, Bapak Presiden Jokowi serta jajarannya, Bapak/Ibu Gubernur, walikota, bupati di seluruh Indonesia, Khususnya Bapak Arsyad Julaindi Rahman Gubernur Riau, dan walikota Pekanbaru yang akan terpilih tahun 2017 nanti? Semoga mereka semua senantiasa dalam lindungan Alloh dalam menjalankan amanah memimpin kita semua. Aamiiin.

Setelah sholat id, sama dengan di Pekanbaru, kita disuguhi sarapan bareng, namun ada yang berbeda, sarapannya benar-benar khas Malaysia, nasi lemak dan nasi dagang.Bahkan nasi dagangnya pun khas negeri Trengganu, bukan menggunakan gulai ayam atau daging, melainkan gulai ikan tongkol. Karena Trengganu terletak di daerah pesisir, jadi lebih kaya sumberdaya laut. Kebetulan yang menyajikan nasi lemak dan dagang adalah murid Eyang dari Trengganu, jadi benar-benar khas.

Setelah sarapan bareng, maka penyembelihan hewan kurban, yang semuanya sapi itu dimulai. Cara dan tekniknya pun hampir sama dengan di Indonesia. Bahkan menurut saya, di Indonesia tekniknya sedikit lebih maju dalam hal merobohkan sapi. Mungkin inilah yang diibaratkan dalam pepatah, lain lubuk lain ikannya, lain ladang lain ilalang.

Pantai Lumut, seberang Sumatera

Mengisi liburan selama di Ipoh, keluarga Teh Mimin mengajak kami menikmati wisata pantai, menginap diapartemen didaerah Lumut, Ipoh. Apartemen yang cukup padat karena musim liburan membuat suasana liburan kian terasa, kolam renang yang ramaiu dengan pengunjung bahkan tempat parkir yang sesak.

Disela-sela menunggu rombongan di area parkir apartemen, saya sempat berjumpa seorang kakek-kakek yang tiba-tiba saja mengajak ngobrol bahasa indonesia dan jawa. Mungkin karena mendengar logat kami, dia langsung yakin kami berasal dari jawa dan Indonesia. Beliau bercerita sangat rindu dengan Indonesia, beliau mengaku ibunya berasal dari jawa Medan, dan ayahnya juga orang medan. Dari kecil beliau mengaku sudah diboyong orang tuanya migrasi menjadi warga negara Malaysia. Obrolan kamipun terhenti tatkala cucunya sudah mulai memanggil untuk naik mobil.

Tak berapa lama rombongan pun siap meluncur ke pantai lumut, jarak dari apartemen tidak begitu jauh, jadi tidak membutuhkan waktu lama untuk kami akhirnya langsung berjumpa dengan bibir pantai. Pantai lumut termasuk pantai pesisir barat dari semenanjung Malaysia, berbatasan langsung dengan pulau sumatera, terpisah oleh sebuah selat yang memiliki nilai sangat strategis di kawasan ASEAN, selat Malaka. Airnya yang tidak begitu bergelombang tinggi membuat kita cukup tenang melepas anak-anak asyik bermain air dan pasir pantai. Sesekali melempar pandangan arah matahari terbenam, diujung batas pandangan itulah home town kami, sumatera, Indonesia, dengan segala kenangan yang merindukan kami untuk pulang. Setelah menikmati semburan kuning keemasan cahaya terbenamnya sang surya, kami pun bergegas untuk  kembali ke apartemen dan pulang ke Ipoh.

Naik KTM, dari orang India sampai sensasi naik kereta membelah kebun sawit.

Pagi itu udara cukup cerah, semburat cahaya matahari tampak menyesak berebut masuk melalui celah-celah dedaunan jejeran pohon kelapa sawit yang berbaris rapi dikanan dan kiri sisi kereta listrik yang kami tumpangi. Sejenak saya merasa naik kereta api membelah kebun sawit di Riau. Bukan…bukan..ini bukan kebun sawit di Riau sadarku, ini di Malaysia. Yahh sawit adalah komoditas yang sejenis diantara Malaysia dan Riau, bahkan nama-nama stasiun yang kami lewati dari Ipoh ke KL Sentralpun masih terdengar mirip, ada stesyen, demikian bahasa melayu yang tertulis dilayar monitor kereta, stasiun Kampar, Stasiun Kuantan…mirip dengan nama Kabupaten di Riau. Maka tak ayal jika saya sempat membayangkan naik kereta listrik ini di Riau.

Kereta listrik yang kami naiki kala itu benar-benar nyaman, walaupun tidak seperti LRT, kereta listrik tanpa masinis itu, KTM yang dilengkapi dengan masinis itu tetap beroperasi dengan nyaman. Seperti kereta eksekutif di Indonesia, tidak semua stasiun pemberhentian di singgahi. Jadi waktu tempuh dari Ipoh ke KL Sentral pun hanya sekitar 3,5 jam dengan kecepatan maksimum 160KM/Jam. Saya sempat memperhatikan dilayar monitor kecepatan kereta tidak lebih dari 160KM/jam, selain batas kemampuan kereta, bisa jadi ini sebuah pengaturan level aman.

Pagi benar hari itu kami menuju stasiun, karena jadwal pemberangkatan yang pertama yang kami tumpangi. Syukurlah tidak ada macet di Ipoh pagi itu, mungkin masih suasana liburan idul adha. Karena menunggu agak lama, Bang Zia yang keturunan India itupun menceritakan sejarah panjang perkereta-apian di Malaysia. Awal perkembangan kereta api di Malaysia tidak terlepas dari campur tangan tenaga kerja dari India. Inggris kala itu banyak mendatangkan tenaga kerja dari India untuk pembangunan rel, stasiun dan infrastuktur lainnya. Tenaga kerja dari India dipilih lantaran tersohornya akan kekuatan fisiknya yang luar biasa. Jadi kala itu, hampir 100% tenaga kerja yang mengoperasikan kereta semuanya keturunan India. Seiring perkembangan jaman, lantaran iming-iming penghasilan yang lebih tinggi, banyak yang mulai melirik pekerjaan lain selain perkeretaapian, diantara tiketing, toko, dan dunia komputer. Sehingga bisa dipastikan sekarang hampir tersisa 50% warga keturunan India yang masih bertahan dengan pekerjaan seputar operasi kereta, sisanya etnis melayu dan cina. Ini juga mungkin yang menjawab penasaran saya, kenapa tivi di kereta apinya filmya India terus J

Kembali ke Indonesia

Tiba saatnya kembali ke tanah air. Kami berangkat dari apartemen Teh Wangi, masih dengan Abang Aman sebagai pemandu kami. Sebagai kenang-kenangan, kami tinggalkan untuk bang aman, beberapa lembar uang rupiah Indonesia, dari ratusan ribu hingga puluhan ribunya, bang aman tampak girang. Setelah ditemani hingga check in, kamipun mengucap salam perpisahan. Semoga ada jalur untuk saling berkunjung kembali. Semoga safar kami bernilai ibadah bagi kami semua. Aamiin.

 

 

Posted in Kisah | Leave a comment

Liburan Lebaran 1437 H : Mendaki Bantal dan Guling

Udara pagi itu tetap dingin, sejuk, sebagaimana hawa di area pegunungan. Ya di Cikajang, salah satu kecamatan dengan posisi tertinggi di Kabupaten Garut. Pagi itu kami sepakat bersama keluarga untuk mendaki Bantal dan Guling. Bantal dan Guling yang dimaksud bukan bantal dan guling yang terbiasa kita peluk sembari tidur, bukan juga bantal dan guling yang senantiasa menemani mimpi-mimpi indah kita. Melainkan ini sebuah perbukitan batu yang bentuknya seperti bantal dan guling. Tak ayal penduduk setempat pun dengan mudah memberi nama menjadi “Batu Bantal”.

Pagi-pagi benar kami berangkat dari rumah neneknya anak-anak untuk bersiap mendaki Batu Bantal yang konon masih asri dan alami itu. Setelah melewati komplek wisata Batu Tumpang, salah satu situs wisata mendaki di Garut itu kendaraan kami terus menyusuri perbukitan Cikajang. Pemandangan takjub selalu menyapa kami, dikanan dan kiri jalan kami disuguhi hamparan tanama teh yang meluas bak permadani alami yang menutupi perbukitan disekelilingnya. Tampak hijau, dan menyejukkan mata. Pantas saja, dengan pemandangan hijau itu, jarang kita jumpai warga yang berkacamata, alias kesehatan matanya benar-benar terjaga, karena saking seringnya melihat pemandangan hijau.

Kurang lebih 30 menit mengendarai kendaraan roda empat dari alun-alun Kecamatan Cikajang, tibalah kami di kaki Batu Bantal. Benar-benar masih alami. Tidak ada lahan parkir untuk kendaraan pengunjung, bahkan pengelolapun tidak ada, hanya penduduk setempat yang senantiasa merawat dan mengingatkan pengunjung untuk bersama-sama menjaga kebersihan dan ketertiban pendaki Batu Bantal.

Tepat diseberang jalan pintu masuk, kalau lah belum pantas disebut gapura, terdapat Ruko dua pintu yang cukup luas halaman parkirnya. Kamipun memutuskan untuk parkir didepan ruko tersebut sembari membeli snack dan minuman sebagai bekal saat pendakian sekaligus anggap saja sebagai retribusi parkir agar diperbolehkan parkir didepan rukonya :). Dari depan ruko puncak batu bantal terlihat jelas, ada beberapa tumpukan batu, dan puncaknya ada batu yang mirip guling yang sedang tegak. Pemandangan itulah yang mungkin menjadi asal muasal nama Batu Bantal itu.

Setelah dirasa semua siap kamipun mulai berjalan kaki menyusuri jalan tanah yang sangat menanjak untuk mencapai batu bantal. Sesekali kami melewati beberapa rumah penduduk yang kami yakini merekalah yang ikut menjaga dan merawat batu bantal.

Jalanan yang semakilama semakin menanjak dengan beberapa titik yang licin, memaksa kami untuk terus berhati-hati dan waspada. Saat seperti inilah sepatu kets menjadi andalan dimedannya.

Dengan perjuangan yang cukup memeras keringat akhirnya kami tiba di kaki batu bantal, pendakian sudah selesai ? Belum. Itu hanya baru sampai di kaki batu bantal. Dengan bentuk yang unik, saling berhimpitan, membuat kita harus jeli melihat celah bebatuan untuk dapat mendaki dipuncaknya. Susah memang, namun sangat seru..

Sembari menuju puncak batu bantal, beberapa batu besar yang kami panjat tampak sudah dicorat-coret oleh tangan-tangan yang tidak bertanggungjawab. Sayang sekali.. Sebuah situs yang seharusnya kita jaga dan rawat, malah kita merusaknnya dengan alasan sebagai penanda sudah pernah mendakinya… 😦

Sampai dipuncak, keringat kamipun mendapatkan upahnya. Pemandangan sekeliling Kabupaten Garut pun terlihat cukup jelas. Disisi barat, kami disuguhi punggung Gunung Cikuray dan Papandayan, disebelah selatan kami disuguhi dengan jalan lintas kabupaten menuju pantai selatan jawa yang mengular indah dibalik himpitan permadani hijau perkebunan teh.

Sejenak kami merenung, betapa Agungnya Kuasa Alloh menciptakan ini semua, betapa kecilnya kita sebagai makhluk, tidaklah pantas kita menyombongkan diri dihadapanNya.

Sayang, karena terik matahari semakin membakar kulit, kami memutuskan untuk segera turun batu bantal. Perjalanan turun pun tidak kalah seru. Jika kurang waspada bisa-bisa kita tergelincir dan terguling kebawah. Memang akan cepat sampai dibawah sih, namun siap-siap saja cedera :).

 

 

 

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Menjadi Panitia Ramadhan..

InsyaAlloh dalam sepekan kedepan kita semua akan kedatangan suatu tamu mulia, Bulan Suci Ramadhan. Sudah daftar jadi panitia ramadhan ?

Banyak kita lihat dalam waktu belakangan ini berbagai institusi, masjid, sekolah, kantor dan berbagai organisasi telah sibuk rapat membentuk panitia dan menentukan program-programnya. Alhamdulillah..demikianlah nikmat awal ramadhan yang Alloh turunkan kepada kita semua menjelang bulan suci tersebut.

Namun ada satu hal yang perlu juga menjadi perhatian kita semua, dan bahkan ini sangat penting. Sudahkah kita mendaftarkan diri menjadi panitia ramadhan pada diri kita sendiri ?

Sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah, bagaimana kesibukan beliau menyambut bulan suci ramadhan. Dalam sebuah hadis diriwayatkan bahwa Rasulullah tiada puasa sunnah dibanyak hari melainkan dibulan sya’ban. Yah..satu bulan menjelang ramadhan.

Selain itu, dari hal kecil, Rasulullah senantiasa mengingatkan para sahabat, dengan sentiasa mengucapkan Marhaban Ya Ramadhan ketika setiap kali berjumpa. Sungguh sebuah semangat awal yang harus dibangun menjelang pertempuran besar dibulan ramadhan. Pertempuran mengalahkan hawa nafsu..

Untuk mencontoh bagaimana menjadi panitia ramadhan pada diri kita sendiri diantaranya :

  1. Buat program intens untuk membaca Al-Quran, karena ramadhan adalah bulannya al-quran.
  2. Sholat tarawih / qiyamul lail plus witir anggap sebagai suatu hal yang gak boleh ditinggal (kecuali yang perempuan pada jadwalnya)
  3. Persiapan kesehatan, suplemen, mental, fisik dan psikis.
  4. Buat program ngabuburit yang senantiasa mendekatkan kita pada Al-Quran, misal baca tafsir.
  5. Jika sudah berkeluarga, libatkan istri dan seluruh anak-anak dan semua yang dalam naunganmu untuk menjalankan seluruh program.

Jadi, sudahkah kita menjadi panitia ramadhan untuk diri sendiri… ?

Mumpung masih satu pekan lagi, mari siapkan dari sekarang.

Sucikan bulan suci, semoga Alloh senantiasa menjauhkan kita dari segala kemaksiatan…

Marhaban Ya Ramadhan…

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Kuliah S3 dan Divergent

Tidak tahu awalnya tiba-tiba saya berada di salah satu kota di Negeri Kanguru, Australia. Saya duduk di balkon sebuah apartemen kampus yang tampak asri dengan pemandangan apartemen lainnya dan gedung perkuliahan disisi kanan kirinya, dan pantai dengan air birunya yang jernih serta pasir putihnya yang bersih tampak diarah depan balkon.

Sambil asyik mengamati deburan ombaknya yang tampak dari kejauhan saling berkejaran. Aku sedikit terkejut ketika temanku Rebekka, menegur aku, ” Heri, untuk sementara ini kamu tinggal di apartemen ini sembari menyiapkan awal kuliah S3 kamu ” ujarnya sedikit mengagetkanku. ” Kamu gak usah kawatir bersosialisasi, digedung ini banyak mahasiswa asal Indonesia, dan kamu juga bisa memperlancar Bahasa Arab kamu, karena digedung yang sama banyak juga mahasiswa dari Timur Tengah ” lanjut Rebekka seolah dia tahu kegundahanku. Rebekka adalah teman S1 ku waktu di Medan dulu, walau berbeda keyakinan, dia sangat toleran dan baik dengan siapapun. Aku kenal beliau karena ibunya juga orang jawa, tepatnya Cilacap, Jawa Tengah.

Tak selang berapa lama Rebekka pun meninggalkan diriku yang masih bertanya-tanya, bagaimana aku bisa berkuliah S3 disini. Sebelum meninggalkan gedung apartemenku, Rebekka berpesan agar kepergianku ke Australi untuk sementara waktu hanya istriku saja yang diberitahu, anak-anak jangan dahulu, agar mereka tidak merengek, begitu pesannya. Sebelum Rebekka beranjak, aku sempat bertanya, kota apa ini, Post View katanya. Sambil terus mengulang-ngulang, kata Post View, tanpa aku sadari , sudah ada beberapa mahasiswa asal Indonesia yang mendekat dan ngobrol denganku, tidak perlu waktu lama kami untuk akrab, terlebih obrolan kami menggunakan Bahasa Indonesia.

Salah satu teman, berujar, ” Jadi yang ngajak kuliah disini Rebekka yah?, Heri tahu Rebekka siapa? ” . Aku menggeleng, aku paham maksud pertanyaannya adalah posisi Rebekka di kampus ini, karena memang betapa mudah saya masuk ke kampus ini. ” Rebekka adalah anak pembesar di kampus ini, Ibunya adalah seorang Dokter, salah satu Profesor di kampus ini…” belum selesai dia menjelaskan, tampak dari balkon, diseberang gedung apartemen kami, dari Gedung Direktorat yang berada disisi kanan bangunan kami, tampak keluar serombongan pembesar kampus, teman saya yang baru kenal tersebut lantas berujar ” Nahhh..itu dia, kamu lihat yang menggunakan blazer abu-abu, itulah Ibunya Rebekka…”. Saya mengangguk-angguk tanda mulai paham…

***

Saya melangkah cepat, buru-buru, menuju gedung perpustakaan, segera setelah melewati resepsionis, saya langsung menuju fasilitas internet. Penasaran akan Kota Postview, saya langsung googling, anehnya setiap saya ketikkan kata kota postview, jari jemari terasa berat. Sejurus kemudian muncul dilayar komputer, kata : error. Saya refresh lagi, saya coba ketik ulang postview city walau dengan jari tetap terasa berat seperti saat mengetikkan kata itu pertama kali. Sebenarnya saya sudah mulai ragu, sepertinya ini mimpi nih, saya harus mencari cara untuk bangun. Seleng menunggu beberapa detik, Hasilnya…..

tit..titt….titt….

Alarm HP berbunyi,  saya pun terbangun, ternyata benar, saya hanya bermimpi. Saya jadi teringat orang-orang yang dikelompokkan divergent, dia sadar betul bahwa bunga tidurnya hanya ilusi saat dia bermimpi. Bisa jadi bakat divergent itu ada, sehingga Kuliah S3 di Postview, Australia, ternyata hanya mimpi..

Posted in Kisah | Leave a comment

Menawar Ketuhanan

Menawar ketuhanan? emang ada ? perasaaan yang menawar itu adalah untuk urusan jual-beli…

Tentu ada sobat, dan itulah yang menurut saya akhir-akhir ini yang menjadi fenomena perbincangan. Meskipun sebenarnya fenomena itu sudah terjadi dari jaman dulu, bahkan dari jaman turunan awal Nabi Adam AS 🙂

Menawar ketuhanan menjadi satu hal yang menurut saya layak saya tulis kali ini. Berangkat dari obrolan di salah grup WA alumni yang saya ikuti yang berisi tentang tema diskusi penabalan kata kafir kepada seseorang.

Ada yang membahas kafir itu adalah sifat. Jika suatu penganut agama menyembah tuhannya melalui perantara patung, itu bukan kafir, menurut simpulan pembahasan, melainkan cinta tuhannya melalui perantara, baca sekali lagi “perantara”. Jadi sejatinya dia tidak menyembah patung, tapi tetap tuhan yang maha esa.

Waduh…sobat, coba baca kisah kaum musyrikin Mekah, mereka juga beralasan yang sama dengan dalil anda.

Ada yang mengungkapkan, menyembah tuhan melalui senandung, melalui titisannya, baca : anaknya, sejatinya dia tidak menyembah yang kita lihat, tapi tetap tuhan yang maha esa.

Waduh, sekali lagi…sobat, coba baca kisah kaum musyrikin Mekah, mereka juga beralasan yang sama dengan dalil anda.

Justru dalam benak saya, orang-orang yang enggan ditabalkan dirinya kafir di era zaman sekarang lebih parah kekafirannya dibanding kaum musyrikin Mekah. Mereka masih menganggap Alloh sebagai sang pencipta (Tauhid Rubbubiyah), namun mereka tidak menyembah Alloh, melainkan menyembah Alloh melalui perantara berhalanya (melanggar Tauhid Uluhiyah).

Jadi, apalah istilah yang tepat terhadap orang-orang yang masih menolak dirinya ditabalkan kafir, sedang mereka lebih parah dari kaum musyrikin Mekah, selain mereka telah Menawar Ketuhanan ?

Semoga kita semua terlindung dari hal yang demikian.

21 Jumadil Akhir 1437 H

Abu Farish Ibn Sufyan Al Baijy

Posted in Fenomena | Leave a comment